Nyarden: Jangan Bilang "Anak Asrama" jika tak Pernah Melakukannya -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (38)

Nyarden: Jangan Bilang "Anak Asrama" jika tak Pernah Melakukannya
SARDEN - asupan gizi sekaligus kuliner maknyuz anak-anak asrama pada ketika itu. Ist.

Saya masih melihat ketel tua itu. Perutnya penuh air dari Gunung Poteng. Mendidih tanpa banyak suara. Uapnya naik perlahan. Seperti napas sebuah rumah yang tidak pernah tidur. Bagai helaan napas kami, yang masih panjang pada ketika itu.
Kami menciduk air panasnya ke dalam muk, memasukkan pucuk daun ubi, menutupnya beberapa menit, lalu membuang air rebusan pertama. Sesudah itu, sedikit garam. Sedikit vetsin. Selesai.

Baca Bertus Visschedijk: Misionaris yang Diusir dari Sabah, Guru Bahasa Iggris dan Wasit Tetap Nyarumkop -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (37)

Begini proses dan cara membuat sarden ala anak asrama pada ketika itu:

Ambil segenggam pucuk singkong muda atau daun ubi jalar muda yang merambat subur di pinggir got, tempat air kotor mengalir dari kamar mandi dan WC. Gendut. Hijau. Segar seperti masa muda kami yang tak tahu diri. Cuci bersih di bawah kran yang mengalirkan air dari Gunung Poteng. Lalu pergi, lewat kamar makan atau langsung dari pintu kamar mandi umum asrama atas, menuju dapur umum. Pergi ke ketel. Ciduk air panas secukupnya. Tuang ke dalam muk berisi pucuk daun ubi jalar atau daun singkong muda. Aduk dengan sendok. Biarkan sebentar. Jika sudah lembut, artinya sudah matang. Buang air pertama. Isi air utuk kuah secukupnya. Taburkan garam sekenanya. Beri vetsin sebagai tambahan bumbu penyedap. Kuliner yang maknyuz anak-anak asrama ketika itu.

Halaman Asrama yang Mengingatkan Gegar Budaya Pertama -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (36)

Dulu kami makan karena lapar.

Kini, ketika mengingatnya, saya seperti lapar kepada waktu. Lapar yang tak bisa diisi lagi oleh apa pun.

Begitulah kemewahan kami.

Dan pada hari-hari tertentu, datanglah kebahagiaan yang lebih besar: sarden. Tutup kaleng dibuka. Bau ikan dan saus tomat segera memenuhi ruang makan, bau yang kini terasa seperti aroma surga yang sudah lama hilang.

Kami mendekat. Kami membagi. Kami makan dengan lahap, dengan tangan yang masih kotor, dengan tawa yang masih keras. Tidak ada yang bertanya apakah itu makanan sederhana. Bagi kami, sarden adalah pesta kecil yang datang di tengah hidup yang sangat sederhana. Kami mengira itu akan selalu ada.

***

Kini sarden itu telah habis sejak hampir setengah abad lalu. Daun ubi telah berkali-kali tumbuh dan dipetik. Ketel itu entah masih ada atau sudah menjadi besi tua yang berkarat di suatu sudut yang dilupakan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah yang perlahan menjauh. 

Sebagian menjadi asing. Sebagian sudah tak bisa dipanggil lagi. Sebagian tinggal dalam ingatan yang semakin kabur, seperti foto yang terlalu lama dijemur matahari.

Baca Sarden dan Air Ketel Panas Abadi -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (35)

Barangkali itulah yang paling getir dari masa muda: ketika menjalaninya, kita tidak tahu bahwa kelak kita akan merindukannya dengan air mata yang diam. Kami mengira yang sedang kami habiskan hanyalah nasi, sarden, daun ubi, dan air panas. Ternyata waktu ikut kami makan sedikit demi sedikit. Kami makan waktu kami sendiri, tanpa sadar.

Dan sekarang, setiap kali mengingat ketel yang mengepulkan uap itu, atau mencium bau sarden dari sebuah kaleng yang baru dibuka, atau melihat sepiring daun ubi di dalam cangkir biru yang sudah tua dan berkarat, saya seperti mendengar kembali suara anak-anak asrama yang telah lama pergi. Suara yang tertawa. Suara yang ribut. Suara yang tidak tahu bahwa suatu hari mereka akan hilang satu per satu. Kami pernah makan bersama.

Itu saja. Tetapi ternyata, itu adalah kemewahan yang tidak bisa diulang. Sebab makanan bisa dimasak kembali.

***

Sarden bisa dibeli lagi.... 

Air bisa kembali mendidih. Hanya kami yang tidak mungkin kembali menjadi anak-anak. 

Baca  Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)

Dan yang paling menyakitkan adalah: kami bahkan tidak hendak mengucapkan "selamat tinggal" kepada diri kami, yang dulu itu....
Masri Sareb Putra 
Jakarta,  siang ketika angin mengembuskan kemarau, 16 September 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.