Langkau Arau: Menemukan Borneo dalam Kuliver di Kota Kuching

Langkau Arau: Menemukan Borneo dalam Kuliver di Kota Kuching
Penulis di Langkau Arau Rumah Asap Dayak Stutong, Kota Kuching. Ist.

Kuching selalu mengajarkan bahwa sebuah kota tidak pernah selesai dibaca dari bangunan-bangunannya. Sebuah kota justru membuka dirinya melalui meja makan.

Siang itu matahari Sarawak belum benar-benar condong. Jalan-jalan di Kota Kuching masih sibuk oleh kendaraan yang datang dan pergi. Saya dijemput oleh "seduai laki bini, demikian orang Dayak menyebut pasangan suami istri, Patricia Ganing dan Joy Clemens.

Baca REBONT (Rebung Bonti) : Inovasi Olahan Rebung Bernilai Ekonomi

"Hari ini kita makan di Langkau Arau," kata mereka singkat.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun saya segera memahami bahwa di Pulau Borneo, undangan makan hampir selalu berarti undangan memasuki dunia seseorang.

Langkau Arau Rumah Asap Dayak Stutong

Rumah makan yang kami tuju bernama Langkau Arau Rumah Asap Dayak Stutong.

Namanya panjang. Namun justru di situlah identitasnya. Kata "langkau", dalam sejumlah bahasa Iban, merujuk pada pondok. Sedangkan "arau" menghadirkan nuansa lokal yyang dapat diatikan sebagai "sementara" "Rumah Asap" segera mengingatkan kita pada teknik mengasap makanan yang telah dipraktikkan masyarakat Dayak jauh sebelum lemari pendingin ditemukan.

Baca Hewan Jantan Lebih Rupawan daripada Betina: Belajar dari Sepasang Ayam Kampung

Begitu memasuki ruangan, perhatian saya langsung tertuju pada papan besar bertuliskan LANGKAU ARAU RUMAH ASAP DAYAK STUTONG. Di bawahnya berjajar daftar makanan dan minuman dengan beragam nama yang sebagian terdengar asing bagi telinga orang luar. Akan tetapi, justru di situlah letak pesonanya. Setiap kebudayaan memperkenalkan dirinya melalui kosakata. Dan kosakata yang paling jujur sering lahir dari dapur.

Interior rumah makan ini jauh dari kesan mewah. Dinding bata dibiarkan terbuka tanpa banyak polesan. Lemari pendingin berdiri di sudut ruangan. Seorang pelayan sibuk menyiapkan pesanan. Tidak ada dekorasi yang berlebihan. Kesederhanaan justru menciptakan suasana hangat, seolah setiap tamu sedang berkunjung ke rumah seorang kerabat.

Rumah makan yang menandai Borneo

Patricia dan Joy tampak mengenal hampir semua orang di sana. Mereka berbincang dalam bahasa Iban, sesekali beralih ke bahasa Melayu Sarawak, lalu menggunakan bahasa Inggris ketika mengajak saya ikut dalam percakapan. Saya kembali diingatkan bahwa di Pulau Borneo, pergantian bahasa berlangsung secepat pergantian menu di atas meja. Kemampuan berbahasa bukanlah kebanggaan akademik, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Percakapan kami mengalir ke banyak arah. Kami berbicara tentang Dayak di Kalimantan Barat, Dayak di Sarawak, serta sejarah panjang yang menghubungkan keduanya. Garis batas negara memang membelah peta. Namun batas itu tidak pernah benar-benar memisahkan ingatan kolektif masyarakatnya. Hutan yang sama pernah menjadi halaman rumah mereka. Sungai yang sama pernah menjadi jalan kehidupan nenek moyang mereka. Batas politik hadir jauh belakangan dibandingkan sejarah manusia yang telah lebih dahulu menapakkan kaki di tanah Borneo.

Baca Monumen Rebung di Bonti: Antara Citra dan Promosi Kuliner

Saya selalu percaya, bila ingin memahami suatu masyarakat, janganlah memulai dari gedung-gedung pemerintahannya. Mulailah dari dapurnya.

Di dapur, orang menyimpan ingatan.

Di dapur, resep diwariskan bukan melalui buku, melainkan melalui tangan yang bekerja dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di dapur pula, sejarah sering bertahan lebih lama daripada pidato-pidato politik.

Hidangan yang kami nikmati siang itu mungkin akan habis dalam hitungan menit. Akan tetapi, pengetahuan yang terkandung di dalamnya telah bertahan selama ratusan tahun. Cara mengasap daging, memilih rempah, memanfaatkan hasil hutan, hingga menentukan waktu terbaik untuk mengolah makanan, semuanya merupakan bentuk pengetahuan ekologis masyarakat Dayak. Apa yang kini dikenal para ilmuwan sebagai *indigenous knowledge*, sesungguhnya telah dipraktikkan masyarakat Dayak jauh sebelum istilah itu diperkenalkan di ruang-ruang akademik.

Saya memperhatikan para pengunjung yang datang silih berganti. Ada keluarga muda, pekerja kantoran, wisatawan, hingga mereka yang sengaja datang dari luar kota hanya untuk menikmati hidangan yang mengingatkan pada kampung halaman. Rumah makan ini bukan sekadar tempat makan. Ia telah menjadi ruang perjumpaan sekaligus ruang nostalgia.

Di sinilah saya memahami sesuatu.

Budaya ternyata tidak selalu bertahan melalui museum.

Ia bertahan melalui dapur.

Ia hidup melalui resep yang terus dimasak.

Ia diwariskan melalui percakapan yang berlangsung sambil menunggu makanan tersaji.

Pelajaran tentang Borneo

Undangan Patricia Ganing dan Joy Clemens siang itu akhirnya menjadi lebih dari sebatas jamuan makan. Ia berubah menjadi pelajaran tentang Borneo yang sesungguhnya. Borneo yang tidak sibuk mempertentangkan identitas, melainkan merayakannya melalui keramahan. Borneo yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling mengenal, bukan untuk saling menjauh.

Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial

Ketika kami berpamitan meninggalkan Langkau Arau Rumah Asap Dayak Stutong, saya kembali menoleh ke papan nama yang tergantung di bagian depan rumah makan. Saya tersenyum sendiri.

Mungkin benar, sebuah perjalanan tidak pernah dikenang karena berapa kilometer yang ditempuh. Perjalanan dikenang karena siapa yang mengajak kita duduk semeja.

Di Kota Kuching, pada siang yang hangat itu, saya kembali menemukan jiwa Pulau Borneo. Bukan hanya melalui cita rasa makanannya, melainkan melalui ketulusan persahabatan yang diberikan oleh "seduai laki bini" Patricia Ganing dan Joy Clemens.

Saya pulang membawa lebih dari sekadar kenangan kuliner. Saya membawa keyakinan. Bahwa selama masyarakat Dayak masih menjaga tradisi menerima tamu, berbagi makanan, dan memelihara persaudaraan, selama itu pula denyut kebudayaan Borneo akan terus hidup. Bukan hanya di rumah panjang atau dalam upacara adat, melainkan juga di sebuah rumah makan sederhana bernama Langkau Arau Rumah Asap Dayak Stutong, di Kota Kuching, Sarawak.

Penulis: Masri Sareb Putra


0 Comments

Type above and press Enter to search.