Nyanyian Malam di Sebuah Kapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (29)
| Depan kapel: Kami seangkatan atau pada kelas yang sama menatap dunia yang serasa ada dalam genggaman. Ist. |
Siang 4 September 2026. Usai makan di Wisma Emaus. Kaki saya seperti ditarik sesuatu ke arah atas, menuju Wisma Widya. Entah apa? Mungkin tempat-tempat tertentu menyimpan magnet yang baru bekerja ketika usia telah cukup jauh meninggalkan masa lalu.Langkah kaki saya tetiba berhenti depan "Toko Kita". Supardi menyapa, “Bang, sini dululah! Santai lok!”
Lelaki brewok macam orang Arab itu menyodorkan secangkir kopi panas dalam gelas kertas. Kami berbincang sebentar. Namun ada sesuatu yang terus memanggil dari atas. Saya pamit, lalu melanjutkan langkah.
Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Aula lama saya datangi. Lorong saya susuri sampai di depan kapel. Saya membuka pintunya, melepas sepatu, lalu masuk. Seketika tahun 2026 seperti surut.
Dinding-dinding tua itu membawa saya kembali kepada 1978. Ketika kami masih anak-anak SMA dan malam belum mempunyai bayangan tentang perpisahan.
Sejak dari kejauhan. Memandang ke arah kapel dengan puncak salib tegak lurus seperti menghubungkan dunia dan pintu-surga itu, hati saya merasa seperti dimasuki 74 kilogram embun pagi. Pucuk salib itu tampak sejajar betul dengan puncak Gunung Poteng yang tetap menyimpan hijau meski kemarau.
Tetiba saya ingat kawan-kawan satu angkatan: Jitmen atau William Chang, Gunawan, Benyamin, Mateus Juli, Raymundus, Andi, Songkiat, Agus Clarus, Suhardi, Moses Doko, Pian, Wiwik, Chun Kho, Doraman (Damian), Toton, dan Patrisius. Saya seperti memanggil nama mereka satu per satu. Yang benar-benar menyahut dengan suara dan raga hanya: Patrisius.
Ke mana yang lain? Ya, Pian dan Julin. Kedua kawan ini dipanggil beribu kali pun, suara mereka tak pernah akan terdengar lagi. Keduanya sudah tenggelam dalam nyanyian malam, terbuai dalam Gita Sang Surya yang pernah kami nyanyikan di kapel itu, di malam hari....
Nama-nama itu seperti ketukan kecil pada pintu waktu. Sekali disebut, wajah-wajah muda mereka seakan kembali muncul dari foto lama di depan kapel, ketika kami belum tahu bahwa hampir lima puluh tahun kemudian, sebagian dari kami akan datang kembali hanya untuk mencari suara-suara yang pernah begitu dekat.
Setiap malam. Sebelum pergi tidur. Kami berkumpul di kapel. Pastor Yansen, pastor Belanda itu, memimpin doa penutup hari.
Kami menyanyi, “Salam Sang Mahasurya, terimalah syukurku.” Bertahun-tahun kemudian saya tahu, doa itu disebut completorium, doa terakhir dalam Liturgi Harian.
Dahulu kami tentu tidak memahami istilah itu. Kami hanya tahu bahwa setelah seharian belajar, bercanda, dan berlari-lari dalam dunia kami sendiri, masih ada kewajiban untuk duduk tenang, berdoa, lalu kembali ke asrama.
Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)
Terus terang, dulu doa bersama itu kadang terasa seperti paksaan. Kami masih muda. Yang kami inginkan adalah segera kembali ke kamar, bercakap dengan teman, tertawa, atau sekadar merebahkan tubuh setelah hari yang panjang. Kami menyanyi karena harus menyanyi. Berdoa karena memang sudah waktunya berdoa. Kami tidak tahu bahwa kehidupan sedang menyelipkan sesuatu yang kelak justru paling kami rindukan.
Betapa ganjil cara waktu bekerja. Ketika masih muda, kita menganggap aturan sebagai pagar yang menghalangi kebebasan.
Setelah tua. Kita baru melihat bahwa beberapa pagar justru menjaga halaman kecil tempat kebahagiaan pernah tumbuh. Yang dahulu terasa sebagai kewajiban, setelah puluhan tahun, berubah menjadi kemewahan: berkumpul bersama orang-orang yang masih lengkap, mendengar suara mereka, lalu mengucap syukur sebelum tidur.
Kini saya berdiri di kapel yang sama. Anak-anak itu telah hilang dari ruangan. Suara mereka telah dibawa angin ke berbagai penjuru. Pastor Yansen pun telah menjadi bagian dari sejarah hidup kami. Yang tersisa hanyalah bangku, dinding, pintu, dan udara yang seperti menyimpan gema sebuah malam yang sangat jauh.
Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)
Di situlah saya mengerti. Bahwa yang dirindukan manusia ketika usia berjalan bukanlah selalu peristiwa besar.
Kita justru sering merindukan yang remeh, yang dahulu tidak kita anggap penting: suara sandal di lorong, teman yang duduk di sebelah, lampu asrama yang menyala, teguran seorang guru, secangkir minuman hangat, atau doa bersama sebelum tidur. Hal-hal kecil itu ternyata adalah butir-butir waktu. Ketika jatuh ke masa lalu, nilainya baru kita ketahui.
Hampir lima puluh tahun kemudian, saya justru ingin mendengar kembali nyanyian yang dulu ingin segera saya selesaikan.
Saya ingin melihat lagi wajah-wajah yang dahulu terasa begitu biasa. Saya ingin mendengar suara Pastor Yansen memanggil kami berkumpul. Bukan karena saya ingin kembali menjadi anak SMA, melainkan karena saya tahu sekarang: masa muda tidak pernah memberi tahu kita bahwa ia sedang pergi.
Saya teringat foto kami tahun 1978. Kami berdiri dan duduk di depan kapel. Saya berdiri di antara kawan-kawan, rambut gondrong, baju terbuka di dada, dengan wajah seorang anak muda yang belum mengenal panjangnya jalan kehidupan.
Di foto senja yang dimakan usia itu kami seperti memiliki seluruh waktu di dunia. Padahal waktu, diam-diam, sedang mengambil ancang-ancang untuk membawa kami pergi satu per satu.
Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)
Mungkin itulah yang paling menyayat dari sebuah foto lama. Ia tidak hanya memperlihatkan siapa kita dahulu. Ia memperlihatkan betapa sedikit yang kita ketahui tentang masa depan. Wajah-wajah muda itu belum mengenal kehilangan. Belum tahu siapa yang kelak tinggal jauh. Belum tahu siapa yang akan kembali. Belum tahu bahwa suatu hari, salah seorang dari mereka akan berdiri sendirian di depan kapel yang sama dan mencari kembali suara-suara yang telah lama hilang.
Saya berdiri cukup lama dalam kesunyian itu. Kemudian, entah dari mana, bait lagu lama itu seperti muncul kembali: “Salam Sang Mahasurya, terimalah syukurku.” Hanya sebuah lagu sederhana. Namun setelah hampir setengah abad, ia seperti kunci kecil yang membuka pintu waktu.
Barangkali begitulah hidup. Kita baru memahami arti sebuah saat setelah saat itu menjadi masa lalu. Kita baru menghargai kebersamaan setelah kursi-kursi di sekitar kita mulai kosong. Kita baru mengerti makna sebuah doa setelah orang-orang yang dahulu mengucapkannya bersama kita tidak lagi semuanya dapat dipanggil.
Dulu kami merasa doa malam itu sebuah kewajiban. Kini saya menyadari, mungkin justru di sanalah kami sedang menerima sesuatu yang tidak kami minta: sebuah jeda sebelum tidur, sebuah kesempatan mengucap syukur, dan sebuah kebersamaan yang kelak tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Saya keluar dari kapel dengan perasaan yang sulit dijelaskan....
Nyarumkop masih berdiri di bawah Gunung Poteng, seperti dahulu. Hanya kami yang berubah. Waktu telah berjalan hampir lima puluh tahun, membawa rambut, wajah, tubuh, dan orang-orang ke tempat-tempat yang tidak pernah kami bayangkan.
Namun nyanyian itu masih tinggal.
Dulu kami menyanyikannya karena harus.
Kini saya merindukannya karena mereka yang dahulu menyanyikannya bersama saya tidak lagi lengkap.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah cara hidup mengajarkan syukur: ia membuat kita kehilangan sesuatu terlebih dahulu, lalu diam-diam mengembalikannya sebagai kenangan.
Masri Sareb Putra
Pagi yang dini di Jakarta ketika kapel tua memanggil rindu, 15-09-2026.
0 Comments