Hiroshima | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (10)
![]() |
| Hiroshima: Buku yang mengubah saya membaca dan mengemulasi Jurnalistik-Sastrawi. Ist. |
Dunia karang-mengarang bukanlah jagat yang sekali jadi. Ia adalah kawah candradimuka tempat pikiran diasah dan jemari dilatih untuk menangkap jenggala realitas. Begitu pula ketika saya berdiri di hadapan para mahasiswa. Menjadi pengajar mata kuliah Literary Journalism di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Surya University. Rentang tahun 2009–2015 adalah masa-masa penuh gairah intelektual.
Di ruang-ruang kelas yang tenang namun sarat perdebatan itu. Saya tidak hanya membagikan teori-teori kering yang bersumber dari diktat usang. Ada sebuah kitab yang kerap saya bawa di dalam tas. Sejilid buku kecil. Cuma buku mungil. Namun berdaya ledak raksasa di dunia literasi. Buku itu berjudul Hiroshima karya John Hersey.
Baca The History of Java | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (9)
Buku itu selalu saya letakkan di atas meja dosen. Menjadi pusat perhatian sebelum kuliah dimulai. Saya meminta mahasiswa untuk membedah. Menganalisis. Dan mempresentasikannya di depan kelas.
Namun, mengapa harus Hiroshima?
Berkanjang pada satu bidang jadi khatam
Dunia literasi dan kepenulisan tidak pernah melahirkan seorang empu secara instan. Kesetiaan pada proses dan ketekunan yang tak tergoyahkan adalah kunci utama. Ada sebuah prinsip hidup yang selalu saya pegang teguh dan saya tularkan kepada para mahasiswa: berkanjang pada satu bidang jadi khatam. Ungkapan ini bukan hiasan bibir belaka. Ia adalah sebentuk maklumat filosofis bahwa penguasaan mutlak atas suatu keahlian hanya bisa dicapai ketika seseorang berani menenggelamkan diri secara total. Fokus. Setia. Dan konsisten mengulik bidang yang digelutinya hingga tuntas ke akar-akarnya.
Baca Sam Walton, Biografi Nir-gambar yang tidak Biasa | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (8)
Prinsip berkanjang hingga khatam inilah yang dipraktikkan dengan sempurna oleh John Hersey ketika ia menyusun adikarya bertajuk Hiroshima. Pustaka berguna yang tidak datang sebagai pelancong kata melintas lalu pergi membawa sekeranjang kesan permukaan.
Hersey menenggelamkan seluruh indra dan naluri jurnalistiknya ke dalam palung penderitaan para korban. Ketekunannya membedah satu peristiwa kemanusiaan secara total telah menempatkan namanya sebagai begawan dalam sejarah jurnalisme dunia. Di ruang kelas. Konsep kesetiaan berkanjang inilah yang saya jadikan batu pijakan untuk membuka cakrawala berpikir para mahasiswa.
Pertanyaan mengenai esensi tulisan yang mendalam itu kerap muncul dari tatapan mata para mahasiswa yang haus akan ilmu baru. Jawabannya sederhana namun mendalam. Buku yang awalnya terbit sebagai edisi khusus majalah The New Yorker pada Agustus 1946 ini adalah contoh terbaik penggabungan fakta dan sastra. Sesuatu yang kita kenal sebagai literary journalism atau creative nonfiction.
Baca Master Your Mind, Design Your Destiny-nya Adam Khoo | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (7)
Di sinilah mahasiswa belajar bahwa jurnalisme tidak selamanya harus kaku dan dingin.
Hersey bukanlah pendekar kata-kata yang mengawang-awang di alam imajinasi liar. Ia adalah seorang jurnalis sejati. Lahir pada 17 Juni 1914 dan wafat pada 24 Maret 1993. Hersey melangkah ke medan laga jurnalisme dengan modal pengalaman yang matang sebagai koresponden perang dunia kedua untuk majalah Time dan Life.
Modal empiris dan jam terbang tinggi inilah yang membuatnya mampu melihat apa yang luput dari pandangan mata orang awam. Ketika bom atom berkekuatan dahsyat menjungkirbalikkan kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Dunia hanya disuguhi angka-angka statistik kematian yang dingin dari pihak militer. Namun, Hersey menolak tunduk pada cara pandang penguasa. Ia turun ke puing-puing kota yang masih berasap. Menemui manusia-manusia yang remuk redam oleh radiasi.
Di muka sebuah ruang-kelas. Saya selalu menantang mahasiswa untuk melihat melampaui lembaran kertas. Hiroshima bukan hanya laporan tentang sebuah bom yang meledak. Ia adalah laporan tentang kemanusiaan yang koyak.
Baca Dibawah Bendera Revolusi| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (5)
Ketika narasi itu ditulis dengan kekuatan sastrawi yang prima. Garis batas antara realitas objektif dan lembar-lembar kertas mendadak hilang seketika. Mahasiswa tidak lagi melihat teks sebagai susunan huruf mati. Mereka seolah mendengar jeritan para korban di sepanjang Sungai Ota. Mereka merasakan hawa panas yang membakar kulit. Inilah sihir fiksi yang diterapkan dalam dunia jurnalisme. Sebuah jurnalisme yang bernyawa. Literary of facts!
Enam jurus pamungkas pendekar kata John Hersey
Dalam dunia persilatan penulisan kreatif. Setiap pengarang besar memiliki jurus rahasia untuk menggetarkan hati pembacanya. John Hersey menggunakan enam parameter utama yang kemudian menjadi bahan analisis wajib bagi mahasiswa saya.
Jurus pertama adalah pendekatan naratif yang luar biasa kuat. Hersey tidak menyajikan berita dengan rumus piramida terbalik yang kaku. Ia menyusun kronologi dengan tensi drama yang terjaga rapi. Pembaca diajak mengikuti keseharian para tokoh beberapa jam sebelum langit Hiroshima terbelah oleh kilatan cahaya maut. Tensi dibangun perlahan. Membuat jantung berdegup kencang sebelum bencana sesungguhnya tiba.
Jurus kedua adalah ketelitian fakta yang tanpa kompromi. Jurnalisme sastrawi bukanlah fiksi bebas hambatan tempat pengarang bisa mengarang indah semaunya. Hersey melakukan wawancara mendalam selama berminggu-minggu dengan enam orang korban yang selamat atau hibakusha. Poin ini selalu saya tekankan kepada mahasiswa. Keindahan kalimat tidak boleh dibangun di atas kebohongan. Akurasi data adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Baca Permainan Bulan Desember, Mira W. | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (4)
Jurus ketiga adalah pemberian suara yang adil pada narasumber. Hersey memilih enam sosok manusia biasa yang mewakili keberagaman sosial di Hiroshima. Ada seorang sekretaris muda bernama Toshiko Sasaki. Ada seorang penjahit janda bernama Hatsuyo Nakamura. Ada dua orang dokter yaitu Dr. Masakazu Fujii dan Dr. Terufumi Sasaki. Serta dua orang pemuka agama yaitu Pastor Wilhelm Kleinsorge dan Pendeta Kiyoshi Tanimoto. Dengan memfokuskan cerita pada manusia-manusia ini. Hersey memberikan dimensi manusiawi yang sangat kental. Pembaca tidak lagi melihat mereka sebagai angka kematian. Melainkan sebagai sesama manusia yang memiliki nama. Keluarga. Dan masa depan yang mendadak sirna.
Jurus keempat adalah struktur cerita polifonis yang mengagumkan. Hersey membagi bab-bab bukunya berdasarkan fragmen kehidupan masing-masing tokoh secara bergantian. Mahasiswa diajak berdiskusi mengenai teknik menjahit cerita ini. Bagaimana menggeser sudut pandang dari satu tokoh ke tokoh lain tanpa membuat pembaca kehilangan arah. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang memperkaya kualitas naratif.
Jurus kelima adalah bahasa deskriptif yang visual namun terkendali. Hersey tidak menggunakan kata-kata yang mendayu-dayu atau hiperbolis. Ia menulis dengan lugas. Namun setiap kata yang dipilih sanggup melukiskan pemandangan mengerikan dengan presisi yang tajam.
Baca Baca Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (3)
Jurus keenam yang paling sulit ditiru adalah ketidakberpihakan atau detachment. Meskipun Hersey menaruh empati yang luar biasa besar pada para korban. Ia tidak mengutuk keadaan secara terang-terangan di dalam teks. Ia tidak menceramahi pembaca mengenai moralitas politik internasional atau kekejaman tentara Amerika. Hersey menjaga jarak aman yang sangat profesional. Ia bersikap netral. Ia membiarkan kekejaman fakta itu sendiri yang berbicara keras ke dalam sanubari pembaca. Mahasiswa yang melakukan presentasi di kelas sering kali tertegun ketika menyadari bahwa tulisan yang paling menguras air mata justru adalah tulisan yang ditulis dengan kepala dingin tanpa ratapan dari sang penulis.
Merajut bahan ajar sebilah kitab
Tahun-tahun berlalu di koridor Universitas Multimedia Nusantara dan Surya University. Catatan-catatan kuliah itu kian menebal. Bahan ajar yang telah diuji berkali-kali di hadapan ratusan mahasiswa tidak boleh dibiarkan mengendap begitu saja sebagai tumpukan kertas semata di pojok lemari kerja. Ada tanggung jawab moral sebagai seorang penulis untuk mengabadikan pemikiran tersebut ke dalam bentuk yang kekal.
Kalimat magis Horatius selalu mendengung di telinga saya: dulce et utile. Sastra dan tulisan haruslah indah sekaligus mendatangkan manfaat nyata bagi pembacanya. Cuma itu fungsi tujuannya. Cuma itu!
Maka pada tahun 2010. Seluruh materi kuliah. Diktat terperinci. Dan catatan kritis dari ruang kelas itu saya matangkan dengan sungguh-sungguh. Saya menjahitnya menjadi sebuah naskah buku yang utuh dan sistematis.
![]() |
| Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi: Pasti bukan yang terbaik, namun yang pertama dalam genrenya. Ist. |
Pengalaman saya dalam dunia penulisan membuktikan bahwa menulis itu tidak memakan waktu lama asalkan bahan-bahannya sudah tersedia dengan lengkap di tangan. Langkah selanjutnya hanyalah merangkai serpihan-serpihan gagasan tersebut secara metodologis dan menjahitnya menjadi secetak buku yang siap dibaca dunia.
Naskah yang lahir dari rahim akademis ini kemudian dilirik oleh Salemba Humanika. Salah satu penerbit buku akademis terkemuka dan disegani di Indonesia. Saya memberi judul buku tersebut Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi. Sebuah judul yang tidak hanya memikat rasa ingin tahu tetapi juga menantang nyali para calon jurnalis untuk berpikir kritis dan berani di lapangan. Dalam proses penyusunan buku ini. Saya tidak berjalan di ruang hampa. Saya menggunakan Manual Wartawan Tempo sebagai acuan utama dan kompas penulisan saya. Manual tersebut dipadukan dengan teori-teori jurnalisme kontemporer yang paling mutakhir.
Baca The Joy of Not Working | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (2)
Buku Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi terbit dengan ketebalan 194 halaman Pada edisi perdana. Penerbit melakukan cetak sebanyak 3.000 eksemplar. Sebuah jumlah yang cukup signifikan untuk sebuah buku teks yang bergerak di ceruk genre yang spesifik.
Buku ini menjadi salah satu karya pionir yang mengulas tuntas mengenai teknik. Pola-pola. Dan struktur jurnalisme sastrawi dengan menggunakan mahakarya Hiroshima milik John Hersey sebagai pisau analisis utamanya [Query-relevant Context]. Saya ingin berbagi ihwal kekuatan kata-kata (the power of words) melalui buku ini. Buku ini disusun tanpa obral gambar di bagian dalamnya. Menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk membangun imajinasi mereka sendiri berdasarkan narasi tekstual yang kuat dan bertenaga.
Arah angin berubah arah: Ketika Hiroshima menjadi patok-duga
Bagi seorang pengarang dan jurnalis yang telah mengarungi dunia tulis-menulis selama puluhan tahun. Buku adalah cerminan dari perjalanan jiwa. Kehadiran buku Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi di tengah masyarakat literasi bukan hanya menambah deretan panjang daftar karya yang telah saya hasilkan. Lebih dari itu.
Proses panjang dari membaca Hiroshima. Mengajarkannya kepada mahasiswa di UMN dan Surya University. Hingga merumuskannya menjadi sebuah kitab panduan adalah sebuah proses spiritual yang mengubah arah angin jalan hidup dan pandangan hidup saya secara mendasar.
Ada sebuah pepatah kuno yang selalu saya ingat sejak masa muda: one picture is worth a thousand words. Sebuah foto mampu mewakili seribu kata. Namun setelah mendalami struktur jurnalistik sastrawi melalui analisis terhadap metode John Hersey. Adagium kuno itu seakan-akan runtuh seketika di hadapan saya.
Tidak ada lagi ketergantungan mutlak elemen grafis pada gambar untuk menyampaikan sebuah kebenaran emosional yang mendalam. Kata-kata yang dirangkai dengan disiplin tinggi. Kejujuran fakta. Dan keindahan estetika ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada selembar foto yang bisa usang dimakan waktu. Kata-kata mampu menembus batas waktu dan ruang. Membawa pembaca masa kini melompati puluhan tahun ke masa lalu untuk memetik pelajaran moral yang berharga.
Membawa kitab Hiroshima ke ruang kuliah dan menuangkannya ke dalam buku panduan jurnalisme adalah upaya nyata untuk menyalakan lilin di tengah kegelapan. Daripada mengutuk keadaan atau mengeluhkan rendahnya mutu literasi.
Saya memilih untuk bertindak melalui karya nyata. Melalui presentasi-presentasi mahasiswa di kelas yang kini substansinya telah abadi dalam lembaran-lembaran buku setebal 194 halaman itu. Kita diajak untuk memahami kembali pandangan Cicero mengenai sejarah. Sejarah adalah memori kehidupan. Pemahaman peradaban. Pelajaran moral. Dan penyemangat bagi generasi masa depan.
Baca Dayak Writing from Within
Ketika jurnalisme tidak lagi hanya mengejar kecepatan klik atau sensasi sesaat. Ia menjelma menjadi sebuah karya seni yang agung. Hiroshima telah mengajarkan kepada saya. Dan melalui saya kepada mahasiswa-mahasiswa saya. Bahwa tugas utama seorang jurnalis sastrawi adalah menjadi saksi sejarah yang menyuarakan mereka yang tak bisa bersuara.
Buku Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi kini berdiri sebagai monumen kecil dari sebuah idealisme akademis yang meyakini bahwa tulisan yang baik akan selalu menemukan jalannya untuk menginspirasi dunia. Karena pada akhir kisah.
Literary Journalism: Jurnalistik Sastrawi. Pasti bukan yang terbaik. Namun yang pertama dalam genrenya. Maka digunakan di mana-mana, terutama perguruan tinggi top swasta dan negeri di Jakarta. Juga di Indonesia.
Verba volant, scripta manent
Verba volant, scripta manent. Kata-kata yang terucap akan terbang bersama angin, tapi yang tertulis akan abadi dan tetap tinggal.
Baca Writing Skill sebagai Salah Satu Materi Sekolah Kepemimpinan dan Konglomerasi Koperasi (SK-3)
Manusia, para saksi sejarah, bahkan peradaban bisa saja berganti dan menemui ajalnya. Namun, ketika sebuah kebenaran dan keindahan berhasil diabadikan lewat goresan tinta jurnalistik sastrawi, ia tidak akan pernah bisa dimusnahkan oleh waktu. Ia akan terus hidup. Melintasi generasi. Memintas sepi. Dan menyalakan lilin kesadaran di kepala siapa saja yang membacanya.
Masri Sareb Putra
Tangsel malam 21/10-2026.


0 Comments