Kacang Dael dan Rahasia Mustika Alam di Tepi Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (59)
| Bolungae, kacang dael itu. Ist. |
Sunyi senyap suasana di sepanjang tepian Sungai Sekabu. Airnya yang jernih mengalir perlahan, menyusup di antara celah-celah batu. Lalu membelah hutan lebat yang belum terjamah kaki manusia.
Alam semesta senantiasa menyimpan rahasia-rahasia besar yang melampaui jangkauan akal manusia. Sering kali sesuatu yang tampak remeh dan tidak berharga justru menyimpan mustika yang luar biasa.
Demikianlah hukum alam. Di balik keindahan, tersembunyi ujian. Di balik ketakutan, kadang-kadang bersemayam berkah yang belum tersingkap.
Jerat Tamot dan Serangan Pendekar Wanita Paruh Baya ke Asrama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (58)
Di kawasan Eria yang sunyi, sulur-sulur akar pohon purba merambat subur di tebing sungai. Dari akar-akar yang liat itu bergelantungan buah-buah asing dengan bentuk yang aneh. Kulitnya berkerut-kerut, sangat mirip kacang tanah, tetapi ukurannya luar biasa besar, sebesar pergelangan tangan orang dewasa! Penduduk setempat menyebutnya buah: bolungae.
Selama ratusan tahun...
Tidak seorang pun berani menyentuhnya. Mereka percaya buah itu mengandung racun kutukan yang mematikan.
Namun, sejarah sebuah tempat kadang-kadang berubah karena keberanian seorang pemuda.
Handuk Biru dan Racun Batin - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (57)
Tidak jauh dari sungai itu berdiri sebuah tempat penempaan pemuda-pemuda berbakat, sebuah perguruan bertaraf tinggi bernama SMA Seminari Nyarumkop, yang kondang dengan sebutan PKN. Di perguruan ini, para cantrik digembleng dengan ilmu sastra, budi pekerti, serta ketahanan mental.
Mereka belajar bahwa pengetahuan tanpa keberanian hanyalah pedang yang tersimpan dalam sarung, sedangkan keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi malapetaka.
Di antara murid-murid angkatan itu terdapat dua pemuda yang hubungannya sangat erat, bagaikan saudara kandung. Yang pertama bernama Kornelius Kimha, seorang pemuda bertubuh tegap dengan tatapan mata cerdas dan bijaksana.
Sahabat karibnya adalah Dael Pongkuk, pemuda perkasa dari Paroki Jemongko, sebuah daerah subur yang kelak berganti nama menjadi Kuala Dua.
Dael memiliki sin-kang alami, berupa kepekaan terhadap tanda-tanda alam. Ia mampu merasakan sesuatu yang luput dari pandangan orang biasa.
Pada suatu petang yang cerah, ketika matahari mulai condong ke barat, Dael Pongkuk berjalan menyusuri tepian Sungai Sekabu untuk melatih keringanan tubuhnya.
Langkah kakinya begitu ringan sehingga tidak sehelai daun kering pun berderik di bawah telapak kakinya. Sesekali ia melompat dari batu ke batu. Tubuhnya melayang sekejap, lalu mendarat dengan tenang, seolah-olah bumi sendiri bersedia menerima kedatangannya.
Penyusup dan Pengintip Bidadari Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (56)
Ketika tiba di kawasan Eria, pandangan Dael yang setajam mata elang tertumbuk pada buah-buah bolungae raksasa yang bergelantungan di akar-akar pohon tepi sungai. Ia menghentikan langkah. Keningnya berkerut. Matanya meneliti buah-buah aneh itu, seakan-akan hendak menembus kulit keriput yang selama ini menyimpan rahasia.
"Ah, sungguh agung ciptaan Yang Mahakuasa," gumamnya seorang diri. "Mengapa alam menumbuhkan buah sebesar ini jika hanya untuk menjadi hiasan yang sia-sia? Ataukah di balik bentuknya yang buruk tersembunyi suatu berkah?"
Pertanyaan itu berputar-putar dalam benaknya. Rasa penasaran bergejolak di dada pemuda Jemongko tersebut. Naluri pendekarnya berbisik bahwa buah itu mungkin bukan racun, melainkan anugerah yang belum dikenal manusia. Akan tetapi, bisikan hati tidak selalu dapat dijadikan pegangan. Satu kesalahan saja dapat mengantarkan nyawa ke gerbang kematian.
Dael menarik napas panjang. Setelah mengamati buah-buah itu dengan saksama, ia menggenjot tubuhnya. Sekejap kemudian, tubuhnya melayang ringan melewati akar-akar pohon. Tangannya bergerak cepat. Tiga buah bolungae raksasa berhasil dipetik dan disimpannya di balik jubah. Dengan langkah gesit, ia meninggalkan kawasan Eria dan kembali menuju asrama PKN.
***
Malam telah turun ketika Dael memasuki dapur asrama. Para murid sudah terlelap. Lorong-lorong sunyi, hanya sesekali terdengar suara angin yang menyentuh dinding bangunan. Di dalam dapur, sebuah tungku masih menyisakan bara merah. Dael menyalakan api, lalu menyiapkan kuali tanah berisi air.
Baca Pendekar Babi Bayangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (55)
Tiga buah bolungae diletakkannya di hadapan tungku. Dengan hati-hati, ia membelah buah-buah itu. Sebagian dimasukkannya ke dalam air mendidih untuk direbus. Sebagian lagi diletakkannya di atas bara api untuk dibakar. Asap tipis mulai mengepul. Dael mengawasi setiap perubahan dengan kewaspadaan seorang pendekar yang sedang menghadapi lawan tak dikenal.
Tiba-tiba, kulit buah yang semula keras dan kaku perlahan merekah diterpa hawa panas. Dari celah-celahnya menguap aroma harum yang gurih dan menggugah selera. Bau itu memenuhi ruangan dapur, menyelinap ke sela-sela dinding, bahkan seolah-olah hendak membangunkan para penghuni asrama yang sedang tidur. Perut Dael segera berkeroncongan. Namun, ia tidak segera menyentuhnya.
"Jangan-jangan ini siasat racun yang lebih lihai," gumamnya. "Bau harum untuk meninabobokan kewaspadaan!"
Dael tertawa kecil mendengar pikirannya sendiri. Ia kemudian memeriksa buah yang telah matang. Teksturnya padat, tetapi lembut ketika ditekan. Dengan hati-hati, ia mengupas kulitnya. Sepotong daging buah diambilnya. Untuk beberapa saat, potongan itu hanya dipandangnya. Kemudian, dengan tekad bulat, dimasukkannya ke dalam mulut.
Nyam... nyam... nyam...
Sepasang mata Dael mendadak terbelalak. Wajahnya yang semula tegang berubah cerah. "Luar biasa!" serunya lirih.
Rasa buah itu benar-benar menyerupai kacang tanah, tetapi jauh lebih empuk, gurih, dan mengenyangkan. Tidak ada rasa pahit. Tidak ada panas racun yang membakar tenggorokan. Tidak ada gejala aneh yang menyusup ke tubuh. Dael mengunyah sekali lagi. Lalu sekali lagi. Akhirnya, ia tertawa lepas.
"Ha-ha-ha! Selama ratusan tahun manusia takut pada buah ini, padahal ia hanya menunggu seseorang berani mengenalnya!"
Tulisan Dinding Latar Altar dan Tiga Burung Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (54)
Malam itu, Dael tidak segera tidur. Ia merebus dan membakar sisa buah tersebut, mencicipinya dengan penuh kegembiraan. Dalam hatinya timbul kesadaran bahwa alam tidak pernah benar-benar pelit kepada manusia. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk membuka pintu pengetahuan.
Keesokan harinya, Dael membawa hasil temuannya ke hadapan Kornelius Kimha dan para penghuni asrama. Para murid mengerumuni buah-buah itu dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sebagian masih ragu. Sebagian lagi saling berbisik, takut bahwa keberanian Dael semalam justru telah mengantarkannya ke ambang celaka.
Kornelius mengambil sepotong buah yang telah dimasak. Ia memandang Dael sejenak, lalu mencicipinya. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. Ia menepuk pundak sahabatnya dengan penuh kegembiraan.
"Dael, saudaraku! Engkau telah menemukan mustika alam! Keberanianmu membuka mata kita semua. Buah yang selama ini ditakuti ternyata merupakan anugerah!"
Para murid segera mencicipinya. Dalam waktu singkat, keraguan berubah menjadi kegembiraan. Ada yang tertawa, ada yang meminta tambahan, dan ada pula yang menyesal karena selama ini membiarkan buah sebesar itu tergeletak tanpa disentuh. Dapur asrama yang biasanya tenang mendadak menjadi ramai oleh suara para cantrik.
Sejak hari bersejarah itu. Gemparlah seluruh penghuni PKN. Buah bolungae yang dahulu dihindari kini menjadi buruan para murid. Pada malam hari, ketika buku-buku pelajaran terbuka dan lampu asrama menyala redup, buah itu menjadi teman belajar yang mengenyangkan. Direbus atau dibakar, rasanya tetap menggugah selera.
Namun, para cantrik tidak melupakan jasa orang yang pertama kali membuka rahasia buah tersebut. Mereka merasa bahwa nama bolungae terlalu biasa untuk mengenang keberanian Dael Pongkuk. Maka dengan kesepakatan yang tumbuh dari rasa hormat, mereka memberikan nama baru kepada buah itu.
***
Nama itu kemudian menyebar dari mulut ke mulut, dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Setiap kali murid-murid PKN pergi ke tepian Sungai Sekabu untuk mencari buah raksasa tersebut, mereka menyebutnya dengan nama kehormatan itu.
Dan demikianlah sebuah nama menjadi abadi. Bukan karena terukir pada batu, bukan pula karena ditulis dengan tinta emas. Ia hidup dalam ingatan manusia, dalam percakapan sederhana, dan dalam kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sepanjang aliran Sungai Sekabu, buah bolungae tetap bergelantungan pada akar-akar pohon purba. Alam menyimpan rahasianya seperti dahulu. Namun, sejak Dael Pongkuk berani membuka pintu pengetahuan, buah itu tidak lagi menjadi lambang ketakutan. Ia menjadi saksi bisu bahwa kadang-kadang, mustika terbesar tidak ditemukan oleh orang yang paling kuat, melainkan oleh orang yang berani bertanya ketika orang lain memilih untuk takut.
0 Comments