Murry Mengubah Hambatan Menjadi Peluang dan Badai Dinasti Keluarga Koeswojo | Belajar Plus dari Murry (4)
![]() |
| Murry (kiri pembaca) dan saya in illo tempore di bilangan Mall Summarecon, 2013. |
Masuknya Murry ke dalam dinasti Keluarga Koeswojo membuat keluarga inti sempat retak. Namun, si lelaki perkasa penggebuk drum itu mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Sosok dengan pita suara srak basah berubah menjadi sebentuk pepeling sekaligus gerbang transisi besar yang mengubah titah Koes Bersaudara menjadi Koes Plus.
Sebagaimana kitir sejarah yang telah disuratkan.Di balik taburan melodi yang kelak membuai nusantara, tersimpan sebuah riak batin yang sunyi sekaligus bergolak.
Maka mafhumlah saya, setelah menelisik lembar-lembar petunjuk dan meraba denyut riwayat masa lalu, bahwa restu tidaklah datang dengan semudah membalik telapak tangan.
Masuknya Murry dan riak-riak dinasti keluarga Koeswojo
Masuknya si anak orang, Murry, ke dalam lingkaran sakral dinasti keluarga Koeswojo, seketika menyulut api cemburu dan badai tak kasat mata di dada Nomo Koeswojo. Sang penabuh drum lama itu berang, hatinya ngambek didera kegundahan yang hebat.
Baca Arsitektur Dayak dalam Pose Sampul Kaset Jadul Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (3)
Padahal, sejak awal fajar Koes Bersaudara menyingsing di jagat permusikan, Nomo yang dengan setia mengiringi saudara-saudaranya.
Kala itu ia masih culun. Ia hanyalah seorang pemuda polos yang jemarinya dibesut langsung oleh tangan dingin ayah mereka, sang maestro musik langgam Jawa, Raden Koeswojo. Ayah sang peletak dasar rasa, yang mengajarkan bagaimana menyelami laras batin manusianya, bukan hanya memukul kulit binatang demi bunyi-bunyian belaka.
Namun, takdir rupanya harus membelah jalan. Dengan langkah tegap berbumbu sakit hati yang dipendam, Nomo memilih hengkang dari padepokan saudara kandungnya. Ia pergi membawa jiwanya yang terluka, lalu mendirikan kelompok pemusiknya sendiri yang dinamai No Koes.
Maka riuhlah pasar obrolan orang-orang di kedai maupun di jalanan. Meski secara harfiah kata "No" itu diambil dari namanya sendiri, Nomo, orang-orang awam yang gemar menggunjing justru kerap berbisik sinis: "No itu berarti bukan! Dia bukan lagi bagian dari mereka!" Sebuah sinisme kota yang dingin, yang memotong tali darah demi sebuah label.
Nomo yang didera badai batin itu akhirnya sempat menurunkan senjatanya dari panggung musik yang riuh. Jiwa kelananya berbelok arah menerjang kerasnya dunia niaga. Dari seorang perajin nada, ia menjelma menjadi saudagar, memeras keringat di jalanan berdebu dengan fokus pada urusan jual-beli kereta besi: mobil-mobil bekas.
Di sanalah, di antara deru mesin dan tawar-menawar harga, ia merajut kembali martabatnya yang sempat koyak.
Fajar dingin di singgasana Koeswojo
Sejarah tak pernah ditulis dengan tinta yang selalu manis. Seringkali, ia digurat oleh air mata, keputusasaan, dan benturan ego yang mahadahsyat di antara manusia-manusia yang berjalan di atas bumi. Panggung musik Indonesia pada akhir dekade 1960-an adalah sebuah kawah candradimuka yang bergolak.
Rezim berganti, angin kebebasan budaya mulai berembus dari Barat, membawa piringan hitam The Beatles dan The Bee Gees ke telinga-telinga kawula muda yang haus akan pembaruan. Di tengah pusaran zaman itulah, benteng pertahanan dinasti Koeswojo bergoyang hebat.
Baca Bukan hanya Koes Plus Mania | Belajar Plus dari Murry (2)
Raden Koeswojo, sang ayah yang dihormati, telah menanamkan laras batin yang kukuh dalam dada anak-anaknya. Musik bukanlah semata-mata mata pencaharian; ia adalah persembahan jiwa, sebuah laku prihatin yang dihidupi bersama sejak masa-sama sulit di Tuban. Namun, ketika perut mulai menuntut haknya dan dunia luar menawarkan gemerlap yang tak bertepi, idealisme murni sang kakak tertua, Tonny Koeswojo, mulai berbenturan dengan realisme sang adik, Nomo Koeswojo.
Tonny adalah seorang resi musik yang menginginkan totalitas tanpa batas. Baginya, nada-nada yang keluar dari dawai gitar dan ketukan drum harus lahir dari kejernihan meditasi kreatif yang tak boleh diganggu oleh urusan-urusan duniawi yang picik. Sebaliknya, Nomo melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Nomo adalah seorang petualang, lelaki jalanan yang tahu persis bagaimana rasanya lapar dan bagaimana cara memutarkan selembar uang menjadi segudang rupiah. Ia tidak bisa hanya duduk diam menunggu ilham datang di tengah kemiskinan yang merayap. Ia mulai keluar masuk pasar bawah tanah, berdagang apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari ban bekas hingga menjadi perantara jual-beli mobil tua.
Retakan itu kian hari kian melebar, seperti tanah kering yang merindukan hujan namun justru dihantam panas terik. Tonny melihat ketidakhadiran Nomo di ruang latihan sebagai sebuah pengkhianatan terhadap komitmen suci mereka.
Bagai seorang guru padepokan yang menegakkan hukum besi, Tonny akhirnya menjatuhkan sebuah titah yang tak dapat diganggu gugat: "Pilih musik atau bisnis!"
Nomo, dengan harga diri setinggi langit yang tak sudi diinjak-injak, memilih mengangkat kopornya. Peristiwa ini bukan hanya pergantian personel biasa, melainkan sebuah gempa tektonik yang meruntuhkan nama "Koes Bersaudara" yang telah melegenda.
Datangnya si anak asing dan Badai keluarga Koeswojo
Di tengah kekosongan singgasana penabuh drum, datanglah seorang pemuda asing bernama Kasmuri, yang kelak dikenal jagat raya dengan nama Murry. Ia bukanlah darah daging Koeswojo. Ia tidak memiliki tetesan darah ningrat Jawa yang mengalir di tubuh saudara-saudara itu. Murry adalah anak zaman yang lahir dari kerasnya jalanan Surabaya dan Pekalongan, seorang penggebuk drum dengan pukulan yang bertenaga, mentah, dan penuh dengan energi rock n' roll yang meledak-ledak.
Ketika Tonny membawa Murry masuk ke dalam ruang latihan mereka yang sunyi, suasana seketika berubah. Masuknya orang luar ke dalam lingkaran sakral keluarga adalah sebuah tabu yang tak terbayangkan sebelumnya. Yok Koeswojo, sang adik yang bungsu, meradang melihat abangnya didepak begitu saja dan digantikan oleh seorang asing yang tak dikenal asal-usul batinnya. Bagi Yok, ini adalah urusan kehormatan darah. Solidaritas persaudaraan telah terkoyak oleh pragmatisme bermusik. Dengan hati yang perih dan kemarahan yang membubung, Yok ikut mengangkat kaki, menolak bermain bersama kelompok baru yang dirancang Tonny.
Maka berdirilah Tonny Koeswojo di tengah badai sebatang kara, ditemani oleh Yon Koeswojo yang setia, dan Murry si anak baru yang kebingungan melihat drama keluarga di depannya. Guna melengkapi kekosongan bas yang ditinggalkan Yok, Tonny merekrut Totok Adji Rahman (Totok A.R.). Inilah cikal bakal lahirnya nama baru yang legendaris: Koes Plus. Kata "Plus" di sana adalah sebuah pengakuan jujur sekaligus getir bahwa dinasti keluarga itu telah runtuh dan harus ditambah dengan kekuatan luar agar tetap bisa berdiri tegak di atas panggung dunia.
Namun, kejayaan tidak datang seketika. Album pertama mereka, Dheg Dheg Plas yang dirilis pada tahun 1969, awalnya disambut dengan dingin oleh masyarakat. Pasar merindukan ketukan drum Nomo yang melodius dan keharmonisan vokal Koes Bersaudara yang mendayu-dayu. Piringan hitam mereka menumpuk di gudang-gudang toko musik, tak laku dijual.
Baca Murry yang Membuat Koes Bersaudara menjadi: Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (1)
Murry sempat patah arang dan berniat kembali ke pelukan kampung halamannya, merasa dirinya menjadi pembawa sial bagi band legendaris tersebut. Namun, Tonny dengan keteguhan hati seorang pendekar terus meyakinkan bahwa fajar kemenangan pasti akan menyingsing setelah malam yang paling gelap berlalu. Dan ramalan sang resi itu terbukti; perlahan tapi pasti, lagu "Kelelawar" dan "Manis dan Sayang" mulai merajai udara, membalikkan keadaan menjadi histeria massa yang tak terbendung.
Kereta besi dan dendam yang menjadi nada
Sementara Koes Plus mulai merayap naik menuju puncak popularitas baru, di sudut kota yang berdebu, Nomo Koeswojo sedang merajut takdirnya sendiri. Ia tidak mati kelaparan sebagaimana yang mungkin dikhawatirkan orang banyak. Jiwa saudagarnya justru semakin terasah di bawah tekanan.
Dengan kecerdikan luar biasa dan pergaulan jalanannya yang luas, bisnis jual-beli mobil bekas yang ditekuninya berkembang dengan sangat pesat. Nomo tahu bagaimana cara memoles mobil-mobil tua yang mogok menjadi kereta besi yang tampak gagah dan bernilai tinggi di mata para pesolek kota.
Uang mengalir deras ke kantong Nomo. Ia menjelma menjadi seorang hartawan baru yang disegani di dunia hitam-putih perdagangan Jakarta. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, luka batin akibat didepak dari band keluarga belum sepenuhnya sembuh. Setiap kali mendengar lagu-lagu Koes Plus berkumandang di radio-radio umum, ada sepercik api yang menyala di dadanya. Itu bukan semata-mata hanya sebuah rasa cemburu, melainkan kerinduan eksistensial untuk membuktikan bahwa dirinya belum habis. Bahwa seorang Nomo Koeswojo mampu berdiri di atas kakinya sendiri, bahkan tanpa bayang-bayang kebesaran abangnya, Tonny.
Dengan modal finansial yang melimpah dari hasil perasan keringatnya di dunia niaga mobil, Nomo kembali ke dunia yang membesarkannya. Ia tidak hanya mendirikan sebuah band, tetapi juga membangun infrastruktur bisnis musiknya sendiri dengan mendirikan studio rekaman dan label legendaris PT Yukawi Commercial Enterprises. Pada tahun 1973, lahirlah No Koes, sebuah kelompok musik yang ia rancang sebagai tandingan langsung terhadap hegemoni Koes Plus yang kala itu sedang berada di puncak langit kejayaan.
Nama "No Koes" memicu kontroversi dan pergunjingan hebat di kalangan masyarakat serta media massa saat itu.
Secara administratif dan niaga, nama itu tentu saja merujuk pada nama sang pendiri: Nomo Koeswojo. Namun, di warung-warung kopi, di sudut-sudut gang sempit, dan di halaman-halaman majalah hiburan, publik yang gemar akan drama domestik mulai memplesetkannya dengan nada sinis. "No Koes artinya Bukan Koeswojo!" atau "Anti-Koeswojo!"
Bisik-bisik itu menggelinding bagai bola salju, menciptakan narasi rivalitas yang sengit antara kakak dan adik. Nomo membiarkan desas-desus itu liar berkembang, sebab ia tahu persis dalam dunia industri hiburan, kontroversi adalah bahan bakar terbaik untuk mendongkrak penjualan album.
Sok Tahu dan persaingan di atas altar pasar Musik Nusantara
Kehadiran No Koes di belantika musik Indonesia bukanlah sebuah lelucon. Didukung oleh musisi-musisi andal seperti Usman, Said, Bambang, dan Pompi, Nomo meluncurkan album perdana bertajuk Sok Tahu pada tahun 1973. Lagu-lagu dalam album ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Koes Plus. Jika Koes Plus lebih banyak bermain di ranah pop manis, pop melayu yang syahdu, atau rock yang terstruktur, No Koes hadir dengan lirik-lirik yang lebih lugas, jenaka, nakal, dan terkadang mengandung satire sosial yang tajam, yang langsung menyentuh hati rakyat jelata.
Lagu "Sok Tahu" meledak di pasaran. Liriknya yang berbunyi mengenai orang-orang yang gemar berlagak pintar padahal kosong melompong, sering dianggap oleh pengamat musik zaman itu sebagai sindiran halus nan tajam dari Nomo yang ditujukan langsung kepada kepintaran dan dominasi Tonny Koeswojo. Pasar musik nusantara pun terbelah. Terjadilah sebuah fenomena unik di mana dua kekuatan yang berasal dari satu akar darah yang sama, saling bertarung memperebutkan hati jutaan pendengar di seluruh pelosok negeri.
Meskipun di permukaan terlihat terjadi persaingan yang sengit dan panas, bahkan sempat diperuncing oleh media massa yang mencari keuntungan, pada hakikatnya, ikatan batin darah Koeswojo tidak pernah benar-benar putus. Di luar panggung, di balik tirai studio yang sunyi, mereka tetaplah bersaudara yang saling menghormati. Perseteruan mereka adalah perseteruan kreatif, sebuah dialektika seni yang justru memperkaya khazanah musik Indonesia.
Nomo telah berhasil membuktikan martabatnya sebagai seorang lelaki mandiri yang sukses, baik sebagai saudagar kereta besi maupun sebagai maestro nada.
Pada akhir cerita. Sejarah mencatat bahwa baik Koes Plus maupun No Koes, keduanya adalah pilar-pilar emas yang menyangga atap rumah musik populer Indonesia. Sebuah warisan abadi yang tak akan lekang oleh panasnya zaman dan tak akan luntur oleh guyuran hujan waktu.
Daftar Pustaka
Aisya, Asnida. (2023). "No Koes: Sebuah Kisah Legendaris dalam Industri Musik Indonesia". Jakarta: Hypeabis.
Detikcom. (2014). "Murry, Berjaya Bersama Koes Plus Tanpa Nama 'Koeswoyo'". Jakarta: Detikhot.
Ensiklopedia Wikipedia Bahasa Indonesia. (2023). "Nomo Koeswoyo". id.wikipedia.org.
Ensiklopedia Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). "Murry". id.wikipedia.org.
Suryawan, Iwan. (2023). "Mengenang Nomo Koeswoyo Personil Koes Bersaudara". Jakarta: Kompasiana.
(Bersambung)
Masri Sareb Putra
Tangsel pagi yang indah 02-10 2026.

0 Comments