Ghee Tek Ta William Chang (Pendekar Etika Profesor William Chang) - - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (68)
| Saya (kiri) dan sahabat, sekaligus komplotan "4 sekawan" bernostalgia ketika SMA: Prof. Dr. William Chang, OFM Cap di ruang biara Kapusin, Pontianak. Ist. |
Matahari di ufuk barat Pontianak mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang hangat di atas langit khatulistiwa. Di ruang diskusi yang tenang itu, saya dan sang Ghee tek ta masih menyesap teh tawarnya dengan perlahan.
Namun, bagi para pembaca setia yang budiman. Jika menguak tirai waktu kembali ke tahun 1977, kita akan mendapati bahwa di balik jubah akademis yang agung dan gelar Konselor Asia-Pasifik yang mentereng itu, Pendekar Jitmen alias William Chang juga pernah mengecap masa muda sebagai seorang anak manusia yang penuh dengan kejahilan!
Siau-kwi yang jadi Uskup Agung - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (67)
Hari itu giliran empat serangkai mendapat tugas yang cukup menguras keringat. Mereka harus mendorong sebuah gerobak kayu besi yang memuat tong berisi bubur panas, sebuah pasokan logistik penting yang harus diantarkan menuju daerah Sekabu. Tugas ini sejatinya adalah latihan kedisiplinan dan bakti sosial yang biasa dilakukan oleh anak-anak asrama Nyarumkop.
Namun, yang namanya darah muda, di mana ada kesempatan, di situ ada saja akal bulus untuk berbuat jahil!
Saat gerobak bubur itu berderit perlahan melewati jalanan sepi yang dikelilingi rimbunnya tanaman liar, telinga tajam para pemuda ini menangkap lamat-lamat suara tawa renyah dan obrolan riang.
Dari kejauhan, tampak segerombolan gadis belia seumur kencur, anak-anak asrama Sekabu, sedang berjalan kaki beriringan, menikmati pagi tanpa rasa curiga sedikit pun.
Melihat "sasaran empuk" di depan mata, jiwa jahil Jitmen yang biasanya tenang seketika bergejolak, berkomplot dengan darah muda kawan-kawannya.
Dengan kode isyarat mata yang cepat, ilmu komunikasi tanpa suara yang hanya dimiliki sahabat karib, mereka segera menghentikan gerobak bubur di tepi jalan.
Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (66)
Tanpa memedulikan baju yang mungkin kotor atau duri yang menusuk, empat pemuda tanggung ini, termasuk sang calon profesor masa depan, langsung melompat dan menyusup ke dalam rimbunnya rumpun bunga di tepi jalan. Mereka berjongkok bersembunyi dengan sempurna, menerapkan ilmu meringankan tubuh dan menyamarkan hawa keberadaan bagaikan ninja yang terlatih.
Gadis-gadis belia itu terus melangkah maju. Mereka asyik bercengkerama, tertawa, dan membicarakan entah apa, sama sekali tidak menduga bahwa di balik indahnya kelopak-kelopak bunga di sisi jalan, sepasang mata di balik kacamata seorang pemuda bernama Jitmen sedang mengintai dengan senyum usil yang tertahan.
Begitu rombongan gadis itu tepat berada sejajar dengan posisi persembunyian...
"WAAAA.....!!!"
Bagaikan empat ekor harimau gunung yang kelaparan, keempat pemuda itu mendadak muncul mencuat dari balik rumpun bunga sambil berteriak lantang dengan wajah yang dibuat-buat seram!
Seketika itu juga, pecahlah keheningan pagi di Sekabu! Jeritan histeris melengking memecah angkasa. Gerombolan gadis asrama itu kocar-kacir bagai sekawanan burung yang dilempar batu.
Ada yang melompat mundur. Ada yang menjatuhkan barang bawaannya. Dan sebagian besar memegang dada mereka karena merasa jantung mereka nyaris copot dari tempatnya.
Bahkan, ada satu orang gadis yang saking terkejutnya melihat kemunculan mendadak Jitmen dan kawan-kawan, matanya langsung mendelik, lututnya lemas, dan tubuhnya limbung nyaris pingsan ke tanah!
Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)
Melihat kekacauan jenaka tersebut, tawa empat serangkai itu pun pecah menggelegar di udara bebas. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut, puas melihat kesuksesan operasi rahasia "penyergapan bubur Sekabu" tersebut.
Sungguh sebuah kenakalan masa remaja yang murni, tanpa maksud jahat, namun menyisakan kenangan yang takkan lekang oleh waktu.
Pembaca yang bijak tentu akan tersenyum simpul. Siapa yang akan menyangka bahwa pria yang kini duduk dengan wibawa penuh, berbicara tentang hukum moral dan etika sosial di tingkat dunia, dulunya adalah salah satu dalang di balik melompatnya jantung gadis-gadis asrama Sekabu karena terkejut?
Rahasia kecil inilah yang membuktikan bahwa seorang tokoh besar pun tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki masa muda yang indah, penuh warna, dan jenaka bersama sahabat-sahabat sejatinya.
Sungguh sebuah kegeraman yang tak tertahankan jika kita melihat bagaimana sang waktu dengan teganya merenggut pagi yang indah dan malam-malam penuh debaran di Wisma Widya tersebut! Mengapa momen-momen indah yang penuh dengan tawa, ketakutan, dan aroma ikan asin dan kepulan uap bubur Pak Lelen harus menguap menjadi masa lalu yang tak mungkin diulang?
Kita dibuat geram karena tidak bisa kembali memutar jarum jam untuk sekadar melihat kembali wajah-wajah polos empat pemuda tanggung yang saling berbisik di kegelapan malam Nyarumkop tahun 1978.
Namun, di balik kegeraman itu, hati kita dipenuhi oleh rasa haru dan takjub yang luar biasa saat melihat akhir dari perjalanan takdir ini. Roda nasib telah berputar membawa mereka ke puncak-puncak pengabdian masing-masing yang agung.
Dua pemuda yang dahulu ikut menjaga lorong asrama kini hidup di tengah dunia awam, menjadi pilar-pilar masyarakat yang hebat dan budiman. Sementara dua pemuda lainnya, termasuk Jitmen yang cerdik, kini telah mengenakan jubah kebesaran sebagai gembala jiwa yang suci.
Jitmen yang dahulu bersembunyi di kolong meja dapur demi sepotong ikan asin dan nasi bulgur, kini telah menjelma menjadi Profesor Dr. William Chang, OFMCap, seorang begawan Ilmu Etika Sosial dan Konselor General Ordo Kapusin untuk wilayah Asia-Pasifik.
Tangan yang dahulu gemetar memegang toples roti di kegelapan malam, kini menjadi tangan yang memberkati ribuan umat dan menuntun kebijakan ordo keagamaan dunia dari Roma.
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)
Persahabatan mereka berempat adalah sebuah simfoni yang indah. Jalur hidup boleh membelah mereka menjadi dua awam dan dua pastor, kedudukan boleh berbeda, namun ketika mereka kembali duduk bersama di sebuah meja kayu yang sederhana, sekat-sekat gelar Profesor maupun jabatan internasional seketika runtuh.
Yang tersisa hanyalah empat sahabat karib yang saling melempar senyum, mengenang wangi bunga Sekabu dan derit gerobak bubur pagi hari.
Inilah hakikat tertinggi dari takdir manusia dan persahabatan sejati. Setinggi apa pun burung terbang mengepakkan sayapnya di langit internasional, ia akan selalu merindukan dahan tempatnya pertama kali belajar mengepakkan sayap.
Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)
Dan bagi Profesor William Chang serta ketiga sahabatnya, dahan suci itu bernama SMA Nyarumkop 1977/1978 di kaki gunung Poteng. Sebuah tempat di mana kehebatan mereka ditempa bukan dari kemewahan, melainkan dari ketulusan hati yang abadi.
0 Comments