Subandrio, S.H., M.H., Wabup Sekadau, Masuk Senarai Buku "101 Tokoh Dayak Jilid 4"
Subandrio, S.H., M.H., Wakil Bupati Sekadau, Ist.
Lewat riset saksama, diimbuhi hasil amatan, Subandrio masuk dalam 10 kriteria sehingga namanya ada dalam 101 Tokoh Dayak jilid 4. Buku ini dijadwalkan rilis tepat tanggal 1 bulan Kemerdekaan RI tahun 2026 sebagai kado bagi bangsa, terutama suku bangsa Dayak.
Subandrio, S.H., M.H. bukan nama asing di Sekadau dan wilayah timur Kalimantan Barat. Meniti jalan demokrasi dari Balau Tengah, lelaki yang terbilang dalam rumpun Iban ini peduli literasi, sastra, adat dan budaya Dayak.
Baca The History of Dayak (1): Yang Paham Sejarah Dayak, Hanya Dayak karena Mengalami dari Dalam
Jabatan Wakil Bupati Sekadau bukanlah persinggahan pertama Subandrio di ruang publik. Sebelum mendampingi Aron memimpin Kabupaten Sekadau, ia lebih dahulu dikenal sebagai penyelenggara pemilu, legislator, sekaligus sarjana hukum yang meniti karier secara bertahap.
Jalur yang ditempuhnya memperlihatkan proses panjang: dari ruang kelas, meja penyelenggara pemilu, kursi parlemen daerah, hingga akhirnya memasuki pucuk pemerintahan. Di setiap tahap, ia memilih bekerja melalui institusi, bukan sekadar membangun popularitas.
Kehidupan awal yang membentuk pribadinya
Subandrio lahir di Balau Tengah, Kalimantan Barat, pada 23 Maret 1976. Ia tumbuh sebagai anak pasangan Bijansi dan Karolina di lingkungan pedalaman yang masih lekat dengan kehidupan masyarakat Dayak.
Kehidupan kampung mengajarkan kepada Subandrio arti kebersamaan, musyawarah, dan penghormatan terhadap adat sebagai bagian dari tata kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu kemudian menjadi fondasi cara pandangnya ketika memasuki kehidupan publik.
Baca Eva Epti dan Perjuangannya menuju Domia Sanggau 2026
Masa kecilnya dihabiskan di Balau Milut sebelum melanjutkan pendidikan ke Belitang Hulu dan Sintang. Perjalanan menuju sekolah pada masa itu bukan selalu perkara mudah. Keterbatasan sarana pendidikan di pedalaman justru membentuk daya juang yang kelak menjadi salah satu ciri perjalanan hidupnya. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh gelar, melainkan pintu untuk memahami bagaimana masyarakat dapat dilayani melalui tata pemerintahan yang baik.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Balau Milut pada 1989, ia melanjutkan ke SMP Negeri Belitang Hulu dan lulus pada 1992. Pendidikan menengah ditempuh di SMA Immanuel Sintang hingga tamat pada 1995.
Minat terhadap persoalan hukum membawanya ke Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Pontianak. Di kampus inilah pandangannya mengenai negara, demokrasi, dan keadilan semakin terbentuk. Gelar Sarjana Hukum diraihnya pada 1999, kemudian disempurnakan dengan pendidikan Magister Hukum di universitas yang sama.
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Kehidupan kampus tidak hanya diisi dengan aktivitas akademik. Ia aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), organisasi yang menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan, diskusi intelektual, dan pengabdian sosial. Setelah lulus, keterlibatannya berlanjut melalui Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), hingga Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau. Organisasi-organisasi itu memperluas jejaring sekaligus mempertemukannya dengan beragam persoalan masyarakat yang kelak menjadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai pejabat publik.
Karier politik mulai dari demokrasi
Karier Subandrio justru dimulai bukan sebagai politikus, melainkan sebagai penyelenggara demokrasi. Pada usia yang relatif muda, ia dipercaya memimpin Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sekadau. Jabatan Ketua KPU diembannya selama dua periode berturut-turut, 2003–2008 dan 2008–2013. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai pentingnya menjaga integritas proses demokrasi, membangun kepercayaan publik, dan memastikan setiap warga memperoleh hak politik secara setara.
Baca Lewi G. Paru Penjaga Paru-paru Krayan
Sesudah hampir satu dekade mengawal pemilu, Subandrio memilih memasuki gelanggang politik praktis. Ia bergabung dengan Partai NasDem dan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Sekadau pada Pemilu 2014. Masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya. Lima tahun kemudian, ia kembali terpilih untuk periode kedua. Pengalaman sebagai legislator memperluas perspektifnya mengenai penyusunan kebijakan, pengawasan pembangunan, dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat.
Kesempatan mengabdi pada tingkat yang lebih luas datang ketika ia mendampingi Aron dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sekadau 2020. Pasangan ini memperoleh mandat rakyat dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sekadau pada 19 Juni 2021. Selama masa jabatan pertama, Subandrio mengambil peran dalam memperkuat koordinasi pemerintahan, mendukung pelayanan publik, dan mengawal pelaksanaan berbagai program pembangunan daerah.
Kepercayaan masyarakat tidak berhenti pada periode pertama. Dalam Pilkada 2024, pasangan Aron–Subandrio kembali meraih kemenangan dengan memperoleh 76.788 suara. Keduanya dilantik pada Februari 2025 untuk memimpin Kabupaten Sekadau periode 2025–2030. Keberhasilan mempertahankan kepercayaan publik menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah tidak hanya diukur melalui retorika politik, tetapi juga oleh konsistensi dalam bekerja dan membangun komunikasi dengan masyarakat.
Di luar tugas pemerintahan, Subandrio tetap menjaga kedekatannya dengan organisasi kemasyarakatan dan lembaga adat. Sebagai pengurus Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau, ia memandang pelestarian budaya bukan semata menjaga tradisi, melainkan merawat identitas masyarakat Dayak agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Di sela kesibukannya, ia menikmati membaca isu-isu hukum, pemerintahan, serta berdialog dengan masyarakat. Baginya, mendengar langsung suara warga merupakan bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Subandrio juga dikenal sebagai pribadi yang menempatkan keluarga sebagai pusat kehidupan. Bersama istrinya, Wiwin A. Triana, ia membesarkan putri mereka, Nowela Apriani Mikhelia. Kesibukan sebagai pejabat publik tidak mengurangi keyakinannya bahwa keluarga adalah tempat pertama menanamkan nilai tanggung jawab, kejujuran, dan kerja keras.
Kepemimpinan lahir dari akumulasi pengalaman
Perjalanan Subandrio memperlihatkan bahwa kepemimpinan lahir dari akumulasi pengalaman, bukan lompatan sesaat. Dari anak kampung di Balau Tengah, ia menempuh pendidikan hukum, mengawal demokrasi sebagai penyelenggara pemilu, mengasah kepekaan politik di parlemen, lalu mengemban amanah sebagai wakil kepala daerah.
Kisahnya memberi pelajaran bahwa pengabdian kepada masyarakat membutuhkan ketekunan, integritas, dan kesediaan untuk terus belajar. Bagi generasi muda Dayak, jejak itu menjadi pengingat bahwa asal-usul bukanlah batas bagi cita-cita, melainkan titik awal untuk memberi makna bagi daerah dan bangsanya.
Baca Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran
Komitmennya terhadap penguatan identitas dan kemajuan masyarakat Dayak kembali tampak ketika membuka Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau pada 15 Mei 2026. Di hadapan para akademisi, penulis, budayawan, dan pegiat literasi dari berbagai daerah, Subandrio menyampaikan sambutan dengan penuh semangat. Ia menyambut baik lahirnya gerakan literasi Dayak sebagai ikhtiar merawat ingatan kolektif, memperkuat jati diri, sekaligus memperkenalkan kekayaan pengetahuan masyarakat Dayak kepada dunia.
Dalam kesempatan kongres literasi inernasional Dayak itu, Subandrio menyatakan komitmennya untuk turut aktif mendorong tumbuh dan berkembangnya gerakan literasi Dayak sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia dan pelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.
-- Masri Sareb Putra
0 Comments