Cinta Monyet dan Pengadilan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (42)
| Malam gembira: ketika kami semua anak-anak Wisma Widya, Wisma Rini dan warga Nyarumkop benar-benar bergembira. Ist. |
Cinta monyet di Nyarumkop rupanya belum tamat. Ia hanya bersembunyi di antara lipatan waktu. Menunggu lima puluh tahun untuk kembali mengetuk pintu ingatan.
Malam gembira dahulu menjadi panggung tempat kami menyanyi, bermain gitar, bercanda. Dan diam-diam mencari alasan untuk mendekati seseorang yang disukai.
Aula sekolah berubah menjadi dunia kecil tempat kesenian dan perasaan tumbuh bersamaan. Kami belum mengenal cinta dengan baik. Kami hanya tahu bahwa ada wajah-wajah tertentu yang membuat malam terasa lebih terang.
Surat Cinta Cece Anciang yang Hilang di Antara Waktu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (42)
Bintang-bintang panggung ketika itu adalah para personel group-band Wid Bros, Widya Brothers. Kami waktu itu terus terang, terang terus, menaruh rasa cemburu buta pada mereka: Bang Adri, Jayaseputra, Akong, Kanis, dan Bang Maliki. Bang Yus yang paling ganteng sebenarnya di antara mereka itu! Bang Yus salah satu vocalis. Pacarnya? 10 jari tangan gak cukup buat membilangnya!
Seakan-akan bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan Wisma Rini Sekabu dan rumput liar Nyarumkop, Tainam, hingga Bagak; meriap dalam pelukan musik dan cahaya panggung yang mereka mainkan.
Ah! Ingin rasanya saya menonjok salah satu di antara mereka itu, saat itu!
Bang Maliki, kakak kandung saya, kelas IV, sementara saya baru kelas I. Rambutnya panjang hingga menyentuh pundak, bergelombang, ikal. Ada yang bilang ia mirp Rhoma Irama. Namun kata saya Bang Maliki seperti saya 4 tahun kemudian. Ia pandai menyanyi dan bermain gitar. Lagu-lagu melankolis seperti Sonya dan Hello Darling mengalir dari suaranya.
Penggemarnya banyak. Saya, adiknya, ikut menikmati sedikit cahaya yang jatuh dari bintang keluarga. Saya sendiri apa? Musik tidak bisa. Menyanyi, suara masih dalam masa percobaan. Suara puber, antara anak kecil dan laki-laki yang belum selesai dibentuk Tuhan.
Namun, pernah pada suatu malam gembira, saya bernyanyi bersama Bang Maliki. Penonton cukup banyak. Entah mereka datang untuk mendengar suara saya atau menunggu kakak saya menyelamatkan keadaan. Saya tidak bertanya. Dalam urusan harga diri, ketidaktahuan kadang-kadang merupakan perlindungan paling murah.
Pada usia itu, saya belum mampu membedakan suka, kagum, tertarik, cinta, sayang, dan hormat kepada perempuan. Hati belum memiliki kamus. Semua perasaan datang sekaligus, seperti anak-anak asrama ketika mendengar bunyi ketel air panas.
Ada seorang anak SMP, sebut saja namanya Emilia Guati. Emi. Saya menulis surat kepadanya. Ia membalas. Bagi seorang remaja, selembar surat balasan bukanlah kertas biasa. Ia dapat membuat hari lebih cerah, langkah menuju kelas lebih ringan, dan dunia terasa sedikit lebih ramah.
Saya mulai menyimpan perasaan yang belum tahu namanya. Cinta? Kagum? Suka? Ah, pada usia belasan tahun, hati belum mengenal administrasi. Semua perasaan diterima tanpa formulir.
Syair dan Lagu Cinta yang Kembali Berbunyi di Ruangan Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (41)
Emi tinggi semampai. Dalam ingatan saya, ia berdiri seperti sesuatu yang terlalu indah untuk dibiarkan berlalu.
Saya tidak tahu apakah ia menyadari betapa pentingnya dirinya bagi seorang anak laki-laki yang sedang belajar memahami gejolak hati. Saya hanya tahu, suatu hari, ia pindah sekolah ke Singkawang.
Tanpa permisi. Tanpa pemberitahuan.
Tanpa sepucuk surat terakhir yang sekurang-kurangnya memberi saya kesempatan untuk berpura-pura tabah. Begitu saja.
Sungguh, kalau cinta monyet memiliki pengadilan, mungkin saya sudah mengajukan gugatan. Seperti lagu Leo Waldy yang puluhan tahun saya gemari ketika berkaraoke, "Pengadilan Cinta".
Majalah Dinding dan Sebatang Pena yang Belajar Menarikan Hidup -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (40)
Bedanya, di Nyarumkop saya tidak punya pengacara, tidak punya saksi, dan terdakwanya sudah keburu pindah ke Singkawang. Modal saya cuma selembar surat dan hati yang belum mengerti bagaimana cara mengajukan banding. Saya tidak menuntut pesta perpisahan. Tidak perlu pidato. Tidak perlu marching band. Cukup satu kalimat: Emi pindah, ya.
Namun, tidak. Ia pergi. Saya tinggal bersama kebingungan, seperti orang yang menunggu tamu di beranda, sementara tamunya sudah pindah rumah ke kota lain.
Saya tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Emi? Kepada jarak? Kepada waktu? Atau kepada diri sendiri yang terlalu naif untuk bertanya lebih banyak ketika kesempatan masih terbuka?
Begitulah cinta monyet: kadang-kadang tidak sempat berpisah secara resmi. Seseorang pergi, sementara kita masih berdiri di tempat semula, memandangi jalan yang sudah kosong.
Saya masih ingat. Untuk mengungkapkan isi hati dan perasaan saya saat itu kepada Emi. Saya menggubah selarik puisi di malam hari, ketika kawan-kawan saya sekelas (Benyamin, Gunawan, Jitmen, Doraman, Patrisius dan kawan sekelas lain) sedang sibuk membuka catatan dan mengulang pelajaran tadi pagi.
Sementara saya sibuk mengulang pelajaran yang baru saja diberikan hidup (kemudian hari saya tahu bahwa saya juga sedang belajar dari hidup. Mengalami dulu, baru belajar. Inilah university of life di PKN).
Si dia yang telah pergi itu tentu saja tidak pernah baca sebab puisi itu kemudian nempel di majalah dinding. Banyak orang membacanya. Anehnya, puisi itu seperti ditulis untuk mereka!
Pagi hilang pagi pergi
seorang hilang
tanpa permisi...
Tiga baris. Cuma tiga baris saja puisiku itu....
Namun bagi saya yang masih kelas I SMA, puisi itu terasa hampir sehebat Chairil Anwar. Saya belum tahu apa-apa tentang mutu sastra. Saya hanya tahu, setelah menumpahkan isi hati ke atas kertas, dada terasa lapang. Seolah-olah melalui tiga baris itu saya sempat berkata kepada Emi, sebelum ia benar-benar pergi.
Begitulah cinta monyet. Ia kadang pergi tanpa salam, tanpa lambaian, tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Seseorang menghilang, sementara kita masih berdiri di tempat semula, menatap jalan yang telah kosong. Bagi hati seorang anak yang baru mengenal cinta, kehilangan kecil itu terasa seperti dunia tiba-tiba kehilangan cahaya.
Saya belum mengenal metafora, citraan, enjambemen (gagasan yang belum selesai ditulis tetapi menuntut pembaca meneruskannya, suatu teknik bercerita), apalagi teori sastra. Saya hanya tahu seseorang telah pergi. Dan ketika hati tak menemukan jalan untuk mengejarnya, tangan memilih menulis.
Puluhan tahun kemudian, pengalaman itu saya bawa ke ruang Creative Writing. Kepada mahasiswa saya berkata sambil bercanda, “Kalau ingin menulis puisi yang bagus, putus cintalah sekarang!”
“Grrrrrrrrrrrr!”
Seketika kelas menggeram. Kami tertawa sampai dosen dari ruang sebelah keluar menegur. Lucu memang. Dulu saya menulis karena ditinggal Emi. Bertahun-tahun kemudian, kenangan yang sama membuat satu kelas gaduh.
Tetapi di balik tawa itu saya memahami sesuatu: perasaan adalah pintu pertama, bahasa yang membuatnya hidup. Patah hati memberi luka. Kata-kata memberinya bentuk. Dan ketika bentuk itu menemukan pembacanya, luka yang dahulu begitu pribadi tiba-tiba menjadi milik banyak orang.
Kini, setelah puluhan tahun menulis, saya sering berpikir: mungkin saya tidak pernah benar-benar kehilangan Emi. Ia hanya pergi dari hidup saya untuk tinggal di tempat lain, di antara kata-kata.
Dan mungkin, tanpa saya sadari malam itu di Nyarumkop. Tiga baris puisi untuk seorang gadis yang pergi itulah pintu kecil pertama menuju jalan panjang kepengarangan saya.
***
Empat puluh tahun kemudian. Beranda itu muncul dalam bentuk lain: Facebook. Sebuah ruang maya dengan semboyan connecting people. Melalui seorang kawannya sesama SMP Timonong, saya memperoleh kontak Emi.
Dari kakak kandungnya di Sekadau, yang sama-sama menyandang nama keluarga Guati, saya mendapat jejak lain. Masa lalu yang dahulu menghilang tanpa salam, kini seperti mengirimkan alamat dari kejauhan.
Saya merasa seakan-akan menemukan pintu yang selama ini saya cari. Betapa ingin saya mengetuknya. Betapa ingin saya bertanya, meskipun dengan nada bercanda untuk menyembunyikan hati yang masih menyimpan sisa dongkol: Mengapa dulu pergi tanpa permisi, Emi?
Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)
Saya ingin bertemu. Ingin melihat wajahnya. Ingin mendengar suaranya. Ingin mengatakan bahwa pernah ada seorang anak Nyarumkop yang menunggu, meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang ditunggunya.
Barangkali saya ingin tertawa bersama, menertawakan kebodohan masa muda. Barangkali saya ingin sekadar duduk berhadapan dengannya, tanpa tuntutan apa pun. Lima puluh tahun telah berlalu. Apa artinya sebuah pertanyaan kecil dibandingkan panjangnya usia?
Tetapi waktu, seperti biasa, tidak menunggu orang yang baru belajar berani.
Emi sudah berada di Yerusalem abadi.
Saya membaca kabar itu dengan perasaan yang sulit saya susun menjadi kalimat. Seolah-olah seseorang baru saja memadamkan lampu di sebuah rumah yang selama puluhan tahun ingin saya datangi. Ada keheningan yang tidak bisa diterobos. Ada pintu yang tidak lagi dapat diketuk. Ada nama yang tiba-tiba berubah dari kenangan masa muda menjadi doa.
Emi, mengapa begitu cepat?
Pertanyaan itu tentu tidak akan sampai kepadanya. Dan mungkin, sejak awal, bukan jawaban yang sungguh-sungguh saya cari.
Saya hanya ingin satu kesempatan. Satu pertemuan. Satu salam yang tidak terputus oleh jarak dan waktu.
Saya ingin menyampaikan bahwa saya masih ingat. Bahwa surat itu pernah ada. Bahwa kepergianmu dahulu pernah membuat seorang anak laki-laki merasa ditinggalkan, meskipun dunia terus berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kini, saya tidak lagi dapat mengejar langkahmu. Tidak dapat menyodorkan tangan. Tidak dapat menuntut penjelasan. Tidak dapat berkata, dengan setengah kesal dan setengah tertawa, bahwa dahulu engkau seharusnya berpamitan. Semua itu telah melewati batas yang tidak dapat ditembus manusia.
Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)
Yang tersisa adalah keinginan untuk mencari, yang datang terlambat. Terlambat untuk pertemuan di dunia. Terlambat untuk sebuah percakapan yang mungkin hanya berlangsung setengah jam. Terlambat untuk mendengar suara yang dahulu mungkin pernah membuat hati saya berdebar. Namun, apakah penghormatan juga mengenal kata terlambat?
Saya membayangkan, seandainya masih ada kesempatan, saya akan datang tanpa membawa tuntutan. Hanya membawa ingatan tentang Nyarumkop. Tentang aula. Tentang surat yang pernah saya tulis. Tentang seorang anak kelas I yang belum mengenal perbedaan antara cinta dan kekaguman. Saya akan berkata: "Emi, saya datang. Maaf, baru sekarang."
Tetapi tidak ada lagi pertemuan itu.
Maka saya menyimpan namamu dengan cara yang tersisa. Bukan sebagai luka yang harus terus dibuka, melainkan sebagai bagian dari masa muda yang pernah membuat hidup terasa berdebar. Engkau mungkin telah melupakan surat itu. Mungkin juga tidak. Namun, saya tahu, ada kenangan yang tidak perlu disimpan oleh dua orang secara sama untuk tetap berarti bagi salah satunya.
Baca Sisa Kopi, Seruput Teh, dan Air Putih Manis Jambu di Kantor Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (32)
Selain Emi, ada Cece Ita, Titin, dan satu lagi cinta monyet saya dari masa SPG. Ia orang Takong.
Ketika reuni, kami bertemu kembali. Mula-mula, ia lupa ketika saya menyalaminya. Saya sedikit kecewa. Lima puluh tahun rupanya cukup panjang untuk membuat wajah dan nama saling mencari di lorong ingatan.
Namun, beberapa menit kemudian, ketika saya melintas di antara deretan bangku para alumni, memorinya terbuka. Ia ingat. Saya pun tahu bahwa ia ingat. Kami tidak perlu mengurai seluruh masa lampau. Ada peristiwa yang cukup disapa dengan senyum. Ada nama yang tidak perlu lagi dijelaskan.
Malam hiburan Reuni 110 Tahun PKN, 4 dan 5 September 2026, saya terus berkeliling halaman Nyarumkop. Saya bertemu adik kelas, kakak kelas, guru, sahabat, dan orang-orang yang dahulu pernah mengisi ruang kecil dalam kehidupan saya.
Ada yang langsung mengenali. Ada yang membutuhkan waktu. Ada yang barangkali sedang mencari nama saya di rak ingatan yang penuh debu. Saya menyaksikan bagaimana masa lalu membuka pintunya sedikit demi sedikit. Satu wajah memanggil wajah lain. Satu nama membangunkan cerita yang lama tertidur.
Saya teringat Sylvia Daliman. Dahulu, saya mengingat gaya manjanya, rambut panjang terurai yang suka dilempar-lemparkannya. Kini, ketika saya mendekatinya, ia tampak malu. Waktu telah mengubah tubuh, wajah, dan cara kita berdiri. Tetapi kenangan tidak selalu mengikuti perubahan itu. Ia datang membawa gambar lama, lalu menaruhnya diam-diam di depan mata kita.
Dengan Sylvia, dahulu saya dekat sebagai kawan. Tidak semua kedekatan harus diberi nama cinta. Ada persahabatan yang tetap meninggalkan jejak, meskipun waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing.
Lalu, Kak Yustina Ayub. Ia kelas III SPG, saya kelas I....
Dalam pandangan saya waktu itu, ia termasuk perempuan tercantik dan teranggun di lingkungan sekolah. Banyak kakak kelas berusaha mendekatinya. Herman Ahie, Bang Yus, Bang Adri, dan siapa lagi? Aduh, ingatan saya ini bukan lagi buku induk sekolah. Beberapa nama telah luntur. Sebagian lainnya mungkin sengaja bersembunyi karena malu. Saya merasa nyaman berada di dekat Kak Yus. Pada usia muda, kita belum memahami seluruh arti kedekatan. Kita hanya tahu bahwa ada orang-orang tertentu yang membuat hari terasa lebih menyenangkan. Dan itu sudah cukup.
Kini, setelah setengah abad, saya memandang semuanya dengan perasaan yang bercampur-baur. Ada tawa. Ada dongkol yang dulu tidak sempat disampaikan. Ada nama-nama yang kembali membuka pintu kenangan. Ada pula kesadaran bahwa masa muda ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya mengubah alamat.
Kami yang dahulu berjalan di halaman Nyarumkop sebagai anak-anak sekolah, kini kembali sebagai orang-orang tua dengan rambut yang memutih, tubuh yang berubah, dan ingatan yang kadang-kadang tersandung. Namun, di antara semua perubahan itu, masih ada seorang anak kelas I yang pernah menyanyi dengan suara puber, menulis surat cinta, lalu ditinggal pergi tanpa permisi.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Anak itu ternyata belum sepenuhnya pulang. Ia masih ingin mencari Emi. Bukan untuk menuntut jawaban. Bukan untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah berlalu.
Hanya ingin bertemu, walau sebentar. Hanya ingin mengucapkan salam yang dulu tidak sempat disampaikan. Hanya ingin berkata bahwa ada seseorang yang pernah mengingatnya, bahkan ketika dunia sudah begitu lama berjalan.
Dan ketika akhirnya saya tahu bahwa Emi telah pergi ke "Yerusalem abadi". Saya merasa seperti berdiri kembali di beranda tua itu. Menunggu seseorang yang tidak akan datang. Menggenggam sepucuk surat yang tidak pernah sempat saya tulis untuk terakhir kalinya.
Air mata mungkin tidak menyelesaikan apa-apa. Tetapi malam itu, di antara deru musik, dan suara canda tawa para alumni, dan langkah-langkah yang berkeliling halaman sekolah, saya mengerti: ada kehilangan yang tidak menimbulkan suara ketika datang. Ia hanya membuat hati tiba-tiba sepi.
Emi, kalau di sana ada beranda. Semoga suatu hari, dalam cara yang hanya diketahui Tuhan. Saya tidak lagi datang terlambat.
Masri Sareb Putra
Jakarta ketika hari baru mengibak pagi 17 September 2026
0 Comments