Lie Martina: Pendiri Komunitas Literasi Bumi Menulis
| Lie Martina, pekerja dan pegiat literasi yang membangun karier menulis dari bawah sekali. Kompas. |
Lie Martina atau Tina Lie adalah tokoh muda Dayak asal Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang mengabdikan diri pada pengembangan literasi melalui Komunitas Bumi Menulis.Berawal dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil, ia berhasil menginspirasi banyak generasi muda dengan menghadirkan kelas menulis, menerbitkan puluhan karya, serta menggerakkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah pedalaman dan wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Baca Subandrio, S.H., M.H., Wabup Sekadau, Masuk Senarai Buku "101 Tokoh Dayak Jilid 4"
Dedikasi Tina, sapaannya, menjadikan literasi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Barat.
Kehidupan Awal
Lie Martina, yang akrab disapa Tina Lie, lahir di Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada 24 Maret 1995, dan tumbuh di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia. Berasal dari keluarga sederhana yang menanamkan nilai kerja keras, pendidikan, dan kepedulian terhadap sesama, Tina telah memiliki kegemaran membaca sejak kecil. Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi hobi menulis di buku harian sebagai ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.
Lingkungan perbatasan yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan literasi membentuk kepekaan sosial Tina. Ia menyaksikan bahwa banyak anak-anak di daerahnya memiliki semangat belajar yang tinggi, tetapi belum memperoleh kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota besar. Pengalaman masa kecil inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi pengabdiannya di bidang literasi.
Pendidikan
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Kalimantan Barat, Tina melanjutkan studi keProgram Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Yogyakartapada periode 2013–2017. Selama menjalani perkuliahan di Yogyakarta, ia tidak hanya memperoleh bekal akademik, tetapi juga semakin memperkaya pengalaman membaca dan menulis.
Baca Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran
Usai menyelesaikan kuliah, Tina sempat mengalami kegelisahan dalam menentukan arah hidup. Ia mencoba melamar berbagai pekerjaan dan bahkan bekerja selama sekitar satu tahun tujuh bulan di sebuah koperasi kredit (credit union). Namun, pekerjaan tersebut belum mampu menjawab pencarian jati dirinya. Dari pergulatan batin itulah ia akhirnya menemukan bahwa dunia kepenulisan merupakan panggilan hidup yang paling sesuai dengan minat dan bakatnya.
Keputusan itu semakin mantap ketika salah satu cerpen yang ditulisnya berhasil masuk sepuluh besar dalam sebuah lomba menulis tingkat nasional. Prestasi tersebut menjadi titik balik yang menumbuhkan keyakinan bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan pengabdian.
Kiprah di Bidang Karier yang Berdampak Luas
Memilih jalan sebagai penulis, Tina terus mengasah kemampuannya melalui berbagai pelatihan dan kompetisi kepenulisan. Hingga kini ia telah menghasilkan sekitar 20 cerpen antologi yang diterbitkan dalam berbagai buku, sekaligus menulis buku autobiografis berjudul Aku dan Bumi Menulis.
Baca Keraton Sekadau yang Ditinggal Zaman namun Menolak Dilupakan
Kesadaran bahwa kemampuan menulis seharusnya dibagikan kepada orang lain mendorong Tina mendirikan Komunitas Bumi Menulis pada tahun 2020. Berawal dari lima orang anggota, komunitas ini berkembang menjadi wadah literasi yang menghimpun puluhan anggota dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui Bumi Menulis, Tina membuka kelas menulis bagi penulis pemula, baik secara daring maupun luring. Ia membimbing peserta mulai dari proses menemukan ide, menulis, menyunting, hingga menerbitkan karya. Berbagai buku antologi berhasil diterbitkan dari komunitas ini, di antaranya Cerita Anak Pedalaman, Perempuan dan Rahasia, kumpulan cerita rakyat Kalimantan Barat, Bangkit untuk Lebih Kuat, dan Mangata.
Kontribusi Tina tidak berhenti pada dunia kepenulisan. Bersama anggota komunitasnya, ia secara aktif menyelenggarakan kegiatan literasi di sekolah-sekolah pedalaman dan wilayah perbatasan Kabupaten Sanggau. Mereka mengadakan kegiatan mendongeng, pelatihan menulis, pengenalan budaya, hingga edukasi bagi anak-anak usia dini. Semua kegiatan tersebut dilakukan untuk menumbuhkan minat baca, keberanian menulis, serta memperluas wawasan anak-anak di daerah yang akses literasinya masih terbatas.
Sebagai pekerja, pegiat, dan tokoh muda literasi Dayak, Lie Martina menghadirkan teladan bahwa keterbatasan wilayah bukanlah penghalang untuk melahirkan karya dan perubahan.
Melalui Bumi Menulis, Tina membuktikan bahwa literasi dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Menulis bukan hanya menghasilkan buku, tetapi juga menjadi media untuk menyembuhkan kegelisahan, membangun rasa percaya diri, dan membuka kesempatan belajar bagi banyak orang.
Motivasi dan Inspirasi
Perjalanan hidup Lie Martina menunjukkan bahwa pencarian jati diri sering kali lahir dari keberanian mendengarkan suara hati. Di tengah kebingungan setelah lulus kuliah dan kegagalan menemukan kepuasan dalam pekerjaan formal, ia memilih mengikuti panggilan hidupnya sebagai penulis. Pilihan tersebut tidak hanya mengubah kehidupannya sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi banyak orang melalui gerakan literasi yang ia bangun.
Baca Gebyar Budaya Dayak SMA Don Bosco Sanggau: Melangkah Bersama Budaya Menuju Masa Depan
Bagi Tina, setiap orang memiliki potensi untuk menulis dan setiap tulisan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Karena itulah ia menamai komunitasnya Bumi Menulis, sebagai simbol bahwa seluruh manusia memiliki ruang untuk berkarya melalui tulisan.
Sebagai tokoh muda Dayak, Lie Martina menghadirkan teladan bahwa keterbatasan wilayah bukanlah penghalang untuk melahirkan karya dan perubahan.
Dengan semangat berbagi ilmu, kepedulian terhadap pendidikan, dan komitmen memajukan literasi di wilayah perbatasan, ia menjadi inspirasi bagi generasi muda Dayak untuk terus belajar, berkarya, serta membangun daerah asal melalui kemampuan yang dimiliki.
Baginya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan jalan untuk membangun harapan, memperluas cakrawala berpikir, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat perbatasan.
Periset dan penulis │ Masri Sareb Putra
0 Comments