Sarden dan Air Ketel Panas Abadi -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (35)
| Air dalam ketel panas abadi. Ist. |
Matahari mulai condong ke barat. Angin kemarau menyisir dedaunan dengan suara tipis. Entah mengapa, langkah saya melambat. Lalu seperti diseret oleh sesuatu yang tak kasatmata menuju sebuah tempat yang telah lama tinggal dalam ingatan.Ketel yang, entah bagaimana, masih mengepul di dalam ingatan saya. Puluhan tahun setelah saya meninggalkannya.
Ke sana. Ke sebuah ketel tua yang dahulu kami percaya menyimpan air panas abadi. Sebuah ketel yang airnya tak pernah benar-benar dingin.
Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)
Tanah yang dahulu kami injak dengan kaki telanjang kini terasa seperti halaman tua sebuah buku yang tiba-tiba terbuka pada kisah yang paling lama saya cari.
Saya berdiri di sana. Dan entah mengapa, terasa seakan-akan tanah masih mengenali langkah seorang anak yang puluhan tahun lalu pernah berlari di atasnya.
Tempat itu telah sunyi....
Ketel besar sudah tidak ada. Api dan tumpukan kayu tinggal bayangan dalam ingatan. Tidak ada anak asrama membawa muk. Tidak ada suara saling memanggil. Yang terdengar hanya desir daun dan angin yang lewat seperti seseorang yang tahu jalan pulang, tetapi tidak lagi membawa siapa-siapa.
Anehnya, justru dalam kesunyian itulah saya mendengar semuanya. Air bergolak. Uap naik ke wajah. Tangan-tangan muda menciduk air panas.
Muk berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Doraman sibuk dengan kayu. Patrisius ada di dekatnya. Benyamin, Gunawan, Jitmen, dan Chunko datang dari kejauhan dalam ingatan, masih dengan wajah yang belum disentuh oleh dosa.
Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)
Kami membawa muk. Air panas dari ketel dituangkan ke dalamnya. Pucuk daun ubi dimasukkan. Garam ditaburkan. Sedikit vetsin menyusul. Tidak ada resep. Tidak ada ukuran. Tidak ada koki. Lidah menjadi penakar. Lapar menjadi ilmu memasak.
Ada yang mengaduk. Ada yang meniup. Ada yang mencicipi dengan wajah seserius seorang ahli kuliner.
“Kurang asin”
Garam ditambah.
“Sudah!”
Maka selesai sudah sebuah mahakarya dapur asrama. Kami menyebutnya: sarden.
Nama yang sungguh luar biasa untuk makanan yang sama sekali tidak mengenal ikan. Tidak ada saus tomat. Tidak ada kaleng. Tidak ada minyak. Hanya pucuk daun ubi, air panas, garam, dan sedikit vetsin.
Tetapi masa kanak-kanak mempunyai keajaiban sendiri. Kekurangan dapat berubah menjadi pesta hanya dengan sebuah nama. Daun yang tumbuh di pinggir halaman, setelah disebut “sarden”, seolah-olah naik pangkat menjadi hidangan istimewa.
Baca Sisa Kopi, Seruput Teh, dan Air Putih Manis Jambu di Kantor Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (32)
Benyamin makan. Gunawan ikut. Jitmen dan Chunko duduk bersama kami. Patrisius ada di sana. Doraman masih berjibaku dengan kayu. Kami tertawa, saling mengejek, saling menunggu. Di sekitar muk sederhana itu, dunia terasa kecil dan cukup. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Perut ternyata lebih demokratis daripada banyak teori tentang manusia.
Kini saya tahu, yang bertahan bukan rasa sarden. Rasanya telah lama hilang dari lidah. Yang tinggal adalah bunyi-bunyi kecil yang dahulu kami anggap biasa: tawa, panggilan, kayu terbakar, dan air panas yang jatuh ke dalam muk. Ketika kebahagiaan sedang berlangsung, kita memang jarang tahu bahwa ia sedang menulis dirinya sendiri. Kita hanya menjalaninya. Kelak, setelah tahun-tahun berlalu, hari biasa itulah yang diam-diam menjadi rumah bagi kerinduan.
Puluhan tahun kemudian, saya berdiri di tempat itu. Matahari turun perlahan di balik pepohonan. Cahaya sore menimpa tanah seperti selimut tipis. Saya tidak melihat ketel. Saya tidak melihat muk. Tetapi dalam cahaya yang hampir padam, masa lalu seperti menyalakan lampunya sendiri.
Mereka masih muda di sana.
Hanya saya yang datang terlambat.
Waktu telah melewati kami seperti sungai melewati batu. Jalan hidup membawa kami ke berbagai penjuru. Sebagian masih dapat saya jumpai. Sebagian hanya tinggal nama. Namun ada nama-nama yang, sekali disebut, seakan-akan sebuah pintu lama terbuka dan suara dari masa silam kembali memenuhi ruangan.
***
Saya memandang tanah itu sekali lagi....
Saya tahu saya harus pergi. Tetapi kaki seperti enggan meninggalkan tempat yang tidak lagi menyimpan apa-apa, kecuali segala sesuatu.
Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)
Mungkin itulah paradoks kenangan. Kita tidak merindukan benda yang telah hilang. Kita merindukan dunia yang dahulu hadir ketika benda itu masih ada. Kita merindukan orang-orang yang duduk di sekitar kita. Kita merindukan diri sendiri yang pernah begitu muda dan sederhana, tanpa tahu bahwa kelak kesederhanaan itu akan menjadi kemewahan yang tak terbeli.
Dahulu kami mengira sedang membuat sarden. Rupanya waktu sedang memasak hari-hari kami dengan api yang nyaris tak terdengar. Pelan sekali. Sampai suatu hari api itu padam dan masa kanak-kanak telah matang menjadi kenangan.
Namun setiap kali saya mengingat sore itu, ada sesuatu yang kembali mengepul dari dalam dada. Seolah-olah sebuah muk masih berada di tangan saya. Doraman belum selesai membawa kayu. Patrisius masih berdiri di sana. Benyamin, Gunawan, Jitmen, dan Chunko masih mengelilingi kami. Dan kami semua belum tahu bahwa kehidupan kelak akan membentangkan jarak begitu panjang.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Lalu dari kejauhan, entah dari pepohonan, angin, atau sebuah ruang yang hanya dimiliki kenangan, terdengar suara:
“Sudah?”
Saya tersenyum.
“Sudah.”
Dua kata yang dahulu hanya berarti sarden telah matang. Kini keduanya seperti mengetuk pintu waktu.
Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Saya baru mengerti: yang saya tunggu bukan lagi sarden yang matang, melainkan suara kawan-kawan yang dahulu memanggil dari sebuah sore yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan suara yang telah dibawa pergi oleh waktu tidak pernah benar-benar pulang.
Masri Sareb Putra
Jakarta, dinihari 16 September 2026.
0 Comments