Nicholas anak Gani: Arkeolog Dayak di Pentas Dunia
| Nicholas anak Gani: Arkeolog Dayak di pentas dunia. Dayak tidak perlu mencari pakar di luar etnisnya lagi. kredit gambar: https://expert.unimas.my/profile/2336 |
Dayak punya arkeolog yang dapat diandalkan. Kepakarannya tidak diragu-sangsikan lagi. Ia lulusan (Ph.D.) dalam bidang Arkeologi.Penelitian doktoralnya di University of Oxford berfokus pada keterlibatan masyarakat masa kini dengan monumen-monumen megalitik di Upper Baram, Sarawak
Baca Primus Segang Lase: Menguatkan Masyarakat dari Gerakan Koperasi Kredit
Tidak semua orang memilih berjalan ke masa lalu untuk memahami masa depan. Nicholas anak Gani justru menempuh jalan itu.
Sebagai arkeolog dan antropolog Dayak dari Sarawak, Malaysia, ia mengabdikan hidupnya untuk menelusuri jejak-jejak peradaban kuno Borneo, sekaligus memaknai hubungan masyarakat masa kini dengan warisan leluhur mereka.
Melalui penelitian, pengajaran, dan keterlibatannya dalam berbagai proyek arkeologi internasional, Nicholas menjadi salah satu putra Dayak yang menempatkan Borneo dalam peta kajian arkeologi dunia.
Kehidupan Awal: Tumbuh dari Tanah yang Sarat Sejarah
Nicholas anak Gani lahir dan dibesarkan di Sarawak, sebuah wilayah yang menjadi rumah bagi beragam komunitas Dayak dan menyimpan kekayaan sejarah yang membentang ribuan tahun. Lingkungan sosial dan budaya tempat ia bertumbuh membentuk kepekaannya terhadap hubungan manusia dengan alam, benda-benda budaya, serta ingatan kolektif masyarakat.
Baca Deliana Winki: Duta Dayak lewat Sape
Bagi masyarakat Dayak, sejarah tidak hanya tertulis dalam dokumen atau naskah, tetapi juga hidup dalam tradisi lisan, situs megalitik, gua-gua purba, artefak, dan lanskap budaya.
Kesadaran akan pentingnya warisan inilah yang kemudian menumbuhkan minat Nicholas pada antropologi dan arkeologi. Ia melihat bahwa benda-benda peninggalan masa lalu bukan sekadar objek mati, melainkan bagian dari kisah manusia yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Pendidikan
Perjalanan akademik Nicholas menunjukkan keluasan wawasan sekaligus ketekunannya dalam ilmu pengetahuan. Ia memperoleh gelar Sarjana Antropologi dari University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, salah satu universitas terkemuka dalam bidang ilmu sosial. Pendidikan ini memberinya landasan kuat untuk memahami manusia, kebudayaan, dan dinamika masyarakat.
Minatnya yang semakin mendalam terhadap sejarah manusia kemudian membawanya melanjutkan studi Magister Arkeologi di Universiti Sains Malaysia. Di bidang inilah ia menemukan panggilan intelektualnya: menghubungkan data arkeologi dengan kehidupan sosial masyarakat.
Baca Lie Martina: Pendiri Komunitas Literasi Bumi Menulis
Nicholas selanjutnya menempuh pendidikan doktoral (Ph.D.) dalam bidang Arkeologi. Penelitian doktoralnya di University of Oxford berfokus pada keterlibatan masyarakat masa kini dengan monumen-monumen megalitik di Upper Baram, Sarawak. Kajian ini menarik karena memperlihatkan bahwa situs-situs kuno bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga tetap memiliki makna sosial, budaya, dan spiritual bagi masyarakat Dayak masa kini.
Sebagai akademisi, Nicholas berkiprah di Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), tempat ia mengajar dan mengembangkan penelitian tentang arkeologi, warisan budaya, dan masyarakat Borneo.
Arkeolog Borneo dengan Jejak Internasional
Selama lebih dari satu dekade, Nicholas anak Gani terlibat dalam berbagai penelitian arkeologi penting, baik di Malaysia maupun di luar negeri. Ia ikut dalam ekskavasi sejumlah situs bersejarah yang menjadi tonggak pemahaman tentang peradaban Asia Tenggara.
Di Sarawak, ia terlibat dalam penelitian di Gua Niah, situs prasejarah terkenal yang membuktikan keberadaan manusia di Borneo sejak puluhan ribu tahun silam. Di Sabah, ia berpartisipasi dalam penelitian di Mansuli dan Bukit Tengkorak, sementara di Semenanjung Malaysia ia terlibat di Lembah Bujang dan Lembah Lenggong, dua kawasan penting dalam sejarah awal Nusantara.
Pengalaman internasionalnya juga luas. Nicholas pernah mengikuti ekskavasi arkeologi di Kamboja, Filipina, dan Amerika Serikat. Keterlibatannya dalam Early Central Borneo Project pada 2013–2014 menjadi salah satu kontribusi penting dalam kajian situs-situs megalitik di Dataran Tinggi Kelabit, Sarawak.
Selain arkeologi, Nicholas juga menaruh perhatian pada hubungan manusia dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Ia meneliti makna sosial produksi garam tradisional di kawasan Krayan–Kelabit yang melintasi perbatasan Indonesia–Malaysia, serta pengembangan pusat teknologi informasi (telecentre) bagi komunitas Orang Asli di Semenanjung Malaysia.
Bidang keahliannya meliputi arkeologi Borneo dan Asia Tenggara, arkeologi publik, warisan budaya, makna sosial benda-benda budaya, serta hubungan masyarakat dengan situs sejarah.
Legasi
Di tangan Nicholas anak Gani, arkeologi bukan hanya ilmu tentang masa lalu, melainkan juga sarana membangun kesadaran identitas dan kebanggaan masyarakat. Ia menunjukkan bahwa batu-batu megalitik, gua purba, alat-alat kuno, atau tradisi lokal bukan sekadar artefak, tetapi bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia di Borneo.
Baca Subandrio, S.H., M.H., Wabup Sekadau, Masuk Senarai Buku "101 Tokoh Dayak Jilid 4"
Karya dan penelitiannya memberi pesan penting bahwa masyarakat Dayak memiliki sejarah yang panjang, kaya, dan layak menjadi bagian dari percakapan ilmiah dunia. Ia juga memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan modern dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap tradisi dan pengetahuan lokal.
Bagi generasi muda Dayak, Nicholas anak Gani adalah teladan bahwa kecintaan pada akar budaya tidak menghalangi seseorang untuk menjadi ilmuwan berkelas internasional. Dari pedalaman Borneo menuju ruang-ruang akademik dunia, ia membuktikan bahwa memahami masa lalu adalah salah satu cara terbaik untuk membangun masa depan.
Warisan terbesar Nicholas anak Gani bukan hanya hasil ekskavasi atau publikasi ilmiah, melainkan upayanya menjaga agar ingatan kolektif masyarakat Borneo tetap hidup, dipahami, dan dihargai oleh generasi yang akan datang.
Periset dan penulis │ Masri Sareb Putra
0 Comments