Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (66)
| Lim Kheng Siang alias Patrik Hartadi. Ist. |
Suasana Reuni Akbar 2026 di kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) berlangsung meriah. Ratusan alumnus dari berbagai penjuru tanah air berkumpul, melepas rindu, dan mengenang masa-masa pendidikan mereka di sekolah legendaris tersebut.
Di sudut halaman yang agak teduh, seorang alumnus berambut perak duduk seorang diri sambil memijat kening. Tiba-tiba, ia teringat seorang kawan lama.
Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)
“Siapa ya namanya...?” gumamnya lirih.
Di tengah kemeriahan Reuni Akbar PKN, 4–6 September 2026, seorang alumnus dari angkatan lama tiba-tiba teringat kepada seorang kawan. Wajahnya masih jelas dalam ingatan. Nama Tionghoanya pun masih melekat: Tan Un Mao. Namun, nama lengkapnya seakan lenyap ditelan waktu. “Siapa ya namanya?” gumamnya.
Pertanyaan itu kemudian dibawa ke grup WhatsApp (WAG) alumni. Para sahabat lama ikut mengingat-ingat dan menyebut berbagai nama. Percakapan pun berkembang hingga akhirnya sebuah jawaban muncul. Nama yang dicari itu adalah Patrick Hartadi, nama religius dari Lim Keng Siang.
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)
Sejak saat itu, jejak hidup sang kawan lama mulai terbuka kembali. Dari nama Patrick Hartadi, ingatan membawa kita jauh ke belakang, kepada seorang pemuda dari Teluk Pakedai yang kelak memilih jalan hidup sebagai imam Ordo Kapusin.
***
Angin pegunungan Parapat bertiup bersiut-siut, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di atas sebuah batu besar yang menghadap danau, seorang pemuda keturunan Tionghoa berdiri tegak dengan mata terpejam.
Jubah cokelatnya yang longgar berkibar ditiup angin. Pemuda itu adalah Lim Keng Siang, anak muda berbakat yang lahir di tepi sungai berarus deras di Teluk Pakedai, Kalimantan Barat.
Pada hari pertama bulan kedelapan tahun 1964 itu, Keng Siang telah membulatkan tekad meninggalkan urusan duniawi. Ia berlutut di hadapan sang guru spiritual, memasuki biara, dan menerima nama keagamaan yang baru: Patrick Hartadi. Sejak saat itu, ia mulai menggembleng diri dalam lwekang (ilmu kesaktian dalam), bukan untuk membunuh, melainkan untuk menghidupkan jiwa manusia.
Delapan tahun lamanya Patrick Hartadi ditempa di Kawah Candradimuka Seminari Tinggi Parapat. Setiap hari ia mengasah pikiran dengan membaca kitab-kitab filsafat dan menyelami ilmu teologi. Pikiran dan batinnya ditempa hingga matang. Pada pertengahan 1972, ia ditahbiskan menjadi imam Ordo Kapusin. Ilmu batinnya telah matang, tetapi dahaganya akan pengetahuan belum surut.
Dengan bekal iman yang kokoh, ia menempuh perjalanan ribuan li menuju Kota Abadi Roma. Di Universitas Kepausan Salesiana, ia memperdalam ilmu pendidikan hingga meraih gelar Lisensiat Pedagogi. Ketika kembali ke tanah air, kepandaiannya semakin ciamik. Namun, ia tetap bersahaja, berpakaian sederhana, dan berwajah tenang laksana air telaga yang hening.
Langkahnya kemudian menjelajahi bumi Kalimantan. Dari Sanggau Kapuas, ia bergerak ke Nyarumkop, Singkawang, untuk memimpin persekolahan. Ia kemudian dipercaya menjadi Vikaris Jenderal dan Sekretaris Provinsi. Di mana pun bertugas, kedisiplinannya yang kokoh membuatnya disegani.
Ketika dipercaya menjadi Ekonom, yakni orang yang memegang tanggung jawab atas keuangan keuskupan, Patrick Hartadi tetap sederhana. Hatinya tidak goyah oleh kilauan emas dan perak. Ia dikenal lurus dan pantang merepotkan orang lain. Jika sesuatu dapat dikerjakan sendiri, ia akan mengerjakannya tanpa meminta bantuan.
Di sela-sela waktu ciam-sio (berdoa) dan membaca kitab suci, Patrick Hartadi gemar bekerja dengan tangannya. Ia terampil bertukang, memperbaiki peralatan elektronik, mencangkul tanah, dan berkebun. Apa saja yang rusak berusaha diperbaikinya sendiri. Baginya, bekerja dengan memeras keringat merupakan bentuk pujian kepada Yang Maha Kuasa.
Tugas terakhir sang hwee-shio tua berada di Kubu Raya, Paroki Santo Agustinus. Di sana ia menghabiskan sisa tenaganya untuk melayani umat dengan setia. Usia pun terus berjalan dan tubuhnya mulai melemah.
Tepat dua hari setelah genap berusia 74 tahun, di Rumah Sakit Santo Antonius, Pontianak, napas Pastor Patrick Hartadi alias Lim Keng Siang mulai melemah. Dengan salib di dadanya dan wajah yang tenang, ia menghembuskan napas terakhir. Perjalanan panjangnya di dunia telah sampai pada penghujung.
Setelah Misa Requiem di Gereja Santo Agustinus, jenazahnya dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di Kerkop Santo Yusup, Sungai Raya. Sang tokoh telah tiada. Namun, kesederhanaan, kedisiplinan, dan keteguhan hidupnya tetap dikenang oleh orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Masri Sareb Putra
0 Comments