Dodi Mawardi "Ulat" Sunda Berhati Dayak
| Novel yang spiritnya kisahan sang pengarang. ist. |
ULAT, novel karya Dodi Mawardi menjadi penanda penting perjalanan dan karier kepenulisannya. Sebuah kisah tentang perjuangan, metamorfosis, dan dedikasi yang lahir dari pengalaman hidup serta kecintaan pada dunia literasi.
Proses kreatif Ulat
Menarik mengikuti jejak kreatif sang pengarang Ulat. Di balik lahirnya sebuah karya, senantiasa ada perjalanan panjang yang menyimpan kegelisahan, pencarian, dan ketekunan seorang penulis. Setiap penulis sejatinya memiliki gunungnya sendiri untuk ditaklukkan dalam perjalanan kepengarangannya.
Ada yang memilih berhenti setelah mencapai kaki gunung, ada yang merasa cukup menikmati pemandangan dari lereng, dan ada pula yang terus mendaki dengan kesabaran serta keyakinan hingga tiba di puncak. Sebab, bagi seorang penulis, setiap langkah adalah proses, setiap tanjakan adalah pembelajaran, dan setiap puncak bukanlah akhir, melainkan pintu menuju pendakian berikutnya.
Baca The History of Dayak (1): Yang Paham Sejarah Dayak, Hanya Dayak karena Mengalami dari Dalam
Bagi banyak pakar dan praktisi kepenulisan, salah satu puncak tertinggi itu adalah novel. Sebab, novel bukan sekadar rangkaian kata, melainkan perpaduan antara pengalaman hidup, kedalaman gagasan, kekuatan imajinasi, ketekunan riset, serta ketangguhan seorang penulis dalam menjalani proses kreatif yang panjang.
Menyelesaikan sebuah novel berarti membuktikan kemampuan seorang penulis dalam menciptakan dunia, menghidupkan tokoh, membangun konflik, dan menjaga aliran cerita hingga akhir. Ketika seorang penulis berhasil melahirkan sebuah novel, ia sedang menorehkan jejak penting dalam perjalanan kreatifnya. Namun, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari pendakian, melainkan awal untuk menghadapi puncak-puncak baru yang menunggu untuk ditaklukkan.
Setiap Penulis Memiliki Gunungnya Sendiri
Setiap penulis mempunyai gunung yang ingin didakinya. Ada yang merasa cukup sampai di kaki gunung. Ada yang menikmati perjalanan di lereng. Ada pula yang terus melangkah, menembus jalur yang terjal, hingga akhirnya tiba di puncak.
Baca Eva Epti dan Perjuangannya menuju Domia Sanggau 2026
Dalam dunia kepenulisan, banyak orang meyakini salah satu puncak itu adalah novel. Menulis novel bukan hanya merangkai kalimat menjadi cerita, melainkan mengolah pengalaman, gagasan, imajinasi, emosi, dan ketekunan menjadi sebuah dunia yang utuh. Novel menuntut kedisiplinan, kesabaran, sekaligus keberanian untuk bertahan dalam proses kreatif yang panjang.
Hari ini saya menyaksikan seorang sahabat mencapai salah satu puncaknya.
Dodi Mawardi akhirnya melahirkan ULAT, novel pembuka dari Trilogi Metamorfosis.
Setelah melewati perjalanan yang tidak singkat, naskah itu kini memasuki proses pencetakan. Momen sederhana itu terasa istimewa karena saya menyaksikan sendiri lembar demi lembar halaman keluar dari mesin cetak pada 15 Juli 2026. Kebetulan, saat itu saya juga sedang mencetak buku. Dua penulis, dua karya. Tetapi satu kebahagiaan: melihat gagasan yang selama ini hanya hidup dalam pikiran akhirnya berubah menjadi buku yang segera bertemu pembacanya.
Baca Lepas dari Cengkeraman Leviathan
Novel ULAT mengisahkan Jajang, anak muda dari pelosok Cianjur Selatan yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang penjahit kampung yang penghasilannya meningkat hanya ketika musim Lebaran tiba. Dalam keterbatasan itulah Jajang belajar bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
Kesempatan belajar di sekolah berasrama di Magelang membuka jalan hidupnya. Di sana ia ditempa, diuji, berkali-kali jatuh, lalu bangkit kembali. Pesan yang terus bergema dalam perjalanan tokoh ini sederhana, tetapi kuat: anak kampung pun berhak bermimpi besar dan berhasil.
Judul ULAT terasa sangat tepat. Sebab setiap perubahan besar selalu diawali dari fase yang sering dipandang biasa, bahkan rendah. Seekor ulat harus merayap sebelum memiliki sayap. Begitu pula manusia, yang harus melalui proses panjang sebelum mencapai bentuk terbaik dirinya.
Saya mengenal Dodi bukan hanya sebagai pegiat literasi, tetapi juga sebagai sahabat. Karena itu, ketika membaca garis besar cerita novel ini, saya menemukan banyak nuansa yang terasa akrab. Memang tokohnya bernama Jajang dan kisahnya dibangun dalam ruang fiksi, tetapi emosi, perjuangan, dan semangatnya terasa begitu dekat.
Saya bahkan menduga bahwa ULAT merupakan bentuk faksi, yakni perpaduan antara fakta dan fiksi. Apakah seluruh kisahnya autobiografis? Tentu tidak. Namun, saya berani mengatakan bahwa ruh kehidupan Dodi mengalir cukup kuat di dalam novel tersebut. Pengalaman hidup tampaknya menjadi fondasi yang kemudian diperkaya dengan daya cipta dan imajinasi.
Hal itu mengingatkan saya pada gagasan bahwa setiap orang sesungguhnya menyimpan satu buku yang hanya bisa ditulis oleh dirinya sendiri: kisah hidupnya. Dodi memilih tidak menuliskannya sebagai autobiografi, melainkan mengolahnya menjadi novel sehingga fakta dapat berdialog dengan fiksi secara lebih leluasa.
Sunda Berhati Dayak dan Jejak Literasi Dodi Mawardi
Sekitar tiga tahun lalu, saya bersama Pepih Nugraha pernah bercanda sekaligus menantangnya. Kami mengatakan bahwa banyak pakar dan praktisi kepenulisan menempatkan novel sebagai salah satu pencapaian tertinggi seorang penulis. Bukan karena bentuk tulisan lain kurang penting, melainkan karena novel menguji hampir seluruh kemampuan yang dimiliki seorang pengarang.
Baca Cornelis Soroti Peran-aktif Koperasi dalam Kebijakan Biodiesel: Petani Harus Jadi Pelaku Utama Hilirisasi Sawit
Saat itu Dodi hanya tersenyum sambil berkata singkat, "Tunggu waktunya."
Kini saya tahu, jawaban itu bukan sekadar basa-basi. Ia benar-benar sedang menyiapkan musim terbaik bagi karyanya.
Selama beberapa tahun terakhir, Dodi terus memperkaya dirinya melalui berbagai ruang belajar dan pengalaman. Ia mengikuti Batu Ruyud Writing Camp 2022, hadir dalam Deklarasi Literasi Dayak di Krayan, Kalimantan Utara, serta aktif mengikuti perkembangan literasi dan sastra Dayak. Ketika komunitas sastra Dayak menggelar Zoom Meeting Sastra Dayak, Dodi ikut menyimak diskusi, kemudian menuliskan ulasan dan refleksinya di media. Konsistensi itu menunjukkan bahwa proses belajar baginya tidak dibatasi ruang maupun jarak.
Tidak berlebihan jika saya menyebut Dodi sebagai "Sunda berhati Dayak."Meski lahir dan besar dalam kultur Sunda, kepeduliannya terhadap literasi Dayak begitu tulus. Ia ikut memperkenalkan karya, gagasan, dan dinamika sastra Dayak kepada khalayak melalui tulisan-tulisannya.
Dalam perjalanan literasi, Dodi juga menjadi bagian dari Espelindo yakni Empat Sekawan Pegiat Literasi Indonesia; bersama Yansen TP, Masri, dan Pepih Nugraha. Persahabatan itu dibangun melalui banyak perjalanan, diskusi, dan kegiatan literasi di berbagai daerah. Kami saling mengingatkan, saling mengkritik, dan saling mendorong agar terus menghasilkan karya.
Metamorfosis Penulis, Metamorfosis Sebuah Karya
Karena itu, terbitnya ULAT bukan hanya kabar baik bagi Dodi, tetapi juga kebahagiaan bagi sahabat-sahabatnya. Kami menyaksikan sebuah komitmen yang dulu hanya menjadi percakapan kini berubah menjadi kenyataan.
Namun, ada hal lain yang menurut saya jauh lebih penting daripada lahirnya sebuah novel.
Baca Matinya Kepakaran KaryaTom Nichols yang Bikin Heboh
Saya melihat perubahan pada diri Dodi. Ia semakin tenang, semakin matang dalam berpikir, dan tetap rendah hati. Semakin banyak karya yang dihasilkannya, semakin sederhana sikapnya. Ia memilih membiarkan karya-karyanya berbicara, sementara dirinya tetap berjalan tanpa banyak kegaduhan.
Barangkali, itulah metamorfosis yang sesungguhnya.
Bukan hanya tokoh Jajang yang mengalami perubahan dalam cerita. Penulisnya pun sedang menjalani proses yang sama. Dari pegiat literasi yang tekun menjadi novelis yang semakin matang. Dari penulis yang banyak mengamati kehidupan menjadi pencipta dunia-dunia baru melalui fiksi.
Selamat, Kang Dod!
Puncak yang dicapai hari ini bukanlah akhir perjalanan. Setiap penulis selalu memiliki gunung berikutnya untuk didaki. Setelah satu puncak ditaklukkan, akan muncul puncak lain yang memanggil. Begitulah jalan seorang penulis: terus belajar, terus berkarya, dan terus bermetamorfosis.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments