Apai Janggut Pilih Aren bukan Sawit

Aren dan protes diam-diam pada sesuatu.
Apai Janggut  pilih aren bukan sawit. Dok. penulis.

🌍 DAYAK TODAY  |  SINTANG: Apai Janggut menanam aren, bukan sawit. 

Sawit atau aren, bukan sekadar pilihan. Itu adalah protes diam-diam menandai perlawanan Apai Janggut terhadap kekuatan yang lebih besar. Sesuatu yang lebih luas daripada sekadar keuntungan ekonomi atau gagasan kemajuan yang didorong oleh hasrat tak terpuaskan.

Pendekar lingkungan hidup

Banyak orang berhenti di kulit. Di gelar. Di plakat. Di foto penyerahan penghargaan. Kalpataru. Equator Prize. Seolah perjuangan selesai di sana. Seolah sejarah cukup ditutup dengan bingkai dan piagam.

Padahal yang mengukir nama Apai Janggut bukan sekadar penghargaan. Bukan pula label “pendekar lingkungan” yang enak diucapkan. Yang membuat namanya hidup adalah ketekunan panjang. Bertahun-tahun. Berpuluh musim tanam. Saat hutan ditekan. Sungai dikeruhkan. Tanah diukur bukan dengan kearifan. Melainkan dengan peta dan izin.

Apai Janggut memilih tinggal. Bukan pergi. Memilih bertahan. Bukan menjual. Ia berdiri di antara hutan dan manusia. Menjadi penyangga. Menjadi penafsir. Menjadi suara yang pelan tapi terus mengalir. Seperti Sungai Kapuas. Tidak ribut. Tidak melonjak. Namun tak pernah berhenti.

Ia bicara tentang hutan bukan sebagai romantika. Melainkan sebagai dapur. Sebagai sekolah. Sebagai kitab kehidupan. Ia bicara tentang tanah bukan sebagai komoditas. Melainkan sebagai ibu. Yang memberi. Dan harus dijaga.

Di situlah sesungguhnya nama Apai Janggut diukir. Bukan di trofi. Bukan di podium. Melainkan di kesadaran kolektif orang Dayak. Bahwa hidup yang beradab adalah hidup yang tahu batas. Tahu terima kasih. Tahu pulang.

Di dunia yang semakin bising oleh angka. Target. Dan proyek. Apai Janggut memilih menjadi sunyi yang bermakna. Sunyi yang bekerja. Sunyi yang menanam. Sunyi yang menjaga. Hingga suatu hari. Kita sadar. Tanpa orang-orang seperti dia. Hutan hanya tinggal cerita. Sungai tinggal nama. Dan kita kehilangan arah pulang.

Bandi anak Ragae, yang lebih dikenal dengan nama Apai Janggut, bukan sekadar berbicara tentang perlawanan terhadap kerusakan alam. 

Pewaris janggut yang dalam relasi spiritualnya dengan Kumang disuruh dipiara itu memilih untuk berdiri teguh di tengah arus perubahan, ketika dunia di luar sana terus berlarian mengikuti irama yang terhanyut dalam keserakahan dan tamak.

Dengan kebijaksanaan yang terlihat dalam setiap helai rambutnya yang memutih, dengan keberanian yang tumbuh dari keteguhan hati, Apai Janggut memilih untuk menentang. 

Di Sungai Utik, di rumah panjang yang mengingatkan kita pada cara hidup yang mungkin sudah dilupakan oleh banyak orang, ia menolak tawaran perusahaan sawit, meski dengan uang yang cukup untuk membeli seluruh dunia.

Uang itu, baginya, tak lebih dari ilusi yang melintas dengan cepat. Seperti angin yang berhembus di hutan, uang datang dan pergi—sementara yang tetap adalah tanah yang kita pelihara atau kita hancurkan.

Baca Duri Cinta Kebun Sawit (29) | Ujian di Tempat Kerja

"Berapa pun yang mereka tawarkan," kata Apai Janggut pada suatu malam, tatapannya jauh ke depan, "saya tidak akan menjual hutan ini. Ini bukan milik saya. Ini milik anak cucu kita." 

Kata-kata yang sederhana, namun begitu dalam, mengandung beban yang tak bisa dihitung dengan angka-angka yang dipertaruhkan.

Memberi teladan sekaligus mengingatkan

Apai Janggut mengingatkan kita akan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tanah atau pohon; sesuatu yang lebih penting dari keinginan sesaat. Ia berbicara tentang warisan.

Namun, siapa yang bisa mengerti makna warisan jika hanya terpaku pada apa yang bisa kita ambil hari ini? Apai Janggut tak hanya menanam aren, atau enau, seperti petani yang memilih tanaman yang baik untuk ladangnya. Tidak.

Enau dan protes diam-diam itu adalah simbol. Tanaman yang tumbuh pelan, yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang, namun memberikan banyak dengan cara yang lebih bijaksana. 

Di dunia yang selalu mencari yang lebih cepat, lebih instan, lebih banyak, Apai Janggut menanam enau sebagai tanda bahwa ada jalan lain: jalan yang lebih tenang, lebih sabar, lebih bijaksana. 

Aren memberi, namun tidak dengan cara menghisap habis bumi. Ia memberi lebih dari yang kita sadari, dengan proses yang mengajarkan kita tentang ketekunan dan kesabaran.

Kehidupan Apai Janggut adalah hidup yang sederhana, namun penuh makna. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa gejolak, namun ia memancarkan keteguhan yang lebih tajam dari sekadar retorika penyelamatan alam. 

Apai Janggut adalah contoh hidup bahwa dalam dunia yang penuh dengan perburuan kemajuan ini, kita bisa memilih untuk tidak berlari kencang. 

Kita bisa memilih untuk berjalan perlahan, menghargai setiap langkah, dan lebih dari itu, menghargai apa yang telah ada jauh sebelum kita.

Saya ingat malam itu di Sungai Utik.

Di bawah pohon enau yang tua, di tengah keheningan hutan, Apai Janggut berkata, "Jika kita merusak hutan ini, kita tidak hanya merusak alam, tetapi juga merusak diri kita sendiri."

Baca Peta Kolonial dan Peta Kapitalisme di Borneo

Tidak ada kata-kata indah yang lebih dalam dari itu. Keberanian Apai Janggut bukanlah keberanian yang berteriak-teriak, bukan yang menuntut pengakuan, bukan yang mencari sorotan kamera. Keberaniannya adalah keberanian yang tersembunyi dalam tindakan sederhana—menjaga tanah, menanam pohon, dan tetap setia pada yang benar meskipun seluruh dunia mengelilinginya dengan janji-janji yang menggoda.

Apai Janggut tak hanya menyelamatkan alam. Ia menyelamatkan cara hidup kita yang mulai terkikis oleh arus globalisasi yang serba cepat dan instan. 

Dengan menanam enau, ia mengajarkan kita untuk tidak hanya menjadi pengejar keuntungan, tetapi menjadi penjaga yang bijaksana—penjaga warisan yang lebih berharga daripada uang, lebih berharga dari emas.

Protes diam

Di dunia yang sering memilih jalan pintas, Apai Janggut mengingatkan kita bahwa tak ada kemajuan sejati tanpa pengorbanan. Tak ada kemajuan yang berarti tanpa pilihan untuk menjaga. 

Dalam diam, ia mengajarkan kita untuk tidak hanya mencintai alam, tetapi untuk memahami bahwa kita dan alam adalah satu. Ketika kita merusak alam, kita merusak diri kita sendiri. Dan ketika kita menjaga alam, kita menjaga kehidupan itu sendiri.

Itulah Apai Janggut. 

Seorang lelaki Iban yang memilih menanam enau di tengah dunia yang terus berlari ke arah yang salah, seorang pria yang memilih untuk hidup dengan alam, bukan melawannya.

Dan dalam diam, tanpa kata-kata berlebihan, Apai mengajarkan kita tentang keberanian yang sesungguhnya. Keberanian untuk tetap setia pada yang benar, meskipun dunia lain terperangkap dalam keserakahan tanpa ujung.

Penulis: Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.