Tulisan Dinding Latar Altar dan Tiga Burung Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (54)
| Keliling meja altarmu, dalam Ekaristi.... Tahun 1978. Para murid SMA dan SPG Nyarumkop berdiri dalam barisan mengitar altar menerima Ijasah Kursus Agama Katolik. Ist. |
Angin pegunungan berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan di lereng Gunung Poteng yang diselimuti kabut. Di tepi pastoran, gereja tua Nyarumkop berdiri dalam keheningan, sementara tiga pohon cemara menjulang ke angkasa, laksana tiga pendekar tua yang setengah abad lamanya menjaga rahasia sebuah perguruan.
Di bawah naungan jagat Nyarumkop yang agung, takdir anak-anak muda sedang menempuh langkahnya, tanpa seorang pun mengetahui ke mana jalan itu akan membawa mereka.
Baca Sawo Pastor Balik Tembok Gereja dan Rahasia Setengah Abad Empat Sekawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (53)
Pintu kayu gereja yang berat terbuka. Di baliknya, pilar-pilar batu bergaya Gotik menjulang tinggi, menyangga atap melengkung yang seakan hendak memeluk langit. Cahaya siang kuning keemasan menerobos kaca patri. Menumpahkan warna merah jingga, biru, dan emas ke lantai.
Di atas terpampang pada dinding, belakang altar yang kudus. Tulisan warna merah yang dahulu kubaca dengan mata seorang anak sekolah:
"Tuhan ada di sini. Dia memanggil Anda."
Ah, betapa sederhana kalimat itu. Namun setelah setengah abad mengarungi sungai kehidupan, barulah aku merasakan kedalamannya, seperti pendekar yang baru memahami rahasia sebuah jurus setelah rambutnya memutih.
Tahun 1978. Para murid SMA dan SPG Nyarumkop berdiri dalam barisan, mengenakan pakaian putih seputih kapas, bersih laksana embun pagi dan polos seperti cinta merpati yang belum mengenal tipu daya dunia.
Wajah-wajah muda itu menyimpan harapan, sementara mata mereka memandang altar dengan ketulusan yang belum disentuh badai kehidupan. Di hadapan mereka terbentang dua lembar ijazah. Yang satu menjadi bukti ilmu dunia, bekal menempuh jalan kehidupan. Yang lain, Ijazah Kursus Agama Katolik, menjadi bekal perjalanan iman.
Selembar kertas yang tampak ringan di tangan, tetapi mungkin akan menjadi beban tanggung jawab yang berat di pundak. Sebab, apakah arti ilmu jika tidak menerangi langkah? Apakah arti iman jika tidak menjelma kasih? Manusia boleh mengejar kemasyhuran setinggi gunung, tetapi pada akhirnya, yang akan ditimbang bukanlah seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ditinggalkannya di bumi.
Pada zaman itu, kedua lembar kertas tersebut bagaikan pusaka kembar yang menyimpan daya linuwih. Banyak pintu pengabdian terbuka bagi para pemegangnya. Namun, wahai pembaca, apakah ijazah dapat menjamin seseorang menjadi manusia yang berguna? Tidak! Sebab ilmu tanpa hati ibarat pedang tajam di tangan orang yang tak mengenal belas kasihan.
Misa dipimpin Pastor Petrus Rostandy alias Tan Un Mao. Asap dupa membubung perlahan menuju langit-langit gereja.
Para kakak kelas, termasuk Bang Adri, Bang Yus, dan Bang Maliki, melangkah mengelilingi altar dengan wajah yang menyimpan kesungguhan. Aku berdiri di barisan belakang, masih hijau, masih belajar mengenali luasnya dunia.
Ketika Mgr. Hieronymus Bumbun OFM Cap menyerahkan ijazah kepada para lulusan, jantungku berdebar. Bukan karena iri. Bukan pula karena haus kemasyhuran. Hanya sebuah tekad kecil yang menyala di dalam dada: suatu hari nanti, aku pun ingin berdiri di tempat itu.
Jurus Kodok Menipu Pak Dawai Menerbangkan Ikan Asin: 2 Kawan Dikeluarkan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (51)
Waktu mengalir seperti Sungai Kapuas yang tak pernah kembali ke hulu. Tahun berganti tahun. Wajah-wajah muda berubah menjadi wajah-wajah tua. Ada yang menjadi guru, pegawai, pemimpin, petani, dan pengabdi dalam berbagai jalan kehidupan.
Ada pula yang telah meninggalkan dunia, membawa rahasia hidupnya ke hadapan Sang Pencipta. Namun kenangan Nyarumkop, anehnya, tak pernah benar-benar tua. Ia tidur di dasar hati, seperti pusaka yang terpendam di bawah tanah, menunggu saat seseorang datang menyentuhnya kembali.
Lima puluh tahun kemudian, pada 6 September 2026....
Aku kembali ke tempat ini. Gereja tua itu masih menahan pesona yang kudus. Misa Penutupan Reuni Akbar PKN membuka pintu kudatang ke depan. Semula aku duduk di kursi plastik di luar.
Ketika namaku dipanggil sebagai penasihat Ikatan Alumni, panitia mempersilakanku masuk. Di bangku baris kedua, paling kiri, masih tersedia sebuah tempat kosong. Aku duduk di sana. Seketika waktu seperti membalikkan jurusnya.
Gereja itu bukan lagi sekadar bangunan tua. Ia menjelma pintu rahasia yang membawaku kembali kepada seorang anak lelaki yang pernah berdiri di barisan belakang, memandang kakak-kakak kelasnya dengan mata penuh harapan.
Kepalaku menengadah. Di atas sana, tiga ekor burung gereja bertengger. Mereka tidak mengenal tahun 1978. Tidak mengenal nama-nama kami. Tidak tahu berapa banyak sahabat yang telah pergi dan berapa banyak yang masih menyimpan rindu. Ketika lagu lama berkumandang, “Bawalah persembahanmu nanti ke altar yang suci...” burung-burung itu bergerak dan berkicau.
Aku tersenyum. Atau barangkali aku sedang berusaha menyembunyikan sesuatu yang mulai menggenang di pelupuk mata.
Tiba-tiba gereja itu dipenuhi wajah-wajah dari masa silam. Ada suara langkah di lorong. Ada seragam sekolah. Ada tawa anak-anak asrama. Ada sahabat yang dahulu duduk di sampingku, tetapi kini hanya dapat kujumpai dalam ingatan. Ingin rasanya kupanggil mereka satu per satu. Ingin kukatakan bahwa aku telah kembali. Namun suara tertahan di tenggorokan. Sebagian dari mereka telah menyeberang ke keabadian, tanpa sempat duduk bersama kami dalam reuni yang penuh kenangan ini.
Lagu terus mengalun. Tiga burung kecil masih bertengger di atas sana, seolah-olah menjadi utusan dari masa yang tak mungkin diulang. Aku menundukkan kepala. Air mata jatuh perlahan. Lima puluh tahun yang lalu, kami datang membawa impian. Hari ini, kami kembali membawa kenangan.
Di antara keduanya, Tuhan telah menuliskan begitu banyak nama. Sebagian masih dapat kupeluk. Sebagian hanya dapat kusebut dalam doa.
Ah, Nyarumkop! Jika waktu dapat dipanggil seperti sahabat lama, ingin rasanya kupanggil mereka semua.
***
Ingin kudengar lagi suara di halaman asrama, langkah di lorong sekolah, dan tawa yang dahulu kami kira akan berlangsung selamanya. Tetapi senja terus turun di lereng Poteng.
Tiga burung gereja akhirnya terbang meninggalkan tempatnya.
Tinggallah aku, sebuah lagu lama, dan air mata yang tak lagi mampu kusembunyikan. Di dalam hati, aku berbisik: "Sahabat-sahabatku, jika kelak kita bertemu kembali di hadapan altar yang abadi, jangan tanyakan mengapa aku terlambat. Sebab sepanjang hidup ini, aku tak pernah benar-benar meninggalkan kalian."
Gereja kecil itu kembali membuka pintu masa silam. Lima puluh tahun lalu, kakak-kakak kelas berdiri di hadapan altar, mengikuti misa, lalu menerima ijazah dengan dada penuh harapan.
Setelah setengah abad, tiga burung gereja bertengger di atas sana, seolah-olah mewakili mereka yang tak lagi dapat hadir. Siapakah mereka? Salah satunya Wilibrordus, yang kami panggil Weli, kawan sekelas Bang Adri, Bang Maliki, dan Bang Yus. Weli putra Entuma, Sanggau. Ia sudah di Yerusalem abadi. Namun ketika burung-burung kecil itu berkicau, kenangan tentang Weli tiba-tiba menyelinap ke dalam hati.
Dan aku pun bertanya kepada diri sendiri: Apakah mereka yang telah pergi masih mendengar lagu yang dahulu kami nyanyikan bersama?
Masri Sareb Putra
Jakarta, pada pagi yang dini 20 September 2026.
0 Comments