Adversity Quotient | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (13)
![]() |
| Adversity Quotient: Salah banyak buku yang mengubah arah angin dan pandangan hidup saya. Ist. |
Ini buku luar biasa di masanya. Juga masa kini. Kelasnya sejajar dengan Emotional Intelligence (EQ) karya Daniel Goleman atau The 7 Habits of Highly Effective People besutan Stephen Covey.Lahir dari buah pikir Paul G. Stoltz, kitab kehidupan ini pertama kali beredar di Amerika Serikat pada tahun 1997 melalui penerbit John Wiley & Sons, Inc. Tebalnya 330 halaman, merentang dari Bagian I hingga lembar indeks paling belakang.
Baca 1001 Ways to Market Your Books | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (12)
Kehadirannya bagai badai yang mengguncang jagat raya. Di samping memikat para ahli psikologi, pustaka ini juga merambah ke dunia sains, humaniora, dan ilmu sosial lainnya. Pengaruhnya melegenda hingga mendunia.
Copy rights pada kami
Aroma buku bermutu tinggi ini akhirnya terendus oleh penciuman kami di PT Grasindo (Kompas Gramedia Group). Asli buku ini ada 3. Saya pegang satu buku. Untuk menilai sebuah buku punya prospek pasar Indonesia, perlu riset mendalam. Dan benar. Buku ini termasuk dalam bilangan "best seller" di masanya.
Waktu itu, saya memegang pundak tugas sebagai Acquisition Editor merangkap Managing Editor Bidang Nonfiksi. Begitu lembar demi lembar draf aslinya saya telusuri, naluri editor saya bergetar. Kami langsung sepakat untuk memboyong dan mengindonesiakan buku ini. Mengapa? Karena hasil penelisikan kami membuktikan adanya novelty, sebuah kebaruan yang membawa "sajian menu gizi" luar biasa bagi jiwa manusia.
Baca The Asian Drama | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (11)
Proses hukum dan administrasi segera dipacu. Saya bahu-membahu dengan Nora Suradi dari bagian Keuangan yang mengurus pembayaran copyrights secara legal. Setelah urusan hak cipta beres, maestro penerjemah T. Hermaya turun tangan menyalin bahasanya dengan sangat apik. Ketajaman pena editor Yovita Hardiwati kemudian menyempurnakannya menjadi sebuah buku utuh berjudul: "Adversity Quotient: Kecerdasan Mengatasi Hambatan". Buku ini terbit tahun 2.000. Sampul seperti aslinya.
Perjalanan mengawal buku ini mengukir riwayat yang amat mendalam dalam sanubari saya. Masih terbayang jelas, kawan-kawan dari bagian Pemasaran berkali-kali meminta saya berdiri di depan, membedah dan mempresentasikan isi buku ini. Kami berkumpul, berbagi bacaan, lalu berdebat dalam diskusi yang hidup.
Baca Hiroshima | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (10)
Tidak berhenti di dalam ruang kantor saja. Langkah kaki saya kemudian menemani Prof. Fawzia Aswin Hadis. Kami menjelajahi rimba korporasi dari perusahaan ke perusahaan di seantero Jakarta. Di hadapan para buruh dan pimpinan, kami mengupas tuntas sari pati buku ini, sekaligus mendapat kesempatan emas untuk mengukur langsung kadar skor Adversity Quotient (AQ) para karyawan di sana.
Saya merancang buku ini marketingnya langsung ke pemutus kebijakan, bukan menjual eceran. Hasilnya? Bagian Keuangan yang mencatat invoice dan menerima hasilnya.
Menu gizi utama: Tiga tipe manusia
Jika Anda membuka halaman 14 dan 15, di sanalah letak mustika dari seluruh kandungan gizi buku ini. Stoltz membelah mentalitas manusia ke dalam tiga golongan saat mereka menghadapi terjalnya lereng kehidupan:
- Quitter (Si Penyerah): Mereka adalah golongan manusia yang bermental rapuh dan gampang menyerah. Baru saja melihat tebing yang tinggi atau merasakan sedikit embusan angin dingin, nyali mereka langsung ciut. Mereka memilih berhenti, berbalik arah, lalu menyudahi perjalanan dengan tangan hampa.
- Camper (Si Berkemah): Mereka adalah orang-orang yang cepat merasa puas dengan hasil yang baru sekelumit. Mereka mendaki hingga pos tertentu, menemukan tempat yang agak rata dan nyaman, lalu memutuskan untuk mendirikan tenda di sana. Pikirannya pendek: cukuplah perolehan hari ini untuk hari ini. Mereka enggan memeras keringat lagi, malas menyiapkan hari depan, dan tidak mau tahu soal menabung untuk hari esok. Bagi mereka, kenyamanan sesaat adalah segalanya.
- Climber (Si Pendaki): Inilah sosok sejati yang matanya selalu menatap langit. Mereka tidak pernah puas dengan hasil yang telah diraih karena mereka tahu, puncak tertinggi masih berdiri angkuh di depan sana dan harus ditaklukkan. Seorang climber pantang diam. Jiwanya terus bergolak untuk tumbuh. Di dalam dadanya, tertanam prinsip hidup yang kokoh: Yang lalu good, yang sekarang better, yang akan datang best!
Buku yang mengubah
Kitab ini salah banyak yang benar-benar telah mengubah arah angin dan pandangan hidup saya. Jiwa saya ditempa oleh kesadaran baru bahwa di dalam setiap batu sandungan dan hambatan, justru di situlah tersembunyi peluang emas yang menantang untuk diatasi. Itulah watak sejati seorang climber. Watak yang saya yakini juga mengalir dalam darah Anda, para pembaca budiman tulisan ini.
Baca Master Your Mind, Design Your Destiny-nya Adam Khoo | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (7)
Setelah menimbang penuturan di atas, kini tibalah saatnya saya melontarkan satu pertanyaan tajam untuk kita renungkan bersama dalam kesunyian hati:
Di manakah posisi Anda berdiri? Anda termasuk tipe yang mana?
Masri Sareb Putra
Tangsel ketika gelap memeluk malam 26 Oktober 2026.

0 Comments