101 Tokoh Dayak Jilid 4: Siapa Saja Mereka? (2) Jangkar Ilmiah "Dajak" sebagai Binenland pada Dokumen Historis Tahun 1757

01 Tokoh Dayak Jilid 4: Siapa Saja Mereka?
Buku yang dirancang menjadi ensiklopedia tokoh Dayak. Ist.

Dokumen J.A. Hogendorf tahun 1757 menjadi bukti tertulis tertua istilah Binenland  untuk menyebut "Dajak" yang menegaskan masyarakat Dayak sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Borneo.

Sejarah tidak selalu dimulai dari apa yang paling sering dikutip. Ia justru kerap bersembunyi di balik lembaran-lembaran tua yang nyaris terlupakan. Banyak kajian mengenai Dayak dewasa ini merujuk kepada karya Fridolin Ukur (1971), J.U. Lontaan (1975), M. Coomans (1987), Djuweng dan Krenak (1993), ataupun juga karya Masri dan Etika yang meneliti dan menulis The History of Dayak (2025).

Nama-nama yang tersebut itu telah menjadi rujukan penting dalam studi tentang masyarakat Dayak. Akan tetapi, mereka bukan titik mula sejarah tekstual istilah Dayak. Mereka adalah mata rantai yang menyambungkan generasi sekarang dengan sumber yang jauh lebih tua.

Baca 101 Tokoh Dayak Jilid 4: Siapa Saja Mereka? (1)

Di sinilah pentingnya membedakan sumber primer dan sumber sekunder. Ilmu pengetahuan selalu memberi tempat istimewa kepada dokumen pertama yang dapat diverifikasi. Sebab, semakin dekat sebuah sumber dengan peristiwa yang dicatatnya, semakin besar pula bobot akademiknya.

Karena itu, ketika membahas asal-usul istilah Dayak, kita tidak boleh berhenti pada buku-buku modern. Kita harus melangkah lebih jauh, menembus lorong waktu hingga menemukan arsip yang menjadi fondasi semua pembahasan berikutnya.

Penelusuran terhadap literatur klasik akhirnya membawa kita kepada karya monumental Jan B. Ave dan Victor T. King, BORNEO: Oerwoud in Ondergang, Culturen op Drift (1986). Nilai utama buku ini bukan semata-mata karena membahas Borneo secara komprehensif, melainkan karena berhasil mengangkat kembali dokumen kolonial yang selama berabad-abad tersimpan dalam arsip sejarah. Di sanalah ditemukan salah satu bukti tekstual paling awal mengenai istilah Dayak.

Baca Dayak Today

Dengan demikian, pembicaraan mengenai identitas Dayak tidak lagi bertumpu pada dugaan atau tradisi lisan semata. Ia memiliki jangkar ilmiah yang dapat diuji, dibaca ulang, dan diverifikasi oleh siapa pun. Di sinilah sejarah berubah dari cerita menjadi fakta.

Tahun 1757: Saat Nama Dayak Masuk Arsip Dunia sebagai Terminus ante Quem

Dalam karya Jan B. Ave dan Victor T. King tercantum kutipan penting yang bersumber dari monograf J.A. Hogendorf mengenai Banjarmasin:

"Naar ons weten was het woord ‘Dayak’ reeds in 1757 aan Nederlanders bekend, getuige het voorkomen van die term in de beschrijving van Banjarmasin door J.A. Hogendorf. Het woord betekent ‘binnenland’."

Kalimat singkat namun bernas itu sesungguhnya memuat arti yang sangat besar. Ia menegaskan bahwa istilah Dayak telah dikenal oleh administrasi kolonial Belanda pada tahun 1757. Artinya, hampir tujuh puluh tahun sebelum pemerintahan kolonial Belanda mengukuhkan kekuasaannya secara luas di Kalimantan, nama Dayak sudah tercatat dalam dokumen resmi.

Baca Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat

Tahun 1757 karena itu bukan hanya angka kronologis. Tahun tersebut merupakan tonggak sejarah tekstual. Ia menjadi penanda bahwa eksistensi masyarakat Dayak telah memasuki ruang administrasi, pemetaan, dan pengetahuan kolonial. Sejak saat itu, Dayak bukan lagi hanya identitas yang hidup dalam percakapan lokal, melainkan telah menjadi bagian dari arsip dunia.

Dalam penelitian sejarah, dokumen seperti ini mempunyai bobot yang luar biasa. Ia menjadi terminus ante quem, yaitu batas waktu yang memastikan bahwa suatu istilah telah digunakan sebelum tanggal tertentu.

Dengan kata lain, siapa pun yang meneliti asal-usul istilah Dayak tidak mungkin m
engabaikan bilangan tahun 1757 sebagai pijakan historis yang paling awal dan paling dapat dipertanggungjawabkan.

Binnenland: Bukan Sebatas Pedalaman, Melainkan Tanah Asal

Kata yang digunakan Hogendorf untuk menjelaskan Dayak adalah binnenland. Terjemahan yang lazim adalah "pedalaman". Namun, apabila berhenti pada arti harfiah itu, kita kehilangan lapisan makna yang jauh lebih dalam.

Baca Damang Batu yang Otentik dengan Kaki Bertumpu pada Cucu

Binnenland bukan sebatas wilayah geografis yang jauh dari pantai. Dalam cara pandang abad ke-18, istilah itu menunjuk kepada masyarakat yang berasal dari jantung suatu negeri, penghuni asli yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Karena itu, konsep binnenland lebih dekat dengan pengertian autokhton, yakni penduduk asli yang tumbuh dari tanah leluhurnya sendiri.

Pemaknaan ini mengubah cara kita memahami sejarah Dayak. Dayak bukanlah identitas yang dibentuk karena perpindahan penduduk, melainkan identitas yang lahir dari keterikatan dengan ruang hidupnya. Hutan bukan hanya sumber ekonomi. Sungai bukan hanya jalur transportasi. Gunung bukan sebatas bentang alam. Semuanya membentuk ruang kebudayaan yang diwariskan lintas generasi. Itulah sebabnya masyarakat Dayak memandang tanah bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Belakangan istilah binnenlander memang memperoleh konotasi peyoratif dalam politik kolonial. Kata itu dipakai untuk membedakan kelompok yang dianggap modern dengan kelompok yang dianggap terbelakang. Namun, konotasi tersebut adalah hasil konstruksi kekuasaan, bukan makna asli istilah itu. Pada mulanya, binnenland adalah penanda asal-usul, bukan ukuran martabat.

Dokumen 1757 sebagai Jangkar Ilmiah Identitas Dayak

Sesudah Hogendorf, sejumlah peneliti besar seperti van Enthoven, A.W. Nieuwenhuis, dan Dr. J. Mallinckrodt kembali menemukan data-data yang menguatkan penggunaan istilah Dayak. Mereka bekerja pada masa yang berbeda, menggunakan pendekatan yang berbeda, bahkan memiliki kepentingan penelitian yang berbeda pula. Namun, kesimpulan mereka bertemu pada satu titik yang sama: istilah Dayak telah hidup dalam dokumentasi sejarah sejak pertengahan abad ke-18.

Baca Mugeni: Tokoh Literasi Kalimantan Tengah yang Menginspirasi

Konsistensi berbagai sumber itu memperlihatkan bahwa penggunaan istilah Dayak bukanlah hasil rekayasa akademik abad ke-20. Ia telah memiliki akar historis yang panjang. Justru para peneliti modern hanya memperkuat dan memperjelas apa yang telah lebih dahulu tercatat dalam arsip kolonial.

Karena itulah, dokumen tahun 1757 layak disebut sebagai jangkar ilmiah. Sebagaimana jangkar menjaga kapal agar tidak hanyut oleh arus, demikian pula dokumen ini menjaga pembahasan mengenai Dayak agar tidak terseret oleh spekulasi, mitos, ataupun kepentingan ideologis. Ia memberikan titik pijak yang kokoh bagi penelitian sejarah, antropologi, linguistik, maupun kajian identitas.

Sejarah pada galibnya bukan hanya soal menemukan nama tertua. Yang lebih penting adalah memahami makna di balik nama itu. Dokumen tahun 1757 memperlihatkan bahwa sejak awal Dayak dipahami sebagai masyarakat yang berasal dari tanah Borneo sendiri. Mereka bukan penghuni sementara. Mereka bukan pendatang.

Baca Adeng, Pejuang Tanah dan Wilayah Adat Terati yang Dibunuh namun Tak Pernah Mati

Dayak adalah pemilik ingatan paling panjang tentang pulau ini. Sebelum peta-peta kolonial digambar, sebelum batas-batas administratif ditarik, bahkan sebelum identitas modern dirumuskan, mereka telah hidup, berkebun, berladang, menyusuri sungai, dan membangun peradaban di jantung Borneo.

Dalam pada itulah maka dokumen tahun 1757 bukan hanya penting bagi sejarah kata Dayak, melainkan juga bagi sejarah keberadaan bangsa Dayak itu sendiri. (Bersambung)

Penulis Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.