Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (18)

Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan -
Yancce "Adi Bing Slamet" di masa lalu dan saya pada malam hiburan penuh bintang waktu reuni.

Malam itu (4 September 2026). Panggung Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) seperti sebuah langit yang diturunkan ke bumi. Cahaya warna-warni berpendar di antara tubuh-tubuh yang berkumpul di lapangan sepakbola. Sesekali menyentuh wajah yang telah lama tak saya jumpai, seakan hendak memastikan bahwa kenangan memang masih mempunyai rupa. 

Musik mengalir di tengah kerumunan. Naik-turun bersama tawa, sapaan, dan suara nama-nama lama yang kembali disebut setelah sekian puluh tahun.

Lampu-lampu bergerak di atas kepala seperti kunang-kunang raksasa, sementara di bawahnya manusia saling menemukan kembali, membawa kisah masing-masing dari jalan hidup yang panjang.

Malam itu Nyarumkop bukan lagi hanya tempat. Ia seperti sebuah ruang ingatan, tempat masa silam dan hari ini untuk sesaat duduk semeja. 

WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)

Saya tidak sempat melihat langit. 

Barangkali saja ada bintang gemintang di sana. Tetapi malam itu saya sedang dikelilingi bintang-bintang yang pernah menerangi masa muda kami. Mereka datang bukan dari langit, melainkan dari berbagai arah kehidupan. Ada yang rambutnya telah memutih, ada yang tubuhnya tak lagi setegap dahulu, tetapi beberapa tawa masih menyimpan suara anak-anak Nyarumkop yang pernah berlari di halaman sekolah.

***

Lalu seseorang berdiri di hadapan saya. Tidak ada janji untuk bertemu. Tidak ada kabar sebelumnya. Ia datang begitu saja, seperti sebuah halaman lama yang tiba-tiba terbuka sendiri. Kami bersalaman. Ia menyebut nama saya. 

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Saya menatap wajahnya. Saya merasa pernah mengenalnya, tetapi nama itu seperti bersembunyi di balik kabut. “Ayo tebak, siapa saya?” tanyanya. Saya mencoba mencari jawabannya di antara begitu banyak wajah yang memenuhi malam. Gagal. Ia tersenyum. “Yance!” Seketika sesuatu bergetar dalam ingatan saya. Nah, ya. Yance.

Yang muncul sesudah nama itu bukan lelaki yang berdiri di depan saya, melainkan seorang anak muda dari Nyarumkop. Ketika saya SMA kelas I dan ia masih SMP, Yance adalah sosok yang mudah dikenali. Gantengnya persis Adi Bing Slamet. 

Rambutnya, perawakannya, gayanya. Ia menjadi idola gadis-gadis seusianya. Ia pandai bermain gitar. Tetapi di lapangan sepakbola, ia seperti menemukan rumahnya sendiri. Saya masih ingat Theo Nungkat, teman akrabnya. 

Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)

Saya masih ingat pula SMP Timonong yang waktu itu punya tim sepakbola hebat. Anak-anak SMP itu bahkan mampu mengalahkan orang-orang dewasa di kampung Nyarumkop. Ketika saya menyebut kisah itu, Yance tertawa lepas. “Itulah!” katanya. Dua kata itu seperti menyalakan kembali halaman sekolah, lapangan bola, suara sorak, dan wajah anak-anak muda yang pernah mengisi dunia kami.

***

Kemudian ingatan membawa saya ke Pahauman. Seusai lulus S-1, saya pernah menjadi narasumber majalah paroki. Di sana saya bertemu adik perempuan Yance, yang ketika itu masih SMA. Saya pun bertanya kepadanya tentang sang adik. Ia menjawab. Saya teringat pula bahwa Yance adalah anak Camat Mandor.

Aneh memang cara kenangan bekerja. Ia tidak datang sebagai cerita lengkap. Ia muncul melalui serpihan kecil yang selama bertahun-tahun tersimpan entah di mana. Sebuah gitar. Lapangan sepakbola. Theo Nungkat. Timonong. Pahauman. Seorang adik. Seorang camat. Semuanya tiba-tiba bertemu dalam satu malam, seperti sungai-sungai kecil yang akhirnya menemukan muaranya.

Mobil yang Memanggil Sejuta Kenangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (15)

Saya memandang Yance lebih lama. Di hadapan saya berdiri seseorang yang telah menempuh jalan panjang. Sementara di dalam kepala saya berlari seorang anak muda dengan rambut lebat dan langkah ringan, mengejar bola di lapangan Nyarumkop. Dua sosok itu seperti berdiri pada satu titik yang sama. Yang satu nyata. Yang satu hanya tinggal dalam ingatan. Namun keduanya memiliki mata yang sama.

Di situlah pertemuan tak terduga itu terasa begitu mengguncang. Kita mengira sedang bertemu seorang kawan lama, padahal yang datang kepada kita adalah bagian dari diri sendiri yang pernah kita tinggalkan.

Malam terus riuh oleh musik dan percakapan...
Lampu panggung menyapu kerumunan. Orang-orang masih tertawa dan saling memanggil. Namun bagi saya, reuni itu mendadak berubah menjadi ruang sunyi. Yance berdiri di sana, dan bersama dirinya seperti pulang pula gitar, lapangan Timonong, Theo Nungkat, Pahauman, serta wajah-wajah muda yang pernah mengisi hari-hari kami. Saya datang untuk bertemu banyak orang. Saya tidak pernah menyangka akan berjumpa dengan seorang anak muda yang ternyata masih hidup begitu utuh di dalam ingatan saya.

Baca Undangan Makan Malam Mgr. Agus: Tiga Puluh Orang dan Sebuah Jalan Kaki - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (12)

Ketika kami akhirnya berpisah, tidak ada kata-kata besar. Hanya jabat tangan dan senyum. Tetapi setelah ia pergi, saya terdiam. 

Ada sesuatu yang mengendap di dada. Mungkin itulah haru yang tak membutuhkan penjelasan. Kita bertemu seseorang setelah sekian lama, lalu sadar bahwa yang paling kita rindukan bukan semata-mata orangnya, melainkan diri kita sendiri ketika masih muda, ketika dunia terasa luas dan persahabatan belum mengenal kata berakhir.

***

Malam itu saya tidak sempat melihat bintang di langit. Saya telah bertemu sebuah bintang yang pulang dari masa silam. Namanya Yance. Ia datang tanpa janji, berdiri di depan saya, lalu pergi lagi. Tetapi sebelum pergi, ia seperti mengembalikan seorang anak muda yang pernah berlari di Nyarumkop. 

Dan ketika langkahnya menjauh di tengah musik yang masih riuh. Saya seperti mendengar suara dari lapangan yang sangat jauh. Seorang anak muda memanggil nama saya. 

Saya ingin menjawab. Tetapi suara itu berhenti di tenggorokan. Yang tersisa hanya rindu. Dan sepasang mata yang diam-diam tanpa terasa, basah.

Masri Sareb Putra

Jakarta, ketika senja  akan memeluk malan, 12/09-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.