Ruang Makan Asrama di Mana Tragedi Sabtu Kelabu Itu Perlahan Menyembuhkan Lukanya -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (39)
| Ruang makan awal mula tragedi "Sabtu Kelabu". Namun, "tempus omnia sanat."Ya, Waktu menyembuhkan segala luka. Ist. |
Keluar dari dapur umum yang terbuka itu. Di belakang kamar makan bersama yang dulu pernah menjadi perut dunia kami, langkah terasa berat. Seolah setiap jengkal lantai masih menyimpan jejak kaki anak-anak yang sudah lama pergi.
Saya hanya memotret ruang makan itu dari kejauhan. Seperti orang yang takut menyentuh luka lama. Takut jika terlalu dekat. Sebab darah kenangan akan kembali mengucur.
Nyarden: Jangan Bilang "Anak Asrama" jika tak Pernah Melakukannya -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (38)
Badan saya tiba-tima merasa tak kuat berlama-lama di sini....
Udara seakan masih membawa bau nasi dingin, bau daun ubi, bau sarden yang pernah menjadi pesta kecil, dan bau keringat masa muda yang belum tahu apa-apa tentang perpisahan. (Nanti pada waktunya saya akan mengisahkan “kisah sedih di hari Sabtu itu”).
Sabtu yang hitam kelabu. Sabtu yang menelan tiga nama sekaligus: saya, Julin, dan Sutar.
Di sinilah, di antara dinding-dinding yang kini bisu, awal mula peristiwa besar itu lahir. Peristiwa yang mengubah arah sungai kehidupan kami.
Baca Bertus Visschedijk: Misionaris yang Diusir dari Sabah, Guru Bahasa Iggris dan Wasit Tetap Nyarumkop -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (37)
Sebelum semester berakhir, “Surat Keluar Asrama” sudah terbit. Surat yang dikirimkan Pastor Patrik Hartadi, sang pengawas asrama ketika itu, kepada Pastor Lazarus Licchteiner di paroki Jangkang. Surat yang membawa tiga anak muda keluar dari rumah bersama, menuju jalan yang belum mereka kenal, membawa luka yang belum mereka pahami.
Seperti daun ubi yang dicabut dari tanah basah, kami dicabut dari tempat yang kami kira akan selamanya menjadi rumah. Dan seperti air di ketel tua itu yang pernah mendidih tanpa banyak suara, hidup kami pun mendidih dalam diam hingga suatu hari, uapnya naik terlalu tinggi, dan sesuatu yang tak terelakkan akhirnya pecah.
Halaman Asrama yang Mengingatkan Gegar Budaya Pertama -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (36)
Saya pribadi tak hendak membongkar cerita itu. Seperti orang yang enggan menyentuh luka lama yang sudah mengering di bawah kulit waktu, saya sudah memutuskan: episode tragis itu tak akan ditulis. Biarlah ia tinggal di ruang gelap kenangan, tak perlu diterangi lagi.
Namun Benyamin Ngui membujuk.
“Tulislah!” katanya. “Itu bagian dari sejarah. Bagian dari masa muda kita. Tak ada kejahatan, apalagi brutalisme. Hanya cara anak muda melampiaskan rasa jauh dari kasih sayang dan sapaan lembut orang tua.”
“Gak ah!” jawab saya dalam pesan pribadi kepadanya. Kepada Ben, sapaan yang sudah usang di lidah kutuliskan ini. “Saya tak mau ada yang merasa terluka ketika membaca cerita itu.”
Baca Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Tapi Benyamin terus mendesak, perlahan, seperti air yang mengikis batu.
Hm... baiklah. Saya kira, Benyamin kini sudah berbeda dari Benyamin lima puluh tahun lalu. Dulu, kami selalu sehidangan. Sepiring nasi, lauk yang kadang harus dibagi dengan perhitungan, dan percakapan yang tak pernah mengenal harga. Kami makan dari piring yang sama, menertawakan nasib yang sama, dan mungkin belum tahu bahwa waktu kelak akan membawa kami ke meja-meja yang berbeda.
Namun, entah mengapa, setiap kali mengingatnya, saya masih melihat seorang anak asrama yang duduk di samping saya. Di sana, sebelum uang mengenal kami dan sebelum hidup mengajarkan harga segala sesuatu, persahabatan tidak pernah membutuhkan neraca.
Kini Benyamin seorang pengusaha. Dunia telah mengajarinya menghitung. Saya percaya kepadanya. Dia orang yang fair. Punya dacin untuk menimbang untung dan rugi. Maklum, dia pedagang!
Lalu, tanpa direncanakan. Matanglah musim itu. Sebuah pertemuan mengharu biru yang mengubah segalanya. Tahun 2008. Saya sedang menjadi Managing Editor di PT Index, salah satu sister company Gramedia. Kantor kami di bilangan Puri Indah. Jam istirahat siang, usai makan di Lapo, kaki membawa saya berjalan di gerai toko ikan hias di Puri Kembangan.
Dan di sana, di antara akuarium yang berkilau dan gelembung udara yang naik perlahan, saya melihatnya. Saya mengenal betul bau baju dengan asap cerutru cokelatnya. Apalagi kepala plontos macam penjaga gawang Perancis, Barthes yang dahulu pernah kami bikin gerakan pura-pura silau jika ia datang.
“Pastor Patrik Hartadi?”
Suara saya sendiri terdengar seperti datang dari meja makan puluhan tahun lalu. Ia kaget. Saya bertanya mengapa ia ada di sini.
“Liburan di rumah saudara,” jawabnya pelan.
Kami berpelukan.Saya meminta maaf.
Ia berkata, “Sudah berlalu… semua itu bagian masa lalu.”
Saya melihat air mata menitik di sudut matanya. Saya juga. Di tengah deru mesin akuarium dan cahaya lampu biru yang redup, dua orang yang pernah terpisah oleh surat dan waktu berdiri diam, membiarkan air mata menjadi bahasa terakhir yang dibutuhkan.
Pertemuan di bilangan Puri Kembangan itu membuat dada terasa lega. Seperti ketel tua yang akhirnya berhenti mendidih. Kami sudah berdamai.
Kini Pastor Patrik sudah berada di surga...
Kadang saya membayangkan ia masih menggelengkan kepala perlahan, seperti dulu. Matanya yang pernah tajam dan kecewa sekarang menatap ke arah saya dari kejauhan yang tak terjangkau. Tapi kali ini. Di sudut bibirnya yang sudah tidak bisa saya lihat lagi. Ada senyum yang lembut. Senyum yang seolah berbisik, “Begitulah caranya mendidik anak yang bandel!”
Dan di dalam senyum itu, saya merasa diampuni sekali lagi. Lebih dalam dari kata-kata yang pernah kami ucapkan di toko ikan hias itu.
Tempus omnia sanat.Ya, Waktu menyembuhkan segala luka.
Tentang apa dan bagaimana "luka" di ruang makan bersama Wisma Widya itu terjadi akan dikisahkan kemudian.
Masri Sareb Putra
Jakarta, siang ketika angin mengembuskan kemarau, 16 September 2026
0 Comments