Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)

 

Justina Hendry:  Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja
Justina Hendry: remaja yang nangis bombah bawa naungan pohon kamboja. Ist.
Pagi di Nyarumkop sedikit gerah. Angin yang berembus semilir dari lereng Gunung Poteng tak cukup memupus hijau kemarau.
Cahaya jatuh di antara pepohonan tua,  menyentuh halaman, jalan, dan bangunan sekolah yang telah dimakan waktu. Dari kejauhan terdengar suara orang memanggil nama lama, lalu tawa pecah seperti sesuatu yang pernah hilang dan tiba-tiba kembali.

Di antara para alumni yang hadir dalam Reuni Akbar 110 Tahun PKN 4-6 September 2026. Justina 
Hendry datang dari tempat yang paling jauh. Nun dari ujung benua, dari Los Angeles, Amerika Serikat. Dirinya kembali lagi. Pulang ke Nyarumkop, persekolahan seribu satu kenangan.

Namun perjalanan melelahkan menempuh ribuan kilometer itu seakan luruh. Ketika mobil yang ditumpanginyanya perlahan memasuki halaman sekolah.

Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)

Dari balik kaca. Ia melihat jalan yang empat puluh tahun lalu akrab dengan langkahnya. Pohon-pohon telah meninggi. Bangunan telah menua. Namun ada sesuatu yang tetap tinggal. Seolah-olah tempat itu mengenalinya lebih dahulu.

Ketika turun...
Justina terdiam.  Lidahnya kelu. Bumi serasa berhenti berputar tatkala kakinya menginjak tanah yang pernah menjadi saksi tangisnya.

Dulu, ia datang karena seorang teman mengajaknya tinggal di asrama. Baru tiga hari, teman itu pergi. Sepulang sekolah, Justina mendapati lemari temannya sudah kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada salam perpisahan. Ia menangis berhari-hari.

Mendapati kenyataan yang demikian itu. Di bawah naungan sebatang pohon kamboja, Justina menumpahkan perasaannya.

Angin pagi menggoyangkan ranting-rantingnya. Helai demi helai daun kuning luruh perlahan ke tanah, seperti waktu yang melepaskan satu per satu kenangan dari genggaman. Seperti tahu ke mana air mata itu mesti dilabuhkan untuk jatuh.

Di sanalah suara Justina bergetar ketika mengenang masa lalu. Ada kepedihan yang dahulu hanya bisa ditangisi, ada perpisahan yang baru puluhan tahun kemudian menemukan maknanya.

Pohon kamboja itu seakan menjadi saksi diam bahwa hati manusia menyimpan luka lebih lama daripada yang sanggup diucapkan oleh kata-kata.

Empat puluh tahun kemudian, mereka bertemu kembali melalui Facebook. “Yus, maaf ya, aku pernah meninggalkan kamu di Nyarumkop.”

Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)

Kalimat itu datang terlambat, tetapi tidak lagi membawa luka. Justina sudah mengerti bahwa keputusan orang lain untuk pergi telah membuka jalan bagi hidupnya sendiri. Dari pengalaman itu ia belajar berdiri, memilih, dan bertahan.

Dalam perjalanan itulah hadir Suster Roberta. Ketika Justina terpuruk, suster Belanda itu menjadi tempat bersandar. Ketika kaki kanannya sakit dan harus dioperasi, Roberta membawanya ke rumah sakit dan menghubungi pastor paroki. “Bagi saya, beliau ibu saya pada saat itu.”

Suster Sabina mengajarinya hal lain. Pada suatu Minggu, Justina yang masih remaja melempar batu ke pohon rambutan. Buah jatuh. Teguran Sabina segera menyusul. Ia belajar bahwa hidup bersama menuntut kesediaan berbagi, bahkan untuk sesuatu yang tampak kecil.

Suster Juliana tinggal dalam ingatannya sebagai sosok yang keras. Ia mendampingi Justina ketika ingin pulang karena tidak tahan dengan bangun pagi, mengumpulkan kayu bakar, mencabut rumput, dan aturan asrama. Larangan bergaul terlalu dekat dengan anak laki-laki dahulu terasa mengekang. Bertahun-tahun kemudian, Justina memahami maksudnya. Perlindungan kadang hadir dalam bentuk yang tidak kita sukai.

Baca Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (23)

Guru-guru pun meninggalkan bekas yang dalam. Pak Sukoco mempercayai kemampuan kepemimpinannya. Mas Teguh mengetahui kecintaannya pada matematika dan memberinya buku ketika ia tidak mampu membeli. Dukungan kecil semacam itu membuat seorang anak percaya bahwa dirinya mampu.

Kini, ketika berbincang dengan Bang Masri, Justina melihat masa sekolahnya dengan mata yang berbeda. Bangun pagi, bekerja bersama, menerima teguran, hidup dalam disiplin. Dahulu semua itu terasa sebagai rutinitas. Kini ia tahu, di sanalah wataknya dibentuk.

“Dulu kita tidak mengerti,” katanya. “Sekarang saya mengerti.”

Baca Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Di halaman PKN, wajah-wajah lama pun bermunculan. Rambut memutih. Wajah berubah. Tetapi sebuah pelukan mampu memendekkan jarak puluhan tahun.

Ada pula wajah yang tidak mungkin kembali. Mereka telah lebih dahulu pergi. Nama dan foto mereka hadir di antara percakapan. Sesaat tawa berubah menjadi hening.

Justina datang dari Los Angeles untuk sebuah reuni. Tetapi kepulangannya terasa seperti pertemuan dengan seluruh perjalanan hidupnya.

Di Nyarumkop, ia pernah merasa ditinggalkan. Di tempat yang sama, ia menemukan orang-orang yang menolongnya bertahan. Dari sanalah ia membawa bekal untuk menempuh dunia yang jauh lebih luas.

Ia memandang halaman sekolah sekali lagi.

Empat puluh tahun lalu, ia pergi sebagai seorang gadis yang menangis.

6,8 juta Populasi Dayak Sedunia yang Perlu Terus di-Update Dinamika Angkanya

Hari ini, ia kembali sebagai perempuan yang tahu mengapa ia harus tetap berjalan.

Angin menyentuh pepohonan tua. Cahaya pagi bergerak di halaman. Nyarumkop tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Justina mungkin sudah mendengar jawabannya....

Jakarta pada siang sehijau kemarau, 14 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.