Dibawah Bendera Revolusi| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (5)
![]() |
| Di bawah Bendera Revolusi: "mencuri baca kitab ayah" sejak SD. Ist. |
Jauh tinggi sekali melayang-layang…..
– Koes Plus
Ayah dan lembaran kertas untuk layang-layang
Di depan jasad ayah yang terbaring kaku. Pikiran saya justru berkelana jauh. Beliau disemayamkan di ruang tengah rumah besar kami di kampung. Peristiwa itu terjadi ketika almanak menunjukkan masa pertengahan Maret 2023.
Di antara suasana duka yang khusyuk itu. Pintu memori saya mendadak melompat kembali ke masa bocah.
Baca Permainan Bulan Desember, Mira W. | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (4)
Masa ketika saya, sebagai anak kampung. Begitu gila bermain layang-layang. Dan di sinilah ironinya: lembar buku kesayangan ayah yang kini menjadi warisan berharga itu, nyaris saja tamat menjadi bahan layang-layang saya.
Awal tahun 1970-an. Saya masih duduk di kelas kecil sekolah dasar dan baru saja lancar membaca-tulis. Obsesi terbesar saya saat itu adalah membuat layang-layang sendiri. Bahannya dari mana? Mata kecil saya melirik tumpukan kertas milik ayah.
Sebagai seorang pegawai kantor di ibukota kecamatan sekaligus juru ketik paruh waktu, ayah memiliki banyak tumpukan kertas. Beliau mengetik dengan 11 jari (untuk menyebut mengetik menggunakan satu telunjul kiri dan satu telunjuk kanan) menggunakan mesin tik tua. Jika tinta pitanya sudah kusam, ketikannya bisa sampai menembus kertas. Atau meninggalkan jejak tebal lewat kertas karbon. Tak terlupa!
Baca Baca Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (3)
Suatu hari. Saya kehabisan bahan. Diam-diam. Saya naik loteng. Mengambil kertas ayah dari tumpukan yang agak di tengan-tengah agar tidak ketahuan. Namun, taktik itu gagal. Untuk urusan kertas penting, ayah adalah pengawas yang jeli. Aksi saya ketahuan dan langsung dieksekusi di tempat karena tertangkap tangan. Kulit perut saya dicubit dan dipelintir oleh tangan kekar ayah. Hngga saya meringis menahan perih. Rasanya mau berdarah.
Menemukan siapa Bima (nama pena Bung Karno) pada pojok ruang keluarga
Efek jera itu membuat saya memutar otak saat kehabisan bahan lagi di kemudian hari. Alih-alih menyentuh tumpukan kertas ketikan. Mata liar saya tertuju pada deretan buku tebal yang terletak di samping radio transistor merek "Tjawang". Suatu tempat sakral yang biasa ayah bangun pagi jam 05.00 subuh untuk mendengarkan siaran Radio Australia, Suara Indonesia dari Melbourne.
Di pojok ruang keluarga itulah. Saya menemukan sebuah buku yang sangat tebal. Pikiran nakal anak-anak saya langsung menghitung: jika saya merobek buku ini mulai dari tengah-tengah jahitannya, saya bisa membuat puluhan layang-layang besar dengan lem yang dibuat dari potongan dahan sagu.
Baca The Joy of Not Working | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (2)
Namun, rasa ingin tahu yang tinggi menahan jemari saya untuk merobeknya. Saya memutuskan untuk "mencuri baca" isinya terlebih dahulu. Judulnya tertulis jelas: Dibawah Bendera Revolusi. Setitik kurang tipografi yang baru saya sadari di kemudian hari (mestinya ditulis terpisah: Di Bawah). Namun maknanya tetap berdaya-dobrak. Tak mengubah daya magisnya yang menggetarkan sebagaimana ia berbpidato!
Begitu lembar demi lembar dibuka. Buku itu memamerkan banyak karikatur yang memikat mata bocah saya. Isinya penuh dengan agitasi yang membakar semangat: Merdeka! Merdeka! Merdeeekaaaa! Sebuah seruan perlawanan rakyat semesta melawan kolonial Belanda.
Sihir tulisan itu bekerja seketika. Saya keterusan membaca, terhanyut oleh kekuatan kata-atas, hingga muncul rasa sayang yang teramat sangat untuk merobeknya.
Hal yang menari dari buku itu: banyak gambar kartunnya yang sangat menarik. Imajinasi anak-anak saya liar sekonyong-konyong melihatnya. Bagai kartun itu bisa bicara. Beberapa serasa mengejek.
Melalui lembaran-lembaran yang nyaris jadi layang-layang itulah. Saya pertama kali berkenalan dengan sosok Bung Karno. Bukan hanya sebagai orator ulung yang suaranya menggelegar di radio, melainkan sebagai seorang penulis hebat yang ternyata sebelum merdeka sudah menjadi penulis hebat di Surabaya ketika masih siswa. Ia belajar dari HOS Tjokroaminoto.
Baru puluhan tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 2001 saat memperingati seabad Bung Karno. Saya benar-benar mafhum akan nilai sejarah dari apa yang saya baca di masa kecil.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Saat itu. Saya dipercaya menjadi Ketua Tim Penerbitan buku Bung Karno untuk kelompok Penerbitan Gramedia, bekerja sama dengan Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno. Kami mengolah (mulai dari memilah lembar demi lembar dan mengeti kembali) hampir semua berkas pidato lengkap, tulisan tangan, hingga kliping artikel pra-kemerdekaan.
Dari sanalah saya tahu bahwa sebagian besar isi buku Di Bawah Bendera Revolusi adalah kumpulan artikel Bung Karno saat menggunakan nama pena "Bima" waktu di Surabaya, sebuah nama samaran warisan dari mentornya, HOS Tjokroaminoto, agar tidak diciduk kompeni Belanda, meski pada akhirnya pembelaan "Indonesia Menggugat" di pengadilan Bandung tetap menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan.
Kerja keras tim kami saat itu berhasil melahirkan empat jilid buku penting:
1. Bung Karno: Gerakan Massa dan Mahasiswa
2. Bung Karno dan Wacana Islam
3. Bung Karno dan Tata Dunia Baru
4. Bung Karno dan Wacana Revolusi
Pelajaran dari Bung Karno: Nyalakan lilinmu, jangan mengutuk kegelapan
Dari buku tebal ini, saya memetik pelajaran hidup yang teramat dalam. Saya belajar memahami bahwa Bung Karno bagai lilin, sosok yang rela perlahan-lahan meleleh, bahkan habis terbakar, demi memberi penerangan dan kehidupan bagi banyak orang. Lembar demi lembar pemikirannya mengajarkan saya sebuah prinsip fundamental: jangan pernah mengutuk kegelapan. Sebaliknya, nyalakanlah lilinmu sendiri, dan jadikan ia sumber terang bagi orang lain di sekitarmu. Melalui tulisan-tulisannya yang membakar semangat itulah, fondasi berpikir saya terkait kebangsaan, patriotisme, dan cinta yang mendalam kepada bangsa ini mulai terbangun dan mengakar kuat.
Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia
Mata bocah saya saat itu menjelajahi isi tulisan Bung Karno yang luar biasa luas. Saya mengeksplorasi bagaimana beliau merajut konsep Marhaenisme, membela hak-hak rakyat kecil yang tertindas agar bangkit melawan ketidakadilan.
Melalui bab demi bab buku Dibawah Bendera Revolusi. Saya menemukan ulasan tajamnya mengenai nasionalisme yang tidak sempit, sebuah pandangan yang menempatkan kemerdekaan Indonesia bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jembatan emas menuju keadilan sosial dunia.
Pemikirannya mengeksplorasi harmoni gerakan, menyatukan napas Islam, Nasionalisme, dan Marxisme demi satu tujuan tunggal: meruntuhkan belenggu kolonialisme. Buku itu bukan hanya catatan sejarah biasa, tetapi juga manifesto hidup yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa sebuah ideologi yang ditulis dengan darah dan ketulusan tidak akan pernah mati dimakan zaman.
Di balik toleransi diam-diam seorang ayah
Bertahun-tahun setelah masa kecil yang nakal itu berlalu.
Saya pernah memberanikan diri bertanya kepada ayah, "Apakah omang (ayah) tahu kalau dulu seorang bocah belum cukup umur sering mencuri baca buku orang dewasa Dibawah Bendera Revolusi?"
Ayah tersenyum hangat. "Tahu," katanya tenang. "Sengaja omang tidak marah. Kamu memang anak yang rongkau (agak sulit menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, kata gabungan: iseng, jahil, dan cerdik itu).
"Kenapa ayah tak melarang?"
Pertanyaan ini tak dijawabnya. Ayah hanya mengulas senyum jenaka khasnya. Penuh teka teki. Mungkin ingat dulu ketika usia saya, beliau pun rongkau!
Kenangan itu berputar cepat di kepala saya saat memandangi wajah damai ayah yang kini telah tiada. Ayah tahu kapan harus menjatuhkan hukuman cubitan di perut untuk selembar kertas dokumen yang rusak dan bila pula harus pura-pura buta demi membiarkan anaknya menjelajahi dunia lewat membaca.
Penerbit dan Percetakan Lembaga Literasi Dayak (LLD) Perluas Jejaring Literasi Dayak di Sarawak Literature Festival 2026
Di bawah asuhan didikan dan toleransi diam-diam dari ayah, "pencurian membaca kitab pusaka" itu tidak melahirkan seorang kriminal, melainkan seorang penggila baca. Seorang bibliofili yang di masa dewasa menemukan jalan takdir literasi yang sebenarnya telah menjadi aanleg dirinya sejak bocah.
Buku Di Bawah Bendera Revolusi itu gagal menjadi layang-layang yang melayang tinggi di langit kampung. Namun, lewat tangan ayah yang membiarkannya tetap utuh. Kitab buku itu telah menerbangkan pikiran dan pandangan hidup saya jauh lebih tinggi dari layang-layang mana pun di dunia.
Tangsel senjakala yang mulai dipeluk malam 19-10-2026.

0 Comments