First Things First| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (1)

First Things First: salah banyak buku yang mengubah arah angin pandangan dan jalan hidup saya.
First Things First: salah banyak buku yang mengubah arah angin pandangan dan jalan hidup saya. 

Banyak buku telah mengubah (jalan dan pandangan) hidup saya. Sejak SD, saya sudah mencuri membaca kitab pusaka ayah yang terkunci rapat "Di Bawah Bendera Revolusi", judul buku dengan tulisan tangan Bung Karno. Akan saya kisahkan nanti pada waktunya, bagaimana bocah SD bisa mencuri "kitab suci" (khiasan untuk: ilmu, barang pusaka) milik ayah.

Namun untuk serial tulisan ini, saya mulai dengan buku ini.  Tentu ada udang di balik nasi!

Menatap sampul buku tua di hadapan ini lamat-lamat. Ingatan saya seketika melesat kembali ke masa sewindu yang lalu. Ke sebuah momen di sudut Toko Buku Gramedia Mal Taman Anggrek. 

Baca Justina Hendry| Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Biografi Rasa Novel

Di sanalah. Mata saya pertama kali tertambat pada lembaran tajuk yang memikat hati. Tanpa ragu, jemari ini langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja dan melangkah mantap menuju kasir. Kala itu. Selembar label harganya terasa cukup menguras kantong, maklum sebuah buku terjemahan bermutu tinggi.

Buku yang mengubah lelaku dan pikiran

Namun, semenjak kaki ini mulai berpijak mandiri mencari nafkah di tahun 1989, sebuah hukum besi telah saya tetapkan dalam sanubari: 

"Buku dulu, baru baju." Setiap bulan, sebagian penghasilan wajib disisihkan demi memburu kitab ilmu, menomorduakan segala sandang duniawi. Jauh sebelum pundi-pundi kemakmuran datang menghampiri, lembar-lembar kertas berilmu telah menjadi karib paling setia yang menemani derap langkah perjuangan saya di belantika kepenulisan.

Baca Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)

Buku yang sedang kita perbincangkan ini bertajuk First Things First: Dahulukan yang Penting, sebuah mahakarya dari Patrick Forsyth yang diterbitkan oleh Binarupa Aksara. Buku fisik yang berbobot ini hadir dengan ketebalan 284 halaman serta dicetak dalam format ukuran 15 x 23 cm, sebuah standar ukuran UNESCO yang sangat ideal dan mantap untuk digenggam. 

Buku ini bukan hanya memberi untaian inspirasi kosong yang menguap saat fajar menyingsing, melainkan sebuah kompas transformatif yang merombak total cara saya mengarungi samudera aktivitas. 

Semenjak lembar demi lembar mutiara hikmatnya saya serap. Seulas tradisi baru lahir di atas meja kerja saya. Sebuah catatan bertuliskan "To Do List" senantiasa setia bertengger di sana, memuat senarai rencana dan prioritas yang harus dituntaskan hari demi hari. Sebuah gerak refleks manajemen waktu yang terus saya rawat dan pertahaman dengan disiplin baja, semenjak hari pembaptisan ilmu itu hingga detik ini. 

Justina Hendry: Peserta Reuni Terjauh Melintas Benua Membawa Sang Bunda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (73)

Buku ini sungguh menjadi bukti nyata bahwa mendahulukan hal yang utama bukanlah teori di atas kertas kaku, melainkan sebilah senjata batin untuk memenangkan pertarungan unjuk kerja di bawah kolong langit.

Toko buku sudut Mal Taman Anggrek

Langkah kaki saya sore itu sebenarnya tidak memiliki agenda yang muluk-muluk. Kecuali dorongan gaib yang selalu menuntun para pencinta buku untuk masuk ke dalam bilik peradaban bernama toko buku.

Di tengah jajaran rak yang berjejer rapat di TB Gramedia Mal Taman Anggrek. Pandangan mata saya mendadak terkunci pada sebilah sampul yang berdesain tegas. 

Judulnya menusuk langsung ke pusat kesadaran: First Things First. Getaran aneh seketika menjalar di jemari saat saya meraih fisik buku setebal 284 halaman itu dari rak, membolak-balik halamannya, dan merasakan ada urgensi spiritual yang mendesak batin untuk segera membawanya pulang.

Kala berdiri di depan meja kasir. Dompet saya sempat berbisik pelan memberikan peringatan, sebab angka yang tertera di label harga buku terjemahan dengan bentang ukuran 15 x 23 cm ini tidak bisa dibilang murah untuk ukuran kantong saya saat itu. Terlebih lagi, tampilannya yang anggun mengikuti standar ukuran UNESCO membuatnya terlihat begitu berwibawa di antara buku lokal lainnya. Namun, hasrat batin untuk mereguk isi saripatinya jauh lebih perkasa ketimbang logika berhemat. Buku itu pun resmi berpindah tangan, menjadi sebuah pusaka baru yang kelak bertugas menata ulang seluruh formasi berpikir saya dalam mengelola waktu dan kehidupan di masa yang akan datang.

Buku sebelum baju

Semenjak saya memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan mencari nafkah mandiri di jagat fana ini pada tahun 1989. Sebuah ikrar suci telah saya tancapkan di dasar sanubari yang paling dalam. Ikrar itu berbunyi: "Buku dulu, sebelum baju."

Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia

Bagi seorang pemuda yang sedang merajut jalan sebagai pendekar pena. Penampilan luar berupa pakaian mentereng dan segala sandang duniawi adalah perkara nomor dua yang bisa ditunda tanpa batas waktu. Sebaliknya, asupan gizi untuk ketajaman olah pikir dan kompetensi otak berupa kitab-kitab ilmu merupakan kebutuhan primer yang bersifat mutlak dan tidak boleh ditawar-tawar.

Setiap kali fajar berganti bulan dan tetesan keringat honorarium kepenulisan cair masuk ke kantong, sebagian penghasilan pasti langsung saya sisihkan secara khusus demi berburu buku. Kerap kali kawan-kawan sejawat menatap heran melihat lemari pakaian saya yang bersahaja, namun mereka akan terkesima melihat jajaran perpustakaan pribadi saya yang kian hari kian membumbung tinggi laksana bukit ilmu. Hukum besi inilah yang menjaga orisinalitas dan ketajaman daya cipta saya tetap menyala di kolong langit.

Mata batin transformatif Patrick Forsyth

Kitab legendaris First Things First karya Patrick Forsyth yang dibidani oleh penerbit Binarupa Aksara ini bukanlah jenis buku motivasi murahan yang hanya sanggup membakar semangat sesaat lalu padam begitu malam tiba. 

Buku ini bertindak sebagai mentor gaib yang membongkar tuntas segala karut-marut manajemen aktivitas yang selama ini menjebak banyak manusia dalam pusaran kesibukan yang sia-sia. Kebanyakan orang mengira bahwa kunci sukses adalah bergerak cepat tanpa henti. Namun Forsyth dengan cerdas membalikkan pemahaman itu. Sebbab yang terpenting bukanlah seberapa cepat Anda berlari, melainkan ke mana arah tujuan Anda dan hal apa yang Anda dahulukan.

Melalui lembaran-lembaran yang sarat akan strategi praktis ini, saya diajarkan untuk memilah dengan jeli mana perkara yang mendesak dan mana perkara yang benar-benar esensial bagi masa depan. Ia menuntun saya untuk berani menepis segala gangguan kosmetik, meredam bujukan aktivitas remeh. Seklaigus mengunci fokus penuh pada sasaran-sasaran besar yang bernilai abadi.

Buku ini sukses mengubah cara pandang saya dari seorang pekerja yang sekadar sibuk menjadi seorang kreator yang produktif dan terukur.

Disiplin baja di atas meja

Buah paling nyata dari pembaptisan ilmu yang saya alami setelah mengkhatamkan mahakarya Forsyth. Adalah lahirnya sebuah ritual harian yang tidak pernah absen dari meja kerja saya sejak puluhan tahun silam hingga detik ini. 

Di atas permukaan meja tempat saya menumpahkan segala gagasan, selalu bertengger setia selembar catatan bertajuk To Do List. Catatan ini bukanlah semata-mata coretan garis acak tanpa makna. Juga menjadi sebuah peta pertempuran harian yang memuat senarai rencana, prioritas utama, serta target-target konkret yang wajib ditundukkan dari hari ke hari secara presisi.

Memelihara tradisi menulis daftar prioritas ini membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi yang sekeras waja. Ada kalanya rasa malas dan godaan untuk bersantai datang merayu jiwa, namun setiap kali mata saya menatap barisan rencana di atas kertas tersebut. Semangat saya seketika berkobar kembali untuk menuntaskan kewajiban yang tersisa. 

To Do List harian ini telah menjadi saksi buas dari lahirnya lebih dari 4000 artikel, 269 buku, 32 buku biografi. Juga menjadi pemicu dari seluruh jejak karya kepenulisan yang saya pintal sepanjang sejarah karier saya. 

Ya, boleh dibilang semacam kompas abadi begitu. Yang menjadi tonggak arah pedoman langkah saya tidak oleng di tengah derasnya arus zaman dan kesenangan sementara duniawi.

Tangsel Minggu pagi yang ceria 18 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.