Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah, Menteri Pelancongan, Industri Kreatif dan Seni Persembahan Mengunjungi Stand Dayak Research Center

Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah engunjungi Stand Dayak Research Center (DRC)
Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah mengunjungi Stand Dayak Research Center (DRC). Ist.

Suasana hangat dan penuh keakraban tampak di arena Sarawak Literature Festival 2026 di Miri Indoor Stadium, Kamis siang, 24 September 2026. 

Di tengah keramaian pameran buku, Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah, Menteri Pelancongan, Industri Kreatif dan Seni Persembahan mengunjungi stand Dayak Research Center.

Dayak Research Center merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia 

Dayak Research Center merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia dalam festival tersebut. Kehadirannya sekaligus membawa misi penerbitan dan literasi melalui Lembaga Literasi Dayak, yang mempertemukan penulis, peneliti, dan pegiat literasi dari Indonesia dan Sarawak.

Baca Sarawak dan Indonesia Sepakat Mengangkat Tradisi Lisan ke Persada Ilmu : 5 Tokoh Literasi Dayak di Panggung Sarawak

Festival ini berlangsung 23–27 September 2026 di Miri Indoor Stadium dan mempertemukan penulis, penerbit, pendidik, perpustakaan, pelajar, penggiat budaya, serta pelaku industri kreatif. 

Dalam kunjungan itu, Abdul Karim tampak berbincang dengan para pegiat literasi Dayak sambil melihat dan memegang buku-buku yang dipamerkan. Suasana percakapan berlangsung cair. Senyum dan tawa mewarnai pertemuan tersebut, memperlihatkan bahwa buku dapat menjadi ruang perjumpaan yang melampaui batas negara, sekaligus mempertemukan pengalaman, kebudayaan, dan gagasan masyarakat Borneo.

Di belakang meja pameran berdiri para pegiat Lembaga Literasi Dayak (LLD), yakni Petrus Gunarso, Masri Sareb Putra, Alexander Mering, Albertus Imas, Martina Lie, serta Patrisia Ganing sebagai perwakilan LLD Sarawak. 

Diplomasi dan komunikasi melalui buku

Buku-buku yang tersusun di meja terbirtan LLD menjadi representasi kerja literasi yang berangkat dari pengalaman dan pengetahuan masyarakat Dayak sendiri.

Kunjungan itu berlangsung dalam konteks festival yang sejak awal dirancang untuk mempertemukan sastra dengan kebudayaan, bahasa, tradisi, pengetahuan masyarakat adat, pendidikan, dan industri kreatif. Pemerintah Sarawak juga menempatkan festival ini sebagai salah satu platform dalam perjalanan Miri menuju aspirasi UNESCO Creative City of Literature. 

Di antara deretan buku dan percakapan tentang sastra, siang itu Dayak Research Center menjadi titik pertemuan Indonesia dan Sarawak. Buku-buku di atas meja seakan berkata sederhana: Borneo mempunyai cerita sendiri, dan cerita itu patut ditulis dari dalam.

Mewakili tim LLD, Petrus Gunarso menyatakan akan bekerja sama dengan siapa saja demi perkembangan dan peningkatan literasi. Ia menyambut baik tawaran kerja sama dengan pihak Pustaka Sarawak tahun-tahun yang akan datang. Pada kesempatan itu pula, Petrus Gnarso menyerahkan kepada Dato Sri buku The History of Dayak terbitan LLD sebagai tanda mata yang abadi.

Sementara Masri Sareb Putra menyatakan kesiapan tim LLD memenuhi undangan yang sama di Sibu tahun depan.  (X-)


0 Comments

Type above and press Enter to search.