Lambut, profesor Dayak Pertama nan Lemah Lembut
| Prof. Lambut. Dokpri. |
Lambut, profesor Dayak generasi awal yang membuktikan pendidikan mampu mengangkat martabat, membentuk identitas, dan penguatan kebudayaan Dayak di Borneo.
Orang Dayak pada ketika itu masih sering dipandang sebelah mata, terutama dalam dunia onderwijs, dunia pendidikan, muncullah seorang lelaki tinggi, tenang, dan teduh wajahnya. Namanya sederhana: Lambut. Dan seperti namanya, ia hadir dengan hati yang lembut, pikiran yang dalam, serta kecintaan yang nyaris tanpa batas pada ilmu dan kebudayaan Dayak.
Profesor Dayak awal mula
Ia bukan sekadar profesor. Ia adalah jejak sejarah. Salah satu angkatan pertama profesor Dayak yang tercatat dalam perjalanan intelektual orang Dayak di Borneo.
Baca Prof. Usop | Ensiklopedia Profesor Dayak
Posturnya menjulang untuk ukuran orang timur. Namun yang paling menonjol bukan tubuhnya, melainkan caranya memandang orang lain: teduh, mendengar, dan tidak tergesa menghakimi. Ia fasih berbicara dalam berbagai bahasa, termasuk Holland spreken, tetapi bahasa yang paling ia kuasai sesungguhnya adalah bahasa kemanusiaan.
Saya pernah duduk semeja dengannya dalam sebuah seminar ilmiah Dies Natalis Universitas Palangka Raya tahun 2018. Ia berbicara tentang sejarah Dayak. Saya membahas sastra dan komodifikasi budaya Dayak. Di forum itu terasa benar: Lambut bukan akademisi yang hanya hidup dalam buku, melainkan seorang intelektual yang menghidupi denyut kebudayaannya sendiri.
Sebagai Guru Besar Emeritus Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Lambut dikenal luas sebagai akademisi sastra. Bidang kepakarannya adalah literature. Namun sastra baginya bukan sekadar teori. Sastra adalah cara memahami manusia.
Membaca Dunia, Merawat Manusia
Pada masa kuliahnya dahulu, dosen mewajibkan mahasiswa membaca sepuluh novel standar bahasa Inggris. Lambut tidak berhenti pada kewajiban. Ia melampauinya. Ia membaca empat puluh novel. Baginya, membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan cara memperluas batin.
Baca Maidiantinus Tanyid Dikukuhkan sebagai Guru Besar melalui Sidang Senat Terbuka IAKN Palangka Raya
Karena itu ia sering prihatin melihat generasi muda yang makin jauh dari budaya membaca. Menurutnya, membaca membuat seseorang tidak dangkal. Membaca melatih manusia memahami dunia secara lebih utuh, lebih jernih, dan lebih manusiawi.
Lebih dari tiga puluh tahun menjadi dosen, Lambut tidak pernah memandang mahasiswa sebagai “tabung kosong” yang harus diisi. Ia percaya setiap manusia sudah membawa potensi di dalam dirinya. Tugas dosen hanyalah menemani, menuntun, dan membantu potensi itu menemukan jalannya sendiri.
Kepada mahasiswanya ia selalu berkata: jika mengalami kesulitan belajar, datanglah bertanya. Jangan malu. Dan satu hal yang membuat banyak mahasiswa mengenangnya dengan haru: “Jangan bayar saya satu sen pun. Saya bahagia kalau kamu berhasil.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi di zaman ketika pendidikan sering berubah menjadi transaksi, ucapan seperti itu terasa nyaris langka.
Dayak, Identitas, dan Jejak Sejarah Borneo
Di luar dunia sastra, Lambut juga dikenal sebagai pengkaji manusia dan budaya Dayak. Ia aktif dalam berbagai forum internasional, termasuk UNESCO. Ia hafal subsuku-subsuku Dayak bukan sekadar di atas kertas, tetapi di dalam kepalanya: nama, persebaran, jumlah, hingga jejak sejarahnya.
Salah satu pandangannya yang paling banyak dikutip ialah bahwa Dayak bukan berasal dari satu suku tunggal. Dayak adalah sebutan kolektif bagi penduduk asli Borneo yang memiliki beragam kesamaan budaya, sejarah, dan cara hidup.
Pandangan itu bukan sekadar pendapat antropologis. Itu adalah peneguhan identitas.
Baca Muner Daliman, Profesor Dayak ke-38
Lambut mengingatkan bahwa orang Dayak bukan “pendatang” di tanahnya sendiri. Dalam arsip kolonial tahun 1757, kontrolur Banjarmasin bernama Hogendorph menyebut penduduk asli Borneo sebagai binnenlander: orang dari sini, dari tempat ini sendiri. Dari Borneo.
Karena itu perjuangan Lambut bukan hanya perjuangan akademik. Ia berjuang merawat martabat. Ia membuktikan bahwa Dayak mampu berdiri sejajar dalam dunia ilmu pengetahuan.
Lambut: Pendidikan sebagai Jalan Martabat
Pada masanya, ketika akses pendidikan masih sangat terbatas bagi orang Dayak, menjadi profesor adalah sesuatu yang nyaris mustahil dibayangkan. Namun Lambut memecahkan tembok itu. Ia membuktikan bahwa keterbelakangan bukan takdir.
Ia berjalan melalui jalur onderwijs, melalui pendidikan. Dan dari sana ia membuka jalan bagi banyak generasi sesudahnya.
Keberhasilan Lambut tidak berhenti pada gelar guru besar. Yang lebih penting: ia memberi harapan. Ia menjadi tanda bahwa anak-anak Dayak dapat bermimpi setinggi apa pun tanpa kehilangan akar budayanya.
Baca Prof. Telhalia Dikukuhkan sebagai Guru Besar Teologi Perjanjian Baru
Di puncak karier akademiknya, Lambut tetap seorang manusia yang bersahaja. Ia tidak meninggalkan Dayak ketika berhasil mencapai puncak. Justru dari puncak itu ia memandang kembali kampung halamannya, sejarahnya, manusianya, dan kebudayaannya dengan cinta yang semakin besar.
Maka Lambut bukan hanya profesor Dayak. Ia adalah ingatan tentang kelembutan ilmu. Tentang kecerdasan yang tidak pongah. Tentang pendidikan yang memanusiakan.
Dan di tengah dunia yang makin gaduh oleh ambisi. Sosok seperti Lambut mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, pada akhirnya, harus membuat manusia menjadi lebih rendah hati. Dan lemah lembut.
Prof. Lambut mencontohkan dengan hidup ilmu padi. Makin berisi, kian merunduk.
0 Comments