Ribuan Mahasiswa Kepung Jakarta, Demo 11–13 Juni 2026 Tuntut Evaluasi APBN hingga Tolak Militerisme Sipil
Demo mahaiswa sebagai ujud tuntutan hati nurani rakyat. Ist.
Ribuan mahasiswa menggelar demonstrasi di Jakarta sejak Kamis (11–13 Juni 2026), menuntut evaluasi APBN, penurunan harga kebutuhan pokok, penolakan program pemerintah, serta kritik terhadap militerisme di ruang sipil.
Ribuan Mahasiswa Kepung Jakarta, Demo 11–13 Juni 2026 Tuntut Evaluasi APBN hingga Tolak Militerisme Sipil.
Jakarta kembali menjadi pusat gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung sejak Kamis (11–13 Juni 2026), ketika ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Jabodetabek turun ke jalan dan memusatkan aksi di kawasan pusat ibu kota.
Aksi mahasiswa
Aksi yang berlangsung selama tiga hari ini terfokus di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), dengan massa yang terus berdatangan dari berbagai arah sambil membawa spanduk besar bertuliskan “Selamatkan Indonesia!” serta poster-poster bernada kritik terhadap pemerintah.
Baca Warga Dayak Banying Kompak Tolak Rencana Pemasangan Plang Satgas PKH
Sejak hari pertama aksi, mahasiswa mulai berkumpul sejak pagi hari sebelum bergerak menuju titik konsentrasi utama di pusat Jakarta. Mereka mengenakan jaket almamater berwarna kuning, biru, dan hijau yang mendominasi kerumunan, mencerminkan keterlibatan berbagai kampus dalam konsolidasi gerakan ini. Sepanjang aksi, massa melakukan long march, orasi bergantian, serta menyanyikan lagu-lagu perjuangan sambil mengibarkan spanduk dan poster tuntutan.
MBG oh... MBG!
Dalam demonstrasi ini, mahasiswa mengajukan “5 Pokok Tuntutan Mahasiswa” yang menjadi inti gerakan.
Tuntutan tersebut mencakup desakan penghentian dugaan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tuntutan juga untuk penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Di samping tuntutan menolak program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan proyek Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai belum efektif.
Baca Pencabutan Plang Satgas PKH di Landak, Warga dan Adat Bertindak
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti isu militerisme di ranah sipil yang dianggap berpotensi mengganggu prinsip demokrasi, serta mendesak pemerintah untuk lebih terbuka dan tidak menghindari tanggung jawab atas kebijakan yang diambil.
Aksi ini disebut sebagai hasil konsolidasi berbagai organisasi kemahasiswaan lintas kampus di Jabodetabek, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di sejumlah universitas. Selama tiga hari pelaksanaan aksi, arus massa terus bergerak menuju pusat kota, menyebabkan kepadatan di beberapa ruas jalan utama Jakarta. Bundaran HI menjadi titik utama konsentrasi massa, di mana orasi-orasi politik disampaikan secara bergantian dari mobil komando.
Pengamanan ketat
Di lapangan, aparat kepolisian melakukan pengamanan ketat dan pengaturan lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan massa.
Meski terjadi kepadatan dan perlambatan arus kendaraan, aksi berlangsung relatif tertib dengan koordinasi lapangan yang terstruktur. Mahasiswa tetap bertahan di lokasi hingga sore hari selama tiga hari berturut-turut. Hal yang menandai konsistensi tekanan politik yang mereka bangun di ruang publik.
Baca Warga Desa Rabak Tolak Pemasangan Plang PKH, Cermin Konflik Agraria di Masyarakat dan Tanah Dayak
Gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak 11 hingga 13 Juni 2026 ini menjadi salah satu aksi mahasiswa terbesar di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Sekaligus memperlihatkan meningkatnya kembali ekspresi kritik publik terhadap kebijakan ekonomi dan arah pemerintahan.
Hingga hari terakhir aksi. Massa pendemo masih terus menyuarakan tuntutan mereka sambil menunggu respons resmi dari pemerintah yang hingga kini belum disampaikan secara terbuka. (X-5)
0 Comments