Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)

 

Savio Nederstig alias Pak Ho Ho
Savio Nederstig alias Pak Ho Ho. Ist.

Pagi di Nyarumkop masih menyisakan dingin ketika cahaya perlahan menyelinap melalui jendela-jendela kelas. Dari lereng Gunung Poteng. Udara pegunungan turun seperti napas panjang. Membawa bau tanah, rumput basah, dan daun-daun yang baru disentuh embun. 

Di dalam kelas, bangku-bangku kayu telah terisi. Buku Latin terbuka, tetapi sebagian mata masih membawa sisa kantuk. Lalu ruangan kelas yang senantiasa terbuka tiba-tiba muncul kelebat sosok yang tak lagi asing.

Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)

Pastor Savio dengan langkahnya yang khas tiba-tiba sudah ada di ruang kelas.
Tak lama kemudian. Hanya sekejap saja. Tiba-tiba saja ruang kelas yang semula sunyi mulai dipenuhi suara bahasa tua yang berabad-abad telah melewati zamannya. Hari itu kami belajar declinatio. 

Dan tanpa kami ketahui. Pelajaran pagi itu kelak akan menjadi salah satu suara paling panjang umur dalam ingatan kami.

***

Nama lengkapnya Pastor Savio Nederstig, OFM Cap.
Di Nyarumkop, ia lebih sering dipanggil Savio. Tetapi persekolahan mempunyai cara sendiri memberi nama kepada orang-orang yang pernah hidup di dalamnya. Savio kemudian menjadi Pak Ho Ho, lantaran dua kata itu kerap keluar dari mulutnya setiap kali berbicara. “Ho, ho...”

Lama-kelamaan sapaan itu bukan lagi kebiasaan. Ia menjadi identitas.

Ketika kami berada di Nyarumkop pada ujung 1970-an, Pastor Savio sudah bertugas di sana. Ia mengajar Bahasa Latin. 

Bagi kami, Latin adalah bahasa malaikat yang datang dari dunia yang jauh. Ada nominativus, genetivus, dativus, accusativus, ablativus. Ada kata-kata yang harus berubah ujungnya menurut tempat dan fungsinya. Kami menghafalnya dengan kesungguhan yang kadang-kadang bercampur kantuk.

Baca Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (23)

Namun Savio mempunyai cara yang membuat bahasa tua itu terasa muda.

Saya masih melihatnya berdiri di depan kelas. Ketika menerangkan "Declinatio prima" (perubahan bentuk kata benda pertama).

Ia bagai muncul dari tepi surga. Jemarinya menari-nari. Menggerakkan tangan dan sedikit menggoyangkan tubuh. Separuh mengajar, separuh berjoget. Kemudian terdengarlah suaranya, dengan tekanan yang khas:

“A, ae, ae, am, a a ...”

Kami menatapnya.

Ia melanjutkan, lebih cepat:

Kami pun mengikuti.

“Ae, arum, is, as, ae is...”

Kalau ada yang salah, ia ulangi. Incola, incolae. puella, puellae. Akhiran-akhiran itu meluncur seperti sebuah lagu yang tidak kami sadari sedang kami hafalkan untuk puluhan tahun kemudian.

Yang membuatnya melekat bukan semata-mata Latin. Yang menetap adalah pemandangannya: seorang pastor di depan kelas, tubuh sedikit bergoyang, tangan memberi aba-aba, sementara kami berusaha mengejar iramanya.

Barangkali begitulah kenangan bekerja. Ia tidak menyimpan segala sesuatu. Ia membuang banyak hal yang dahulu kita anggap penting, lalu mempertahankan satu suara, satu wajah, satu gerak tangan.

Baca Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Waktu mengajari kami arti perubahan dengan cara yang lebih keras daripada tata bahasa Latin. Kata berubah karena kedudukannya.

Manusia berubah karena perjalanan hidup. Kami yang dahulu duduk di bangku itu telah berjalan ke berbagai arah. Sebagian kembali ke Nyarumkop. Sebagian hanya kembali melalui kenangan. Sebagian bahkan sudah tidak dapat kembali.

***

Kini saya tidak lagi mengingat semua declinatio. Tetapi saya masih ingat Pak Ho Ho. Dan mungkin itulah hakikat rindu. Kita tidak sungguh-sungguh ingin kembali kepada masa lalu. Kita hanya ingin sekali lagi berada dekat dengan seseorang yang dahulu begitu biasa hadir dalam hidup kita, sebelum waktu mengambilnya terlalu jauh.

6,8 juta Populasi Dayak Sedunia yang Perlu Terus di-Update Dinamika Angkanya

Andai dapat kembali ke ruang kelas itu. Saya tidak ingin mengulang pelajaran. Saya hanya ingin duduk sebagai murid. Memandangnya berdiri di depan kelas. Lalu mendengar suara yang pernah memenuhi ruangan kelas:

“A, ae, ae, am, a... Ae, arum, is, as, is...”

Sesudah itu. Biarlah bel berbunyi.

Biarlah kelas bubar. Sebab sekarang saya tahu: yang paling menyedihkan dari waktu bukan bahwa ia berlalu, melainkan bahwa ia membawa serta orang-orang yang ingin sekali kita temui kembali.

Pak Ho Ho, saya rindu!

Jakarta pada siang sehijau kemarau, 14 September 2026.
Waktu & Kalender

0 Comments

Type above and press Enter to search.