Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (3)

 

Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya
Ali Topan Anak Jalanan: salah banyak buku yang mengubah arah angin dan pandangan hidup saya. Ist.

Buku bukanlah benda mati yang terpenjara dalam tumpukan kertas beraksara. Pustaka itu adalah detak jantung yang melintasi ruang. Sebuah mesin waktu yang melompati zaman. Sekaligus kompas senyap yang menuntun arah pulang. 
Bagi saya. Roman Ali Topan Anak Jalanan bukan lagi hanya riak romansa remaja Jakarta yang saya lahap secara sembunyi-sembunyi di bawah kolong meja bangku SMA Nyarumkop pada tahun 1978 silam. 

Baca The Joy of Not Working | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (2)

Novel menjadi titik balik semesta

Novel tersebut telah menjelma menjadi sebuah titik balik semesta. Sebuah entitas literer yang bergemuruh dan berhasil mengubah arah angin serta pandangan hidup saya untuk selamanya. Di tengah kesunyian Nyarumkop kala itu ujung tahun 1970-an.

Lembar demi lembar buku ini meniupkan roh baru. Mengubah anak sekolah yang naif menjadi seorang pencari jiwa.

Baca First Things First| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (1)

Lewat kelihaian jemari Teguh Esha. Saya tidak hanya disuguhi seuntai jalinan cerita, tetapi dipaksa untuk berdiri di depan cermin besar kehidupan. Tokoh Ali Topan meruntuhkan tembok stereotipe tentang moralitas yang kerap kali dibangun dengan keangkuhan yang kaku. 

Dari debu jalanan Blok M dan aspal panas Jalan Bulungan,  setting roman ini mengambil tempat. Ali Topan mengajarkan saya arti sejati dari sebuah integritas. Sebuah kemerdekaan berpikir yang mutlak. Dan kepedulian sosial yang lahir murni dari rahim empati, bukan dari topeng kepalsuan sosial. 

Pustaka yang bagi saya bukan hanya buku ini menanamkan benih kesadaran dini di kepala saya yang saat itu masih ranum. Sejilid kata-kata berbisik. Bahwa dunia ini teramat luas, penuh dengan gradasi warna yang tak terduga. Sebuah wilayah nirbatas. Yang tidak akan pernah bisa dihakimi hanya dari kulit arinya yang rapuh. Pandangan hidup saya yang semula berjalan linear dan patuh, perlahan mulai bergeser, meluas, dan bergolak mencari kedalamannya sendiri.

Proyeksi diri dan jiwa ksatria sang idola

Ada magis yang pekat ketika mata saya pertama kali menatap ilustrasi di dalam novel itu. Guratan garis yang membentuk wajah si Ali Topan seketika mengkristal menjadi idola, sebuah jangkar bagi imajinasi masa muda saya. 

Baca Justina Hendry| Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Biografi Rasa Novel

Wajah digurat lalu digubah dengan begitu kokoh dan kontradiktif oleh sang pengarang. Ia dilukiskan sebagai pemuda yang seakan-akan kasar. Bermuka keras, bandel, serta gemar menantang arus otoritas orang tua maupun guru. Namun, ketika kita berani menyelami samudera batinnya dan mengenalnya dengan karib. Ia sosok sesungguhnya adalah seorang ksatria sejati yang luar biasa manusiawi. Seorang yang menyimpan kelembutan hati yang tak terperikan di balik jaket kumalnya.

Lembar demi lembar novel itu menghidupkan lakonnya dengan begitu berdenyut. Hingga entah mengapa? Nurani saya yang rapuh kala itu memproyeksikan diri sepenuhnya bagai si Ali Topan. 

Saya melihat diri saya pada luka dan tawanya. Bahkan hingga ke ranah fisik yang kasat mata, model rambutnya yang ikal gondrong dan acak-acakan itu pun saya tiru dengan penuh kebanggaan, seolah rambut itu adalah mahkota dari kebebasan yang saya elu-elukan.

Baca Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)

Tanpa pernah saya nyana, buku kumal yang saya selipkan di antara buku pelajaran itu diam-diam sedang merajut takdir baru. Ia memutar kemudi hidup saya. Mengubah mata angin masa depan yang semula tak tentu arah. Pengaruh Ali Topan tidak berhenti sebagai kenangan masa remaja. Ia terus menuntun langkah kaki saya menyusuri jalan sunyi sebagai seorang pengarang novel. 

Seutas jalan sunyi yang acap kali diwarnai dengan darah, cucuran keringat serta derai air mata kepenulisan. Pada galibnya membawa nama saya dipahat dalam tinta emas buku Leksikon Susastra Indonesia (2000: 390) sebagai salah satu pendukung  "Angkatan 2.000 dalam Sastra Indonesia". Sebuah pencapaian tertinggi yang seluruh akarnya tumbuh subur dari sebuah buku perpustakaan sekolah di Nyarumkop puluhan tahun lampau.

Air mata saya kerap jatuh jika mengingat betapa ajaibnya takdir ini. Terima kasih, Ali Topan! Engkau telah memahat jiwaku, membentukku, dan mengajariku cara berdiri tegak di dunia yang ternyata kerap miring ini!

The theatre of mind yang abadi

Hassat untuk menjadi seorang penenun kata, seorang penyihir aksara seperti Teguh Esha, lahir dari rahim kekaguman yang teramat dalam pada karya monumental ini. Sastra ternyata memperlihatkan mukjizatnya yang paling murni kepada saya. 

Bagaimana mungkin? 

Pengalaman hidup seorang tokoh fiktif yang lahir dari goresan tinta di atas kertas putih, bisa meresap begitu menghunjam ke dalam dada? Ia menyatu dengan aliran darah saya. Berbaur dengan napas saya. Seolah-olah menjelma menjadi bagian dari biografi spiritual saya sendiri. 

Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia

Karya sastra menghapus batas antara yang nyata dan yang maya. Ketika seayat syair lagu di akhir novel itu berkumandang dengan lirih, ia tidak sedang menutup riwayat cerita Ali Topan. Ia justru sedang mengetuk dan membuka pintu-gerbang kesadaran yang teramat megah di dalam dada saya. Tentang betapa sakral dan indahnya semesta kepenulisan.

Kini, waktu telah menua dan puluhan tahun telah melesat pergi bagai anak panah. Kata-kata di dalam buku tua itu tetap sama. Tanpa bergeser satu milimeter pun. Tidak berubah satu huruf pun sejak pertama kali mesin cetak melahirkannya. 

Ali Topan idola: karena itu, ingin meniru habis asli model rambutnya.
Ali Topan idola: karena itu, ingin meniru habis asli model rambutnya. Dokpri.

Acap kali jemari saya yang menolak berkerut karena seminggu sekali dilulur dengan daun halus kelor ini membuka kembali lembaran-lembarannya. Laksana momen déjà vu yang mengharukan di sebuah rest area sunyi jalur Malang-Banyuwangi. Pada ketika saya selalu menemukan diri sebagai manusia baru. Diri saya yang sedang menangis memeluk masa lalu. Dan Ali Topan tetap setia, seperti dulu. Ia mengubah total cara saya memandang dunia yang fana ini. 

Semesta mempertemukan kami (dengan Ali Topan dalam roman Teguh Esha) di sebuah perhentian bus antara Malang dan Bali. Kala itu seingat saya tahun 1999. Di sebuah kedai makan yang apik, tempat para pengelana melepas penat dengan harga terjangkau. Sebelum pelayan mencatat pesanan makanan, takdir lebih dulu mencatat babak baru hidupku. Di meja depan dekat kasir, beberapa jilid novel dipajang seperti sebuah undangan rahasia.

Tanpa berpikir dua kali. Jemari tangan saya bergerak sendiri merenggut roman Ali Topan. Saya langsung membayar harganya ke kasir, seolah takut buku itu akan lenyap jika saya menunda sedetik saja. Di tengah riuh rendah suara mesin bus dan denting sendok restoran, saya berdiri terpaku memandangi buku di tangan: Ali Topan Anak Jalanan!

Bagaimanapun, sosok Ali Topan idola saya ketika muda (sehingga kini pun masih). Idola, secara etimologi dari kata Yunani: eidōlon yang harfiahnya berarti: bayangan, pantulan. Namun, dalam pergeseran makna, terutama latin "idolum" maknanya menyempit menjadi "berhala". Apa pun, idola adalah sosok yang kita kagumi dan ingin menjadi seperti.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Dan lewat keajaiban sastra pula.  Pada ujung perjalanan panjang yang nyaris melelahkan ini. Saya akhirnya berhasil menemukan jalan pulang untuk memeluk diri saya, yang sejati.

Tangsel pagi yang cerah 19-10-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.