Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)
| Reuni Akbar 110 Tahun PKN mempertemukan kami satu angkatan. Saya (kiri pembaca), Patrik, Blandina, dan Bened dengan ikat kepala. Ist. |
Wajah muda itu pulang bersama kenangan dan misteri Tumiang Tajur yang tak pernah saya lupakan. Setelah 50 tahun, saya kembali bersalaman dengan Benediktus di Reuni Akbar 110 Tahun PKN.
Ada nama-nama yang setelah setengah abad masih tinggal sebagai bunyi, yang samar. Kita pernah mengenalnya. Pada suatu tempat dan waktu. Ketika muda belum mengenal kata "tua".
Pernah berjalan bersamanya di halaman sekolah. Mungkin pernah duduk berdekatan di kelas, tetapi waktu menghapus banyak hal dari ingatan. Yang tersisa kadang hanya wajah, suara, atau sepotong tulisan pada kaus yang entah mengapa tidak juga hilang.
Batu-batu Sungai Sekabu dan Sepotong Manna dari Surga -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (30)
Pada Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4 September 2026. Saya bertemu lagi dengan Benediktus, yang dulu akrab dipanggil "Bened".
Kami bersalaman. Berpelukan layaknya sahabat yang telah lama hilang. Lalu berfoto bersama. Saya memandang wajahnya beberapa saat. Bened masih tampak muda. Ganteng. Wajah bersih. Kacamata masih menggantung rapi menghiasi raut wajahnya seperti dulu.
Ada sesuatu pada wajahnya yang mengingatkan saya pada: Kak Seto yang kemudian saya jumpa langsung di Jakarta.
Ingatan pun bergerak mundur. Saya teringat Anton, abangnya, yang ketika itu sudah SMA. Bened sendiri masih SPG, sedangkan saya SMA.
Kami satu angkatan di PKN, hanya berbeda jenjang. Begitulah dahulu kami mengenal satu sama lain, dalam dunia yang belum tahu bahwa suatu hari kelak kami akan berpisah begitu lama.
Nyanyian Malam di Sebuah Kapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (29)
Tetapi ada satu hal yang selama hampir 50 tahun mengusik rasa penasaran saya. Saya pernah melihat kaus Bened bertuliskan TUMIANG TAJUR. Dua patah kata itu melekat dalam ingatan, sementara maknanya sama sekali tidak saya ketahui. Apa artinya? Dari mana datangnya? Mengapa ditulis pada kaus itu? Anehnya, tulisan yang dulu mungkin saya pandang sepintas itu justru bertahan lebih lama daripada banyak percakapan yang pernah kami lakukan.
Karena penasaran pada pagi yang dini hari ini, 15 September, saya bertanya langsung kepada Bened di WAG Reuni Akbar PKN. Setelah setengah abad, sebuah pertanyaan kecil yang tersimpan entah di sudut mana dalam ingatan akhirnya saya keluarkan juga.
Saya menulis yang demikian ini:
Ketika kita bertemu dan bersalaman, saya sempat tenggelam dalam ingatan: siapa gerangan? Tetapi begitu disebut namamu, saya ingat. Ada kaosmu dulu bertuliskan TUMIANG TAJUR!
Lalu Bened menjelaskan makna dua patah kata itu....
Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Di situlah sesuatu yang sederhana tiba-tiba terasa dalam.
Lima puluh tahun saya menyimpan dua kata tanpa mengerti artinya. Waktu ternyata tidak selalu menghapus. Kadang ia justru menyimpan sesuatu lebih dalam, sampai suatu hari kita cukup beruntung untuk kembali bertemu dengan orang yang menjadi sumbernya.
Saya membayangkan kaus itu. Barangkali dahulu ia hanya selembar kain dengan tulisan yang bagi saya terasa asing. Bened memakainya dengan biasa saja.
Kami masih muda. Hari-hari masih panjang. Masa depan belum mempunyai wajah. Kami belum tahu bahwa kelak rambut akan berubah warna. Langkah tidak lagi seringan dulu. Dan teman-teman sekolah akan tersebar ke begitu banyak tempat.
***
Kini, setelah lima puluh tahun, yang tersisa bukan lagi sekadar tulisan pada kaus. "Tumiang Tajur" telah menjadi semacam pintu kecil menuju masa lalu. Di baliknya ada halaman PKN, masa remaja, wajah-wajah yang pernah begitu dekat, dan sebuah zaman ketika kami belum mengenal kata kehilangan.
Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)
Mungkin begitulah cara waktu menyimpan manusia. Ia tidak menyimpan kita dalam bentuk yang utuh. Ia meninggalkan serpihan. Sebuah nama. Seraut wajah. Sehelai baju kaus. Sepatah kata tersisa yang tidak kita mengerti.
Lalu puluhan tahun kemudian. Ketika semuanya hampir terlupakan. Serpihan itu tiba-tiba bercahaya.
Kami bertemu kembali bukan sebagai anak-anak sekolah dahulu, melainkan sebagai orang-orang yang telah ditempa perjalanan masing-masing. Namun ketika bersalaman, ada sesuatu yang melampaui umur. Seolah-olah waktu hanya memisahkan tubuh, bukan kenangan.
Dan saya pun tersenyum sendiri. Betapa anehnya hidup. Selama lima puluh tahun saya penasaran terhadap dua kata pada kaus seorang teman. Ternyata yang saya cari bukan semata-mata arti kata itu. Saya sedang mencari kembali sebagian dari diri saya yang tertinggal di PKN.
Mungkin karena itu reuni bukan hanya pertemuan kembali. Ia adalah perjalanan pulang. Bukan ke gedung sekolah, bukan ke halaman, bukan pula ke bangku-bangku lama. Kita pulang kepada diri kita sendiri, kepada usia ketika persahabatan belum mengenal jarak dan waktu belum mengajari kita arti kehilangan.
***
Bened dan Tumiang Tajur-nya akhirnya memberi saya sebuah jawaban. Tetapi di balik jawaban itu. Terselip pertanyaan yang jauh lebih panjang: berapa banyak hal dalam hidup yang baru kita mengerti setelah puluhan tahun berlalu?
Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)
Barangkali begitulah kenangan. Ia tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu seseorang menyebut nama kita, lalu tiba-tiba lima puluh tahun yang telah lewat terasa seperti kemarin sore.
Masri Sareb Putra
Siang yang tenang, 15-09-2026.
0 Comments