Jurus Genderang dan Pemeo Kimbot mengatasi Masalah SMA tak ada Siswa Wanita- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (63)

Jurus Genderang dan Pemeo Kimbot
Kimbot dan solusi mengatasi SMA tak ada siswa perempuan.

Angin pegunungan berembus dingin di sekitar Wisma Widya pada tahun 1973. Namun, di dalam aula besar asrama, suasana justru menghangat. Suara genderang bertalu-talu, memecah kesunyian malam di bawah asuhan seorang pendekar musik dari negeri seberang, Bruder Saarto. 

Dengan ilmu dan pengalaman yang dibawanya dari Breda, Belanda, ia menularkan kepiawaiannya kepada para murid dan membangun sebuah perkumpulan musik baris-berbaris yang kelak dikenal sebagai Marching Band PKN.

Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)

Bruder Saarto bukanlah orang sembarangan. Bruder bertubuh tinggi besar, berkulit putih, dan berasal dari Breda, Holland, sebuah kota di Belanda yang dikenal sebagai tanah kelahirannya. Di tangannya, ketukan genderang dan tiupan instrumen menjelma menjadi ilmu tersendiri. 

Setiap gerakan, setiap ketukan, dan setiap langkah dalam barisan menuntut kedisiplinan. Dari sanalah Marching Band PKN tumbuh, menjadi salah satu kebanggaan kehidupan asrama dan sekolah.

Di barisan paling depan, bertindak sebagai panglima medan laga alias mayoret, berdiri Fransiskus Sonan. Pemuda gagah ini adalah siswa SMA Seminari St. Paulus yang juga menghuni Wisma Widya.

Dengan tongkat mayoretnya yang berputar laksana gada sakti membelah angin, Sonan memimpin pasukan yang anggotanya dipilih dari murid-murid SMA dan SPG. Untuk memperindah jurus, gerakan, dan display parade, pasukan ini diperkuat oleh siswi-siswi SPG Adisucipto. Maklum, SMA pada masa itu belum memiliki murid perempuan.

Gunawan dan Jurus Merpati Putih yang Meluluhlantakkan Hati Para Gadis -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (61)

Di dalam barisan penabuh genderang, berkumpul para pendekar tenor drum: Abun, Lanyi, Kasim, Mathias, Iyob, dan Beatus. Pukulan mereka cepat, serempak, dan menggelegar. Namun, di antara riuh rendah seluruh instrumen, ada satu dentuman yang menjadi jangkar irama pasukan. Itulah suara bass drum yang ditabuh Kimbot, alumnus SPG Adisucipto yang menghuni Wisma Widya sejak 1973 hingga 1975.

Kimbot adalah pemuda dengan ketahanan fisik luar biasa. Menjadi penabuh bass drum bukan perkara ringan. Ia harus menggendong drum besar yang melekat erat di bagian depan tubuh. Karena ukurannya yang masif, sosok Kimbot dari kejauhan tampak unik.

Tubuhnya tegak, sementara bagian depan tubuhnya membusung, seolah-olah seorang pendekar dengan perut buncit tengah bersiap turun ke gelanggang. Setiap kali Marching Band PKN berparade, Kimbot melangkah mantap sambil menghantam drumnya dengan dentuman, “Dug! Dug! Dug!” yang mengguncang lapangan.

Baca Jurus Ketapel Pak Kaslem Meredakan Ketegangan NBC dan SMA - -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (60)

Pemandangan itu, yang saban hari tersaji di lapangan latihan, tentu saja tidak luput dari mata anak-anak Wisma Widya yang terkenal jenaka. Mereka punya jurus silat lidah sendiri. Setiap kali melihat seorang perempuan hamil dengan perut membesar, beberapa anak asrama mulai berbisik sambil menahan tawa, “Lihat! Jalannya sudah seperti Kimbot membawa bass drum!”

Mula-mula, kelakar itu sebatas hiburan di sudut-sudut asrama. Namun, seperti jurus yang diwariskan dari satu pendekar kepada pendekar lain, pemeo tersebut perlahan menyebar. Seiring waktu, nama Kimbot mengalami pergeseran makna.

Memasuki pertengahan 1975, nama itu tidak lagi hanya merujuk kepada sang penabuh bass drum, tetapi juga menjadi ungkapan bersayap di kalangan pelajar.

Ketika melihat ada ibu-ibu yang tengah mengandung, mereka membicarakannya secara terus terang.

Di balik dinding sekolah, di sudut asrama, atau dalam percakapan berbisik, pemeo itu kadang muncul, “Dia seperti Kimbot....”

Sebuah kelakar yang semula lahir dari bentuk bass drum, kemudian berubah menjadi ungkapan sosial yang menyimpan ironi dan kepedihan.

Kimbot, sang penabuh bass drum yang legendaris, telah menyelesaikan masa tugasnya di Wisma Widya pada 1975.

Dentuman drumnya pun lama-kelamaan mereda, ditelan jarak dan pergantian generasi. Namun, namanya tetap tinggal dalam ingatan kolektif anak-anak asrama. Dari sebuah alat musik yang digendong dengan susah payah, lahirlah sebuah pemeo. 

Baca Kacang Dael dan Rahasia Mustika Alam di Tepi Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (59)

Begitulah sejarah tutur sekolah bekerja: kadang tumbuh dari disiplin, kadang dari kelakar, dan kadang meninggalkan gema yang jauh lebih panjang daripada suara genderang itu sendiri.

Masri Sareb Putra
Sekayam pagi yang dini di sebuah ruang, 22 September 2026.
Narasi ini dibangun seperti dikisahkan bang Maliki kepadaku.

0 Comments

Type above and press Enter to search.