Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)
| Lim Kheng Siang alias Patrik Hartadi: Jurus pamungkas mendidik murid bandel. |
Malam itu. Angin pegunungan bertiup kencang, menggoyang dedaunan pohon di lereng Gunung Poteng. Membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam Asrama Putra Nyarumkop yang riuh oleh suara canda remaja.
Di tengah-tengah lingkungan asrama yang dihuni oleh anak-anak muda SMA dan SPG itulah hidup sesosok tua yang belum terlalu bangka yang penampilannya sangat mengacaukan pandangan mata.
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)
Orang tua ini tidak lain adalah Pak Aki yang di kalangan kaum persilatan dikenal dengan nama aslinya Patrik Hartadi, atau nama lahirnya: Lim Kheng Siang.
Bagi mereka yang belum mengenalnya, penampilan Pak Aki mungkin tampak seperti pengemis jompo yang sudah dekat dengan liang kubur, berjalan tertatih di antara koridor asrama yang bising oleh derap langkah kaki para siswa.
Namun siapakah yang dapat menduga jalannya garis suratan takdir yang digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Apalagi bagi seorang pendekar linuwih yang telah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan.Ia pensiun sebagai pelayan banyak orang.
Baca Jurus Genderang dan Pemeo Kimbot mengatasi Masalah SMA tak ada Siswa Wanita- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (63)
Setelah bertahun-tahun mencurahkan seluruh tenaga dan batinnya demi menuntun anak-anak asrama yang bandel serta melayani umat dengan ketulusan yang tiada tara, tibalah saatnya bagi sang naga tua untuk beristirahat dari panggung pengabdian duniawi.
Jubah pamongnya dilepaskan, tanda tugas sucinya di paroki itu telah usai dengan paripurna.Ia memilih menghabiskan hari-hari tuanya dalam kesunyian yang damai, menjauh dari hiruk-pikuk tanggung jawab yang selama ini membebani pundak rentanya.
Di masa tuanya yang sunyi, Lim Kheng Siang justru mengambil sebuah keputusan yang mengejutkan jagat ramai. Ia memilih untuk menanggalkan jubah persilatannya, mencuci tangannya dari segala urusan darah dan pedang di dunia persilatan yang penuh intrik dan angkara murka.
Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)
Di sanalah di tengah-tengah lingkungan suci yang tenang, namun sesekali riuh oleh langkah kaki umat, sang pendekar sakti mandraguna ini menjalani kehidupan barunya. Ia tidak lagi menggenggam senjata pusaka, melainkan mengabdikan diri untuk menuntun jiwa-jiwa manusia.
Di tempat inilah ia disapa hangat sebagai “Pastor Kakek” oleh orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada sosok tua yang bersahaja, namun memancarkan wibawa yang kuat.
Namun, watak pendekar yang lurus dan teguh tidaklah luntur begitu saja oleh waktu. Ketika mengasuh anak-anak asrama putra SMA dan SPG yang penuh gejolak darah muda, ketegasannya tetap terasa. Akibat sebuah kesalahpahaman dan sifat kepala batu saya yang melanggar aturan, “Pastor Kakek” mengerahkan wibawanya untuk mengambil tindakan tegas: dia mengeluarkan saya dari tempat tersebut. Peristiwa itu membuat hubungan kami membeku dan menyisakan jarak yang cukup lama.
Sungguhpun demikian, jalan hidup manusia tidak selalu dapat ditebak. Beberapa puluh tahun tidak bertemu, saat saya berjalan kaki di kawasan Puri Kembangan, Jakarta untuk mencari ikan hias, saya melihat sosok yang tidak terduga. Di depan rumah kakaknya, sang pendekar tua sedang nongkrong santai menikmati hari liburnya. Pertemuan yang tidak disengaja itu menjadi awal mencairnya hubungan kami. Di bawah langit Puri Indah, di antara obrolan ringan dan hembusan angin, kami akhirnya berbaikan dan berdamai. Ganjalan masa lalu pun perlahan hilang dalam percakapan dan tawa.
Waktu berlalu. Hubungan kami yang telah pulih membawa saya kembali berkunjung ke Pastoran Sungai Raya. Saya bahkan kerap menginap di kamar yang tepat berada di sebelah kamar tidur beliau, suatu tempat bagi adik-adik kelas saya dahulu bertugas.
Kini setiap kali langkah kaki membawa saya kembali ke pastoran itu, sayup-sayup suara dari kejauhan, aroma kayu tua, heningnya malam, dan suasana tempat itu selalu membuat saya teringat kembali pada sosoknya. Lim Kheng Siang, sang pendekar yang menyembunyikan masa lalunya di balik kesederhanaan seorang pamong asrama, telah meninggalkan kenangan yang mendalam dalam hidup saya.
Kini saya menyadari bahwa lewat didikan kerasnya saya ditempa menjadi manusia yang lebih teguh. Kebaikan seorang guru yang berwatak keras memang kadang baru dapat dipahami setelah waktu berjalan cukup jauh. Mungkin tindakan mengusir saya pada masa lalu merupakan caranya mendidik seorang murid yang bandel agar kelak mampu menghadapi kehidupan dengan lebih matang.
***
Malam pun semakin larut di Pastoran St. Agustinus, Sungai Raya....
Bayang-bayang pepohonan di luar jendela bergoyang perlahan, laksana gerakan jurus-jurus silat kuno yang gemulai, namun sarat akan tenaga inti. Di dalam kamar sebelah yang sunyi itu, renungan batin ini akhirnya bermuara pada sebuah keheningan yang pasrah dan penuh rasa hormat.
Memang demikianlah jalannya dunia. Di dalam rimba persilatan maupun kehidupan rohani, seseorang kadang harus melewati cobaan yang menyakitkan sebelum memahami makna di baliknya. Sebilah pedang menjadi tajam karena ditempa api dan pukulan. Demikian pula manusia, yang sering baru memahami sebuah pelajaran setelah waktu membawanya melewati berbagai pengalaman.
Lim Kheng Siang, Patrik Hartadi, atau Pastor Kakek, telah menjalankan tugasnya sebagai seorang guru sejati dengan caranya sendiri. Ia tidak membuai muridnya dengan kata-kata manis yang melesitkan kesombongan. Ia memilih ketegasan, bahkan ketika ketegasan itu terasa pahit bagi muridnya. Dari situlah tumbuh pemahaman yang baru: bahwa kasih seorang guru tidak selalu hadir dalam bentuk kelembutan.
Angin malam kembali berembus, meniup ujung kelambu dan membawa pergi sisa-sisa kenangan masa lalu ke angkasa.
Di dalam kamar yang bersebelahan dengan jejak-jejak sunyi sang guru, sang murid kini memejamkan mata dengan hati yang lapang, membawa rasa damai yang telah ditemukan di Puri Kembangan dan rasa syukur yang tertanam di Sungai Raya.
Sungguh, budi kebaikan seorang guru yang keras baru terasa keharumannya setelah waktu berjalan cukup jauh. Ketika jiwa telah matang, teguran yang dahulu terasa pahit dapat dikenang sebagai bagian dari kasih seorang guru.
Masri Sareb Putra
0 Comments