Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)

Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali
Tangga surga kami di WISMA WIDYA dan masa muda yang tak kan kembali lagi. Di atas sana, kami memimpikan apa saja: bidadari, menjadi apa nanti, dan masa depan. Ist.

Siang itu Nyarumkop gerah. Angin Gunung Poteng yang dahulu biasa menyelusup di antara bangunan, membawa dingin dari lereng dan hutan, seperti telah lama meninggalkan tempat ini. Kemarau membuat udara berat.

Matahari jatuh terik di halaman. Saya berdiri di sana dengan perasaan yang sulit saya beri nama. Seolah-olah bukan hanya angin yang telah pergi, melainkan juga sesuatu dari masa muda saya.

Baca Sisa Kopi, Seruput Teh, dan Air Putih Manis Jambu di Kantor Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (32)

Sehabis melihat kembali kantor guru, saya naik ke bagian atas. Dahulu kami menyebutnya “kelas atas”. Di sanalah kelas III dan IV SMA ditempatkan. Seingat saya, angkatan Bang Adri, Yus, Maliki, dan kawan-kawan adalah yang terakhir mengalami kelas IV. Sesudah itu SMA tinggal sampai kelas III. Angkatan saya pun demikian.

Dari sana saya turun beberapa trap. Berapa anak tangga, saya sudah lupa. Saya berjalan lurus sampai mentok ke dinding. Lalu berbelok ke kiri. 

Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)

Saya terus berjalan menuju ujung bangunan. Di sanalah, di bagian paling kanan, terdapat tangga kayu yang menuju loteng.

Aneh. Setelah puluhan tahun. Kaki saya masih seperti tahu ke mana harus pergi.

***

Saya berhenti di kaki tangga. Ada sesuatu yang menarik saya ke atas. Bukan suara. Bukan panggilan. Hanya semacam daya tarik dari masa silam. Seperti ada bagian dari diri saya yang tertinggal di sana dan kini diam-diam meminta dijemput.

Nyanyian Malam di Sebuah Kapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (29)

Saya menaiki tangga itu perlahan. Satu anak tangga. Lalu satu lagi. Papan ulin tua mengeluarkan bunyi lirih di bawah telapak kaki. Krek. Diam. Krek. Seolah-olah kayu itu sedang mengenali langkah yang telah puluhan tahun tidak didengarnya.

Tangga ini dahulu adalah tangga surga kami. Ttiap malam. Setelah hari panjang selesai dan suara-suara asrama perlahan padam. Kami menaikinya menuju loteng, menuju velbed dan tidur yang nyenyak. Di anak-anak tangga itulah dunia terasa semakin jauh. 

Kami naik membawa tubuh yang lelah, lalu rebah sebagai anak-anak muda yang belum mengenal beratnya hari esok. Di atas sana kami bermimpi tanpa takut kehilangan apa-apa.

Kami tidur pulas di bawah atap sederhana. Sementara malam menjaga kami dalam diam. Kami tidak tahu bahwa tangga yang kami lewati setiap malam itu kelak akan menjadi jalan pulang menuju masa muda yang tak mungkin diulang.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Ketika kepala saya melewati bibir loteng, saya berhenti. Sunyi.

Cahaya kemarau masuk melalui celah-celah papan. Debu-debu kecil menari dalam berkas matahari. Dari atas terdengar angin menggesek atap. Sesekali kayu tua berderak. Selebihnya tidak ada apa-apa.

Tidak ada suara teman-teman. Tidak ada tawa. Tidak ada suara velbed berderit ketika seseorang membalikkan badan. Tidak ada suara anak-anak asrama yang dahulu membuat malam terasa panjang, tetapi tidak pernah terasa sepi.

Saya melangkah masuk. Di sinilah dahulu saya tidur.

Velbed kami sederhana. Besi dan kain. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada yang kami tuntut dari malam selain tempat untuk merebahkan tubuh setelah seharian belajar, bekerja, bermain, dan berlari mengejar usia muda.

Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)

Di atas velbed itu kami tidur nyenyak. Mungkin karena masih muda. Mungkin karena hari esok belum menagih apa-apa. Kami belum mengenal banyak kehilangan. Belum tahu bahwa orang-orang yang setiap malam masih bisa kami dengar suaranya kelak akan tinggal dalam ingatan.

Saya tidak ingat mimpi apa yang pernah datang kepada saya di atas velbed itu. Mimpi-mimpi masa muda ternyata lebih mudah hilang daripada yang kita kira.

Tetapi ada satu hal yang justru tidak hilang. Tikar dan bantal.

Setiap Sabtu siang. Pastor Petrus Rostandy menyuruh kami menurunkan tikar dan bantal dari loteng untuk dijemur. Kami membawanya turun. Kami bentangkan di bawah matahari. Kami biarkan panas menyentuh kain, mengeringkan lembap yang terkumpul selama seminggu.

Ketika itu kami tidak pernah bertanya mengapa pekerjaan kecil itu harus dilakukan. Kami hanya menurut. Begitulah kehidupan asrama. Ada jadwal. Ada aturan. Ada Pastor Petrus yang mengawasi. Ada tangan anak-anak yang bekerja bersama tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari tangan-tangan itu akan menjadi tua.

Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)

Kini saya berdiri lagi di tempat ini dan tiba-tiba Pastor Petrus terasa begitu dekat. Bukan melalui foto atau kata-kata besar. Ia hadir melalui kebiasaan sederhana yang dahulu kami jalani setiap minggu.

Aneh benar ingatan manusia. Ia membuang mimpi, tetapi menyimpan tikar. Ia melupakan percakapan, tetapi mengingat matahari Sabtu siang. Ia memburamkan wajah, tetapi dapat menghadirkan kembali seseorang melalui sehelai bantal yang dahulu dijemur.

Barangkali itulah cara hidup menyimpan masa muda. Bukan dalam peristiwa besar, melainkan dalam hal-hal kecil yang dulu kita anggap biasa.

***

Kini velbed itu sudah tidak ada. Tikar dan bantal itu pun telah lama lenyap. Yang tinggal hanya loteng, papan ulin, cahaya kemarau, dan nama-nama yang sesekali pulang bersama ingatan.

Saya berdiri di sana sebagai orang yang datang terlambat untuk menjemput masa mudanya.

Dulu Pastor Petrus menyuruh kami menjemur tikar dan bantal tiap Sabtu siang. Kami mengerjakannya tanpa banyak bertanya.

Kami tidak tahu bahwa puluhan tahun kemudian, justru kenangan tentang pekerjaan kecil itulah yang paling sulit dikeringkan. Sebab ada kenangan yang tidak pernah benar-benar kering. Ia tetap basah oleh air mata.

Masri Sareb Putra 
Jakarta dalam bekap malam yang kian gulita, 15 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.