5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini (3) : Deforestasi di Melawi Saat ini ketika Hutan Primer Ditrbang Habis untuk Sawit
| Deforestasi di Melawi bikin hati hancur menyaksikannya. Hutan yang dijaga dan diwarisi sekian lama, dalam sekejap, gundul oleh alat berat milik hegemoni, Ist. |
Oleh Cornelis dan Masri Sareb Putra
Deforestasi di Kabupaten Melawi kini mencapai titik genting, ketika hutan primer yang telah hidup selama ribuan tahun ditebang habis untuk ekspansi sawit. Padahal, kawasan ini dahulu menjadi habitat penting bagi orangutan, harimau dahan, dan burung enggang yang juga memiliki makna kultural mendalam bagi masyarakat Dayak.
Hutan primer di Melawi dulunya merupakan habitat beragam spesies, termasuk orangutan, harimau dahan, dan burung enggang yang penting bagi masyarakat Dayak.
Kini banyak area tersebut telah berubah menjadi ladang sawit yang seragam.
Hutan primer di Melawi yang dibabat habis
Hutan primer di Melawi dulunya merupakan habitat beragam spesies, termasuk orangutan, harimau dahan, dan burung enggang yang penting bagi masyarakat Dayak. Kini banyak area tersebut telah berubah menjadi ladang sawit yang seragam.
Baca 5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini (2) : Ancaman Deforestasi dan Degradasi Ekosistem
Pohon-pohon raksasa berusia ratusan hingga ribuan tahun ditebang habis di lereng bukit dan pinggir Sungai Kapuas serta Melawi. Raungan mesin berat memecah kesunyian hutan yang dulu hanya diisi nyanyian burung enggang dan gerak gesit harimau dahan di balik tajuk pohon meranti dan ulin.
Data Global Forest Watch mencatat bahwa dari 2001 hingga 2024, Melawi telah kehilangan sekitar 210 ribu hektare tutupan pohon, dengan sebagian besar terjadi di hutan alam primer.
Sekitar 61 persen kehilangan itu didorong oleh aktivitas konversi lahan, terutama untuk perkebunan.
Laporan Auriga Nusantara menunjukkan tren serupa di tingkat provinsi: Kalimantan Barat. Laporan itu mencatat deforestasi hutan alam seluas 39.598 hektare sepanjang 2024, salah satu angka tertinggi di Indonesia.
Di Melawi sendiri, sisa hutan primer yang masih berdiri kini terfragmentasi. Sisa itu kini meninggalkan celah-celah yang cepat diisi barisan sawit monokultur.
Perubahan ini tidak hanya menghilangkan pohon. Habitat orangutan Kalimantan yang bergantung pada kanopi lebat untuk berpindah dan mencari makanan semakin menyempit.
Burung enggang, simbol budaya Dayak yang kerap terbang di antara pohon-pohon tua, kehilangan tempat bersarang. Harimau dahan yang dulu mengintai mangsa di bawah naungan hutan kini terdesak ke pinggiran lahan perkebunan.
Baca 5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini (1) Catatan SOS
Masyarakat Dayak yang selama puluhan tahun mengandalkan rotan, madu hutan, dan hasil rimba. Kini pewaris Borneo itu menghadapi kesulitan mencari penghidupan alternatif di tengah lahan sawit yang mendominasi
Tutupan-tutupan sawit yang seragam, dengan barisan tanaman yang identik, tidak lagi memberi ruang bagi keanekaragaman hayati yang pernah menjadikan Melawi sebagai salah satu benteng terakhir ekosistem Kalimantan Barat.
Warisan hutan primer yang menyusut menjadi tutupan monokultur
Sebelum Indonesia merdeka, hutan primer Melawi berfungsi sebagai penjaga ekosistem Kalimantan Barat. Pohon dipterokarpa, meranti, ulin, dan tengkawang mendominasi kawasan ini, menyimpan biodiversitas tinggi serta menjadi sumber air, obat tradisional, dan tempat hidup masyarakat adat Dayak. Hutan berperan sebagai penyaring air, pengatur iklim, dan penyangga tanah.
Pada 2020, Melawi masih memiliki sekitar 430 ribu hektare hutan alam alami yang mencakup 43 persen dari luas wilayahnya. Namun data menunjukkan penyusutan terus berlangsung.
Secara provinsi, Kalimantan Barat mencatat deforestasi seluas 39.598 hektare sepanjang 2024, salah satu angka tertinggi di Indonesia menurut laporan Auriga Nusantara. Pohon-pohon purba yang ditebang digantikan oleh kebun sawit. Tanah yang semula subur di sekitar Sungai Melawi dan Kapuas kini rentan erosi.
Banjir semakin sering terjadi, dan kesuburan tanah menurun setelah beberapa siklus tanam sawit. Perubahan ini mengubah ekosistem yang kompleks menjadi lahan pertanian intensif yang kurang mendukung keanekaragaman hayati.
Sungai-sungai yang dulu jernih kini keruh oleh lumpur dari lahan terbuka. Banjir bandang yang semakin rutin melanda desa-desa di sekitar Melawi menjadi bukti nyata hilangnya fungsi penyangga hutan primer.
Baca Dayak Menjadi Tuan di Tanah Sendiri
Masyarakat Dayak yang selama puluhan tahun mengandalkan rotan, madu hutan, dan hasil rimba kini menghadapi kesulitan mencari penghidupan alternatif di tengah lahan sawit yang mendominasi. Apa yang dulunya istana hijau kini hanya menyisakan tunggul-tunggul pohon dan barisan sawit yang monoton, mengubah warisan ribuan tahun menjadi komoditas semata.
Moratorium Sawit dan celah di lapangan
Moratorium izin baru perkebunan sawit melalui Inpres 8/2018 dan perpanjangannya seharusnya membatasi pembukaan hutan primer. Namun di Melawi, aktivitas penebangan dan penanaman sawit terus berlangsung di lahan-lahan eksisting maupun area abu-abu.
Pada Februari 2026, Pemkab Melawi menyoroti operasional empat perusahaan sawit dan satu pabrik yang berjalan tanpa Hak Guna Usaha (HGU) yang sinkron dengan Izin Usaha Perkebunan (IUP). Total luasan mencapai 23.338 hektare. Wakil Bupati Malin menyatakan praktik ini melanggar ketentuan dan mengancam pencabutan IUP jika perusahaan tidak segera menata ulang legalitas lahan.
Kasus ini mencerminkan celah antara kebijakan nasional dengan pelaksanaan di daerah. Sementara moratorium bertujuan melindungi hutan primer, konsesi lama dan ketidaksinkronan perizinan masih menjadi pendorong deforestasi.
Di sisi lain, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyegel lahan sawit mandiri masyarakat seluas sekitar 634 hektare karena dianggap masuk kawasan hutan. Penyegelan ini memicu protes ratusan petani pada Agustus 2025. Mereka menyatakan lahan tersebut telah digarap puluhan tahun dan menjadi sumber penghidupan utama. Ironisnya, sementara petani kecil menghadapi penyegelan, beberapa perusahaan besar tetap beroperasi di lahan bermasalah tanpa HGU lengkap.
Data Global Forest Watch dan Auriga Nusantara menegaskan bahwa deforestasi di Melawi sebagian besar masih didorong oleh ekspansi perkebunan, meski ada upaya penertiban. Pola “langgar dulu, urus izin kemudian” masih terlihat di lapangan, membuat moratorium terasa rapuh di tengah tekanan ekonomi sawit yang terus berlanjut.
Dampak ekologis-sosial dan situasi terkini
Deforestasi di Melawi membawa dampak langsung yang terasa di lapangan. Hutan yang hilang menyebabkan banjir lebih sering karena berkurangnya kemampuan tanah menahan air.
Sungai Kapuas dan anak sungainya keruh oleh lumpur, mengganggu sumber air bersih dan ikan bagi masyarakat. Emisi karbon dari kehilangan hutan alam turut memperburuk krisis iklim, dengan data GFW mencatat kontribusi signifikan dari tree cover loss di Melawi.
Masalah dari Satgas PKH
Masyarakat adat Dayak yang bergantung pada hutan untuk rotan, madu, dan hasil rimba lainnya kini menghadapi tekanan. Konflik lahan meningkat antara petani sawit mandiri dengan perusahaan besar, serta antara ulayat adat dengan konsesi perkebunan.
Protes petani menunjukkan keresahan atas penyegelan lahan yang telah lama digarap. Biodiversitas terancam: habitat orangutan dan spesies langka semakin menyusut, sementara anak-anak di desa-desa bermain di antara tunggul pohon mati.
Pada awal 2026, Pemkab Melawi mengambil langkah dengan menyoroti perusahaan sawit tanpa HGU lengkap dan mengancam evaluasi hingga pencabutan izin. Upaya ini bertujuan menertibkan administrasi perkebunan sekaligus mencegah konflik sosial lebih lanjut.
Di sisi lain, penyegelan lahan petani mandiri oleh Satgas PKH masih menjadi sumber ketegangan.
Laporan dari Global Forest Watch dan Auriga Nusantara menegaskan bahwa deforestasi di Kalimantan Barat, termasuk Melawi, masih signifikan meski ada kebijakan nasional. Tantangan utama adalah penegakan aturan di konsesi lama, sinkronisasi IUP-HGU, serta keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan perlindungan hutan primer yang tersisa.
Daftar Pustaka
- Global Forest Watch. (2025). "Melawi, Indonesia, Kalimantan Barat Deforestation Rates & Statistics". https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/12/8/
- Global Forest Watch. (2025). "Kalimantan Barat, Indonesia Deforestation Rates & Statistics". https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/12/
- Auriga Nusantara. (2025). "Status Deforestasi Indonesia 2024". Data deforestasi Kalimantan Barat 39.598 hektare.
- Melawinews.com. (6 Februari 2026). "Empat Perusahaan Sawit dan Satu Pabrik di Melawi Beroperasi Tanpa HGU, Pemda Cabut IUP."
- Faktakalbar.id. (10 Februari 2026). Kelola 23 Ribu Hektare Lahan, Pemkab Melawi Soroti Perusahaan Sawit yang Belum Punya HGU".
- Semutapi.id. (10 Oktober 2025). "Petani Sawit Melawi Menolak Tunduk di Bawah Kebijakan Negara: Satgas PKH dan Wajah Baru Perampasan Lahan".
- Ruai.tv. (27 Agustus 2025). "Petani Melawi Desak Lahan Sawit Mandiri yang Disegel Satgas PKH Dikembalikan ke Masyarakat".
0 Comments