Syair dan Lagu Cinta yang Kembali Berbunyi di Ruangan Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (41)
| Ruang yang dulu membunyikan lagu-lagu cinta, adanya berhadapan dengan pohon itu. Ist. |
Siang itu... setelah tangan magis masa lalu menahan langkah saya di depan majalah dinding puluhan tahun silam. Saya kembali terperangkap dalam ruang kenangan. Waktu surut. Dari pemutar piringan hitam, lagu-lagu nostalgia mengalun, bening dan syahdu, seakan dinyanyikan ribuan malaikat surga. Setiap nada membuka pintu yang lama tertutup. Saya berdiri di sana, lelaki tua yang mendadak menjadi bocah Nyarumkop. Bukan saya yang mengenang masa lalu. Masa lalu yang sedang memanggil saya pulang.
Ada kenangan yang tidak mati. Ia hanya berdiam di sudut-sudut yang barangkali sudah lama dilupakan dunia. Menunggu seseorang kembali, bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menyadari bahwa di sana pernah tinggal sebagian dari dirinya.
Majalah Dinding dan Sebatang Pena yang Belajar Menarikan Hidup -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (40)
Bagi saya, salah satu sudut itu berada di Nyarumkop. Sebuah ruang tua pada Desember 1978. Di antara tembok ruang rekreasi yang terbuka tiga perempat dan ruang kelas III SPG yang terbuka dua perempat.
Ruang yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Namun bagi saya, ia seperti halaman kitab kehidupan yang tak pernah selesai dibaca. Setiap kali saya membukanya, selalu ada suara yang terdengar. Selalu ada wajah yang muncul. Selalu ada sesuatu yang diam-diam menyentuh bagian hati yang paling tua.
Waktu itu masa Adven. Natal sudah mendekat....
Tetapi saya tidak sedang menunggu hadiah. Saya hanya seorang anak asrama yang belajar mengenali dunia melalui apa yang tersedia di hadapannya.
Dan di ruang itulah John Juta Yanto, ketua asrama kami, menjadi penguasa kecil. Ia memegang kunci asrama. Entah bagaimana, seorang bocah nakal seperti saya bisa berlama-lama berada di sana, duduk bersama Yanto di ruang yang menyimpan kehangatan dan bunyi.
Ada pemutar piringan hitam. Saya tidak pernah bertanya dari mana datangnya. Siapa pemiliknya. Dari mana uang untuk membelinya. Pertanyaan-pertanyaan itu belum menjadi urusan seorang anak. Yang saya tahu, ketika piringan mulai berputar, dunia kami mendadak terasa lebih luas.
The Mercys. God Bless. Koes Plus. D'Lloyd. Panbers. G & G.
Nama-nama itu pernah mengisi udara Nyarumkop. Lagu-lagu mengalir dari ruang tua, menembus celah tembok, mungkin sampai ke halaman yang mulai diselimuti senja. Kami tidak punya banyak hal. Tetapi pada saat itu, musik membuat kami merasa kaya. Kaya oleh suara. Kaya oleh khayalan. Kaya oleh sesuatu yang tidak dapat dibeli, tetapi dapat menetap puluhan tahun dalam ingatan.
Yanto memutar lagu-lagu Natal. Saya masih mengingat "Natal di Dusun Kecil" dari Charles Hutagalung. Pita suara lelaki dengan nada tinggi diiringi melodi yang memuat dunia anak muda dan seisiya bergetar.
Kini ketika mendengar atau mengingat judulnya, saya seperti melihat kembali seorang anak yang berdiri di ruang tua, mendengarkan lagu dengan kesungguhan yang hanya dimiliki mereka yang belum tahu betapa cepatnya waktu akan berlalu.
Kami tidak tahu bahwa suatu hari nanti, ruang itu akan menjadi masa lalu. Kami tidak tahu bahwa orang-orang yang duduk bersama kami akan berpencar. Bahwa suara-suara yang saat itu terasa biasa akan berubah menjadi peninggalan yang sangat mahal. Bahwa sebuah lagu yang terdengar dari pemutar piringan hitam dapat menjadi semacam surat dari masa muda, dikirimkan kepada kita setelah usia berjalan begitu jauh.
Saya hanya tahu bahwa saya bahagia.
Dan mungkin, kebahagiaan yang paling murni memang sering tidak dikenali ketika sedang berlangsung.
Lagu yang Saya Simpan untuk Tahun Depan
Dari nomor-nomor G & G, saya menemukan lagu "Lama Tak Jumpa". Saya ingin menyanyikannya. (Dalam tulisan sebelumnya, lagu ini saya nyanyikan duet dengan Bang Maliki pada pementasan anak-anak PKN di Sanggau pada Liburan Natal).
Saya tidak bisa membaca not. Tidak mengerti teori musik. Tidak tahu bagaimana lagu itu dituliskan dalam lembaran partitur. Namun telinga saya menangkap sesuatu yang ingin saya bawa pulang. Tahun depan, anak-anak Nyarumkop asal Sanggau akan tampil dalam malam kesenian di Gereja Sanggau. Masih setahun lagi. Bagi seorang anak sekolah, satu tahun adalah jarak yang panjang.
Tetapi saya sudah mulai mempersiapkan diri.
Saya mendengarkan. Menghafalkan. Meniru. Mengulang. Barangkali dengan suara yang belum sempurna, dengan cara yang sederhana, dengan keyakinan seorang anak bahwa keinginan yang dipelihara baik-baik akan menemukan jalannya sendiri.
Saya tidak tahu bahwa pada saat itulah saya sedang belajar menjadi seseorang yang kelak akan hidup dari kata-kata. Saya hanya tahu bahwa ada lagu yang ingin saya nyanyikan. Ada panggung yang ingin saya datangi. Ada sesuatu di dalam diri yang meminta diberi kesempatan.
Dan saya memberinya waktu. Setahun penuh.
Betapa polosnya masa muda. Kita dapat mempersiapkan sebuah lagu selama berbulan-bulan, seolah-olah masa depan benar-benar menunggu kita di tempat yang sudah ditentukan. Kita belum tahu bahwa hidup akan mengubah banyak rencana. Bahwa sebagian panggung tidak pernah kita datangi. Bahwa sebagian lagu justru akan menjadi soundtrack bagi peristiwa yang tidak pernah kita rencanakan.
Karena Senyuman, dan Seseorang yang Tidak Pulang
Namun di antara semua lagu itu, ada satu yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan saya. "Karena Senyuman", Eddy Silitonga.
Entah apa yang dimiliki lagu itu. Ada sesuatu yang begitu syahdu. Begitu dalam. Sampai-sampai bulu kuduk saya merinding ketika mengingatnya. Lagu itu seperti mengetahui sebuah rahasia yang belum sanggup saya ucapkan. Ia menyentuh kerinduan yang saya sendiri belum tahu bagaimana menjelaskannya.
Liburan Natal tahun itu. Saya tidak pulang ke Jangkang.
Saya tinggal di Nyarumkop. Dua minggu bekerja memecah batu. Sebagaimana pernah saya kisahkan, sementara Bang Yus mengecat kapel. Natal datang, tetapi saya tidak berada di rumah. Tidak ada perjalanan pulang. Tidak ada suasana keluarga yang biasanya menyertai hari raya. Tidak ada kesempatan untuk melupakan sejenak kerasnya kehidupan asrama.
Ada batu yang harus dikerjakan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada hari-hari yang tetap berjalan meskipun hati seorang anak sedang menunggu sesuatu.
Dan saya merindukan seseorang....
Ia anak SPG kelas I, seangkatan dengan saya. Rambutnya bak mayang terurai. Saya masih menyimpan gambaran itu. Ada wajah yang mungkin sudah berubah oleh usia. Ada mata yang mungkin telah lama tidak saya lihat. Tetapi dalam ingatan saya, ia tetap tinggal sebagai seorang gadis muda, pada masa ketika dunia belum terlalu banyak mengambil sesuatu dari kami.
Saya menulis surat cinta kepadanya. Dan ia membalasnya.
Betapa besar arti sebuah jawaban bagi seorang anak muda yang sedang jatuh cinta. Sepotong kertas dapat membuat jarak terasa lebih pendek. Tulisan tangan dapat menjadi suara yang kita simpan di dekat dada. Dan sebuah nama yang ditulis dengan tangan orang yang kita rindukan, dapat membuat hari yang panjang terasa memiliki alasan untuk dijalani.
Saya tidak tahu apakah pada waktu itu ia juga merasakan kedalaman yang sama. Saya hanya tahu bahwa saya sungguh-sungguh.
Dan kesungguhan seorang anak muda, meskipun kadang naif, tidak pernah layak ditertawakan.
Sebab ia mencintai dengan seluruh pengetahuan yang dimilikinya. Ia belum mengenal banyak cara untuk melindungi diri. Ia belum tahu bahwa hati dapat patah justru ketika kita merasa sedang menjaganya sebaik mungkin.
Sampai hari ini, fotonya masih saya simpan. Ia mengenakan kebaya pada suatu pesta.
Foto itu mungkin hanya selembar benda tua bagi orang lain. Namun bagi saya, ia adalah sebuah pintu. Ketika terbuka, saya tidak hanya melihat seorang perempuan. Saya melihat kembali diri saya sendiri. Anak asrama yang pernah menulis surat cinta. Anak muda yang menunggu jawaban. Anak yang mungkin percaya bahwa sebuah perasaan, jika dijaga dengan sungguh-sungguh, akan menemukan tempatnya.
Tetapi kehidupan tidak selalu mengikuti keyakinan kita. Kemudian, ia direbut lelaki lain. Teman seasrama. Apakah saya yang kurang memelihara hubungan kami? Atau lelaki itu lebih menarik baginya? Saya tak pernah tahu. Suatu waktu akan saya tanya!
Saya masih ingat kesombongan kecil yang pernah tumbuh dalam hati saya. Menurut ukuran saya waktu itu, lelaki itu tidak lebih ganteng daripada saya. Ah, betapa lucunya seorang pemuda yang patah hati. Bahkan dalam kesedihan pun, ia masih ingin memenangkan perlombaan yang sebenarnya tidak pernah diselenggarakan.
Namun cinta tidak mengenal penilaian semacam itu. Mereka kemudian menikah. Dan saya?
Saya harus belajar pulang tanpa membawa orang yang saya harapkan.
Ada luka yang tidak terlihat oleh siapa pun. Kita tetap bisa makan. Tetap bisa tertawa. Tetap mengikuti pelajaran. Tetap berjalan di antara teman-teman. Tetapi di dalam diri, ada sesuatu yang seperti pecahan kaca. Tidak selalu mengeluarkan darah. Namun setiap kali disentuh kenangan, ia kembali terasa.
Mungkin itulah yang terjadi kepada saya.
Pada masa itu, saya tidak tahu bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal kepada sesuatu yang belum sempat menjadi milik saya.
Foto yang Tersimpan dan Hati yang Akhirnya Teduh
Puluhan tahun kemudian, ketika WAG Reuni Akbar PKN ramai oleh kenangan, Justina dari Amerika bertanya tentang siapa saja sesama alumni Nyarumkop yang menikah. Pertanyaan yang tampaknya sederhana itu tiba-tiba membuka pintu ingatan.
Saya teringat pasangan tersebut.
Dulu, mungkin nama mereka akan membuat dada saya sesak. Kini, saya menyebutnya dengan ketenangan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya miliki.
Waktu rupanya punya cara sendiri untuk mengajari kita menerima sesuatu yang dahulu tidak sanggup kita terima.
Saya tidak lagi memandang kisah itu sebagai kekalahan. Tidak pula sebagai kemenangan siapa pun. Mereka menjalani hidup mereka. Saya menjalani hidup saya. Dan di antara keduanya, ada masa muda yang pernah kami lewati bersama, meskipun tidak dengan akhir yang saya harapkan.
Pernah saya berpikir, mungkin ini hukum karma.
Mungkin saya juga pernah merebut pacar seorang kawan. Mungkin, dalam cerita cinta orang lain, saya pernah menjadi lelaki yang membuat seseorang terluka. Hidup kadang-kadang membawa kita berhadapan dengan cermin yang tidak segera kita kenali.
Tetapi semakin tua, saya semakin mengerti bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan seorang penjahat. Tidak semua cinta yang kandas harus dicari siapa yang salah. Manusia memilih. Manusia berubah. Manusia berjalan ke arah yang tidak selalu bisa kita ikuti.
Dan kita, yang tertinggal, harus belajar melanjutkan hidup. Bukan karena masa lalu tidak berarti. Justru karena ia pernah begitu berarti.
Hari ini, jika saya kembali membayangkan ruang tua itu, saya tidak hanya mendengar musik. Saya mendengar waktu.
Saya mendengar Yanto memutar piringan hitam. Saya melihat seorang anak duduk dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Saya mendengar lagu Natal dari Charles Hutagalung Saya mengingat "Lama Tak Jumpa", yang saya simpan untuk dinyanyikan setahun kemudian. Saya mendengar Eddy Silitonga menyanyikan "Karena Senyuman", dan tiba-tiba seorang anak muda yang telah berusia lanjut berdiri lagi di hadapan kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Di sana ada batu-batu yang saya pecahkan pada liburan Natal. Ada Bang Yus yang mengecat kapel. Ada seseorang yang pulang ke Sanggau, sementara saya tetap tinggal di Nyarumkop, ditemani pekerjaan dan kerinduan yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapa-siapa.
Dan ada sebuah foto kebaya. Foto yang masih saya simpan. Mungkin ia tidak pernah tahu seberapa lama namanya tinggal dalam ingatan saya. Mungkin ia tidak pernah mengetahui bahwa pernah ada seorang anak asrama yang mendengarkan lagu sambil merindukannya. Mungkin ia juga sudah lama melupakan surat-surat itu.
Tidak apa-apa.Tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki akhir yang sama. Ada cinta yang datang untuk mengajari kita berharap. Ada yang datang untuk mengajari kita kehilangan. Dan ada yang, setelah puluhan tahun, akhirnya mengajari kita memaafkan kehidupan karena tidak memberikan apa yang dahulu kita minta.
Saya tidak lagi ingin mengambil kembali masa lalu. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih kepada seorang gadis yang pernah membuat hati saya berdebar. Terima kasih kepada sebuah lagu yang pernah menemani kesepian. Terima kasih kepada ruang tua yang menyimpan suara masa muda. Terima kasih kepada Nyarumkop, yang tanpa saya sadari telah menjadi saksi begitu banyak hal yang membentuk diri saya.
Dulu, saya mengira pulang berarti kembali ke tempat asal. Kini saya mengerti, ada kepulangan lain yang lebih sunyi. Kepulangan kepada diri sendiri. Kepada anak muda yang pernah menulis surat cinta. Kepada hati yang pernah patah. Kepada kenangan yang tidak lagi menuntut apa-apa.
Jika suatu hari saya kembali berdiri di antara tembok-tembok tua itu, mungkin saya tidak akan mencari pemutar piringan hitam. Mungkin saya tidak akan bertanya ke mana lagu-lagu itu pergi. Saya hanya ingin berdiri sejenak. Mendengarkan kesunyian. Membiarkan waktu menyentuh bahu saya.
Lalu, barangkali, saya akan tersenyum.Sebab di tempat itulah, hampir lima puluh tahun lalu, seorang anak pernah belajar mencintai lagu, mencintai seseorang, dan akhirnya belajar bahwa hidup tidak selalu mengembalikan apa yang kita rindukan.
Namun hidup, dengan caranya yang tidak selalu kita mengerti, tetap memberi kita sesuatu. Kenangan.
Dan pada usia saya sekarang. Saya tahu. Kadang-kadang yang membuat kita menangis bukan karena seseorang telah pergi. Tapi karena kita sadar betapa bahagianya kita dahulu ketika belum tahu bahwa suatu hari nanti, semuanya akan menjadi kenangan....
0 Comments