Jurus Kodok Menipu Pak Dawai Menerbangkan Ikan Asin: 2 Kawan Dikeluarkan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (51)

Pak Dawai yang pintar tapi berhasil kami perdaya
Pak Dawai  penjaga gudang bata luar biasa namun berhasil kami perdaya dengan jurus maut "mengalihkan perhatian". Ist.

Peristiwa nahas seklaigus memalukan itu terjadi paruh pertama tahun 1970-an. Ketika dunia mengalami paceklik yang sulit untuk dipindahkan dengan kata-kata. Dan Nyarumkop mengalami musim kelaparan hebat....

Di belakang Wisma Widya, di bawah udara Gunung Poteng yang sering membawa kabut turun terlalu cepat waktu itu. Tegaklah berdiri sebuah gudang bata yang bagi kami mempunyai wibawa hampir seperti sebuah ruang pusaka. 

Di dalamnya tersimpan perkakas kerja. Juga tersedia dalam bejana yang kudus itu: sayur-mayur, ikan teri, dan ikan asin yang didatangkan dari Singkawang. 

Benda-benda itu sederhana, tetapi bagi anak asrama yang perutnya lekas lapar, ikan asin dapat menjelma harta karun. Bau garam dan ikan kering yang keluar dari celah pintunya sanggup membangkitkan khayalan paling liar. 

Baca Jurus Maut Penakluk Seribu Bidadari "Kodok Terbang" dan Pacar yang Ditukar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (50)

Sementara di ambang pintu berdirilah Pak Dawai, tokoh yang dalam kisah terdahulu hanya kusebut sepintas. Nama sebenarnya: Bruder Cupertinus. 

Entah sejak kapan anak-anak Wisma Widya mengubah namanya menjadi Pak Dawai. Mungkin karena tubuhnya yang selalu tegak seperti sebatang dawai, mungkin pula karena ia begitu kaku dalam menjalankan tugas sehingga jangankan ikan asin, semut yang hendak menyelinap keluar pun agaknya harus lebih dahulu meminta izin kepadanya. 

Apa pun asal-usul gelar itu, bagi kami Pak Dawai bukan lagi sekadar penjaga gudang. Ia adalah pendekar tanpa jurus yang berdiri di ambang pintu dengan sepasang mata setajam mata elang, seolah-olah nasib sengaja menempatkannya di sana untuk menggagalkan setiap akal bulus kami.

Pak Dawai bukan pendekar. Namun cara ia menjaga gudang membuat kami memperlakukannya seperti pendekar tua yang sedang menjaga kitab pusaka. Ia memperhatikan setiap anak yang keluar.

Tangan, saku, pinggang, bahkan gerak mata seolah-olah dapat dibacanya. Tidak mudah membawa sesuatu melewati pintu itu tanpa diketahui. Maka kami mulai mencari akal. Kalau penjaga tidak mungkin dikalahkan, perhatian penjaga harus dialihkan.

***

Suatu sore....
Tatkala beberapa anak hendak mengambil alat kerja, terdengar keributan di halaman. Dua anak berpura-pura berkelahi. Yang satu mendorong, yang lain membalas. Suara mereka meninggi. Anak-anak lain segera berkerumun. 

Pak Dawai meninggalkan pintu gudang untuk melerai. Dalam sekejap, beberapa tangan menyelinap masuk. Ikan asin berpindah ke balik baju. Ikan teri masuk ke saku. Sayur-mayur ikut diangkut. Semua berlangsung begitu cepat sehingga ketika Pak Dawai kembali, pintu gudang sudah tenang dan tidak seorang pun tampak mencurigakan.

Siasat itu kami beri nama "Jurus Kodok Terbang". Namanya memang konyol, tetapi jurusnya ampuh. Kodok tidak perlu benar-benar terbang. Ia hanya perlu melompat ketika tidak ada yang melihat. Beberapa kali kami berhasil menjalankannya. Kami tertawa dalam diam seperti pendekar muda yang baru saja berhasil memperdaya lawan. Kami belum tahu bahwa kelucuan yang kami ciptakan dari sebungkus ikan asin kelak akan membawa akibat yang jauh lebih berat daripada yang pernah kami bayangkan.

Dua orang kawan kemudian mulai bermain lebih jauh. Mereka mengambil ikan asin bukan lagi untuk dibagi, melainkan untuk disimpan sendiri. Mula-mula sedikit. Kemudian lebih banyak. Kebiasaan kecil itu akhirnya meninggalkan jejak ketika persediaan diketahui berkurang terlalu banyak. Pak Dawai memperketat penjagaan. Para Bruder mulai bertanya. Anak-anak saling memperhatikan. Di antara bisik-bisik itu, aku pun ikut terseret karena kebetulan pernah melihat kedua kawan tersebut keluar dari arah gudang dengan gerak yang agak tergesa. Aku tidak menegur mereka. Aku juga tidak melaporkan apa pun.

Namun ada kebetulan lain yang kemudian membuat kedudukanku menjadi buruk. Ketika kehilangan ikan asin mulai dipersoalkan, aku sempat dipanggil dan ditanya tentang gudang. Aku menjawab sebatas yang kuketahui. Kedua kawan itu melihat aku berbicara dengan Bruder, tetapi mereka tidak tahu apa yang dibicarakan. Mereka juga tahu bahwa aku pernah melihat gerak-gerik mereka. Dari dua kenyataan sederhana itu, ditambah ketakutan karena perbuatan mereka mulai terbongkar, lahirlah kesimpulan yang bagi mereka terasa masuk akal: akulah yang membuka rahasia Jurus Kodok Terbang.

Sejak saat itu tatapan mereka berubah. Ketika berpapasan, tidak ada lagi kelakar. Ketika makan bersama, jarak terasa lebih jauh. Mereka mengira aku telah mengkhianati mereka. Padahal aku tidak pernah melapor. Aku bahkan tidak menyangka bahwa diamku akan ditafsirkan sebagai sesuatu yang mencurigakan. Begitulah prasangka bekerja. Ia tidak membutuhkan kebenaran yang lengkap. Ia hanya membutuhkan beberapa potongan kejadian, lalu menyusunnya sendiri menjadi sebuah cerita.

Kemudian datang perintah pemeriksaan lemari.

Hari itu Wisma Widya terasa seperti sebuah padepokan yang sedang menunggu penghakiman. Tidak ada lagi tawa. Anak-anak berdiri di sekitar tempat masing-masing sambil memperhatikan pemeriksaan. Pintu lemari dibuka satu demi satu. 

Pakaian dikeluarkan. Buku diperiksa. Tas dibongkar. Barang-barang yang biasanya begitu biasa tiba-tiba terasa seperti benda yang dapat membuka rahasia seseorang. Lemari pertama bersih. Lemari kedua kosong. Lemari ketiga tidak menunjukkan apa-apa. Namun setiap pintu yang terbuka justru membuat ketegangan semakin menebal.

Akhirnya pemeriksaan sampai pada lemari salah seorang dari dua kawan itu. Pintu dibuka. Pakaian dikeluarkan satu demi satu. Buku-buku diperiksa. Tas dibalikkan. Tidak ada apa-apa. Wajahnya perlahan berubah. Ada cahaya lega di matanya. Mungkin dalam hati ia sudah merasa lolos. Mungkin ia bahkan mulai berpikir bahwa kecurigaannya kepadaku benar. Tetapi tangan pemeriksa belum berhenti. Tangan itu masuk lebih dalam ke bagian belakang lemari, meraba di balik tumpukan pakaian, lalu tiba-tiba berhenti.

Ada sesuatu. Sebuah bungkusan kecil ditarik keluar.

Ruangan mendadak sunyi. Kedua kawan itu pucat. Tidak seorang pun bergerak. Bungkusan tersebut diletakkan di hadapan kami. Talinya dilepas perlahan. Satu lilitan. Kemudian lilitan berikutnya. Pembungkusnya disingkap sedikit demi sedikit. Dan sebelum seluruh isinya terlihat, bau asin sudah lebih dahulu memenuhi ruangan.

Ikan asin.

Bau yang biasanya membuat kami lapar kini terasa seperti bunyi gong yang mengakhiri sebuah pertandingan. Tidak diperlukan pengakuan. Tidak diperlukan saksi. Bungkusan itu telah berbicara dengan bahasanya sendiri. Untuk pertama kalinya aku melihat dua kawan itu tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi. Tetapi anehnya, pada saat yang sama, aku merasa sesuatu di antara kami justru telah benar-benar hilang.

***

Kedua kawan itu akhirnya dikeluarkan dari Wisma Widya. Barang-barang mereka dikemas. Pakaian yang selama ini tergantung di lemari dilipat. Buku pelajaran dimasukkan ke dalam tas. Sepatu disusun. Barang-barang kecil yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka dikumpulkan satu demi satu. Tempat tidur yang setiap malam menjadi tempat bercanda dan beristirahat harus mereka tinggalkan. Yang paling menyakitkan bukan mengemasi pakaian, melainkan mengetahui bahwa setelah semua barang masuk ke dalam tas, tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal.

Malam terakhir terasa panjang. Dua kawan itu duduk di tempat tidur masing-masing. Kami berada tidak jauh dari mereka, tetapi rasanya seperti ada dinding tinggi yang tiba-tiba tumbuh di antara kami. Tidak seorang pun tahu harus berkata apa. Mungkin mereka masih mengira aku telah melaporkan mereka. Mungkin mereka merasa aku ikut menyebabkan kepergian mereka. Aku ingin menjelaskan, tetapi ada kalanya kata-kata datang terlambat. Malam terus berjalan. Kesunyian menjadi satu-satunya percakapan yang tersisa.

Pagi datang dengan terlalu cepat. Tas mereka sudah siap. Salah seorang berhenti di dekatku sebelum meninggalkan Wisma Widya. Ia menatapku lama. Tatapan itu menyimpan marah, kecewa, dan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada keduanya, yaitu harapan terakhir untuk mengetahui kebenaran. Ia bertanya apakah aku yang melapor. Aku menggeleng dan menjawab bahwa bukan aku. Ia diam cukup lama. Aku menunggu. Dalam hati aku berharap ia akan meletakkan tasnya, kembali ke kamar, dan semua ini ternyata hanya salah paham yang masih dapat diperbaiki.

Tetapi ia hanya mengangguk kecil. Kemudian ia berjalan pergi.

Temannya menyusul beberapa langkah kemudian. Aku berdiri di ambang pintu dan melihat kedua punggung itu semakin jauh. Dua anak yang beberapa hari sebelumnya masih tertawa bersama kami, makan bersama kami, dan menjalankan Jurus Kodok Terbang bersama-sama, kini meninggalkan Wisma Widya dengan tas di pundak. Aku tetap berdiri sampai keduanya hilang dari pandangan. Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa seseorang dapat dinyatakan bersalah oleh bukti, tetapi persahabatan dapat hancur oleh sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan.

Bertahun-tahun kemudian, mungkin tidak seorang pun lagi mengingat berapa banyak ikan asin yang hilang dari gudang. Pak Dawai mungkin sudah lupa. Kami pun telah menjalani hidup masing-masing dan meninggalkan banyak kenangan di belakang. Tetapi aku masih mengingat pagi itu. Aku masih melihat dua punggung yang menjauh dari Wisma Widya. 

Perkara yang paling sulit dilupakan bukanlah ikan asin yang ditemukan di dalam lemari, melainkan kenyataan bahwa mereka pergi dengan keyakinan aku telah mengkhianati mereka. Padahal aku tidak pernah melaporkan mereka.

Mungkin itulah luka yang paling lama tinggal dari sebuah kesalahan masa muda. Ikan asin dapat diganti. Hukuman dapat dijalani. 

Waktu dapat menghapus banyak hal. Tetapi sebuah persahabatan yang pecah karena prasangka kadang tidak pernah menemukan jalan pulang. 

Dan dari sekian banyak kenangan di Wisma Widya, justru dua punggung yang menjauh pagi itu yang paling sering kembali ketika aku menoleh ke masa lalu.

***

Mengingat kembali peristiwa tragis masa muda itu, perlahan-lahan air mata meleleh dari pelupuk mataku. Tahun 2016, ketika dari kejauhan kupandang gedung bata itu, terhitung 100 butir. Aku kira, waktu akan mengeringkannya.

Ternyata aku keliru.

Tahun 2026 aku kembali ke sana. Gedung bata itu masih berdiri. Aku sudah bukan anak yang dulu. Hitungannya bertambah menjadi 110. Barangkali kenangan memang begitu. Semakin jauh kita meninggalkannya, semakin dalam ia menagih.

Pada reuni berikutnya, berapa lagi?

Aku tidak tahu. Mungkin suatu hari hitungan itu berhenti. Bukan karena kenangan selesai, melainkan karena orang yang mengenangnya sudah tidak ada.

Gedung bata itu masih berdiri.

Kami yang berubah. Waktu yang pergi. Masa muda tak pernah tetap tinggal.
Dan dua sahabat pergi. Mereka tak pernah punya kesempatan untuk melihat gedung bata itu kembali....

Masri Sareb Putra 
Jakarta pagi 19 September 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.