Sawo Pastor Balik Tembok Gereja dan Rahasia Setengah Abad Empat Sekawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (53)
| Jurus monyet turun gunung memetik buah sawo pastor di malam hari empat sekawan. Ist. |
Di balik dinding gereja yang tinggi dan kokoh. Dua pohon sawo berdiri tegak bagaikan dua pendekar yang telah lama bertapa. Dinding itu menjulang, menutupi sebagian besar pandangan dari jalan utama. Hanya mereka yang tahu jalan rahasia yang bisa menemukan pohon-pohon itu. Yang satu tinggi menjulang, dahannya hampir menyentuh langit malam. Yang satu lagi sedang, seolah menjadi pengawal setia.
Agak jauh di sebelah kanan. Ada seutas jalan berbatu hitam kasar menanjak curam ke atas sampai Susteran Sekabu. Batu-batunya gelap, tajam, dan tidak rata. Jalan itu seolah milik dunia lain, jauh dari keramaian, hanya dilalui oleh mereka yang berani menantang malam.
Baca Mengapa Anak-anak Tionghoa Sekolah di Nyarumkop? Sambal Teri Tempe Ikan Asin yang Dibagi-bagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (52)
Angin malam berembus pelan, membawa bau tanah basah. Empat bayangan muda bergerak diam-diam di balik dinding gereja itu. Saya, Doraman, Jitmen, dan Benyamin. Empat sekawan yang telah bersumpah di bawah pohon sawo: setia sampai mati.
“Siap,” bisik saya pelan.
Tubuh saya merendah, lutut sedikit ditekuk. Kaki kanan menapak kuat di akar pohon, lalu dengan gerakan Harimau Menjulur, saya meluncur ke atas dahan terbawah. Jari-jari tangan mencengkeram kulit kayu dengan teknik Cakar Elang, kuat namun tidak meninggalkan bekas. Dalam sekejap, tubuh sudah berada di dahan kedua.
Doraman berdiri di bawah. Ia membuka sikap Kuda-kuda Besi, kedua kaki terpancang kokoh di tanah. Tangan terentang siap menadah. “Ayo,” desisnya.
Satu buah sawo matang digenggam. Saya menggunakan Lempar Bayangan, suatu gerakan tangan yang sangat cepat dan ringan. Doraman menangkapnya dengan Telapak Kapas, lembut namun pasti, tanpa menimbulkan bunyi.
Jitmen berjongkok di dekat karung goni. Matanya tajam. Setiap kali ada angin berdesir aneh, ia langsung memberi isyarat dengan jari: Isyarat Ular Berkelok.
Benyamin berdiri di dekat celah dinding gereja, mengawasi ke arah jalan berbatu hitam yang agak jauh di sebelah kanan. Sikapnya Bayangan Mengintai. Tubuhnya hampir menyatu dengan gelap.
Tiba-tiba, dari arah jalan batu hitam yang menanjak jauh di sana, terdengar bunyi kerikil digeser.
Keempatnya membeku. Benyamin memberi isyarat tangan kanan: bahaya mendekat dari kejauhan.
Saya langsung menerapkan jurus Sembunyi Daun. Tubuh menempel rapat ke batang pohon, napas ditahan di perut bawah.
Doraman merendah ke sikap Kodok Berdiam. Jitmen menarik karung ke balik akar besar. Benyamin melangkah dua langkah ke samping dengan Langkah Bayangan, menghilang di balik semak di dekat dinding gereja.
Baca Pak Lelen dan Jejak Sang Juru Masak di Padepokan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (52)
Bayangan hitam muncul di jalan batu kasar yang jauh itu. Langkahnya berat. Mungkin pastor. Atau penjaga malam. Atau seseorang yang lebih berbahaya.
Jitmen berbisik hampir tanpa suara, “Ilmu baru…”
Ia mengambil satu buah sawo yang masih keras. Dengan gerakan Gosok Batu Hitam, ia menggosok buah itu cepat di batu di dekat kakinya, lalu meremasnya dengan Tekanan Naga. Dalam sekejap, aroma manis bercampur kelat menyebar. Buah itu matang seketika.
Bayangan di jalan batu hitam yang jauh itu berhenti.
Hati kami hampir berhenti berdetak.
Lalu, tiba-tiba, angin bertiup kencang dari arah Gunung Poteng. Daun-daun bergoyang hebat. Bayangan itu menoleh ke arah lain. Benyamin melihat kesempatan. Ia menggunakan Tiupan Angin Semu, melempar batu kecil ke arah berlawanan dengan teknik Lempar Batu Sembunyi Tangan. Bunyi jatuh di kejauhan membuat bayangan itu tertipu, lalu berjalan menjauh menaiki jalan batu hitam hingga menghilang di balik kabut.
Empat sekawan menghela napas panjang. Hampir bersamaan.
Jurus Kodok Menipu Pak Dawai Menerbangkan Ikan Asin: 2 Kawan Dikeluarkan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (51)
Saya meluncur turun dengan Turun Ular, tubuh meluncur lembut di sepanjang batang. Doraman langsung berdiri, Jitmen mengikat mulut karung dengan cepat, Benyamin memberikan isyarat aman.
Malam itu, mereka berhasil. Karung terisi. Rahasia tersimpan di antara rumpun bambu di balik dinding gereja yang tinggi. Dan di lidah, rasa manis bercampur kelat masih terasa, seolah mengingatkan bahwa keberanian sejati bukan terletak pada kekuatan kasar, melainkan pada ketepatan jurus, kesabaran, dan kesetiaan pada kawan.
Di balik dinding gereja yang tinggi, di bawah pohon sawo yang menjulang, empat bayangan muda itu menghilang ke dalam malam dengan Langkah Empat Bayangan, gerakan yang hanya mereka yang tahu.
Dan pohon sawo itu… tetap berdiri. Menunggu petualangan berikutnya.
Seperti seribu tangan gaib menahan langkahku. Aku berhenti di depan pastoran. Pagar bambu hidup masih berdiri seperti dahulu. Hanya atapnya yang berganti. Dulu sirap hitam, kini entah apa. Tembok gereja masih sama. Tetapi pohon sawo kami telah berubah menjadi Gua Maria.
Aku hendak ke kantin membeli kopi, namun langkahku mendadak tertahan. Mataku menatap pohon tua itu. Dan pada saat itulah, seolah-olah dari balik kabut waktu, terdengar suara masa muda menyeru namaku.
"Hei, Masri! Jangan kau habiskan semua buah sawo itu!"
Aku tersentak. Ah, suara siapa itu? Suara kawan yang telah lama tiada? Ataukah hanya suara kenangan yang sedang mempermainkan hati seorang tua? Aku mendekat, menatap batangnya yang keriput. Dahulu, pohon ini adalah benteng, tempat kami menyusun siasat, mengintai buah matang, dan melarikan diri dari pengawasan para pembina. Kini, di bawah naungannya, Bunda Maria berdiri tenang. Betapa ganjilnya jurus kehidupan! Dahulu kami mencuri buah, kini orang datang menitipkan doa.
Aku tersenyum pahit. Lima puluh tahun! Angka itu melintas dalam benakku seperti tebasan pedang tanpa suara. Ke mana perginya kawan-kawan seperguruan kami? Sebagian telah gugur dalam pertarungan hidup. Sebagian datang kembali dengan rambut memutih dan mata yang menyimpan cerita. Dan pohon sawo ini, saksi bisu segala tingkah kami, tetap berdiri. Ia tidak bertanya siapa yang menang, siapa yang kalah. Ia hanya menunggu.
Kutatap Gua Maria....
Entah mengapa, tenggorokanku terasa tercekat. "Bunda," bisikku, "dahulu kami datang kemari membawa kenakalan. Kini kami kembali membawa kenangan."
Angin kering kemarau dari arah lereng Poteng menggerakkan daun-daun sawo.
Sesaat aku merasa sebatang dahan mengusap udara seperti tangan seorang sahabat lama. Aku ingin tertawa, tetapi yang muncul justru senyum getir. Rupanya ada luka yang baru terasa setelah lima puluh tahun berlalu.
Aku menghela napas, lalu berbalik menuju kantin. Kopi menunggu. Namun, ketika langkahku menjauh, aku menoleh sekali lagi. Pohon sawo itu masih di sana, tegak dalam keheningan.
Aku tahu. Suatu hari nanti kami semua akan pergi. Tetapi selama batang itu masih berdiri, sebagian masa muda kami belum benar-benar mati.
Dan dalam hati aku berbisik, "Sahabat tua, simpanlah rahasia kami. Jangan kau ceritakan kepada siapa pun. Betapa nakalnya pendekar-pendekar kecil Nyarumkop dahulu!"
Masri Sareb Putra
Jakarta, malam jam-jam memetik sawo pastor dulu, 19 September 2026.
0 Comments