Bertus Visschedijk: Misionaris yang Diusir dari Sabah, Guru Bahasa Iggris dan Wasit Tetap Nyarumkop -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (37)
| Bertus Visschedijk dalam langgam tangkapan kamera wajah aslinya semasa remaja kami. Ist. |
Bertus Visschedijk.
Bukan hanya saya yang membuka kembali lembaran sosok masa muda kami dulu. Benyamin Ngui akan menuturkan ingatan dan kesannya tentang lelaki tinggi besar kulit putih lengan berbulu, berkumis, dan berjambang lebat ini. Gunawan tak ketinggalan. Patrisius juga. Pun Doraman. Masing-masing kepala membawa serpihan kenangan sendiri. Mungkin berbeda bunyinya, tetapi bertemu pada sosok yang sama: lelaki bermata biru yang pernah berdiri di hadapan kami.
Selamat mengikuti jalinan kisahnya!
Ia datang dari negeri yang datar, di mana angin laut membawa kabut dan suara lonceng gereja yang lembut. Bertus Visschedijk, kongregasi atau tarekat Mill Hill, bukan hanya pastor.
Halaman Asrama yang Mengingatkan Gegar Budaya Pertama -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (36)
Bertus seorang peziarah yang membawa salib di dalam dada. Dan di dalam dada itu ada ruang untuk bahasa asing, untuk bola yang menggelinding di tanah merah, untuk senyum anak-anak yang belum tahu nama Tuhan dalam lidah mereka sendiri.
Sabah, pada masa itu, adalah hutan yang masih berbicara dalam bahasa yang belum sepenuhnya diterjemahkan.
Di antara pohon-pohon yang menjulang dan sungai yang enggan diam, ia menanam kata-kata. Bukan hanya Injil, melainkan juga hope, dan friendship, dan the simple joy of a well-kicked ball.
Baca Sarden dan Air Ketel Panas Abadi -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (35)
Bertus melatih kaki-kaki muda. Membisikkan bahwa permainan adalah doa yang tak memerlukan altar.
Tapi sejarah, seperti angin muson, kadang berubah arah tanpa permisi.
Pada suatu dini hari Desember 1972, ketukan di pintu pastori Keningau tidak datang membawa berkat. Ia datang membawa surat perintah, membawa wajah-wajah yang dingin, membawa keputusan sebuah bangsa yang sedang mencari wajahnya sendiri di antara iman dan kuasa.
Bened dan Misteri Tumiang Tajurnya Setelah 50 Tahun -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (31)
Bertus dibawa pergi. Bukan karena dosa, melainkan karena ia adalah orang asing yang membawa Tuhan yang lain. Deportasi adalah kata yang kering, tapi di dalam dirinya ada air mata yang tak terlihat: pengasingan dari tanah yang sudah hampir menjadi rumah.
Ia pergi, seperti daun yang dilepas oleh tangkai angin, tapi tidak jatuh. Ia melayang menyeberangi batas yang digambar manusia di atas peta, menuju Nyarumkop.
Di sana, di sekolah Nyarumkop yang sudah tua sebelum ia lahir, ia menemukan kembali panggilannya. Bukan lagi di mimbar yang tinggi, melainkan di bangku kelas yang rendah. Ia mengajar bahasa Inggris. Bukan hanya tata bahasa, melainkan cara membuka jendela ke dunia yang lebih luas. Setiap kata yang ia tulis di papan adalah jembatan. Setiap kalimat yang ia benahi adalah sebuah pengakuan: bahwa manusia, di mana pun ia berdiri, selalu haus akan arti.
Dan bola, sekali lagi, menjadi sahabatnya. Di lapangan yang tidak rata, di bawah matahari yang sama dengan yang pernah menyinari Sabah, ia melihat anak-anak berlari. Di situlah, mungkin, ia memahami sesuatu yang lebih dalam daripada teologi: bahwa hidup adalah permainan yang terus berlanjut, meski wasitnya berubah, meski gawang dipindah, meski penonton pergi.
Baca Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)
Bertus Visschedijk tidak menulis buku besar. Ia tidak meninggalkan monumen. Ia meninggalkan jejak yang lebih sunyi: suara seorang asing yang memilih untuk tinggal di antara orang-orang yang bukan sukunya, mengajarkan mereka bahwa bahasa bisa menjadi rumah.
Dan bahwa pengusiran, sekeras apa pun. Tidak pernah benar-benar mampu menghalau seseorang dari dirinya sendiri.
Dalam diamnya yang panjang, Bertus seolah berkata: kita semua adalah orang asing di muka bumi ini. Yang membedakan hanyalah, apakah kita berani menjadikan pengasingan itu sebagai tempat untuk menanam.
(tentang Bertus, narasinya akan sambung menyambung menjadi satu kisahan).
Masri Sareb Putra
Jakarta, hari ketika waktu menyibak kelopak pagi 16 September 2026.
0 Comments