Suwido Hester Limin: Perspektif Ilmiah Gambut di Wilayah Sabangau (3)
Lahan gambut tropis mendominasi bentang alam di sekitar Daerah Aliran Sungai Kahayan secara masif. Karakteristik fisik tanah di kawasan basah ini memiliki keunikan berupa topografi yang sangat datar dan sangat luas.Pengaruh pasang-surut air laut dari laut lepas melemah ketika memasuki wilayah pedalaman sungai Desa Bawan kampung kelahiran Suwido Hester Limin.
Baca Suwido Hester Limin: Merawat Ingatan Pakar Gambut Penemu DAM V (1)
Lemahnya pergerakan air laut ini menyebabkan proses pengayaan mineral hara dari sedimen sungai menjadi sangat rendah di lantai hutan rawa. Akibatnya, vegetasi endemik di atas kubah gambut harus beradaptasi secara ketat dengan kondisi lingkungan yang miskin unsur hara makro natrium, kalium, dan fosfor. Tanaman yang tumbuh di sini memiliki akar yang dangkal, daun yang tebal, dan mekanisme penyerapan nutrisi yang sangat efisien dari air hujan dan dekomposisi bahan organik yang lambat.
Ketebalan lapisan organik gambut di kawasan ini bervariasi secara ekstrem, dari hitungan sentimeter di dekat pantai hingga belasan meter di wilayah pedalaman. Para peneliti menemukan ketebalan gambut terdalam yang mencapai lebih dari 17 meter pada beberapa lokasi strategis di sekitar daerah rawa Sabangau.
Baca Ladang (Orang) Dayak di Kalimantan Sudah Sejak 10.000 Tahun Silam
Berdasarkan uji penanggalan radiokarbon ilmiah, usia pembentukan lapisan gambut purba di wilayah tersebut telah mencapai angka 9.600 tahun. Lapisan organik basah ini menyimpan sisa-sisa vegetasi pohon masa lalu yang tidak membusuk secara sempurna akibat kondisi lingkungan yang selalu jenuh air.
Ekosistem purba ini bertindak laksana spons raksasa yang menahan volume air hujan dalam jumlah masif selama musim penghujan tiba. Ketika musim kemarau datang, air yang tersimpan di dalam kubah gambut dilepaskan secara perlahan, menjaga aliran sungai tetap ada meskipun hujan sudah lama tidak turun.
Gambut di wilayah Sabangau
Gambut di wilayah Sabangau dan sekitarnya bersifat ombrotrofik: air dan nutrisinya berasal hampir sepenuhnya dari curah hujan, bukan dari banjir sungai atau air tanah mineral. Kondisi ini menghasilkan kubah gambut (peat dome) dengan permukaan yang cembung. Bagian tengah kubah lebih tebal dan miskin hara, sementara pinggiran yang berbatasan dengan sungai relatif lebih dangkal dan sedikit lebih kaya mineral karena pengaruh sedimen. Ash content (kadar abu) gambut alami di kawasan ini sangat rendah, sering hanya 0,2 sampai 2 persen, menandakan betapa sedikitnya input mineral. pH air gambut biasanya berada di kisaran 3,0 hingga 4,0, sangat asam, dan konduktivitas listriknya rendah. Kondisi asam ini menghambat aktivitas mikroba dekomposer, sehingga bahan organik menumpuk dari tahun ke tahun dan membentuk lapisan gambut yang semakin tebal.
Stratifikasi vertikal gambut memperlihatkan perbedaan derajat dekomposisi. Lapisan atas (acrotelm) lebih longgar, memiliki konduktivitas hidrolik lebih tinggi, dan menjadi zona aktif pertukaran air dan gas. Lapisan bawah (catotelm) lebih padat, jenuh air permanen, dan bersifat anaerobik. Di sinilah karbon tersimpan dalam jumlah raksasa. Ketika permukaan air turun akibat pengeringan kanal atau musim kemarau panjang, oksigen masuk, dekomposisi meningkat, dan karbon dilepaskan sebagai CO₂.
Studi hidropedologi di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa idealnya muka air tanah harus dijaga antara 40 cm di bawah hingga 100 cm di atas permukaan gambut untuk mencegah subsidence dan kebakaran. Jika muka air turun lebih dalam, gambut menjadi kering, mudah terbakar, dan mengalami penurunan permukaan tanah yang permanen.
ASEAN Tidak Butuh Asap, Tapi Energi Hijau dari Tanah Kita
Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Universitas Palangka Raya di Kereng Bangkirai, Sabangau, yang dikembangkan sejak 1993 atas kerja sama dengan peneliti internasional termasuk Jack Rieley, menjadi saksi penting temuan-temuan ini. Lahan seluas sekitar 50.000 hektare itu menjadi satu-satunya laboratorium alam untuk penelitian gambut tropis di Indonesia pada masanya. Di sinilah ditemukan gambut berusia 9.600 tahun dengan ketebalan mencapai 17,3 meter. Temuan ini menegaskan bahwa kubah gambut Sabangau bukan sekadar lahan basah biasa, melainkan arsip iklim dan karbon yang terbentuk selama ribuan tahun.
Suwido Hester Limin (1955–2016) menjadi salah satu motor utama pengembangan laboratorium ini. Lahir di Desa Bawan, ia memahami gambut bukan hanya dari data ilmiah, melainkan dari pengalaman hidup di lingkungan yang sama. Sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya dan tokoh penting di Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP), Suwido memandang kawasan Sabangau sebagai tempat di mana ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal Dayak dapat bertemu dan saling memperkaya. Ia memulai penelitian gambut secara serius sejak 1988, kemudian menjadi penggerak utama kerja sama internasional yang melahirkan KPSFRP dan kemudian CIMTROP. Baginya, angka 9.600 tahun dan ketebalan 17,3 meter bukan sekadar data, melainkan bukti bahwa kerusakan yang terjadi dalam hitungan tahun dapat menghapus warisan alam yang terbentuk selama milenium.
Baca Suwido Hester Limin: Dari Tepian Kahayan, Suwido Belajar Membaca Alam (2)
Vegetasi di atas kubah dalam didominasi spesies yang toleran terhadap kondisi miskin hara dan air asam, seperti ramin (Gonystylus bancanus), berbagai jenis meranti rawa, pandan, dan tumbuhan epifit. Struktur hutan berubah seiring kedalaman gambut: di pinggir sungai lebih tinggi dan beragam, di tengah kubah lebih rendah dan homogen. Keanekaragaman hayati di sini termasuk orangutan, owa, dan berbagai spesies burung yang bergantung pada hutan rawa utuh. Ketika hutan dibuka dan kanal digali, tidak hanya karbon yang hilang, tetapi juga habitat bagi satwa-satwa tersebut.
Proses pembentukan gambut dimulai setelah kondisi genangan permanen tercipta, sering terkait dengan perubahan muka laut pasca-glasial dan perkembangan hardpan pada tanah podsolik di bawahnya. Di beberapa lokasi pedalaman Kalimantan, usia gambut bahkan jauh lebih tua, mencapai puluhan ribu tahun, tetapi di Sabangau angka 9.600 tahun dengan ketebalan 17 meter sudah cukup untuk menempatkannya sebagai salah satu arsip karbon tropis yang paling signifikan.
Bagi Suwido, pemahaman geokimia dan stratifikasi ini menjadi dasar aksi nyata. Ia tidak berhenti pada penelitian. Ia mendirikan Tim Serbu Api untuk memadamkan kebakaran lahan gambut, merancang sekat kanal model “V” untuk menjaga muka air tetap tinggi, dan mengusulkan sistem reboisasi “beli tanaman tumbuh” agar masyarakat lokal ikut terlibat secara ekonomi.
Baca Tiji Tibeh: Ketika Konflik (Lahan) Berakhir Menjadi Api
Suwido menolak pendekatan yang mengandalkan pembuatan kanal baru sebagai solusi kebakaran, karena ia tahu betul bahwa pengeringan adalah akar masalah. Sebagai Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah, ia juga selalu menekankan pentingnya menghormati kearifan lokal dalam pengelolaan gambut.
Dengan demikian, karakteristik geokimia tanah organik, stratifikasi kubah air, dan formasi purba Sabangau bukan hanya kisah ilmiah tentang bagaimana gambut terbentuk dan berfungsi. Ia adalah kisah tentang tanggung jawab generasi kini terhadap warisan ribuan tahun. Suwido Limin menempatkan dirinya di persimpangan antara data ilmiah yang ketat dan kepedulian yang mendalam terhadap tanah kelahirannya.
Melalui LAHG, CIMTROP, dan aksi lapangan yang konsisten hingga akhir hayatnya, ia menunjukkan bahwa memahami gambut berarti melindungi sekaligus menghormati sejarah alam yang tersimpan di dalamnya.
(bersambung)
0 Comments