Bappenas Susun Policy Note Hilirisasi Palma Tropika Berkeadilan
Prof. Dr Ir. Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas menerima Ir. Petrus Gunarso, Ph.D. periset, penulis, sekaligus penerbit serial buku "Palma Tropika Indonesia untuk Dunia". Kedua tokoh intens berdiskusi bahu-membahu dan sepakat menjadikan palma sebagai solusi bagi ekonomi kerakyatan dan pangan. Ist. |
Jakarta, 8 April 2026 Dayaktoday:
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr Ir. Rachmat Pambudy merampungkan Policy Note bertajuk “Hilirisasi Palma Tropika Indonesia: Dari Nusantara untuk Dunia yang Berkeadilan sebagai Instrumen Perencanaan Nasional Inklusif”.
Dokumen tersebut disusun sesuai arahan telepon yang disampaikan pada 1 April 2026 dan kini diarahkan menjadi acuan resmi perencanaan pembangunan nasional untuk komoditas palma.
Baca Teknologi & Industri Bappenas Dorong Hilirisasi Aren, Belajar dari Sawit dan Sagu
Paling tidak fokus pada lima jenis palma yang siap melakukan hilirisasi yang lebih inklusif yaitu sawit, kelapa, sagu, pinang, dan aren.
Paradoks SDA dan Ketimpangan di Wilayah Penghasil
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam palma tropika yang melimpah. Namun, kemiskinan struktural dan ketimpangan ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah penghasil komoditas, terutama di desa hutan, perkebunan, tanaman pangan, serta pesisir dan pantai yang banyak berada di daerah 3-T.
Ekspor bahan mentah terus berlangsung tanpa pengolahan memadai di tingkat lokal, sehingga nilai tambah ekonomi tidak dinikmati masyarakat setempat. Perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya menghadapi keterbatasan akses terhadap teknologi, pembiayaan, serta pasar.
Tiga Pilar Hilirisasi Berkeadilan yang Direkomendasikan
Policy Note ini menempatkan hilirisasi sebagai instrumen utama perencanaan nasional yang inklusif. Tiga pilar utama menjadi inti rekomendasi.
- Pertama, hilirisasi lokal berbasis wilayah melalui pengembangan unit pengolahan skala kecil di desa penghasil lewat UMKM, koperasi, dan BUMDes, dengan prioritas wilayah 3T serta penguatan rantai desa-kota.
- Kedua, keadilan teknologi dan inklusi sosial dengan desain teknologi murah serta adaptif, integrasi kesetaraan gender, dan pendampingan bagi perempuan serta penyandang disabilitas agar menjadi pelaku usaha.
- Ketiga, rantai pasok pro-rakyat melalui penataan tata niaga yang menjamin harga layak, kepastian pasar, dan posisi tawar produsen kecil, serta sinergi pembiayaan dan pengadaan domestik.
Implikasi bagi RPJMN, RPJPN, dan Koordinasi Lintas Sektor
Bagi Bappenas, Policy Note ini membawa implikasi strategis. Hilirisasi berkeadilan akan menjadi strategi lintas sektor dalam RPJMN dan RPJPN 2025-2045.
Baca Apai Janggut Pilih Aren bukan Sawit
Penganggaran difokuskan secara afirmatif pada wilayah penghasil dan kelompok rentan. Indikator kinerja tidak lagi hanya mengukur produksi serta ekspor, melainkan distribusi manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja inklusif, dan penurunan kemiskinan lokal. Bappenas akan berperan sebagai orkestrator koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Untuk itu, telah dimulai dengan koordinasi dengan Satgas Aren yang diketuai oleh Dr. Willie Smiths dari Kementerian Kehutanan; Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, untuk Satgas Kelapa dari Bappenas; Prof. Budi Mulyanto untuk Pinang, sedangkan untuk Sawit dan Sagu akan dimulai dengan pemetaan sumberdaya lahan berpenutupan sawit dan sagu secara komprehensif.
Menuju Transformasi Ekonomi yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai penegasan, Policy Note ini menempatkan transformasi ekonomi nasional pada rel yang benar: inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan prasyarat, namun tidak memadai apabila tidak disertai pemerataan manfaat pembangunan. Kekayaan palma tropika Nusantara harus menjadi sumber kesejahteraan bersama, terutama bagi masyarakat di wilayah 3-T serta kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
Dengan landasan kebijakan yang kini semakin kuat, komoditas palma tropika diharapkan menjadi model hilirisasi berkeadilan yang memberdayakan masyarakat kecil di tingkat desa dan memperkuat ekonomi wilayah penghasil.
Baca Pencabutan Plang Satgas PKH di Landak, Warga dan Adat Bertindak
Selanjutnya, Bappenas menginstruksikan agar komoditas strategis lainnya menyusun roadmap hilirisasi yang terintegrasi, terukur, dan berpihak pada rakyat, sejalan dengan arah pembangunan nasional.
Pengendalian, koordinasi, dan evalusasi lintas sektor
Bappenas akan secara konsisten melakukan pengendalian dan koordinasi lintas sektor.
Di samping itu, Bappenas akan melaksanakan evaluasi berkala secara ketat dan sistematis terhadap seluruh kebijakan hilirisasi. Evaluasi ini bertujuan memastikan bahwa setiap program berjalan efektif, tepat sasaran, serta selaras dengan arah pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Melalui mekanisme tersebut, diharapkan kebijakan hilirisasi tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar menghasilkan dampak nyata.
Dampak itu mencakup penurunan angka kemiskinan, pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi, serta penguatan struktur ekonomi nasional yang lebih mandiri dan berdaya saing.
0 Comments