Sembilan Pendekar Kerudung Putih Penjaga Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)

Susteran, benteng pertahan "padepokan para perawan" Sekabu  itu.
Susteran, benteng pertahan utama bagian depan "padepokan para perawan" Sekabu yang dijaga ketat 9 pendekar kerudung putih. Ist.

Di kaki Gunung Poteng. Pada sebuah lekuk tanah yang setiap pagi dibasuh kabut. Berdirilah kompleks persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).  Di sini 110 tahun lalu. Pater Marcellus, salah seorang padri dari Ordo saudara-saudara dina (OFM Cap.) memutuskan membangun asrama dan persekolah baru usai tragedi wabah penyakit dan robohnya bangunan sekolah serta bangunan asrama di Pelanjau.

Pagi datang ke sana perlahan-lahan. Seolah takut membangunkan sesuatu yang masih lelap dalam pelukan gunung.

Di situlah sekolah, kapel, wisma, halaman, dan lorong-lorong bertaut membentuk sebuah dunia kecil yang tenang, hampir seperti pulau yang terpisah dari riuh dunia luar.

Di sana waktu berjalan dengan langkahnya sendiri. 

Anak-anak datang membawa tabularasa. Lalu tanpa banyak disadari. Mereka meninggalkan tempat itu dengan sesuatu yang lain: ingatan, persahabatan, luka-luka kecil yang suci, dan wajah-wajah yang kelak hanya dapat dipanggil kembali oleh kenangan.

Baca Sebuah Pagi dan Malam Natal 1978 di Susteran - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (47)

Anak-anak datang untuk belajar ilmu pengetahuan. Tetapi tanpa mereka sadari, di tempat itu mereka juga sedang belajar tentang persahabatan, perpisahan, keberanian, ketakutan, dan hati mereka sendiri.

Di dalam lingkungan Nyarumkop terdapat Wisma Rini, yang lebih populer disebut Sekabu. Asrama ini khusus untuk anak-anak putri yang bersekolah di SPG dan SMP Timonong.

Bagi remaja-remaja itu, Sekabu adalah dunia yang masih dipisahkan dari dunia luar yang belum mereka kenal. 

Anis dan Saya Tersengat Listrik di Sekabu: Untungnya Sempat Lihat Bendera Kebangsaan Para Perawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (46)

Tata tertibnya tegas. Jarak dengan anak laki-laki dijaga. Bertemu hanya pada jam sekolah. Selebihnya, pintu Sekabu seakan menutup sebuah babak dunia, dan di dalamnya hidup anak-anak putri bersama aturan, doa, pelajaran, tawa, tangis, serta rahasia-rahasia kecil masa remaja.

***

Kesucian tempat itu dijaga dengan sungguh-sungguh. Dan yang menjaganya ialah orang-orang yang pada zaman itu kami pandang sebagai manusia-manusia yang memang hidup dalam kemurnian: para suster. Dalam kelakar anak asrama, mereka kemudian kami juluki "sembilan pendekar dari padepokan Wisma Rini", sembilan pendekar berkerudung putih.” 

Julukan itu tentu lahir dari imajinasi anak-anak. Tidak ada pedang terhunus, tidak ada jurus naga, tidak ada kitab pusaka. Namun ada disiplin, doa, keteguhan, dan tatapan yang kadang-kadang sudah cukup untuk menghentikan keributan sebelum sempat menjadi perkara.

Kala Senja di Gereja Tua - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (45)

Sembilan nama itu tidak berarti mereka selalu bertugas bersama pada satu waktu. Mereka hadir bergantian, menurut masa dan penugasan masing-masing, tetapi semuanya menjadi bagian dari sejarah Sekabu. Sr. Angela berada di sana pada 1969–1979, hampir satu dasawarsa. Kemudian ada Sr. Pelagia, 1979–1982, dan Sr. Yohana, sekitar 1979–1980. 

Dalam rentang kehidupan Sekabu itu tercatat pula Sr. Anastasia, Sr. Yuliana, Sr. Rosa, Sr. Jeanne Mariae, Sr. Agnes, dan Sr. Jeannette. Sembilan nama, sembilan kerudung putih, sembilan sosok yang datang pada musim yang berbeda, tetapi mengemban tugas yang hampir sama: menemani, mendidik, dan menjaga anak-anak putri di Wisma Rini.

Mungkin justru karena batas itu dijaga rapat, sebuah perjumpaan singkat menjadi begitu berarti. Anak laki-laki hanya ditemui pada jam sekolah. Selebihnya, dunia laki-laki seperti negeri yang letaknya jauh di balik gunung.

Maka kesempatan mencuri pandang kadang hanya datang pada Misa pagi, pada Perayaan Ekaristi hari Minggu di kapel depan pastoran, atau ketika Nyarumkop memasuki Bulan Rosario dan Bulan Kitab Suci Nasional. Hanya sebentar.

Bang Adri dan Janji Menyanyikan lagu "Dream of Me" - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (44)

Sepasang mata beradu. Sesaat saja. Lalu lekas berlindung pada altar yang suci. Tetapi hati, yang belum mengenal nama bagi gejolak itu, tiba-tiba merasa telah melakukan kesalahan: seakan sebuah bunga yang baru mekar di tempat yang seharusnya hanya dipenuhi doa. Tidak ada kata-kata. Tidak ada janji. Bahkan mungkin tidak terjadi apa-apa.

Namun begitulah hati bidadari kecil bekerja: sekali sebuah tatapan membuka pintu rahasianya, sesuatu telah masuk ke dalam dan tinggal diam-diam. Ia dibawa pulang bersama buku doa, diselipkan di antara halaman-halaman pelajaran, lalu bertahun-tahun kemudian masih saja muncul ketika nama dan wajah itu entah sudah pergi ke mana.

Selepas petang, Sekabu mempunyai wajah lain. Setelah makan dan belajar, satu demi satu kamar menjadi tenang. 

Wajah-wajah Reunian dalam Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (43)

Cahaya lampu koridor jatuh pucat di lantai. Dari balik pintu masih terdengar percakapan yang belum selesai, tawa yang ditekan dengan bantal, atau nama seseorang yang disebut setengah berbisik. Angin Gunung Poteng bergerak di luar. Pepohonan menjadi hitam. Malam seolah membentangkan tirainya perlahan-lahan.

Lalu terdengar langkah. Tidak cepat. Tidak keras. Tetapi anak-anak mengenalnya.

Dan pada saat itu, ajaib benar perilaku manusia: percakapan yang tadi berani mengembara mendadak kembali ke kandang. Tawa berhenti. Selimut dirapikan. Buku ditutup. Anak-anak yang beberapa detik sebelumnya merasa diri mereka sudah cukup dewasa mendadak menjadi makhluk paling taat di seluruh Nyarumkop. Langkah itu melintas di lorong, kemudian menjauh. Barulah malam bernapas kembali.

Demikianlah kehidupan Sekabu. Ada aturan yang dahulu kami rasakan sebagai pagar. Ada teguran yang kadang terasa lebih tajam daripada maksudnya. 

Sebagai remaja, kami tentu tidak mempunyai kebijaksanaan untuk melihat apa yang tersembunyi di balik semua itu. Kami hanya tahu bahwa ada batas, dan ada orang-orang yang bertugas menjaganya.

***

Waktu kemudian mengajari kami bahasa yang lain.

Kini, ketika saya menoleh kepada masa itu, yang saya lihat bukan lagi pagar. Yang saya lihat ialah sembilan kerudung putih yang bergerak di antara cahaya lampu dan lorong-lorong tua. Saya teringat kepada Sr. Angela, Sr. Pelagia, Sr. Yohana, Sr. Anastasia, Sr. Yuliana, Sr. Rosa, Sr. Jeanne Mariae, Sr. Agnes, dan Sr. Jeannette. 

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Dulu nama-nama itu terdengar biasa saja, bagian dari keseharian yang tidak kami pikir akan lenyap. Padahal waktu selalu mempunyai jurus pamungkasnya sendiri. Ia membiarkan kita berjalan menjauh, lalu diam-diam menutup pintu di belakang kita.

Dahulu saya berharap langkah para suster itu segera berlalu. Kini, setelah hampir setengah abad, saya justru ingin mendengarnya sekali lagi. Sebab baru sekarang saya paham: di lorong Sekabu yang sederhana itu.

Sembilan pendekar perempuan berkerudung putih pernah menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada aturan. Yakni masa remaja para bidadari kecil yang setelah pergi ternyata tak pernah menemukan jalan untuk pulang....

Masri Sareb Putra 
Jakarta, pagi yang dini 19 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.