Justina Hendry| Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Biografi Rasa Novel
![]() |
| Menulis biografi tidak lama, yang lama: riset, wawancara, dan mengumpulkan bahannya. Ist. |
Biografi itu lahir seperti kilat yang menyambar di puncak gunung. Tidak direncanakan, tanpa taktik yang digubah jauh-jauh hari. Semua bermula dari jagat maya; sebuah ruang tak berwujud bernama WhatsApp Group Buku Kenangan 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).
Di sana. Sepasang mata tua saya menangkap siluet karakter seorang pendekar wanita modern. Justina namanya. Gerak-geriknya proaktif. Langkahnya serba-terukur. Ia adalah seorang evaluator yang lihai.
Baca Justina Hendry, Born for Adversity: Bukan Biografi Biasa
Dalam hati, saya langsung menandainya, “Ini dia! Seorang perfeksionis sejati. Wataknya ‘aku banget’. Seorang bekerja dengan target, mencengkram tenggat waktu, dan menuntut hasil yang sempurna tanpa cacat!”
Sungguh mati! Saya merasa suka dan bergairah sejak awal untuk menuliskan riwayat hidup sosok yang unik ini.
Biografi yang mengalir begitu saja tanpa renana
Maka, takdir pun mulai menenun benangnya. Kami dipertemukan di alam nyata, di bawah langit Nyarumkop yang magis, saat perayaan 110 Tahun PKN pada 4–6 September.
Baca Arswendo dan Saya Mengarang Itu Gampang!
Begitu berhadapan, rasanya seperti dua pesilat tangguh yang langsung mengenali getaran energi masing-masing. Klik! Singkat dan lekas akrab. Kesan pertama tidak menipu: ia adalah smart people, otak encer, namun memiliki watak saklek; sebuah batu karang yang ditempa oleh kerasnya budaya Amerika.
Malam pun jatuh pada tanggal 4 September. Saya mengajaknya bertandang ke kediaman sang guru agung, Uskup Mgr. Agustinus Agus, dengan ditemani oleh Bruder Cimes yang setia. Kami berjalan kaki, membelah malam dari area tenda dan lapangan menuju rumah uskup. Di sepanjang jalan itulah. Rahasia alam mulai terbuka satu per satu.
Sungguh mencengangkan. Kawan dia ternyata adalah kawan saya juga! Entah itu mahasiswa, entah itu dosen. Dan yang paling membuat jagat bergetar: sang belahan jiwa saya rupanya sama-sama keturunan Tio Ciu! Asal moyangnya dari Segedong,
Sejak detik itu, relasi kami melesat melampaui sekadar kenalan. Kami saling dukung bagai saudara kandung yang lama terpisah oleh samudra.
Puncaknya terjadi pada Misa Penutupan, 6 September. Di dalam rumah ibadah yang agung itu, Justina duduk di bangku paling depan, menuntun dan mendampingi ibundanya dengan penuh kasih sayang dan takzim.
Saya yang duduk persis di belakangnya terenyak. Pemandangan itu menggetarkan sanubari saya. Jiwa kepenulisan saya bergejolak! Tanpa menunda waktu, saya goreskan satu narasi tajam di laman dayaktoday.com.
The Secrets of Writeprneurship Berbagi Pengalaman Hidup dari Menulis
Itu baru pemanasan. Setelahnya, mengalirlah serial "Kisah Kasih di Sekolah PKN" hingga mencapai ratusan artikel. Ada satu foto Justina mengenakan seragam abu-abu putih; foto itu saya pinjam rohnya, saya narasikan dengan penuh daya magis, lalu dimuat.
Saya juga memburu jawaban atas teka-teki: siapakah alumni yang berkelana paling jauh? Jawabannya tak lain adalah Justina, yang terbang jauh dari Los Angeles, Amerika Serikat! Namun, saat itu, belum terbersit sedikit pun pikiran untuk membukukan riwayat hidupnya menjadi sebuah biografi.
Tiga minggu yang menguras waktu
Hingga akhirnya. Tiga minggu yang lalu. Sebuah desakan mistis membuat saya melontarkan usul:
“Gimana jika saya bikinkan biografimu?”
“E... boleh,” jawabnya singkat namun mantap.
Bagai botol bertemu tutup! Justina kemudian berkisah bahwa 16 tahun yang lalu, sang suami tercinta sebenarnya sudah mengusulkan agar riwayat hidupnya dibukukan. Usul saya bagaikan menyalakan kembali api yang sempat padam. Maka mulailah genderang perang kreativitas ditabuh! Kami berkomunikasi dengan intensitas tinggi via WA chat. Jarak ribuan mil antara Jakarta dan Los Angeles pudar seketika.
Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia
Kami berbalas pesan hingga larut malam, menembus perbedaan waktu dua benua. Perdebatan sengit namun indah terjadi saat kami berdiskusi intens menentukan judul yang paling sakti untuk kitab ini.
Saya menikmati betul setiap jengkal kisahnya yang sarat dengan adversity. Sebuah perjuangan hidup yang penuh benturan, daya tahan, dan ketangguhan luar biasa menghadapi badai.
Memang sejak awal. Tidak ada kesepakatan atau perjanjian hitam di atas putih mengenai harga penulisan. Semua mengalir atas dasar ketulusan persaudaraan. Namun, Justina membuktikan dirinya sebagai sosok pendekar yang tahu betul cara menghargai karya. Penghargaan dan kehormatan material yang diberikannya kepada saya sebagai penulis sungguh luar biasa, jauh melampaui batas ekspektasi tertinggi saya.
Hasil wawancara jarak jauh, endapan pengalaman, dokumen-dokumen penting, hingga foto-foto klasik mengalir deras ke meja kerja saya. Bagi saya, menulis itu tidak memerlukan waktu yang lama. Ibarat seorang pendekar yang hendak meracik obat pusaka, asalkan bahan-bahannya sudah tersedia, tugas kita hanyalah merangkai bahan itu secara sistematis, menjahitnya dengan benang emas pikiran, hingga mewujud menjadi secetak buku. Hanya dalam waktu 3 minggu, biografi ini pun rampung!
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Kitab dengan jumlah halaman 210, ukuran 14 x 21 cm dengan jenis huruf Book Antiqua ini resmi menambah senarai karya menuls dan menerbitkan buku saya yang ke-269. Sekaligus menjadi biografi ke-32 yang berhasil saya lahirkan ke muka bumi.
Menulis buku 200 halaman 3 minggu?
Rasanya, biasa saja. Hal itu sesuai dengan moto yang menjadi julukan biografi saya: Born to Write.
Lagipula, keterampilan menulis ini sudah saya asah sejak usia belia. Bahkan ketika masih orok, saya sudah gemar mencuri-curi waktu untuk membaca buku-buku milik ayah saya. Saya kerap memanjat ke loteng, mengambil surat-surat pentingnya untuk dibaca dan dipilah: mana surat yang sekiranya kurang penting, itulah yang saya jadikan bahan modal untuk membuat layang-layang. Sejak kecil, kertas dan aksara sudah menjadi napas hidup saya.
Di sini genaplah kata guru besar jagat filsafat kita, Aristoteles: “You are what you repeatedly do...”
Kita adalah apa yang kita kerjakan secara berulang-ulang. Kehebatan bukanlah sebuah tindakan tunggal, melainkan sebuah kebiasaan yang telah mengkristal di dalam jiwa.
Takdir dalam secarik tangkapan layar
Sampailah kami di akhir buku, bagian informasi tentang penulis.
![]() |
Personal branding saya sebagai penulis biografi: Senantiasa hadir bersama sang tokoh/subjek biografi di lembar postliminary buku "Tentang Penulis". |
"Lazimnya, biografi tokoh yang saya tulis, saya ada foto sama orang itu," kata saya kepada
Justina. Bahkan, biasanya saya buatkan artikel khusus dan dimuat di berbagai media.
"Itulah bang, kita lupa foto bareng!" sahutnya di seberang sana.
"Dan memang tak terpikirkan!" jawab saya membenarkan. Kesibukan dan derasnya gelombang emosi selama di Nyarumkop membuat urusan dokumentasi berdua luput dari ingatan.
Namun, jagat raya selalu punya cara unik untuk menggenapi takdir. Setelah lama mencari dan membongkar kembali arsip-arsip dokumentasi, rupanya hari ini ditemukan sebuah foto kami bersama orang-orang.
Walau hanya bisa diambil lewat tangkapan layar (screenshot). Itu sudah lebih dari cukup. Begitu dicocokkan, hasilnya... PAS! Cerita pun resmi menutup lembaran kitab ini dengan sempurna.
Yang berikut ini adalah sepenggal bio-narasi Justina Hendry serasa novel untuk dicerap serba-sedikit citarasanya:
Bab 1
Heng Sui Miang
Sedalam Samudera, Setinggi Cakrawala
SIANG itu. Di bawah dekapan garis khatulistiwa tempat matahari bersinar terik memandikan bumi Pontianak dengan cahayanya, sebuah takdir baru mulai ditulis. Alam yang semula riuh oleh bisikan angin di sela-sela rumpun bunga-bunga asoka, seketika hening. Tepat pada 8 Juli 1970, keheningan itu pecah oleh tangisan pertama seorang bayi perempuan bernama Justina.
Di hari kelahirannya, semesta seolah menahan napas sejenak. Langit dan bumi terdiam, memberikan penghormatan bagi hadirnya sebuah jiwa suci. Mereka menyambut seorang petualang waktu yang telah digariskan untuk mengarungi samudra kehidupan; sebuah perjalanan panjang yang kelak menuntutnya berdiri teguh menantang amukan gelombang dan badai yang bergolak.
Oleh sang ayah, seorang lelaki yang memiliki pandangan batin jauh ke depan, bayi perempuan itu diberi nama yang teramat megah dan tidak biasa bagi orang-orang di zamannya: Justina Juda Hendry.
Nama itu begitu lengkap, tersusun dari nama depan, nama tengah, dan nama belakang yang terdengar sangat formal. Di telinga orang awam, nama itu mungkin terdengar kaku, namun sesungguhnya nama itu laksana sebuah piagam keberangkatan. Seolah-olah sang ayah, dengan kebijaksanaan batinnya yang tinggi, telah melihat gurat takdir yang tertulis di langit-langit kamar.
Sang ayah mafhum bahwa anak perempuannya ini tidak akan menghabiskan seluruh umurnya di bawah rindangnya pohon-pohon di tanah kelahirannya. Nama itu dipersiapkan untuk sebuah perjalanan jauh yang melintasi benua dan samudra.
Namun, keindahan takdir tidak hanya berhenti di situ. Di dalam tubuh Justina kecil, mengalir darah leluhur yang luhur dari dataran Tiongkok. Dalam dialek Teochew, ia dipanggil dengan nama Heng Sui Miang, sedangkan dalam bahasa Mandarin kebesaran, namanya tercatat indah sebagai Wang Sui Min (王穗敏). Rangkaian aksara suci itu menyimpan makna filosofis yang amat dalam, sedalam samudra dan setinggi langit. Marga Wang (王) yang melekat pada dirinya memiliki arti Raja atau Penguasa. Bukan berarti ia ditakdirkan untuk duduk di atas takhta emas dengan mahkota permata, melainkan ia diberi berkah untuk memiliki jiwa yang berdaulat, mental sekeras baja yang tidak akan tunduk pada rintangan apa pun.
Sementara itu, nama tengah Sui (穗) memiliki arti tumbuh dan berbuah, penuh dengan kehidupan yang subur. Sebuah perlambang bahwa di mana pun ia ditanam, di tanah yang gersang sekalipun, ia akan mampu menghisap sari pati kehidupan dan tumbuh menjadi pohon yang rindang demi melindungi orang lain. Dan akhirnya, nama akhir Min (敏) bermakna cerdas, cepat tanggap (quick-minded), tajam pikiran, dan penuh persepsi yang peka (perceptive). Nama-nama itu seolah sudah dituliskan oleh kuas takdir di atas kitab langit, jauh sebelum Justina sendiri mampu mengeja huruf atau mengerti arti dari setiap helaan napasnya. Seofah-olah seseorang sudah menaruh beban harapan yang luar biasa besar di atas pundaknya yang masih rapuh.
Pertanyaan yang Tertahan pada Angin Lalu
Ketika Justina mulai tumbuh menjadi seorang anak yang gemar memperhatikan keadaan di sekitarnya, rasa ingin tahu sering kali bergolak di dalam dadanya. Ia memiliki sepasang mata yang bening namun memancarkan ketajaman pikiran yang luar biasa; warisan nyata dari karakter Min yang tersemat dalam dirinya. Sering kali, di bawah temaram lampu minyak di rumahnya yang sederhana, ia memandangi wajah ayahnya. Di dalam hati kecilnya, timbul sebuah pertanyaan yang terus menggelitik:
Apakah ayahku tercinta, ketika merajut nama Justina Juda Hendry dan menyelipkan rahasia nama Heng Sui Miang ini, sudah membayangkan betapa panjang dan berliku jalan yang harus ditempuh oleh anak perempuannya di kemudian hari? Apakah ayah sudah tahu bahwa aku harus mendaki gunung cobaan dan menyeberangi lautan air mata sebelum akhirnya menemukan pelabuhan terakhirku?
Namun sungguh sayang. Takdir manusia laksana awan di langit yang mudah ditiup angin. Manusia hanya bisa merencana, tetapi hukum alam yang agung jualah yang menentukan segalanya. Sebelum Justina sempat mengumpulkan keberanian untuk menanyakan makna mendalam itu kepada ayahnya, sang ayah telah dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa.
Beliau pergi dengan tenang, meninggalkan dunia yang fana ini sebelum sempat melihat putri sulungnya melebarkan sayap. Justina tidak sempat bertanya. Yang tersisa baginya hanyalah rangkaian huruf dalam namanya, sebuah warisan batiniah yang terus ia bawa ke mana pun kakinya melangkah, laksana sebuah jimat pusaka yang tak kasatmata namun memiliki kekuatan gaib untuk menopang jiwanya yang rapuh.
Kepergian Sang Tiang Rumah
Kepergian selamanya sang ayah dari jagat fana laksana gempa bumi yang meruntuhkan tiang utama rumah tangga mereka.
Peristiwa memilukan itu terjadi ketika usia Justina hampir genap lima tahun; sebuah usia di mana seorang anak seharusnya masih bermanja di atas pangkuan ayahnya, mendengarkan dongeng-dongeng kuno tentang para pahlawan masa lalu. Namun, Justina dipaksa oleh keadaan untuk mendewasakan dirinya sebelum waktunya.
Seketika sesudah hari yang kelabu itu, rumah mereka yang sederhana berubah menjadi sebuah mandala yang sepi. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang berat dan mantap dari seorang lelaki yang pulang dari bekerja di malam hari. Tidak ada lagi suara tawa bariton yang biasanya memberi rasa aman dari ancaman penyamun atau binatang buas.
Rumah itu kini hanya diisi oleh para perempuan. Ibundanya, seorang wanita yang memiliki ketabahan laksana tanah, harus berjuang sendirian membesarkan tiga orang anak perempuan. Justina sebagai anak tertua, ditemani oleh adik keduanya yang bernama Sui Tje (Jenny) yang di kemudian hari mengubah namanya menjadi Jia Han serta si bungsu yang lahir pada tahun 1974 bernama Heng Sui Nguan (Lina Hendri).
Sebenarnya, ada seorang adik laki-laki, anak ketiga ibunya yang lahir pada tahun 1973, namun takdir berkata lain; bayi mungil itu hanya sempat menghirup udara dunia selama tujuh bulan sebelum akhirnya meninggal dunia dan menyusul sang ayah ke alam baka. Ketiadaan sosok lelaki di masa kecil mereka membuat rumah itu terasa kian sunyi. Jadi, mereka semua perempuan. Tidak ada laki-laki dalam kehidupan kecil mereka, terutama ketika tirai malam mulai disingkap dan kegelapan menyelimuti kota Pontianak.
dan seterusnya...
Tangsel malam 17/10-2026.


0 Comments