Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)

 

Air Poteng dan Wajah yang Tertinggal
Air Gunung Poteng yang membuat awet kembali. Ist.

Saya turun dari "tangga surga" setelah menginjak lantai loteng, tempat kami pernah tidur lima puluh tahun silam. Beberapa anak tangga saya lewati dengan langkah yang terasa lebih lambat. Mungkin kaki sudah membawa usia. Mungkin pula setiap anak tangga menyimpan sepotong masa lalu yang enggan ditinggalkan.

Sampai di bawah. Saya berbelok ke kiri. Di sana kamar mandi asrama itu masih ada. Wajahnya sudah berubah, tetapi ingatan rupanya tidak mengenal renovasi. Ia mengenali tempat-tempat yang bahkan mata hampir tak sanggup mengenalinya lagi.

Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)

Dulu bak mandi itu hanya semen. Kasar, dingin, sederhana. Tetapi bagi kami, bak itu kadang-kadang menjelma menjadi kolam renang. Kalau sedang iseng, beberapa anak asrama menguji nyali, masuk ke dalamnya. Berendam, bermain air, bahkan berenang-renang. Kami tidak membutuhkan kolam renang hotel. Cukup sebuah bak semen, air Gunung Poteng, dan keberanian mengambil risiko ketahuan pamong.

Sebab kalau sampai ketahuan Pastor Petrus, selesai sudah! Hukumannya: Bak harus dikuras habis dan dibersihkan. Seolah-olah kami bukan sedang mencari sedikit kegembiraan, melainkan baru saja melakukan kejahatan besar terhadap tata tertib asrama.

Saya sendiri pernah nyemplung ke dalam bak mandi itu dulu. Bukan alang kepalang senangnya! Berenang-renang dengan perasaan seorang juara renang, padahal kolamnya hanya bak mandi. Ajaibnya, saya tidak pernah tertangkap. Atau mungkin Pastor tahu, tetapi memilih menyimpan rahasia kenakalan kami sampai hari ini.

Baca Sisa Kopi, Seruput Teh, dan Air Putih Manis Jambu di Kantor Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (32)

Lima puluh tahun kemudian saya berdiri lagi di depannya. Bak semen itu telah berganti rupa. Kini sudah berubin. Ruang mandi anak-anak asrama pun berubah. Dindingnya lain. Lantainya lain. Zaman memang pandai mengubah segala sesuatu, tetapi ada yang tidak berhasil direnovasi oleh waktu: ingatan.

Di balik ubin baru itu saya masih melihat bak semen yang dahulu. Saya masih melihat anak-anak yang tertawa, tubuh-tubuh muda yang belum tahu bahwa suatu hari mereka akan menjadi tua. Kami belum tahu bahwa teman-teman akan pergi ke berbagai penjuru. Belum tahu bahwa sebagian kenangan kelak akan menjadi lebih mahal daripada apa pun yang dapat dibeli.

***

Hari itu, 4 September 2026. Kemarau sedang panjang. Matahari menggantung di atas Nyarumkop, tetapi anehnya bak itu penuh air. Saya tidak tahu apa yang tiba-tiba menggerakkan tangan saya. Seolah-olah tangan saya lebih dahulu mengenali tempat itu daripada pikiran saya.

Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)

Saya mengambil timba. Menceduk air segaung. Air Gunung Poteng. Lalu saya membasuh muka.

Dingin. Jernih. Segar.

Dan tiba-tiba. Ada sesuatu yang telah terkubur selama lima puluh tahun seperti bergerak di dalam diri saya. Air itu menyentuh wajah, tetapi yang pulang bukan sekadar kesegaran. Ada loteng tempat kami tidur. Ada tangga yang kami naiki dan turuni. Ada suara teman-teman. Ada malam-malam panjang. Ada kenakalan kecil yang dahulu terasa biasa, tetapi kini justru menjadi harta paling mahal dalam ingatan.

Nyanyian Malam di Sebuah Kapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (29)

Betapa aneh manusia. Ketika masih memilikinya, kita ingin cepat-cepat meninggalkan masa kanak-kanak. Setelah semuanya berlalu, kita rela menempuh separuh umur hanya untuk mendapatkan kembali satu menit darinya.

Saya menciduk air sekali lagi. Kali ini lebih pelan. Saya membasuh muka seperti seseorang yang sedang mencoba membangunkan dirinya sendiri dari tidur yang sangat panjang.

Sesaat saya bukan lagi lelaki yang datang ke Nyarumkop setelah lima puluh tahun. Saya kembali menjadi anak asrama itu. Anak yang belum tahu bahwa rambut kelak akan memutih, langkah akan melambat, teman-teman akan berpencar, dan tempat yang dahulu terasa biasa saja akan berubah menjadi sesuatu yang dirindukan dengan seluruh hati.

Saya akhirnya mengerti, yang saya cari bukanlah bak mandi itu. Bukan ubinnya. Bukan dindingnya. Bahkan bukan airnya. Saya sedang mencari seorang anak kecil yang pernah tinggal di tempat ini. Anak yang pernah tidur di loteng, turun melalui tangga ini, lalu nyemplung ke bak semen tanpa memikirkan apa pun selain kegembiraan hari itu.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Anak itu belum tahu bahwa hidup akan membawanya jauh. Ia belum tahu bahwa lima puluh tahun kemudian ia akan kembali sebagai orang tua, berdiri di tempat yang sama, dan hanya membutuhkan segayung air untuk membuka pintu masa lalu.

Saya ingin mengatakan kepadanya, "Nak, ternyata kita kembali."

Tetapi tidak ada jawaban. Hanya air yang mengalir perlahan dari wajah. Barangkali begitulah pulang yang sesungguhnya. Kita kembali bukan semata-mata untuk melihat tempat yang pernah kita tinggali, melainkan untuk mencari bagian diri yang tertinggal di sana.

Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)

Sebab rumah masa kecil tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah ke dalam ingatan. Menjadi sebuah ruang rahasia yang dapat dibuka oleh tangga tua, bau tanah, suara angin, sebuah bak mandi, atau segayung air yang menyentuh wajah setelah setengah abad.

Dulu saya masuk ke bak itu untuk berenang. Kini saya kembali hanya untuk membasuh muka. Dulu air membuat saya tertawa. Kini air membuat saya diam, sebab di dalam kesunyian itu saya seperti mendengar kembali suara anak-anak yang telah lama pergi.

Saya menatap permukaan air....
Di sana hanya tampak pantulan wajah saya yang telah berubah. Tetapi di balik wajah tua itu, saya seperti melihat wajah-wajah kami dahulu, sebelum hidup mengajarkan arti kehilangan, sebelum perpisahan membuat setiap pertemuan menjadi begitu berharga.

Saya tersenyum kecil, lalu menunduk. Air menetes dari dagu. Saya tidak tahu apakah yang basah hanya wajah. Mungkin juga mata.

Masri Sareb Putra 
Jakarta dalam bekap malam 15 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.