Kala Senja di Gereja Tua - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (45)
kala senja di gereja tua
waktu itu hujan rintik-ritik
kita berteduh di bawah atapnya
... kenangan itu, selalu kuingat .............
Panbers dalam "Gereja Tua"
Saya berdiri di halamannya. Sebuah kapel tua sebenarnya. Memandang wajahnya yang sederhana. Salib kecil di puncak. Dinding yang sudah mengelupas di sana-sini. Lalu, tanpa diminta, sebuah lagu lama muncul dari dalam dada. Panbers. “Gereja Tua”.
Sebenarnya ada dua kapel di kawasan PKN. Satu di bawah, di samping pastoran. Di belakangnya, pada masa kami, tumbuh dua batang sawo yang bagi anak-anak asrama seperti pohon kehidupan.
Kapel yang hendak saya kisahkan adalah kapel di atas. (Kemudian dikenal sebagai "Kapel Seminari").
Dari kejauhan, pucuknya tampak seperti susu ibu. Sebuah tanda kecil yang mungkin sengaja ditulis Tuhan untuk manusia pada kaki langit. Lalu menyatu dengan Gunung Poteng yang telah berdiri di sana sejak entah bila? Barangkali saja sejak dunia belum mengenal nama-nama kita.
Bang Adri dan Janji Menyanyikan lagu "Dream of Me" - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (44)
Suara yang pernah saya dengar di radio, di kaset yang sudah usang, di malam-malam yang jauh.
Lagu tentang sebuah gereja yang diam, tentang kenangan yang tidak mau pergi, tentang seseorang yang kembali dan menemukan bahwa waktu telah mengubah segalanya kecuali rasa. Tiba-tiba saya mengerti mengapa lagu itu datang sekarang. Karena kapel ini, dalam diamnya, sedang menyanyikan versi yang lebih pelan, lebih dalam, dari lagu yang sama.
Saya membayangkan Nyarumkop pada suatu malam di masa itu. Kabut turun perlahan dari Poteng. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela. Asrama mulai diam. Percakapan anak-anak mengecil menjadi bisik.
Wajah-wajah Reunian dalam Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (43)
Lampu-lampu padam satu demi satu. Kemudian terdengar suara dari arah kapel. Mungkin doa. Mungkin lagu. Mungkin lonceng.
Mungkin hanya angin yang kebetulan membawa suara seseorang dari tempat yang jauh. Namun bagi seorang anak yang sedang terjaga di ranjang asrama, suara itu bisa menjadi seluruh dunia. Ia datang dari gelap. Masuk melalui jendela. Menyentuh dinding. Melewati ranjang-ranjang yang mulai ditinggalkan mimpi. Lalu menetap entah di mana. Di hati. Di tempat yang tidak mempunyai nama.
Di kelas kami sendiri. Angkatan 1977/1978. Ada empat yang kemudian memilih jalan panggilan. Doraman, yang kelak dikenal sebagai Damian. Jitmen, yang dikenal sebagai Willian Chang. Mateus Juli. Dan satu lagi… namanya seperti tersapu debu oleh masa lalu.
Surat Cinta Cece Anciang yang Hilang di Antara Waktu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (42)
Empat anak yang pernah duduk di bangku yang sama, tertawa di lorong yang sama, mungkin pernah menyimpan nama yang sama di dalam hati. Lalu satu per satu mereka pergi, mengenakan jubah, dan meninggalkan kami dengan kenangan yang tidak pernah sepenuhnya selesai. Nama yang keempat hampir tidak terdengar lagi. Seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan tenggelam. Tapi di malam-malam tertentu, ketika kabut turun dari Poteng, nama itu masih bisa muncul. Diam-diam. Seperti napas yang tertahan.
Kapel berdiri dengan salib kecil di puncaknya. Dari kejauhan ia tampak seperti sebuah tanda yang ditulis tangan manusia pada langit.
Di bawahnya manusia datang dengan segala keruwetan hatinya. Anak-anak. Remaja. Guru. Pastor. Suster. Bruder. Dan orang-orang tua yang kembali setelah puluhan tahun, membawa tubuh yang telah berubah, tetapi diam-diam mencari anak yang dahulu mereka tinggalkan di tempat itu.
Sebab sebelum seseorang mengenakan jubah, ia pernah mengenakan seragam sekolah. Sebelum seseorang dipanggil pastor, suster, bruder, atau bahkan uskup, ia pernah menjadi anak asrama. Pernah bangun karena bel. Pernah terlambat. Pernah dihukum. Pernah tertawa sampai perut sakit. Pernah menangis diam-diam karena rindu rumah. Pernah berebut makanan. Pernah menyimpan rahasia di antara teman. Dan, ya, pernah jatuh cinta.
Majalah Dinding dan Sebatang Pena yang Belajar Menarikan Hidup -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (40)
Ada yang pernah sengaja melewati jalan tertentu hanya karena tahu seseorang akan muncul dari arah sana. Ada yang pernah menunggu sebuah senyum sampai kaki terasa dingin. Ada yang pernah menulis nama seseorang berkali-kali di dalam buku, lalu menghapusnya dengan tangan gemetar sebelum ada mata lain yang membaca.
Ada yang pernah merasa dunia tiba-tiba menjadi lebih terang hanya karena seorang gadis atau seorang pemuda menoleh sebentar. Ada yang pernah menyimpan sehelai rambut, atau secarik kertas kecil, atau sekadar bayangan wajah yang tidak pernah sempat diucapkan. Ada yang pernah berdiri di balik jendela asrama, menatap halaman yang gelap, dan membiarkan hati berdetak lebih kencang dari biasanya, sementara di luar kabut turun perlahan dari Poteng.
Di antara mereka ada seorang anak yang pernah disebut monyet oleh teman-temannya. Ia menyimpan nama seorang gadis di dalam hatinya dengan cara yang paling diam. Ia menunggu. Ia berharap. Ia menulis. Ia menghapus. Ia berdiri di balik jendela.
Lalu suatu hari. Nama itu menolaknya. Bukan dengan kata-kata yang kasar. Hanya dengan keheningan yang cukup untuk mematahkan sesuatu di dalam dada. Tapi ia tidak memilih jubah karena patah hati. Ia memilih jubah karena panggilan. Karena ada suara yang lebih dalam dari rasa sakit itu. Suara yang datang dari tempat yang sama dengan dendang malam. Suara yang menuntunnya, pelan-pelan, menjauh dari nama yang pernah ditolaknya, menuju sesuatu yang lebih besar dari keduanya.
Begitulah anak-anak Nyarumkop....
Mereka mula-mula hanyalah anak-anak yang sedang belajar menjadi manusia. Dan di antara mereka, ada yang kelak akan memilih jubah. Tetapi sebelum semua itu, mereka pernah mengenal rasa yang sama: rasa yang membuat dada sesak, yang membuat malam terasa lebih panjang, yang membuat sebuah nama menjadi doa diam-diam.
Rasa itu tidak hilang begitu saja ketika jubah dikenakan. Ia hanya disimpan lebih dalam. Kadang, di tengah doa malam, atau ketika lonceng berbunyi, rasa itu muncul lagi. Bukan sebagai godaan, melainkan sebagai pengingat bahwa mereka pernah menjadi manusia sepenuhnya.
Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)
Dan mungkin justru di situlah Tuhan bekerja dengan cara yang paling indah sekaligus paling kejam. Tidak dengan petir. Tidak dengan suara dari langit. Melainkan melalui hari-hari biasa yang kelihatannya tidak penting. Seorang guru. Seorang sahabat. Sepucuk surat dari rumah. Kegagalan. Kesepian. Kekalahan cinta. Sebuah doa yang diucapkan setengah mengantuk. Sebuah lagu yang dinyanyikan pada malam hari. Kemudian bertahun-tahun sesudahnya, baru kita sadar: rupanya ada tangan yang sejak lama menuntun kita, sementara kita merasa berjalan sendirian.
Pada mulanya dendang malam hanyalah pengantar tidur. Ia mengantar mereka lelap. Ia menenangkan. Ia menjanjikan bahwa malam tidak sepenuhnya gelap. Tapi makna itu segera berlapis.
Bagi sebagian anak, terutama mereka yang kelak akan memilih jubah, dendang malam membawa bayangan lain. Bayangan seseorang yang tidak pernah menjadi milik. Sebuah senyum. Sebuah nama yang ditulis diam-diam lalu dihapus. Sebuah detak jantung yang lebih kencang dari biasanya.
Dendang itu tidak mengusir rasa itu. Ia justru menyimpannya. Dengan lembut. Seperti menyimpan surat yang tidak pernah dikirim. Maka dendang malam menjadi tempat penyimpanan. Tempat di mana cinta yang tidak sempat diucapkan, kerinduan yang tidak sempat dipenuhi, dan panggilan yang belum sepenuhnya dimengerti, semuanya disimpan bersama. Tidak dibuang. Tidak dilupakan. Hanya disimpan lebih dalam.
Puluhan tahun kemudian, suara itu masih dapat muncul begitu saja. Tidak perlu dicari. Tidak perlu dipanggil. Cukup satu bau tanah setelah hujan. Satu potong lagu. Satu foto lama. Atau sebuah kapel yang berdiri dengan Poteng di belakangnya. Maka malam yang telah lewat puluhan tahun mendadak terbuka kembali. Dan kita masuk ke dalamnya.
Kini kami kembali. Rambut telah memutih. Sebagian kepala sudah jarang. Kacamata bertambah. Pinggang tidak lagi seramping dulu. Ada yang datang dengan tongkat. Ada yang datang dengan cucu.
Ada yang datang dengan jubah yang sudah usang. Namun di depan kapel, sesuatu yang aneh terjadi. Kami tersenyum seperti dahulu. Kamera diangkat. Klik. Sesaat waktu seperti salah menghitung umur kami.
Di dalam foto, kami kembali menjadi anak-anak. Bukan karena wajah kami muda kembali. Bukan. Waktu tidak pernah berbaik hati sejauh itu. Tetapi karena di tempat itu, masa lalu dan masa kini seperti dua sungai yang sebentar bertemu. Dan di belakang keduanya, Poteng tidak bergerak.
Waktu Reuni Akbar 110 PKN 4 - 6 September 2026.
Saya tak menjumpai keempatnya di depan kapel, di tempat di mana dulu malam-malam menjelang tidur, dendang malam pernah memanggil kami, lalu mengantar kami tidur dengan lelap.
Hanya Doraman. Itu pun saya mengunjunginya di paroki Singkawang. Tongkat kayu sudah menjadi sahabatnya. Namun di depan dia, saya melihat masa lalu. Melihat anak yang pernah disebut monyet. Melihat nama yang pernah ditolak. Melihat panggilan yang lebih besar dari keduanya.
Baca Doraman
Mungkin karena itu, ketika berdiri di sana, saya merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih tua daripada umur saya sendiri. Bukan batu. Bukan tanah. Melainkan waktu. Waktu yang pernah kami habiskan tanpa sadar.
Waktu yang menyimpan juga rasa-rasa yang tidak pernah sempat diucapkan. Waktu yang menyimpan juga nama yang keempat, yang seperti tersapu debu. Waktu yang menyimpan juga keheningan seorang gadis yang pernah menolak, dan keheningan seorang anak yang kemudian memilih jubah bukan karena patah hati, melainkan karena panggilan.
Barangkali inilah yang paling menyedihkan dari sebuah reuni. Kita datang untuk bertemu orang-orang. Tetapi diam-diam kita sedang mencari diri kita sendiri. Kita menyebut nama kawan-kawan lama. Kita tertawa mengingat kenakalan. Kita membuka album. Kita menunjuk wajah-wajah yang sudah jauh berubah.
“Ini siapa?”
“Ah, itu dia!”
Lalu tawa pecah. Tetapi setelah tawa reda, selalu ada sesuatu yang tersisa. Satu kursi yang kosong. Satu nama yang tidak lagi menjawab ketika dipanggil. Satu wajah yang hanya dapat kita temui di foto.
Di situlah kita mengerti: reuni bukan hanya pertemuan orang-orang yang masih hidup. Ia juga pertemuan dengan mereka yang telah lebih dahulu menjadi kenangan. Dan pertemuan dengan bagian diri kita yang pernah mencintai, lalu memilih untuk menyimpannya.
Maka saya kembali memandang kapel. Salib kecil itu masih menunjuk ke atas. Poteng masih berdiri di belakangnya. Dan saya membayangkan anak-anak yang dahulu pernah tinggal di asrama itu.
Di mata Nyarumkop. Barangkali mereka tetap anak-anak. Anak yang pernah berlari di halaman. Anak yang pernah rindu ibunya. Anak yang pernah menyimpan nama seseorang di dalam hati. Anak yang pernah menatap langit dan belum tahu ke mana hidup akan membawanya. Anak yang pernah merasa dada sesak karena sebuah senyum, lalu kemudian belajar bahwa ada panggilan yang lebih besar daripada rasa itu. Panggilan yang tidak menghapus rasa, melainkan mengajaknya untuk diam di tempat yang lebih dalam.
“Kala senja di gereja tua” bukan hanya kisah kami, anak-anak asrama yang memilih dunia. Juga kisah William Chang, Doraman, Mateus Juli, dan seorang kawan yang namanya sudah tersimpan di saku waktu.
Mereka tentu pernah kagum pada bunga-bunga Wisma Rini yang pada senja naik-turun jalan melintas kapel kenangan ini. Mereka waktu remaja, seperti saya, pasti pernah menaruh di sudut hatinya nama seseorang. Ah, biarlah Tuhan yang tahu semua itu. Malaikat yang baik sudah mencatat semua peristiwa itu dalam kitab kehidupan.
Begitulah manusia. Kita mengira kita sedang menuju masa depan. Padahal sepanjang hidup, kita juga sedang perlahan-lahan meninggalkan masa kecil. Dan suatu hari kita kembali. Bukan untuk tinggal. Hanya untuk menyentuh sebentar sesuatu yang dahulu begitu dekat. Lalu pergi lagi.
Kalau begitu, barangkali bukan kapel yang paling ingin saya kenang. Melainkan gunung di belakangnya. Sebab kapel baru hadir setelah kami pergi.
Poteng sudah ada ketika kami datang. Ia melihat kami sebagai anak-anak. Ia melihat kami menjadi dewasa. Ia melihat kami pergi. Ia melihat sebagian dari kami mengenakan jubah. Ia melihat sebagian lain membangun rumah, membesarkan anak, lalu kembali dengan rambut putih.
Dan sekarang ketika kami berdiri di sini, ia masih di sana. Tidak bertanya ke mana saja kami selama ini. Tidak menagih janji. Tidak meminta kami mengingatnya. Ia hanya berdiri. Seperti seorang ibu yang tahu bahwa anak-anaknya, sejauh apa pun pergi, pada akhirnya akan mencari jalan pulang.
Mungkin itulah sebabnya saya selalu merasa ada sesuatu yang ganjil setiap kali melihat foto Nyarumkop dengan Poteng di belakangnya. Di sana ada kami. Tetapi kami tidak lagi sepenuhnya ada. Yang tertangkap kamera hanyalah tubuh. Sementara sebagian dari diri kami telah tertinggal di masa lalu. Di lorong. Di kelas. Di kamar asrama. Di lapangan.
Di sebuah tatapan yang tidak pernah sempat menjadi cinta. Di sebuah doa yang mungkin sudah kami lupakan. Di sebuah lagu yang entah siapa pertama kali menyanyikannya.
Dan di sebuah malam yang dingin ketika suara dari kapel menyeberangi halaman, lalu masuk diam-diam ke dalam hati seorang anak. Anak yang pernah ditolak. Anak yang kemudian memilih jubah. Anak yang membawa nama itu sampai ke altar, bukan sebagai luka, melainkan sebagai bagian dari panggilan yang lebih besar.
Malam itu mungkin sudah berlalu setengah abad. Tetapi malam tidak selalu tunduk kepada waktu. Ada malam yang menetap. Ada suara yang tidak selesai. Ada lagu yang terus dinyanyikan oleh ingatan, bahkan ketika semua penyanyinya telah pulang.
Maka saya berdiri di depan kapel itu dan memandang Poteng....
Untuk sesaat saya tidak merasa sedang berada pada September 2026. Saya kembali menjadi anak sekolah. Seragam putih. Sepatu lama. Kawan-kawan di samping saya. Langit yang masih terasa begitu jauh. Dan Poteng di belakang kami.
Lalu, entah dari mana? Terdengar sebuah dendang. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti suara seseorang yang bernyanyi dari kamar yang pintunya telah lama tertutup. Saya tidak tahu lagu apa.
Saya tidak tahu siapa yang menyanyikannya. Tetapi saya mengenalnya. Sebab ada suara yang tidak dikenali oleh telinga. Ia dikenali oleh hati.
Suara yang dulu pernah memanggil kami menjelang tidur, lalu mengantar kami lelap. Suara yang kemudian dibawa masuk ke dalam jubah, ke dalam kaul, ke dalam doa-doa malam yang tak pernah diucapkan keras-keras. Suara yang tidak hilang, hanya berubah bentuk. Suara yang, setelah setengah abad, masih menunggu di sini.
Dan tiba-tiba saya mengerti satu perkara. Hal yang paling lama tinggal dari sebuah sekolah bukanlah bangunannya. Bukan pula nama-nama yang pernah mengajar di dalamnya. Yang tinggal adalah suara yang pernah membuat kita merasa bahwa hidup, untuk sesaat, begitu indah.
Kapel itu akan terus berdiri. Poteng akan terus menjaga langit. Generasi akan datang dan pergi. Foto-foto akan bertambah. Buku-buku kenangan akan dicetak. Dan kami, cepat atau lambat, akan menjadi nama-nama dalam buku itu. Beberapa nama masih disebut. Beberapa sudah hampir terlupakan.
Tetapi pada suatu malam. Ketika kabut turun dari Poteng dan halaman Nyarumkop kembali sunyi. Mungkin masih ada sesuatu yang bergerak di antara pohon-pohon. Sebuah suara. Sebuah doa.
Lalu sebuah lagu lama yang merdu. Dendang yang pernah kami dengar ketika kami masih muda.
Dendang yang kami kira telah selesai. Padahal rupanya selama ini ia sedang menunggu kami pulang.
kuhanya ingin dapat bertemu
bila bertemu puaslah hatiku.....
Masri Sareb Putra
Jakarta ketika malam mendendangkan gulita, 17 September 2026.
0 Comments