Halaman Asrama yang Mengingatkan Gegar Budaya Pertama -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (36)

Penampakan pada halaman asrama dan persekolahan SPG dan SMA
Penampakan pada halaman asrama dan persekolahan SPG dan SMA kini berubah, menyisakan jejak gegar budaya masa silam. Ist.

Siang itu, 4 September 2026. Saya kembali menginjakkan kaki di halaman Wisma Widya. Langkah saya mendadak melambat. Entah mengapa? Saya seperti takut melangkah terlalu cepat, seolah-olah satu langkah yang salah dapat membuat pemandangan di depan mata kembali menjadi mimpi.
Saya berhenti. Memandang bangunan. Memandang halaman. 

Memandang sudut-sudut yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam ingatan. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada. Tempat ini mengenali saya, meskipun saya sendiri hampir tidak mengenali lelaki yang telah datang kembali.

Sarden dan Air Ketel Panas Abadi -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (35)

Hampir lima puluh tahun sebelumnya, saya memasuki halaman ini sebagai seorang anak dari Jangkang. Hari itu saya datang dengan peti kayu, tikar yang dilipat, dan pakaian secukupnya.

***
Kini saya datang dengan tubuh yang telah menempuh perjalanan panjang. Waktu telah mengubah wajah, langkah, suara, dan cara saya memandang dunia. Tetapi halaman itu seperti menyimpan sebuah rahasia yang tidak ikut menua. Begitu kaki menyentuh tanahnya, masa lalu tidak lagi terasa jauh. Ia datang begitu dekat. Hampir dapat disentuh.

Saya berjalan perlahan. Mata saya menyusuri bangunan Wisma Widya. Atap sirap telah berganti. Cat berubah. Beberapa pohon yang dahulu saya kenal sudah tidak ada. Namun susunan bangunannya masih menyisakan bentuk L terbalik. Saya mengenalinya sebelum ingatan sempat menyebut namanya. Begitulah kenangan bekerja. Kadang-kadang mata lebih jujur daripada ingatan.

Dari halaman asrama, Gunung Poteng biasanya berdiri di kejauhan.
Bagi kami dahulu, ia seperti susu ibu yang memberi hidup dan gizi kepada masa pertumbuhan.

Gunung tunggal itu selalu ada. Pagi, siang, sore. Poteng menjadi bagian dari pandangan mata kami sebelum kami tahu bahwa sesuatu yang terus-menerus hadir justru kelak menjadi sesuatu yang paling dirindukan.

Namun siang itu tubuh Gunung Poteng tertutup kabut asap. Hanya sebagian lereng muncul, kemudian menghilang lagi. Saya memandangnya lama. Gunung itu masih di sana. Saya pun masih di sini. Tetapi hampir lima puluh tahun telah berdiri di antara kami.

Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)

Di salah satu sudut halaman, ingatan saya menemukan pohon kaktus. Di samping aula dahulu berdiri cemara. Ada bunga-bunga asoka dan bunga lain yang setiap pagi merekah, tetapi namanya kini sudah hilang dari ingatan.

Saya tidak lagi mampu menyebut semuanya. Namun saya masih dapat merasakan paginya. Cahaya yang jatuh di halaman. Udara yang masih bersih. Langkah kaki anak-anak. Suara yang datang dari kamar-kamar asrama. Aneh. Nama bunga dapat hilang, tetapi suasana tidak. Ingatan rupanya tidak selalu menyimpan apa yang kita minta. Ia menyimpan apa yang dianggapnya penting.

Dan tiba-tiba waktu seperti membuka pintu....

Halaman tahun 2026 perlahan surut. Di baliknya muncul Nyarumkop tahun 1977. Seorang anak laki-laki berdiri di sana. Ia belum tahu bahwa hidup akan membawanya ke banyak tempat. Ia belum tahu bahwa orang-orang yang hari itu berada di sekelilingnya kelak akan menjadi nama-nama yang dicari melalui ingatan. Ia juga belum tahu bahwa hampir lima puluh tahun kemudian seorang lelaki akan kembali ke halaman ini hanya untuk mencari dirinya sendiri.

Anak itu adalah saya. 

Ketika pertama kali kaki saya menginjak halaman asrama pada 1977, dunia tiba-tiba terasa terlalu besar. Halamannya luas. Bangunannya lebih tertata daripada lingkungan rumah kami di kampung. Orang-orang bergerak ke sana kemari. Suara percakapan bersilang. Ada panggilan nama, tawa kecil, langkah kaki, dan wajah-wajah yang sama-sama menyimpan kecanggungan. Di tengah keramaian itu saya berdiri dengan perasaan sederhana: minder.

Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)

Bukan karena merasa lebih rendah daripada orang lain. Saya hanya seorang anak kampung yang tiba-tiba masuk ke dunia yang belum saya kenal. Semuanya tampak besar. Bangunan. Halaman. Jumlah orang. Bahkan suara-suara mereka terasa datang dari tempat yang jauh. Dada saya berdebar. Ada rasa ingin tahu yang besar, tetapi di sudut hati ada keinginan kecil untuk pulang.

Lalu saya melihat peti kayu dan tikar yang kami bawa. Benda-benda sederhana itu tiba-tiba terasa seperti teman. Pakaian kami tidak banyak. Barang kami sedikit. Sangat sedikit. Peti kayu menjadi tempat menyimpan pakaian. Tikar menjadi alas tidur. Kami belum mempunyai banyak benda. Karena itu kami belum belajar mengukur kehidupan dari banyaknya benda yang dapat dibawa pulang.

Sesungguhnya kami tidak hanya membawa peti kayu, tikar, dan pakaian. Kami membawa kampung halaman. Di dalam dada ada ibu dan ayah. Ada saudara-saudara. Ada jalan tanah. Ada sungai. Ada halaman rumah. Ada suara malam dan bau dapur. Semua yang dahulu terasa biasa ternyata diam-diam telah menjadi akar. Kita baru mengenal akar ketika suatu hari harus tumbuh jauh dari tanah asal.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Di rumah, kami dua belas bersaudara. Dua belas suara. Dua belas pasang kaki. Dua belas macam tangis, tawa, pertengkaran kecil, dan panggilan ibu. Rumah hampir tidak pernah benar-benar sunyi. Saya dahulu mengira itulah keramaian terbesar yang akan saya kenal. Ternyata Wisma Widya mengubah ukuran itu. Dalam ingatan saya sekarang, keramaiannya terasa seperti dua belas kali dua belas kali dua belas. Begitu penuh. Begitu hidup. Dan karena dahulu semua itu terasa biasa, kini ia justru terasa mahal.

Hari itu saya belum mengenal istilah culture shock. Saya hanya mengenal rasa asing. Kagum bercampur gentar. Senang melihat dunia yang lebih luas, tetapi diam-diam ingin pulang. Bertahun-tahun kemudian, ketika kuliah, barulah saya mengenal istilahnya: gegar budaya. Nama itu datang belakangan. Pengalamannya sudah lebih dahulu membentuk saya.

Dari Jangkang saya tidak datang seorang diri. Ada Doraman, saya, Daus, dan Juseng. Kami sebelumnya mengikuti Tes Nyarumkop dari paroki di kampung Jangkang. Dari sekian banyak anak kelas kami di SMP Gunung Bengkawan, lulusan 1977, hanya kami berempat yang lulus. Doraman dan saya memilih SMA. Daus dan Juseng memilih SPG. Kami hanya tahu bahwa kami lulus dan akan pergi dari kampung. Kami belum tahu bahwa sebuah tes masuk sekolah akan menjadi pintu menuju hampir setengah abad kenangan.

***

Kini saya kembali berdiri di halaman yang sama. Saya memandang Gunung Poteng. Kabut asap menutup sebagian tubuhnya. Saya memandang bangunan yang masih menyisakan bentuk L terbalik. Saya mencari pohon kaktus. Saya mencari cemara di samping aula. Saya mencari bunga-bunga yang namanya sudah hilang dari ingatan. Yang saya cari sebenarnya bukan lagi benda-benda itu. Saya sedang mencari seorang anak.Dan saya menemukannya.

Ia masih berdiri di halaman tahun 1977. Peti kayu ada di sisinya. Tikar terlipat. Pakaian secukupnya. Dadanya berdebar menghadapi dunia yang terasa terlalu luas. Ia belum tahu jalan hidupnya. Belum tahu berapa banyak orang yang kelak akan datang dan pergi. Belum tahu berapa banyak kehilangan yang harus diterima. Belum tahu bahwa suatu hari ia akan kembali ke tempat ini sebagai lelaki tua, lalu berdiri diam hanya karena sebuah halaman mampu mengembalikan seluruh masa mudanya.

Saya ingin mendekatinya. Ingin menepuk bahunya. Ingin berkata bahwa ia tidak perlu takut. Dunia memang luas. Jalan hidup memang panjang. Namun waktu tidak mempunyai jalan untuk kembali. Anak itu tetap berada di tahun 1977. Saya tetap berdiri di tahun 2026. Di antara kami terbentang hampir lima puluh tahun kehidupan.

Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)

Saya hanya dapat memandangnya dari jauh. Di belakangnya ada halaman, pohon kaktus, cemara di samping aula, bunga-bunga yang namanya telah saya lupakan, dan Gunung Poteng yang separuh wajahnya hilang dalam kabut. Semuanya diam. Seolah-olah tempat ini sejak dahulu tahu bahwa suatu hari saya akan kembali.

Mungkin itulah arti pulang.
Kita datang dengan tubuh yang telah berubah, tetapi tempat lama memanggil bagian diri yang tidak pernah ikut pergi.

Di halaman Wisma Widya itu. Setelah hampir lima puluh tahun. Saya akhirnya menemukan kembali anak yang pernah saya tinggalkan.

Ia masih menunggu....

Masri Sareb Putra 
Jakarta, pagi yang dini 16 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.