Jejak Literasi Dayak: Dari Pontianak menuju Miri
Tim Literasi Dayak di Niah (Petrus Gunarso) sudah kembali sehari sebelumnya.
MIRI, 25 September 2026— Rangkaian perjalanan menuju Miri, Sarawak, berlangsung dalam beberapa tahap.Dr. Patricia Ganing sudah lebih dahulu berada di Sarawak dan tinggal di Niah. Sementara itu, Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., datang dari Jakarta untuk bergabung mengikuti kegiatan literasi Dayak yang berlangsung di Miri.
Perjalanan rombongan dari Pontianak dimulai pada Selasa (22/9/2026) pukul 14.00 WIB. Tiga anggota Tim Literasi Dayak, Masri Sareb Putra, M.A., Albertus Imas, M.A., dan Alexander Mering, S.H., berangkat menggunakan Toyota Kijang melalui jalur darat menuju perbatasan Indonesia-Malaysia.
Sarawak dan Indonesia Sepakat Mengangkat Tradisi Lisan ke Persada Ilmu : 5 Tokoh Literasi Dayak di Panggung Sarawak
Setelah beberapa jam perjalanan, rombongan tiba di Balai Karangan menjelang malam. Di sana mereka bertemu Tintin, seorang penulis muda. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk beristirahat sekaligus membicarakan persiapan kegiatan di Miri.
Melintas perbatasan
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju perbatasan. Di sisi Indonesia, kendaraan dan dokumen diperiksa sebelum rombongan memasuki Sarawak melalui Tebedu Checkpoint. Di sisi Malaysia, paspor dan barang bawaan diperiksa sebelum perjalanan diteruskan menuju Miri.
Rombongan tiba di Miri sekitar pukul 22.00 waktu Malaysia pada Selasa (22/9/2026). Karena waktu Malaysia satu jam lebih maju daripada WIB, keberangkatan pukul 14.00 WIB setara dengan pukul 15.00 waktu Malaysia. Dengan demikian, durasi perjalanan dari Pontianak hingga Miri sekitar tujuh jam, termasuk persinggahan dan proses di perbatasan.
Setelah tiba di Miri, rombongan bergabung dalam persiapan kegiatan bersama Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., yang datang dari Jakarta, serta Dr. Patricia Ganing, yang sebelumnya sudah berada di Sarawak dan tinggal di Niah.
ASEAN Tidak Butuh Asap, Tapi Energi Hijau dari Tanah Kita
Keesokan harinya, Rabu (23/9/2026), kegiatan literasi Dayak berlangsung di Miri Indoor Stadium sebagai bagian dari rangkaian tahunan Pesta Buku Miri. Salah satu agenda utama ialah panel “Wacana Bahasa dan Sastera Dayak: Dari Tradisi Lisan ke Persada Ilmu.”
Lima pegiat literasi Dayak
Panel menghadirkan lima tokoh sebagai panelis, yakni Masri Sareb Putra, M.A., Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., Alexander Mering, S.H., Albertus Imas, M.A., dan Martina Lie. Pembahasan mencakup bahasa, sastra, tradisi lisan, penelitian, serta pengembangan literasi Dayak.
Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan penulis, peneliti, dan pegiat kebudayaan Dayak dari Indonesia dan Sarawak.
Pembicaraan mengenai bahasa, sastra, dan kebudayaan Dayak kemudian berlanjut dalam berbagai agenda selama berada di Miri.
Pewarta dan penulis: Albertus Imas
0 Comments