Handuk Biru dan Racun Batin - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (57)
Misteri hilangnya Handuk Biru. Ist.
Angin pegunungan berembus perlahan, menggoyangkan pucuk-pucuk bambu dan dedaunan di sekitar padepokan para perawan yang terpencil. Matahari pagi menumpahkan sinarnya ke halaman belakang sebuah kamar belajar.Di sana pada seutas tali jemuran....
Tergantung dua helai kain pembersih raga wanita berwarna biru, sebiru langit musim gugur.
Penyusup dan Pengintip Bidadari Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (56
Kain-kain itu bergerak perlahan ditiup angin, seolah-olah sedang menari dalam kedamaian. Namun, di balik semak yang rimbun, sepasang mata mengawasi.
Sesosok bayangan bergerak tanpa suara. Tangannya menyambar kedua kain itu dengan kecepatan kilat, lalu tubuhnya lenyap di antara pepohonan, bagaikan asap yang ditiup angin.
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara terkejut Nona Giok Lin. Ia berdiri di depan jemuran dengan wajah pucat dan mata membelalak.
"Kakak Sian! Celaka! Kain pembersih ragaku dicuri orang!" serunya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan pencuri itu masih bersembunyi di balik dinding.
"Untung pakaian dalaman tidak ikut hilang. Akan tetapi, siapakah manusia kurang ajar itu? Orang luar dari kaki gunung, atau justru salah seorang murid perguruan kita? Aduh, Sian Siong, aku benar-benar tidak mengerti!"
Sian Siong, pendekar muda dari negeri jauh, Kun Tien. Ia terkenal tenang dan memiliki dasar ilmu kebatinan mendalam, mengelus dagunya. Pandangannya menyapu jendela, jemuran, lalu semak-semak di kejauhan. Ia tidak segera menjawab.
Baca Pendekar Babi Bayangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (55)
Dalam dunia persilatan, seorang yang mudah menghunus pedang karena perkara kecil sering kali lebih dekat kepada kekalahan daripada kemenangan. Akhirnya, ia tersenyum tipis.
"Adinda Giok Lin, janganlah membiarkan amarah menguasai hatimu. Barang yang hilang dapat dicari, tetapi apabila pikiran telah dikuasai kebencian, jalan menuju kebenaran akan tertutup. Serahkan urusan ini kepadaku. Aku akan mencari siapa gerangan yang telah menggerakkan tangannya, dan terutama, racun apakah yang telah mengotori batinnya."
Giok Lin mengerutkan kening. "Racun batin? Apakah pencuri itu terkena ilmu hitam?"
"Ha-ha-ha!" Sian Siong tertawa pendek. "Racun yang paling berbahaya tidak selalu berasal dari bisa ular atau senjata rahasia. Ada racun yang tumbuh diam-diam di dalam hati manusia. Tidak berbau, tidak berwarna, tetapi sanggup mengubah orang kaya menjadi pengemis yang tidak pernah merasa cukup."
Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam, "Dalam ilmu jiwa, ada tiga penyakit batin yang perlu kau kenali.
Pertama, envy, atau iri hati. Orang yang terkena penyakit ini merasa pedih melihat kelebihan orang lain dan ingin memiliki apa yang bukan haknya.
Kedua, jealousy, atau cemburu, yakni ketakutan kehilangan sesuatu atau seseorang karena kehadiran pihak ketiga.
Ketiga, malicious envy, atau dengki yang keji. Ini lebih berbahaya. Orang yang dikuasainya tidak hanya ingin memiliki milik orang lain, tetapi juga ingin melihat pemiliknya kehilangan kebahagiaan."
Giok Lin mengangguk perlahan. "Jadi, orang itu bisa saja kaya dan berkecukupan, tetapi masih mencuri barang orang lain?"
"Tepat sekali!" jawab Sian Siong. "Ada manusia yang petinya penuh emas, tetapi hatinya tetap merasa kosong. Ia melihat barang milik kawannya, lalu timbul keinginan untuk mengambilnya. Bukan karena membutuhkan, bukan pula untuk dipakai. Hanya untuk disembunyikan dalam peti rahasia, supaya ia dapat merasakan kepuasan ketika mengetahui bahwa orang lain telah kehilangan. Inilah kemiskinan yang tidak dapat disembuhkan dengan uang."
Malam turun di Perguruan Telaga Sunyi (Nama Asrama Putri Sekabu di malam hari). Kabut tipis merayap di antara pepohonan, sementara cahaya bulan tertutup awan yang bergerak lambat.
Di atas genting sebuah bangunan, Sian Siong duduk bersila, tubuhnya tegak dan napasnya teratur. Dua helai kain biru sengaja dijemur kembali di dekat jendela. Umpan telah dipasang. Kini tinggal menunggu ikan yang rakus menyambar kail.
Tulisan Dinding Latar Altar dan Tiga Burung Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (54)
Menjelang tengah malam, terdengar desir yang hampir tak tertangkap telinga. Sesosok bayangan berpakaian hitam melayang dari balik tembok, lalu mendarat di bawah jendela. Gerakannya ringan, tetapi tergesa-gesa. Tangannya terulur hendak meraih kain biru. Pada saat itulah terdengar suara dari atas genting.
"Sahabat, mengapa harus merayap dalam kegelapan hanya untuk mengambil kain pembersih raga? Kalau memang membutuhkan, bukankah lebih terhormat meminta?"
Bayangan itu tersentak. Ia melompat mundur dan memasang kuda-kuda. Sian Siong melayang turun dari atap, ringan seperti daun kering yang dilepaskan angin. Matanya menatap pakaian sutra halus yang dikenakan orang itu.
"Ah, pakaianmu terbuat dari sutra yang mahal. Gerak-gerikmu pun menunjukkan bahwa kau bukan orang yang kekurangan harta. Mengapa kau biarkan dirimu diperbudak keinginan yang begitu rendah?"
"Diam!" bentak si pencuri. "Jangan banyak bicara!"
Belum habis suaranya, tubuhnya telah menerjang. Tangan kanan meluncur dengan lima jari terbuka, membentuk cakar yang mengarah ke jalan darah di dada Sian Siong. Serangan itu cepat dan ganas. Namun, pendekar muda itu hanya menggeser kaki setengah langkah. Tubuhnya berputar mengikuti tenaga lawan, seperti ranting bambu yang menunduk diterpa badai.
Jurus "Mengalah demi Kebaikan"!
Pukulan cakar itu meleset. Pada saat yang sama, dua jari tangan kiri Sian Siong meluncur bagai kilatan cahaya.
Plak! Plak!
Dua totokan tepat mengenai pundak si pencuri. Seketika tubuhnya kaku. Tenaga dalamnya seakan-akan membeku, dan ia terpaksa berdiri seperti patung yang kehilangan daya. Dari balik sudut tembok, Giok Lin muncul membawa obor. Cahaya api menerangi wajahnya yang tegang. Ia melangkah mendekat, lalu menarik kain penutup wajah si pencuri.
"Ah!" pekiknya. "Kakak Seperguruan Sute Ji!"
Sute Ji menundukkan kepala. Wajahnya yang semula tertutup kain hitam kini tampak pucat. Ia seorang murid senior yang hidup berkecukupan, bahkan sering membanggakan pakaian dan perhiasannya. Namun, di hadapan tatapan Giok Lin dan Sian Siong, segala kemegahan itu seolah-olah telah luruh menjadi debu.
Sian Siong menggerakkan tangannya. Totokan dilepaskan. Sute Ji terhuyung, lalu jatuh bersimpuh di tanah.
"Sianseng..." suaranya bergetar. "Aku... aku selalu merasa kurang. Setiap melihat milik orang lain, hatiku terbakar. Aku ingin memilikinya, meskipun barang itu tidak berguna bagiku. Kain-kain itu pun hendak kusimpan dalam peti rahasia. Aku tahu perbuatanku hina, tetapi aku tidak sanggup mengendalikan keinginan itu."
Giok Lin maju selangkah. Cahaya obor memantulkan kilau air di matanya.
"Kakak Seperguruan, apakah kau pernah memikirkan akibat perbuatanmu? Bagaimana jika kain itu satu-satunya milik seseorang? Bagaimana jika ia tidak mempunyai uang untuk membeli pengganti? Orang itu harus menanggung kesulitan, sementara kau menikmati kepuasan karena telah merampas haknya. Apakah hati manusia boleh begitu dingin?"
Kata-kata itu tidak dilontarkan dengan teriakan. Namun, justru karena itulah, setiap kalimat terasa seperti jarum yang menembus lapisan kesombongan Sute Ji. Ia menundukkan kepala semakin dalam. Bahunya bergetar.
Sian Siong memandangnya dengan wajah serius.
"Ketahuilah, Sute Ji. Orang miskin harta masih dapat bekerja dan mengumpulkan kekayaan. Tetapi orang yang hatinya selalu merasa kurang akan menjadi budak keinginannya sendiri. Ia mungkin tidur di atas kasur sutra, tetapi jiwanya menggelandang dari satu keinginan ke keinginan yang lain. Tidak ada peti emas yang mampu mengisi kekosongan semacam itu."
Ia melangkah mendekat, lalu melanjutkan,
"Mulai besok, kembalikan semua barang yang pernah kau ambil. Jangan ada satu pun yang kau sembunyikan. Setelah itu, jalani pertapaan di Gua Penyesalan. Bukan untuk menyiksa tubuhmu, melainkan untuk belajar menguasai hati. Sebab musuh terberat seorang pendekar tidak selalu berdiri di hadapannya. Kadang-kadang, musuh itu bersemayam di dalam dadanya sendiri."
Baca Sawo Pastor Balik Tembok Gereja dan Rahasia Setengah Abad Empat Sekawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (53)
Sute Ji menjura hingga dahinya menyentuh tanah. Di bawah cahaya obor yang bergoyang diterpa angin malam, air matanya jatuh satu demi satu.
Dan pada malam itu, di Perguruan Telaga Sunyi. Sebuah rahasia terbongkar: bahwa manusia dapat memiliki harta sebanyak gunung, tetapi tetap menjadi pengemis apabila jiwanya tidak pernah mengenal kata cukup.
Jakarta, siang 20 September 2026
Based on a true story seperti dikisahkan seorang penghuni perguruan Sekabu kepadaku.
0 Comments