Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)

Justina Hendry dan Selembar Foto Kusam yang Menitikkan Air Mata
Justina Hendry and Her Gang era tahun 1980-an. Dok JH.

Lembar depan foto itu tidak lagi putih bersih. Usia telah menguningkan kertasnya, seperti matahari yang terlalu lama singgah pada sebuah halaman. Tetapi justru dari warna yang pudar itu masa lalu terasa lebih dekat. Di dalam bingkai sederhana, waktu seakan membuka sebuah jendela yang selama puluhan tahun tertutup.

Di sana anak-anak muda berseragam putih berdiri dan duduk di bawah bangunan kayu Nyarumkop. Wajah-wajah mereka masih utuh oleh masa muda.

Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)

Belum ada kerut yang dititipkan tahun. Belum ada jarak yang memisahkan sahabat. Mereka hanya sedang berfoto, tanpa tahu bahwa satu detik yang mereka serahkan kepada kamera kelak akan menjadi tempat orang-orang pulang mencari dirinya sendiri.

“A picture is worth a thousand words.”

Peribahasa lama itu terlintas ketika foto tersebut sampai kepada saya melalui WAG “Reuni Akbar”.

Di ruang percakapan itu. Alumni PKN lintas angkatan saling mengirimkan serpihan masa lalu. Foto, nama guru, cerita asrama, kejadian kecil, juga gagasan yang dengan sukarela diberikan untuk dituliskan. Seolah-olah Nyarumkop yang telah lama ditinggalkan itu masih mempunyai suara. Dan suara itu datang dari orang-orang yang pernah tumbuh di sana.

Salah satunya Justina Hendry. Peserta Reuni Akbar 110 Tahun PKN yang datang dari tempat paling jauh, Los Angeles, USA.

Ia mengirimkan foto tua itu kepada saya. Tetapi Justina tidak langsung menyebut siapa dirinya. Ia malah mengajak saya bermain tebak-tebakan.

Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Saya memperhatikan wajah-wajah di dalam foto. Satu demi satu. Hingga mata saya berhenti pada seorang gadis di tengah kerumunan. Ia tampak sedikit jongkok. Masih muda. Wajah itu seperti mengetuk pintu ingatan yang lama tidak dibuka.

“Justina.”

Telak.

Dialah gadis Tionghoa yang dahulu cukup terkenal di masanya. Selain anciang, ia pada ketika itu masih sangat muda. Dan tentu saja bangaikan sekuntum-bunga, banyak kumbang ingin dekat, bahkan hinggap pada tangkainya.

Sepatah kata lama tiba-tiba hidup kembali. Ada kata-kata yang tidak ikut menua. Ia bersembunyi di suatu sudut ingatan, lalu muncul ketika sebuah wajah memberi kesempatan.

Di samping ujung lipatan kaki Justina, sejilid buku tergeletak begitu saja.

Saya justru tertarik pada benda kecil itu. Ia tidak sedang dipamerkan. Tidak menjadi bagian dari pose. Hanya sebuah buku yang kebetulan berada di sana. Namun kehidupan pun sering meninggalkan tanda melalui sesuatu yang tidak kita rencanakan.

Buku itu seperti halaman yang belum dibaca. Begitu pula Justina ketika itu. Ia belum tahu ke mana hidup akan membawanya. Nyarumkop masih menjadi dunianya. Sekolah, asrama, kapel, lapangan, rumah keluarga, dan Gunung Poteng membentuk cakrawala yang terasa cukup untuk seluruh masa depan.

Tetapi masa depan tidak pernah tinggal di satu tempat. Ia membuat jalan bercabang. Justina kemudian sampai ke Los Angeles. Teman-temannya menempuh jalan masing-masing. Yang dahulu setiap hari berjumpa berubah menjadi nama yang sesekali muncul dalam percakapan. Sebuah dunia yang dahulu dekat perlahan menjadi kenangan.


Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)

Foto itu tidak berubah. Kita yang berubah ketika memandangnya.

Itulah mungkin kekuatan foto lama. Ia menyimpan satu detik tanpa mengetahui arti detik tersebut. Anak-anak muda di dalamnya tidak sedang mengabadikan masa muda. Mereka hanya sedang menjalani hari. Mereka tidak tahu bahwa hari yang terasa biasa itu suatu saat akan menjadi sesuatu yang ingin kita kunjungi kembali, meski hanya melalui selembar kertas yang telah menguning.

Kini Justina berada di Los Angeles. Foto itu sampai kepada saya melalui percakapan di WAG. Jarak ribuan kilometer tiba-tiba menjadi tidak berarti. Sebab sebuah foto tua kadang lebih kuat daripada peta. Ia tidak membawa kita kembali ke tempat itu. Ia membawa tempat itu kembali kepada kita.

Saya kembali melihat gadis yang sedikit jongkok itu: Justina.

Dan sejilid buku yang tergeletak begitu saja pada samping ujung lipatan kakinya masih ada di sana. Sebagaimana buku tua. Ingatan kita pun, setelah sekian lama tak disentuh, perlu dibuka kembali!

Seperti selembar halaman yang sejak puluhan tahun lalu belum selesai dibaca.

Masri Sareb Putra

Ketika pagi membuka lembar baru, 11/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.