Justina Hendry: Peserta Reuni Terjauh Melintas Benua Membawa Sang Bunda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (73)

 

Justina Hendry
 Justina Hendry: peserta reuni, pendekar perempuan yang melintas dunia. Ist. 

Malam menyelimuti Los Angeles, kota gemerlap di pesisir barat Benua Amerika. Kendaraan berlari di atas jalan raya seperti harimau-harimau besi, sementara gedung-gedung tinggi menjulang di antara lautan cahaya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern itulah Justina Hendry menjalani kehidupannya. Namun, sejauh apa pun tubuhnya berada dari tanah kelahiran, hati pendekar wanita ini tidak pernah benar-benar meninggalkan sebuah nama yang tersimpan jauh di dasar ingatan: Nyarumkop!

Baca Datanglah ke Majalah Dinding, Aku Menunggumu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (72)

Bagi orang yang tidak pernah mengenal tempat itu, Nyarumkop mungkin hanya sebuah nama. Namun bagi Justina, nama tersebut merupakan bagian dari masa mudanya. Puluhan tahun silam, ketika masih menjadi seorang gadis remaja, ia menuntut ilmu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Nyarumkop.

Di sanalah ia bersama kawan-kawan seperguruan menjalani masa muda, belajar, bersahabat, bergembira, dan mengenal berbagai macam rasa yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang pernah melewati masa remaja.

Waktu berjalan seperti air sungai yang tidak pernah kembali ke hulu. Puluhan tahun telah berlalu. Wajah kawan-kawan lama tentu sudah berubah. Rambut yang dahulu hitam kini mungkin telah dihiasi uban, sedangkan langkah yang dahulu ringan mungkin sudah tidak selincah masa muda. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak mudah dikalahkan oleh usia, yaitu ikatan batin antara orang-orang yang pernah tumbuh dan belajar bersama.

Karena itulah ketika tersiar kabar bahwa keluarga besar Persekolahan Katolik Nyarumkop akan mengadakan Reuni Akbar PKN, hati Justina seolah-olah terkena sebuah jurus lama yang selama puluhan tahun tersimpan di dasar ingatan.

Rasa rindu yang selama ini diam mendadak bangkit. Melalui WAG Buku Kenangan PKN, yang bagi zaman sekarang dapat dianggap sebagai sebuah pusaka penyampai pesan jarak jauh, Justina mulai aktif mengambil bagian.

Dari Los Angeles ia memberikan pikiran, menyampaikan masukan, mengikuti pembicaraan, dan membantu sebisanya demi acara yang sangat dirindukannya itu.

Baca Tarian Massal Meriahkan Reuni 110 Tahun PKN: Makna dan Pesannya untuk Zaman Now

Mengapa ia begitu bersemangat? Karena Nyarumkop bukan hanya tempat ia pernah belajar. Di sana tersimpan persahabatan yang telah melewati puluhan tahun dan kenangan masa muda yang tidak mungkin dibeli dengan harta. Bahkan, seperti lazimnya kisah para murid di sebuah padepokan, tentu ada pula kenangan tentang cinta monyet yang dahulu pernah membuat jantung berdebar lebih keras daripada bunyi genderang perang. Semua itu telah menjadi bagian dari kisah masa muda yang kini terasa semakin berharga setelah usia bertambah.

“Kalau kawan-kawan lain dapat pulang, mengapa aku yang berada di ujung dunia harus tinggal diam?” demikian Justina membatin.

Keputusan pun dibuat. Ia akan pulang ke Nyarumkop.

Perjalanan itu bukan perjalanan pendek. Ia harus menempuh jalur udara, melintasi benua, kemudian menyeberangi Samudra Pasifik yang luas. Ribuan kilometer terbentang di hadapannya. Namun bagi seorang yang telah menetapkan tujuan, jauhnya perjalanan bukanlah alasan untuk mengundurkan diri. Bukankah dalam dunia persilatan seorang pendekar sering kali harus menempuh perjalanan ribuan li hanya untuk memenuhi sebuah janji?

Hal yang membuat perjalanan Justina semakin mengharukan ialah ia tidak berangkat seorang diri. Ia membawa serta ibundanya yang telah lanjut usia. Bagi orang yang memahami budi pekerti, berbakti kepada orang tua merupakan ilmu yang jauh lebih tinggi daripada segala macam ilmu pukulan. Justina tidak ingin menikmati kepulangannya seorang diri. Ke mana pun ia pergi selama berada di Nyarumkop, sang ibu selalu berada di sisinya. Keduanya seperti tubuh dan bayangan, selalu berdampingan.

***

Setibanya di Nyarumkop, rangkaian Reuni Akbar PKN pun dimulai. Justina mengikuti berbagai kegiatan dengan penuh perhatian dan berbaur dengan kawan-kawan lama serta para alumni dari berbagai angkatan. Meskipun datang dari Los Angeles, sebuah kota besar yang berada di seberang dunia, tidak tampak sedikit pun kesombongan pada dirinya. Ia tetap ramah dan mudah bergaul.

Pada suatu malam berlangsung jamuan makan di kediaman Mgr. Agustinus Agus. Dalam suasana yang akrab itu, Justina duduk bersama para alumni senior dan para sesepuh PKN. Mereka berbincang-bincang, mengenang masa lalu, dan menikmati kebersamaan. Perbedaan usia dan angkatan seolah-olah lenyap. Mereka tidak lagi merasa sebagai orang-orang yang terpisah oleh puluhan tahun, melainkan sebagai satu keluarga besar yang pernah ditempa di padepokan yang sama.

Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Hari berganti hari hingga tibalah Minggu, 6 September 2026....
Kapel PKN dipadati umat. Bagian dalam penuh, sedangkan mereka yang tidak memperoleh tempat mengikuti Misa dari luar di bawah tenda. Suasana terasa khidmat karena ribuan alumni dan keluarga besar PKN berkumpul untuk merayakan Misa sekaligus menutup rangkaian Reuni Akbar.

Di bagian depan kapel, Justina duduk dengan takzim di samping ibundanya. Pemandangan itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Seorang wanita yang telah menempuh kehidupan jauh di Los Angeles ternyata tetap membawa ibunya dalam perjalanan pulang ke tempat yang menyimpan masa mudanya.


Justina dan ibunya di baris depan waktu Misa Penutupan Reuni
Justina dan ibunya di baris depan waktu Misa Penutupan Reuni: adegan mengharukan. Ist.

Ketika tiba saat penerimaan Komuni Suci, suasana di dalam kapel menjadi semakin khidmat. Umat mulai berdiri dan membentuk barisan panjang menuju tempat pembagian Komuni. Mereka berjalan dengan tertib, seorang demi seorang, sementara suasana kapel tetap tenang. Melihat umat mulai bergerak, ibunda Justina yang telah lanjut usia pun bersiap untuk bangkit. Beliau tampaknya tidak ingin hanya duduk sementara umat lainnya maju menerima Komuni. Perlahan-lahan tubuhnya bergerak hendak mengikuti barisan.

Gerakan itu sebenarnya kecil dan mungkin tidak diperhatikan oleh sebagian besar umat. Namun mata seorang Pastor yang sedang bertugas membagikan Komuni ternyata menangkapnya. Dari tempatnya berdiri, sang Pastor memperhatikan wanita lanjut usia itu. Beliau melihat bahwa sang ibu sudah sepuh dan tentu tidak mudah baginya untuk berdiri, berjalan, lalu mengantre dalam barisan yang panjang.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni

Pantai & Kepulauan

Sang Pastor memberikan isyarat lembut agar ibunda Justina tetap di tempatnya. Tidak perlu berdiri. Tidak perlu berjalan. Tidak perlu bersusah payah mengikuti barisan umat.

Sang ibu pun kembali tenang.

Akan tetapi, justru pada saat itulah terjadi sesuatu yang membuat Justina tertegun. Setelah beberapa umat menerima Komuni, sang Pastor meninggalkan tempatnya dan berjalan mendekati ibunda Justina. Langkahnya perlahan dan tenang. Beliau berjalan melewati barisan umat yang sedang menunggu giliran, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan wanita lanjut usia itu.

Justina memperhatikan dengan saksama. Ia tidak menyangka sang Pastor akan datang sendiri.

Dengan penuh hormat dan kelembutan, sang Pastor memberikan Komuni Suci langsung kepada ibunda Justina di tempat beliau berada. Sang ibu menerimanya dengan takzim. Tidak perlu mengantre. Tidak perlu berjalan dengan tubuh yang sudah lanjut usia. Bukan sang ibu yang mendatangi tempat pembagian Komuni, melainkan Pastor yang datang menghampirinya.

Bagi orang lain, mungkin peristiwa itu tampak sederhana. Namun bagi Justina, pemandangan tersebut mempunyai arti yang jauh lebih dalam. Setelah menempuh perjalanan begitu jauh dari Los Angeles, membawa serta ibunya ke Nyarumkop, ia kini menyaksikan sendiri bagaimana seorang yang telah lanjut usia dilayani dengan penuh perhatian dan kasih di dalam rumah Tuhan.

Dada Justina terasa hangat. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia memandang ibundanya, kemudian memandang sang Pastor yang telah kembali ke tempatnya. Dalam hati, tumbuh rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Perjalanan ribuan kilometer yang telah ditempuhnya seolah-olah memperoleh makna baru pada saat itu. Ia telah membawa ibunya pulang. Dan di tempat itu, ibunya menerima kasih.

***

Misa selesai.
Suasana kembali ramai. Namun tidak lama kemudian nama Justina dipanggil oleh pembawa acara untuk maju ke depan. Ia diminta bergabung dalam foto bersama para pengurus Ikatan Alumni PKN.

Justina pun melangkah maju dan berdiri di antara mereka. Kehadirannya di sana bukan hanya sebagai seorang alumna yang datang dari jauh, tetapi juga sebagai bagian dari pengurus alumni PKN dari Benua Amerika.

Pada saat itu terasa betapa panjang perjalanan yang telah ditempuhnya. Dari sebuah kota besar di pesisir barat Amerika, ia kembali ke sebuah tempat yang pernah menjadi bagian penting dari masa mudanya. Jarak ribuan kilometer ternyata tidak sanggup memutuskan hubungan antara seorang murid dengan tempat yang dahulu membesarkannya.

Begitulah kisah pendekar wanita dari Los Angeles itu. Ia tidak datang membawa harta berlimpah. Ia juga tidak membawa pusaka sakti. Yang dibawanya hanyalah kemauan untuk hadir, kesediaan memberikan pikiran, kerinduan kepada kawan-kawan lama, dan kasih kepada ibundanya.

Dalam kehidupan, ada ilmu yang tidak tertulis dalam kitab mana pun. Ilmu itu bernama kesetiaan. Ia tidak membutuhkan pedang, tidak membutuhkan jurus, dan tidak pula membutuhkan kemenangan dalam sebuah pertarungan. Cukup dengan membuktikannya melalui perbuatan.

Justina telah membuktikan ilmu itu. Jarak antara Los Angeles dan Nyarumkop memang jauh, tetapi hati manusia tidak mengenal ukuran jarak seperti itu. Selama seseorang masih mengingat tempat dari mana ia memulai perjalanan, selama itu pula jalan untuk pulang akan selalu terbuka.

Bagi Justina Hendry, Nyarumkop bukan hanya sekolah masa lalu. Nyarumkop adalah bagian dari perjalanan hidupnya, tempat ia pernah belajar, bersahabat, tertawa, mengenal cinta masa muda, dan membentuk dirinya. Karena itu, ketika waktu memanggilnya pulang, ia pun datang.

Dan inilah jurus yang paling sukar dikalahkan oleh zaman: Jurus pulang ke Nyarumkop.
Masri Sareb Putra
Pontianak ketika senja jelang malam  30 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.