Tan Un Mao dan Rahasia Jurus Kepinding - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (69)

 

Jurus Tan Un Mao Membasmi Kepinding
Kepinding Wisma Widya dan jurus Tan Un Mao. Ist.

Kegelapan pekat telah turun menyelimuti loteng barak tempat tidur Wisma Widya. Di bawah atap kayu yang sunyi itu, ketika seluruh penghuni padepokan seharusnya telah mendengkur dalam pelukan mimpi, justru sebuah rahasia kelam sedang bergerak dari satu sudut ke sudut lain.
Rahasia yang kalau sampai diketahui orang luar mungkin akan membuat bulu kuduk berdiri dan hati minta ampun kepada Tuhan.

Dalam dunia serangga, kepinding atau kutu busuk (𝘤𝘪𝘮𝘦𝘹 𝘭𝘦𝘤𝘵𝘶𝘭𝘢𝘳𝘪𝘶𝘴) adalah makhluk kecil yang tidak mengenal belas kasihan. Ia bersembunyi di sudut-sudut veltbed, menyusup di antara anyaman tikar, berdiam di balik rajutan kelambu, selimut kumal, bahkan celah papan lantai.

Makhluk halus ini tidak pernah berani menyerang ketika manusia sedang terjaga. Ia menunggu sampai korbannya terlelap, lalu keluar diam-diam untuk menghisap darah.

Ghee Tek Ta William Chang (Pendekar Etika Profesor William Chang) - - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (68)

Akan tetapi, di Padepokan Wisma Widya terdapat jenis kepinding yang jauh lebih berbahaya. Kepinding ini berkaki dua, berkepala hitam, dan dapat berbicara!

Celakalah murid yang menjadi sasaran mereka!

Saat teman-teman seperguruan telah pulas dan mengira seluruh penghuni loteng telah menyerahkan diri kepada Dewa Tidur, para Kepinding Berkaki Dua itu justru membuka mata lebar-lebar. Mereka bergerak tanpa suara, mengintai dari balik kelambu, tiang tempat tidur, atau sudut gelap loteng.

Mereka adalah para informan yang menjadi "anak emas" pembina. Sedikit saja seorang murid berbuat macam-macam, mata mereka melihat. Sedikit saja ada yang melanggar aturan, telinga mereka mendengar. Dan kalau perbuatan itu dianggap cukup penting, kabarnya akan meluncur dengan kecepatan anak panah menuju telinga sang penguasa tunggal Wisma Widya: Tan Un Mao alias Petrus Rostandy!

***

Para murid tentu saja tidak tahu siapa yang menjadi mata-mata. Itulah yang membuat suasana semakin mencekam. Di siang hari, seorang kawan bisa tertawa bersama. Malam hari, belum tentu ia bukan kepinding berkaki dua!


Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)

"Hati-hati dengan bayanganmu sendiri!" Demikian bisik-bisik yang beredar dari mulut ke mulut. Jangan sampai seorang kawan mulai bertingkah mencurigakan. Jangan sampai pula perbuatan yang dianggap sepele tiba-tiba sampai ke telinga pembina. Sebab kalau sudah dilaporkan oleh si kepinding maut, urusan bisa berubah menjadi perkara besar.

Aturan di Wisma Widya memang tidak main-main. Kwee Liong masih teringat bahwa setiap pekan terdapat hari wajib menjemur tikar, bantal, dan selimut. Tugas itu kelihatannya sederhana. Namun, bagi murid yang malas, tugas sederhana itu dapat berubah menjadi perkara hidup dan mati!

Barangsiapa lengah atau sengaja mengabaikannya, bersiaplah menerima hukuman.

Hukuman itu datang secepat kilat di siang bolong. Dengan sekali kibasan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam dahsyat, Tan Un Mao alias Petrus Rostandy dapat membuat barang-barang yang lupa dijemur melayang keluar jendela loteng. Bantal, selimut, tikar, semuanya dapat terbang ke halaman belakang seperti terkena badai!

Murid yang melihat kejadian semacam itu tentu segera belajar satu hal: jangan sekali-kali bermain-main dengan perintah pembina.

Untuk membasmi kepinding berkaki banyak yang bersembunyi di lantai dan tempat tidur, lantai loteng secara berkala dipel dengan cairan berbau tajam, yaitu minyak solar. Bau solar yang menusuk hidung memenuhi loteng, tetapi para murid terpaksa menerimanya sebagai bagian dari kehidupan di padepokan.

Akan tetapi, di sinilah terdapat suatu ironi yang kalau diceritakan kepada para pendekar dari padepokan lain mungkin akan membuat mereka tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)

Kepinding berkaki banyak dibasmi dengan solar. Kepinding berkaki dua justru dipelihara!

Ya, para informan berkepala hitam itu malah dibiarkan hidup subur. Mereka diberi ruang untuk melihat, mendengar, dan mengintai. Bukan untuk merusak bangunan, melainkan untuk membantu sang guru besar Tan Un Mao alias Petrus Rostandy menjaga disiplin di Padepokan Wisma Widya.

Dengan demikian, para murid menghadapi dua macam kepinding. Yang pertama menggigit tubuh pada malam hari. Yang kedua dapat menggigit nasib seseorang kapan saja!

Kwee Liong memandang keluar jendela. Angin gunung bertiup menderu, membawa aroma solar yang masih menusuk hidung. Di luar sana, Gunung Poteng berdiri gelap dan diam, seolah ikut menyimpan rahasia padepokan.

Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)

Besok fajar akan menyingsing. Ia harus segera turun gunung, meninggalkan Wisma Widya dengan segala kenangannya: aturan yang keras, wibawa seorang pembina yang disegani, dan tentu saja para Kepinding Berkaki Dua berkepala hitam yang diam-diam mengawasi setiap gerak para murid.

***

Dalam dunia persilatan, orang boleh saja berani menghadapi pendekar bersenjata golok.

Tetapi menghadapi kepinding yang tidak diketahui namanya? Itulah perkara lain!

Kwee Liong menarik napas panjang. Ia pun segera memejamkan mata, tetapi entah mengapa malam itu tidur terasa lebih sulit daripada biasanya.

Masri Sareb Putra
Malam 28 September 2026 di Pontianak.
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.

0 Comments

Type above and press Enter to search.