Batu-batu Sungai Sekabu dan Sepotong Manna dari Surga -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (30)
Batu-batu Sungai Sekabu itu yang menyimpan bongkah-bongkah kenangan. Ist.
Batu-batu Sungai Sekabu masih mengalir dalam ingatan. Padahal hampir lima puluh tahun lalu, tangan muda saya justru sibuk mengangkatnya dari dasar sungai, memilih yang cukup besar, memasukkannya ke gerobak, lalu mendorongnya ke tempat pembangunan Asrama Putri Sekabu.
Saya pernah menjadi tukang batu. Hanya dua minggu. Tetapi dua minggu itu, hampir lima puluh tahun kemudian, masih mengganjal di ingatan seperti batu yang tak pernah selesai diletakkan.
Tahun 1978/1979. Liburan panjang membuat saya tidak pulang. Seingat saya, ongkos memang tidak ada.
Bang Thadeus Yus juga tinggal di asrama pada ketika itu. Kami lalu bekerja. Pembangunan Asrama Putri Sekabu membutuhkan batu, maka saya bersama beberapa kawan, seingat saya Bustianus dari Entakai, Sanggau, turun ke Sungai Sekabu.
Nyanyian Malam di Sebuah Kapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (29)
Kami membungkuk di air yang dingin. Memilih batu. Mengangkatnya. Memasukkannya ke gerobak. Gerobak penuh kami dorong ke tempat pembangunan. Kosong, kami kembali lagi ke sungai.
Begitu berulang sampai matahari tinggi dan badan mulai kehilangan tenaga.
Sementara itu, di tempat berbeda. Bang Thadeus Yus berdiri di atas tangga bambu....
Kuas di tangannya bergerak pelan, memberi warna baru pada kapel, gereja kecil di samping pastoran. Dari bawah, mungkin sesekali saya melihat sosoknya di ketinggian, kecil di antara dinding kapel dan langit Nyarumkop. Ia bekerja sendirian.
Kami sama-sama mencari uang saku dengan tenaga sendiri. Saya dengan batu dari sungai. Bang Yus dengan kuas dan tangga bambunya. Tidak ada yang merasa pekerjaan itu rendah. Kami hanya tahu satu hal: kalau ingin punya uang saku, tangan sendirilah yang harus bekerja.
Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Kini setiap kali mengingat Sekabu, saya tidak hanya melihat sungai. Saya juga melihat Bang Yus di atas tangga bambu itu. Seorang anak muda yang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa hampir lima puluh tahun kemudian, jejak kuasnya masih tinggal dalam ingatan seorang kawan.
Cat pada kapel sudah berkali-kali diperbarui. Barangkali warna yang pernah ia sapukan telah lama hilang. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut terhapus. Ingatan tentang seorang sahabat yang pernah berdiri di sana, bekerja dalam kesunyian liburan, sementara kami mengangkat batu dari sungai.
Lalu pukul 10.00 datang. Teh atau kopi panas. Pisang goreng atau ubi rebus. Bagi kami, itu manna dari surga.
Pukul 15.00, sebelum pulang ke Asrama Widya, manna itu datang lagi. Kami duduk. Minum. Makan. Mengembalikan tenaga. Lalu pulang dengan badan lelah dan hati yang entah mengapa ringan.
***
Hampir lima puluh tahun berlalu....
Saya sudah lupa berapa batu yang kami angkut. Lupa berapa kali gerobak bolak-balik. Bahkan lupa nama Suster yang memberi kami makanan itu. Tetapi saya masih ingat rasa kopinya. Masih ingat dinginnya air Sungai Sekabu. Masih ingat derit gerobak. Dan di antara semuanya, masih ada Bang Yus di atas tangga bambu, dengan kuas di tangan, mengecat kapel pada sebuah liburan yang kini terasa seperti halaman yang jatuh dari buku kehidupan.
Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)
Mungkin itulah yang disebut rindu. Ia tidak selalu datang karena sesuatu yang besar. Kadang ia lahir dari batu, kopi panas, pisang goreng, suara roda gerobak, atau seorang sahabat yang berdiri di atas tangga bambu. Kita tidak tahu bahwa saat itu kita sedang membuat kenangan. Kita baru mengerti ketika waktu sudah terlalu jauh untuk kembali.
Saya rindu Sungai Sekabu. Rindu manna yang sederhana itu. Rindu tangan yang masih kuat. Rindu kawan-kawan yang masih muda. Dan saya rindu Bang Yus, yang pernah berdiri di atas tangga bambu dengan kuas di tangannya, sementara kami sama-sama mencari sedikit uang saku untuk meneruskan hari.
***
Cat di kapel itu mungkin telah memudar. Tetapi jejak Bang Yus tidak. Usai Misa Penutupan Reuni Akbar PKN, 6 September 2026. Entah bagaimana kami berdua berdiri tepat di pelataran gereja kecil itu. Hampir lima puluh tahun telah lewat sejak ia berdiri di atas tangga bambu, mengecat dindingnya dengan tangan muda.
Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)
Kini kami berdiri di tanah yang sama. Tetapi usia telah membawa kami jauh dari anak-anak yang dahulu. Bang Yus menunjuk ke arah dinding. Kemudian ia menengadah. Saya mengikuti arah pandangnya. Sejenak kami diam.
Dinding kapel itu seperti membuka kembali sebuah pintu yang lama tertutup. Di sana, di antara cat yang telah berganti dan waktu yang telah berjalan, saya seperti melihat seorang Bang Yus yang lain. Masih muda. Masih kuat. Masih memegang kuas di atas tangga bambu.
Masa lalu rupanya tidak selalu tinggal dalam foto atau buku kenangan. Kadang ia berdiam pada sebuah dinding tua. Menunggu dua orang sahabat yang pernah melewatinya untuk kembali berdiri di hadapannya. Hari itu saya sadar, kami tidak sedang memandang kapel.
Kami sedang memandang diri kami sendiri yang tertinggal di sana, hampir setengah abad silam. Dan mungkin itulah yang membuat saya terdiam lebih lama. Sebab yang berdiri di samping saya bukan lagi Bang Yus yang dahulu, melainkan seorang sahabat yang telah berjalan begitu jauh bersama waktu.
Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)
Saya ingin kembali melihatnya sebagai anak muda di atas tangga bambu. Ingin mendengar derit tangga, melihat kuas bergerak. Dan menyaksikan tangan yang belum mengenal lelah. Tetapi waktu hanya memberi kenangan. Ia tidak memberi jalan pulang.
Kami akhirnya tetap berdiri di sana....
Dua orang tua di hadapan dinding yang pernah disentuh tangan muda kami. Bang Yus menurunkan tangannya. Saya menatapnya. Tidak ada yang kami katakan. Mungkin memang tidak perlu untuk mengatakan apa-apa.
Kami hanya menghela napas. Bang Yus yang mungkin lebih keras tarikannya dibanding saya. Sebab dinding kapel itu seperti pintu yang membuka masa lalu yang tak mungkin untuk dimasuki lagi dalam keadaan yang sama.
Ada kenangan yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata. Ada persahabatan yang, setelah hampir lima puluh tahun, cukup dikenali dari sebuah telunjuk yang menunjuk ke dinding dan dua pasang mata yang sama-sama tahu: di situlah masa muda kami pernah tinggal.
Masri Sareb Putra
Pagi yang dini di Jakarta ketika batu-batu Sungai Sekabu memanggil rindu, 15-09-2026.
0 Comments